10.17.2012

Seminar @sigoloktoge : Bergawollah Dengan Anakmu

Bismillah.

Sebagaimana yang gw bilang di postingan sebelumnya, Sessi Pak Ge mengupas materi seminar gak terlalu banyak. Jadi mungkin yang akan gw share di sini adalah apa yang menjadi catatan gw selama mengikuti seminar yang gak terlalu konsen itu.

Kadang saat berkomunikasi pada anak, kita tidak memahami apa yang dipikirkan oleh anak-anak. Kita selalu menganggap anak kita sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang kita harapkan.

Mungkin kesannya materi ini rada ngacak. Maklumin ya, karena gw merangkum point-point yang penting berdasarkan sessi tanya jawab dan materi.

1) Konsep "Menemani ", bukan "Menjaga"
Siapa di antara teman-teman yang udah mempunyai anak lebih dari satu ?
Siapa yang sering minta tolong ke sang kakak, " Kak, tolong jagain adikmu sebentar ya, sayang. Mama/Bunda mau masak dulu buat kita " ?. Hayooo tunjuk tangan!

Sebenarnya daripada "menjaga", kata yang lebih tepat dalam hal ini mungkin " menemani ". Kenapa ?
Karena adik bukanlah tanggung jawab kakak, melainkan orang tuanya. 
Jadi seorang kakak tidak wajib menjaga adiknya. Tapi dia mungkin bisa membantu menemani adiknya.

Peran Orang tua kepada anak secara garis besar berfungsi sebagai :
a) Fasilitas Pelindung  
Karena anak adalah titipan dari-NYA, maka sudah menjadi kewajiban orang tua untuk melindungi anaknya. Namun fasilitas sebagai pelindung ini tidak bisa kita jalankan terus menerus. Kita kan gak bisa bertindak sebagai pelindung sepanjang usia anak kita. Usia kita ada batasannya.

b) Fasilitas Belajar
Karena kita gak bisa selamanya menjadi pelindung bagi anak kita, maka kita mo gak mo harus menjalani peran yang nomer dua ini. 
Membantu anak belajar melindungi dirinya sendiri, mampu membuat keputusan sendiri, mampu mempertimbangkan faktor resiko atas keputusan yang dia buat.

Jika kita sudah siap memposisikan kita sebagai fasilitas belajar, maka bersiap-siaplah untuk disebelin sama anak. 
Disebelin lho ya, bukan dimusuhi. Kalo dimusuhi dalam artian kita terlalu banyak melarang sehingga anak menanggap kita sebagai lawan.

Apa sih yang biasanya kita lakukan jika kita melihat seorang anak keliatan susah payah berusaha memanjat kursi sofa ?

Bisa jadi, naluri seorang Ibu takut anaknya jatuh ato kenapa-kenapa, akan mengangkat anak tersebut langsung ke kursi.
Jika bener nih kita melakukan hal yang beginian, maka kita sedang melakukan apa yang disebut-sebut dalam milis sebagai bemper/gratisan.

Akibatnya anak akan merasa dia gak perlu belajar. Yah karena dia merasa gak ada kebutuhan untuk belajar manjat.

" Ngapain aku susah payah belajar manjat untuk bisa duduk di kursi. Toh, aku gak usah susah payah pun bisa duduk manis di kursi "  

Seorang anak harus mempunyai kesanggupan untuk berjuang. Dia harus tahu apa yang dia inginkan, dan untuk mendapatkan itu dia harus sanggup melakukan hal-hal yang gak mengenakkan buat dia.

Kesiapan untuk kesanggupan berjuang ini dimulai dari usia 4 - 5 tahun.
Selambat-lambatnya usia 7 tahun, kesanggupan ini sudah mulai terbangun dari diri anak.

Sebelum mempunyai kesanggupan berjuang, anak harus sudah punya kesanggupan bersepakat dulu. 
Namun anak gakkan bisa belajar untuk bersepakat, jika dia belum mengantongi sertifikat kesanggupan kecewa. 

