7.23.2013

{ Review } : " Early " by Syafrina Siregar

Sejak gw mengenal Mbak Syafrina Siregar dari tahun 2009 silam, gw justru mengenalnya sebagai temen pengajian gw di Ladies Cihuyers dan pengusaha kue laris manis dari April Cake

Padahal setelah gw gugling, ternyata Mbak Nana ini (begitu nama kesayangannya) adalah salah satu penulis yang sudah menerbitkan 8 novel bergenre metropop. *stalker banget yak gw *
Saat itu dia terakhir menulis novel di tahun 2008 berjudul " Dengan Hati " dan " Istri Kontrak "

Makanya setelah vacum sekian tahun, di tahun 2013 ini Mbak Nana ngasih tahu di group Ladies Cihuyers kalo dese akhirnya mengeluarkan juga novel terbarunya berjudul " Early "
Sebagai salah seorang penikmat buku, tentunya gw gak mau ketinggalan menikmati novel ini.  

Dan Mbak Nana berbaik hati banget mo menandatangani novel terbarunya buat gw. 
Aaah, gw selalu hepi mengkoleksi buku-buku yang ditandatangani oleh penulisnya. Hihihi...#norak ya ?
Thank you Mbak @syafrinasiregar
I enjoy reading your novel.


Pada saat gw membaca judulnya sekilas gw pikir Mbak Nana mo ngebahas sesuatu yang berkaitan dengan " kepagian " ato "Dini ", ternyata gw salah dong. 

Early ini ternyata adalah tokoh utama dalam Novel ini.

Cerita novel dibuka dengan kaburnya Early, seorang remaja wanita dari kota Medan ke Batam. Dengan berbekal uang seadanya dan tanpa tujuan yang jelas, beruntunglah Early ini dipertemukan dengan pria bule bernama Marco Gibraltar.

Kenapa gw bilang beruntung ? 
Karena Marco, tokoh utama pria dalam novel ini, adalah seorang pria yang tidak hanya dengan dada berbulu (kayaknya sih...hihihi...Piss, Mbak Nana) dan tampan, namun juga seorang pengusaha yang mapan (red : tajir melintir) dan baik hati. 

Di halaman-halaman awal saat Early kabur, Mbak Nana sengaja tidak menceritakan secara detail apa yang membuat Early merasa harus menyelamatkan dirinya. 

Cerita maen langsung aja bergulir ke masa 7 tahun setelah kaburnya Early dari Medan. 
Iiih, eike kan kepo pengen tau, Mbak Nanaaa. Hahaha...#Kebiasaan Kepo.

7 tahun sepertinya waktu yang cukup untuk mengubah Early, dari gadis polos dari Medan, gak bisa berbahasa Inggris, menjadi seorang executive muda, orang kepercayaan dari Marco Gibraltar yang notabene masih single itu. 

Semua cerita mengalir masih tetep tanpa melihat ke belakang apa yang terjadi 7 tahun yang lalu. 
Menunjukkan betapa terseponanya Marco, si bule tampan ini dengan Early yang dalam darahnya mengalir darah asing alias blasteran.  

Setelah 7 tahun dari pertemuannya dengan Marco di bandara itu, kini Early menikmati kehidupannya yang baru di kota Batam. ya iyalah, punya karir bagus, rumah di tepi pantai, mobil mewah dan perhatian dari seorang laki-laki tampan. *GLEK!*

Sampai ada sesuatu yang mulai mengorek-korek kenyamanan hidupnya. Dikarenakan ada satu project perusahaan yang harus dikerjakan di Medan, maka Marco menugaskan Early untuk kembali ke kota yang pernah dia tinggalkan dulu. Early yang sebenarnya ketakutan, namun gak berani menyatakan keberatannya. Akhirnya dia mengiyakan instruksi Marco.
Di saat itulah, pelan-pelan, Mbak Nana baru membuka satu demi satu tokoh-tokoh yang hadir dalam hidup Early dan Marco. 

Ada tokoh Mita, gadis yang mendapat instruksi dari Marco untuk mengajari segala hal yang dia tahu. 
Lama kelamaan, Mita justru cemburu dengan kedekatan Marco dan Early. 

Yah siapa sih yang gak pengen mendapatkan cinta Marco. Tapi dalam kisah cinta segitiga ini Mbak Nana malah memberi bumbu yang gak gw duga sebelumnya.

Darimana Early, cewek yang di awal cerita digambarkan wanita berpakaian lusuh tapi berdarah blasteran. 
Kok kere sih ? #Cetek 

Ada tokoh Manto, kakak laki-laki dari Asnia, ibu kandung Early yang merupakan tokoh antagonis dalam tokoh ini. 
Pria yang berprofesi ganda, sebagai supir sekaligus mucikari kelas atas ini menyiapkan satu rencana jahat untuk memperangkap mesin pencetak uangnya yang gak lain adalah saudara sedarahnya sendiri. Uang emang gak kenal sodara ye. Apalagi kalo uang udah bercampur miras dan judi. 

Yang gw alami selama membaca novel Early ini, Mbak Nana mampu mengaduk-aduk perasaan gw dan memberikan beberapa rasa terhadap jiwa gw saat membacanya. 