Perlu kita garis bawahi, bahwa tujuan anak belajar di usia balita bukanlah untuk mengejar BISA, namun untuk membuat dia terbiasa melakukan itu.
Jika kita menuntut anak untuk bisa di usia balita begini, maka ibarat buah, anak kita dikarbitin terlalu cepat.
*sama kayak yang dibilang psikolog lain bahwa usia anak dituntut belajar kognitif sebaiknya dimulai pada usia 7 tahun*

c) Menjadi kamus
Menjadi tempat bagi anak bertanya, dapat diandalkan.
Kalo ternyata kita bukan kamus yang bisa diandalkan anak, ya jangan salahin anak kalo anak mencari kamus yang lain.

Menurut Pak Ge, rute pengasuhan-pendidikan anak itu kurang lebih seperti ini: 
  • 0 - 2 tahun -- membangun rutinitas
  • 1 - 3 tahun -- membangun keterampilan (enak-vs-gak-enak, enak-vs-enak, gak-enak-vs-gak-enak)
  • 2 - 4 tahun -- membangun keterampilan menawar (sebagai pembeli)
  • 3 - 5 tahun -- membangun keterampilan menawar (sebagai penjual)
  • 4 - 6 tahun -- membangun keterampilan berdagang (win-win transaction)
  • 5 - 7 tahun -- membangun keterampilan memperjuangkan keinginan (sanggup(mau+mampu) melakukan apa yang perlu dilakukan untuk dapat apa yang diinginkan
  • 6 - 8 tahun -- membangun keterampilan menghadapi resiko (mengalami akibat, masih didukung penuh)
  • 7 - 9 tahun -- membangun keterampilan menghadapi resiko (mencoba solusi, berupa alternatif solusi)
  • 8 - 10 tahun -- membangun keterampilan menghadapi resiko (membangun solusi, evaluasi terhadap alternatif solusi yang dibuatnya)
  • 9 - 11 tahun - membangun keterampilan menghadapi resiko (memeriksa solusi, berupa pendampingan untuk menindaklanjuti solusi yang dipilihnya)
  • 10 - 12 tahun -- membangun keterampilan menentukan pilihan perilaku (mengatur strategi) secara mandiri, berdasarkan pertimbangan resiko
  • 11 - 13 tahun -- proses pengasuhan sewajarnya sudah tuntas sehingga proses pendampingan bisa dimulai 
Gw coba rangkum satu per satu ya. Tapi mungkin karena keterbatasan waktu ato karena usia anak dari peserta seminar kemarin, sehingga yang dibahas hanya rute pengasuhan sampe usia 5 - 7 tahun.

0 - 1 tahun
Mulailah membangun rutinitas yang berhubungan dengan fisik/badan sang anak sebab fisik berkaitan dengan hidup anak kelak. 
Kalo nantinya gak kepingin anaknya bobo larut malam, di fase inilah sebaiknya mulai diajarkan. *ngomong sama kaca, Athia suka bobo malem!*

Dalam fase 3 bulan kedua, mulailah membangun perpustakaan pertamanya. Di sini kita harus menanamkan hal-hal yang menyenangkan buat si anak. Agar dia mempunyai memori yang menyenangkan untuk membentuk kepribadian dia selanjutnya.

Apakah dia anak yang selalu riang gembira, melihat semua dari sisi positive ataukah menjadi anak yang suka mengeluh ? *DOWENG!!*

Jika pengalaman utama seorang diisi dengan memori yang menyenangkan, pada saat screening maka dia akan menganggap bahwa hidup ini jauh lebih banyak yang menyenangkan. Dia akan menyadari betapa banyak nikmat/kesenangan yang sudah dia lalui untuk dia syukuri.

Sebaliknya, jika hampir semua memori anak berisikan pengalaman yang tidak mengenakkan buat dia, dia akan menganggap hidup ini tidak menyenangkan buat dia.

Jadi perbanyaklah memori yang menyenangkan pada saat anak masih dalam fase ini. Namun bukan berarti kita harus mensterilkan anak dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Kalo kita hanya memberikan yang menyenangkan aja buat anak, dia gakkan punya daya tahan yang cukup saat dia harus berhadapan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan buat dia.

1 - 3 tahun
Biasanya memasuki usia segini, anak biasanya udah bisa maksa supaya kita memenuhi apa yang dia mau. Hihihi...
Menurut Pak Ge, usia segini mah, anak-anak belum paham konsep perlu-gak perlu. 
Yang mereka paham adalah : enak dan gak enak buat mereka. Titik.

Misalnya : anak merengek minta dibeliin cokelat, sementara kita punya aturan tidak memperbolehkan anak makan cokelat dengan alasan concern dengan kesehatan gigi geligi anak. 

Instead of melarang " Gak boleh!" yang kita udah tau endingnya dese bakalan ngambek, tantrum, kenapa gak kita coba tawarkan anak pilihan lain yang kita tau banget itu akan lebih menarik daripada apa yang dia mau.
Misalnya " Athia mau cokelat ? Hayo Athia pilih, mau cokelat apa mo ke Disneyland Hongkong cheese cake ? ". 
Tapi sebelumnya pastikan dulu kita sudah yakin bener kalo disodorin pilihan itu, dia akan melupakan cokelat dan lebih memilih cheese cake.

Tapi kalo emang kita gak yakin dia akan memilih cheese cake, ato kemungkinan dia tetep minta cokelat, ajukan dua tawaran yang gak ada 'cokelat'nya. " Athia boleh milih, mo Cheese cake apa red velvet cake ? "

Kalo gak berhasil juga bisa coba cara gini " kalo Athia mau cokelat, Athia harus bisa mandi sikatin punggung Athia. Tapi kalo Athia mau cheese cake, Athia boleh makan sekarang. Gak pake syarat apa-apa "

Dari pilihan ini sebenarnya dia pelan-pelan mulai masuk ke fase belajar kecewa. Karena apa yang kita tawarkan kepadanya tidak termasuk apa yang dia inginkan.
Kalo ternyata dia juga mau cheese cake pun, dia akan belajar sesuatu. 
Bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan sekaligus.

Mintalah anak untuk tetap memilih salah satu. 
Jangan berikan kedua-duanya. Itu namanya maruk, aji mumpung. :p
Jika anak tidak mau memilih, jelaskan pada anak kalo itu kita anggap sebagai suatu pilihan. 
Dan sebagai konsekwensinya, bukan saja dia tidak mendapatkan apa yang dia mo, tapi dia juga tidak akan mendapatkan apa-apa.

Kalo anak sudah nyaman dengan proses memilih, maka proses pembelajaran selanjutnya naik ke proses menawar. Mulailah belajar untuk sepakat.

2 - 4 tahun
Pada fase ini kita mulai mengajarkan ke anak mengenai kemampuan bersepakat. 
Namun sebelum kita melangkah ke fase ini, kita harus yakin betul anak sudah memiliki kesanggupan untuk kecewa. Kalo ternyata anak belum siap untuk kecewa, maka dia akan mencoba memaksa.

Kalo anak mencoba memaksa keinginannya, dan karena gak tega ati kita ngikutin kemauan anak, itu artinya kita mau 'dijajah'.

Konotasinya mungkin terkesan bikin mengenyitkan dahi, tapi sebenarnya maksud dari dijajah itu : jika kita terus membiarkan anak menguasai kita (red: menuruti semua keinginannya) terus anak kita kapan bisa belajar sanggup kecewa. Kapan belajar sepakat ? Apalagi belajar untuk berjuang ?

Selama ini mungkin kita pernah ngalemin situasi kayak gini " Kak, mandi yuk sayang...'
Anak : " Gak ah, aku gak mau mandi..."
Emak : " Kalo kamu gak mau mandi, nanti Kakak bau lho... "
Anak : " Biarin aja bau...aku gak apa-apa kok bau... "
Emak : " Iiih...ntar kalo gak mandi, kamu bakalan gatel-gatel, sayang. Emang kamu mau gatel-gatel "
Anak *masih sante, muke nantangin* : " Gak apa-apah. Emang aku monya gatel-gatel ajah..."

Emak langsung keluar rumah, garuk-garuk pala pake linggis.

Coba perdagangkan situasi ini, begitu istilah yang dipake Pak Ge.
Inget : anak belum tau sepenuhnya paham konsep perlu (red: perlunya manusia mandi), dia baru pada fase enak-gak enak.


Bisa dilakukan dengan dua methode :
1) Ala Sales retail yang ngomongin Benefit ato bicara yang enak-enak

Emak : " Kak, Mama mau pergi ke Plaza Indonesia (red: kayaknya gw tau emak yang mane yang bakalan ngomong begini ke anaknya LOL). Kalo kakak mau ikut Mama, Kakak harus mandi dulu... "

2) Ala Sales Asuransi yang ngomongin Resiko ato bicara yang gak enak
Tawaran yang bikin dia gak mau.