Di halaman-halaman pertama, Mbak Nana bikin gw penasaran dengan masa lalu Early. 
Kuat ye dia nyimpen cerita masa lalu Early sampe di tengah buku, Bok. 
Kalo gw jadi penulis mah kayaknya gak kuat deh nyimpen lama-lama. Bawannya pengen embyeer nyerocos aja dari awal. hahaha
#Beda penulis beneran sama blogger kali ye.

Di halaman-halaman setelah itu, dia bikin gw merasa iri sama Early. Bagaimana cara Marco memperhatikan Early dengan baik.  
Marco Gibraltar, Pria single Ganteng, baik, lembut, royal, tajir melintir, Bok. 
*perlu ye, gw ulang-ulang terus? :p*

Di halaman-halaman tengah, barulah satu demi satu konflik dijembrengin. Tradaaaa...

Mbak Nana berhasil bikin gw gemeeeeez banget sama tokoh-tokoh dalam novel ini.

Kenapa sih Early gak mo ngomong terus terang aja sama Marco kalo dia lagi dihantui bayang-bayang masa lalu ?
Kenapa Asnia terkesan diam aja gak berani membela anak kandungnya sendiri dari cengkaraman kakaknya yang serigala ?
Kenapa Early gak berani berontak dari ancaman Manto yang berniat mengungkapkan masa lalu early yang kelam ke boss nya (Marco) ?
Lagian, kenapa sih Marco gak nanya langsung aja sih ke Early ? kenapa pake tunggu-tungguan Early ngomong duluan segala ? *Esmosih nih gak sabaran !*

Memasuki anti-klimaks, mbak Nana merubah semua emosi ketegangan menjadi perasaa lega. 
Karena Early tidak perlu lagi takut dengan masa lalu yang dia coba kubur selama ini. Dia berhasil melewatinya.

Dan ketika akhir cerita, Mbak Nana menutup novel ini dengan rasa mengharu biru. Hiks. 
Dengan tak terduga dan tanpa banyak pembicaraan yang menggurui, Early yang bertahun-tahun membenci ibu kandungnya, ingin berdamai dengan Asnia dan memulai semuanya dari baru kembali.

Satu hal yang bisa gw petik dari novel ini. 
Instead of running away from your past, you'd better to face it and cope it.
Karena walopun loe berlari menjauh, masa kelam yang tidak tuntas itu akan terus mengejar dan membayang-bayangi loe.

Cerita dalam novel ini hanya mengambil setting kota Medan dan Batam yang mana gw sadari mungkin inilah yang menjadi ciri khas Mbak Nana dalam novel-novelnya. Mbak Nana sendiri memang sangat familiar dengan kedua kota ini.

Novel terbaru Mbak Nana ini pastinya akan memperkaya pilihan book-lovers akan novel-novel metropop untuk menemani me-time nya. 
Bahasanya ringan, enak dibaca dan jalan ceritanya juga gak bikin pembacanya sampe mikir pusing 7 keliling saking beratnya jalan cerita. 
Cocok lah buat gw.

Akhir kata, Alhamdulillah.
Finally, tercapai juga yaa cita-cita gw dalam per-emak-emakan dari tahun 2009. Gw pengen baca novel karya Mbak Syafrina Siregar. Dan kesampean di novel " Early " ini.
Jangan sibuk ngurusin order baking terus ya, Mbak...teruslah berkarya dalam sastra.

Mari kita tunggu novel-novel berikutnya (dengan rasa tidak sabar).

9 comments:

  1. wah mbak indah dari review dan sinopsisnya kok jadi pingin baca....emak kinan penggemar bacaan yang ringan ringan kayak gini...
    eh mbak belinya online langsung ke pengarang atau ada di gramed juga yah?? *maklum derita di kepulauan..tfs mbak

    ReplyDelete
  2. lagi rajin baca novel ya mbak sekarang :) hiksss aku belum sempet baca2 lagi

    ReplyDelete
  3. ihhh jadi pengen baca deh gue Ndah..gue juge demen kisah2 yang bikin penasaran kek gini.. *brb mampir ke gramedia*

    ReplyDelete
  4. Beli ahhhh *siap2 ke gramed*

    ReplyDelete
  5. halo mba Indah salam kenal....kayanya akhir akhir ini banyak yang ngomongin nih buku yah, eeeem jadi makin penasaran abis baca ulasannya disini

    ReplyDelete
  6. Kapan-kapan kopdar sambil bahas buku yuk :))))

    ReplyDelete
  7. @ Mama Kinan,
    Monggo dituku.

    @ Mbak Lidya,
    Kadang-kadang kalo lagi fakir sinyal, ya kudu balik ke buku hardcopy kan.

    @ Desi,
    Loe kayaknya demen deh cerita soal pria berbulu dada. Lho

    ReplyDelete
  8. @ yeye,
    Suruh Dani beli juga. Biar dia tau kalo abis dada berbulu musti ngapain. hahaha

    @ Mbak Woro,
    Halo Mbak Woro. Salam kenal juga ya.

    @ Mas Yanuar,
    Monggo, Mas

    @ Mbak Memez,
    Ya mending bahas makanan atuh. *tendang timbangan*

    ReplyDelete