Emak : " Kak, Mama mau ke Plaza Indonesia nih. Ada janjian sama Tante Mawar. Kamu mau tinggal di rumah aja,Kak ? *point gak enak buat anak*. Ato kalo kamu gak mau ditinggal di rumah, kamu mandi dulu gih, abis tuh ikut Mama ke Plaza Indonesia..."

Di sini bukannya kita mo menanamkan jiwa berdagang supaya kelak anak jadi ekonom, ahli berdagang. 
Tapi untuk melatih anak, jika dia menginginkan sesuatu, maka dia harus melakukan hal yang gak enak demi mendapatkan apa yang dia mau.
Awas jangan terbalik dengan melakukan apa yang biasa disebut upah.

Berdagang : Selalu sebut hal yang dia inginkan di muka, kemudian baru sebutkan syaratnya.

Sementara kalo upah : sebutkan apa yang kita harapkan / kita inginkan dari anak, kemudian sebutkan apa yang harus dia lakukan.

Contoh berdagang : " Kalo kamu mau maen kereta di miniapolis, maka kamu harus habiskan makan siangmu.. "

Sedangkan contoh upah : " Kalo kamu habiskan makan siangmu, kamu boleh maen kereta di miniapolis '.

Kesannya gak ada bedanya ya. Cuma dibolak-balik doang. Tapi secara psikologis, artinya beda banget.
Kalo kita terbiasa terbalik melakukan upah, maka dia akan selalu bertanya kayak gini : Kalo aku melakukan apa yang mama mau, aku akan dapat apa ?

3 - 5 tahun
Dia mulai terbiasa berpikir begini " Aku musti ngapain kalo aku ingin mendapatkan ini ?"
Di fase ini, kita tidak perlu lagi menawarkan dagang / kesepakatan dengan anak untuk melakukan apa yang kita inginkan. Anak dengan sendirinya mengajukan diri sebagai penjual.

4 - 6 tahun
Jangan takut anak kita akan tumbuh menjadi anak matre, jika rute pengasuhan ini berjalan sesuai dengan kesiapan belajar anak.
Pada saat anak memasuki usia ini, dia mulai menjadi rekanan kita, sudah menawarkan win - win solutions.
Dan semua perdagangan / model kesepakatan tadi akan berhenti dengan sendirinya di fase ini. Dia akan berkompromi dengan kita tanpa pake syarat-syarat kok. 

Masuk ke sessi tanya jawab :

Saat ini kita masih tinggal di rumah orang tua. Kita ingin menerapkan kedisiplinan ke anak, tapi kok rasanya kakek - nenek (orang tua kita) tidak mendukung program kita, malah cenderung menuruti semua keinginan cucu (anak kita). Bagaimana menyikapinya ?

Satu hal yang musti kita ingat : siapa pemilik rumah dimana kita tinggal ?
Biasanya pemilik rumah merasa berhak mengatur semua yang berada dalam wilayahnya. 
Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mengusahakan supaya kakek / nenek tertarik dengan apa yang kita pahami tentang pengasuhan anak kita.

Caranya : Sering-seringlah beriklan tujuan pengasuhan kita ke kakek / nenek supaya kita semua dalam rumah itu berjalan di atas rel yang sama.

Jika opsi di atas tidak berhasil dilakukan, maka pergilah menyelamatkan diri. Menyelamatkan diri ya, bukan melarikan diri. 

Maksudnya mencari tempat dimana kita bisa melakukan apa yang kita canangkan untuk mencapai tujuan pengasuhan, tanpa ada distorsi.
Karena jika kita teruskan tinggal di sana, tentu akan terus susah menerapkan displin dan komitmen terhadap suatu kepercayaan/ janji tanpa intervensi kakek / nenek.

Contohnya begini : kita sudah ada kesepakatan dengan anak untuk tidak boleh makan es krim selain hari wiken.
Suatu ketika, anak menemukan es krim di lemari es. Dan dia pengen makan es krim itu. Dia minta ijin sama kakek / nenek di rumah. 

Namapun kakek / nenek yang mudah luluh hatinya, biasanya gak tega kukuh pada kesepakatan yang dibuat antara anak dengan orang tuanya. 
Bisa jadi kakek / nenek tanpa disadari menganjurkan seperti " OK, kamu boleh makan es krim. Tapi jangan sampe ketauan Mama mu ya... "

Sebenarnya jika episode kayak gini dibiarkan terus menerus akan membuat anak terbiasa tidak memegang komitmen. 
Jangan salahkan jika suatu hari efeknya anak tumbuh menjadi orang yang suka berselingkuh.

Kondisi dimana kakek / nenek, ayah, ibu tidak kompak dalam menjalankan pengasuhan adalah kondisi yang ideal buat anak. Karena jika dia menginginkan sesuatu, ada salah satu pihak yang akan 'gratisin' (memberikan apa yang dia mau, tanpa perlu dia berusaha).

Bagaimana menghadapi anak yang tantrum di pusat perbelanjaan ? Kayaknya gak mungkin banget kita bikin kesepakatan dengan anak saat dia tantrum pengen sesuatu di tengah keramaian gitu ?

Jika kita ingin menjalankan peran sebagai fasilitas belajar bagi anak, liat terlebih dahulu tempatnya. Apakah tempatnya memang layak untuk anak belajar ? 

Kalo memang mental kita belum siap menghadapi anak tantrum di keramaian,  pusat perbelanjaan bukanlah tempat yang layak buat anak belajar. Maka sedari awal niatin aja akan ngasih gratisan.
Jadi apa yang dia mau, penuhi aja daripada dia tantrum.

Catet : ini hanya dilakukan di tempat yang tidak kondusif buat belajar.

Kalo menghadapi anak tantrum sendiri harus diambil tindakan. Istilah yang dipake itu adalah 'penjara'. I know kesannya memang konotasi negative.

Tapi yang dimaksud istilah penjara ini justu adalah tindakan meredakan amukan anak, tantrum anak tanpa harus menyakitinya.

Cara yang dimaksud adalah memeluk anak dan mengunci supaya dia gak bisa bebas bergerak.
Rada susah emang. 
Itulah kenapa semua kebiasaan tantrum ini sudah harus dituntaskan pas anak usia 3 tahun.
Karena jika meredam anak tantrum dengan pelukan kunci, tenaga kita masih lebih kuat dibanding tenaga anak. 
Coba aja kalo udah di atas 3 tahun, setengah modar kita ngunci tenaganya. Apalagi kalo kita sendiri udah renta. Hahaha... #eh ngomongin diri sendiri ya, Ndah ?

Terus gw nanya deh. Ini yang bikin gw dapetin mug X4C dan difoto sama fotografer mirip Steve Emmanuel, hahaha...
Kalo sedari awal kita gratisin, apa gak bikin anak jadi belajar ' oh kalo mo dapetin apa-apa, mintanya di mall aja. pasti dipenuhin sama Mommy' ?

Kalo kesanggupan kecewa dan kepedulian anak belum tumbuh, mungkin bisa jadi 'aji mumpung' seperti itu. Tapi jika rute pengasuhan kita sudah benar, dan anak sudah terbiasa kalo dia menginginkan sesuatu, dia harus melakukan sesuatu, maka dia tidak akan melakukan itu.

Pertanyaan gw lagi
Athia suka bobo larut malam. Biasanya sih saya bilang ke dia : " Athia, kalo gak bobo sekarang, besok Athia ngantuk di kelas jadi gak bisa maen dan belajar sama temen-temen". Walopun anak saya baru berusia 3,5 tahun tapi saya ingin anak saya belajar konsekwensi. 
Jika dia bobo malam, dia akan ngantuk di sekolah tapi sebagai konsekwensi, dia tetap harus ke sekolah. Saya gak mau dia belajar ' kalo ngantuk, mommy bolehin aku gak usah sekolah'. Apakah yang saya lakukan ini tidak terlalu lebay untuk anak seusia Athia ?

Kita tidak bisa membuat kesepakatan (memperdagangkan) soal fisik ke anak.
Kita gak bisa menyuruh dia bobo, sementara dia belum ngantuk.
Kita gak bisa memaksa dia ngabisin makan malamnya, sementara dia udah kenyang.
Kita gak bisa nyuruh dia makan, sementara emang dia gak laper.

Inilah pentingnya mengatur rutinitas di usia 0-1 tahun tadi, jadi dia udah terbiasa bobo di jam yang kita inginkan.
Kalo gak, kasih anak aktivitas yang menguras tenaganya sehingga dia kecapekan dan bobo lebih cepat.

Dan kalo ngantuk diperbolehkan gak sekolah, maka besok-besok anak akan ngantuk melulu supaya dia gak usah sekolah. Heu heu heu...
Buat situasi dimana dia akan memilih berangkat ke sekolah dibanding gak sekolah.

Jadi Sang anak belajar ' oh ternyata kalo gak sekolah justru lebih gak enak daripada sekolah'. 
Di sekolah dia bisa bermain, outdoor activity. Sementara kalo di rumah pada hari sekolah, dia malah disuruh di kamar aja. Gak boleh main, gak boleh nonton DVD kesayangan.

Bagaimana caranya mengajarkan anak bertanggung jawab ? Misalnya saat dia menumpahkan air, gimana supaya dia mau membersihkan tumpahan airnya ? Ato supaya dia mau membereskan mainannya kembali setelah selesai bermain ?

Kita baru bisa menuntut anak belajar tanggung jawab jika anak sudah memiliki rasa bersalah.
Tanamkan bahwa tanggung jawab itu bukan hanya sekedar meminta maaf. Minta maaf itu hanya bagian dari sopan santun, tapi bukan bagian dari tanggung jawab. 
Ini perlu ditegaskan ke anak, supaya anak tidak memahami bahwa minta maaf = bertanggung jawab.
Jika melakukan kesalahan, dia cukup minta maaf dan masalah dianggap selesai.

Buatlah tanggung jawab itu menjadi suatu kebiasaan. 
Tapi saat mengajarkaannya jangan dipaksa, karena anak akan merekamnya tanggung jawab sebagai sesuatu yang tidak enak buat dia.

Misalnya anak menolak membersihkan lantai sebagai bentuk tanggung jawabnya, " Aku gak mau bersihin lantai ah, aku mau makan siang aja "
Emak : " Boleh...tapi setelah kamu bersihkan lantai "
Anak : " ya udah, kalo gitu, aku gak jadi makan siang, aku mau bobo aja "
Emak : " Boleeh, tapi kamu bersihin dulu lantainya..."

Intinya kita harus arahkan dia bahwa dia bisa melakukan apa yang dia inginkan, setelah dia menyelesaikan tanggung jawabnya.

Kalo permasalahan bermain, biasanya kita cenderung memperlihatkan proses bermain dalam tiga proses kayak gini :
- Nyiapin  mainan
- Bermain
- Beresein mainan

Nyiapin mainan, anak pastinya semangat karena abis itu kan dia akan maen. Kalo giliran beresin mainan, biasanya anak males karena gak enak buat dia. 
Mainnya kan udahan.
Intinya adalah gimana kegiatan beresin maenan ini jadi kegiatan yang menyenangkan buat dia.

Kenapa ya anak saya, laki-laki kalo lagi seneng ato gemes sama temennya, dia suka memeluk temannya. Masalahnya temennya itu temen perempuan ?
Seperti yang pernah gw share dari seminar parenting sebelumnya, bahwa badan manusia itu bukanlah sesuatu yang seenaknya bisa dipegang-pegang.
Kenapa anak cenderung melakukan ini, karena dia meniru dari kelakuan orang dewasa.

Mungkin selama ini yang diliat oleh sang anak kalo ada yang gemes sama dia, ngajakin becanda, mereka mengexpresikannya dengan cara memeluk, mencubit pipi, mencium pipinya.
Dan kenapa anak laki-laki ini cenderung suka melakukannya dengan anak perempuan ?
Karena biasanya yang suka mengajarkan ini adalah kita, kaum hawa.
Jarang kan liat bapak-bapak sekonyong-konyong datang melukin anak di dalam stroller, menjowel pipinya. 

Makanya, biasakan jika ada yang mo sembarang pegang-pegang anak kita, cium-cium anak kita, tahan dan minta ijin dulu sama anak, dia memperbolehkan ato tidak. 
Dan jika dia tidak berkenan dicolek-colek, dicium-cium orang yang mungkin gemes sama dia, kita harus berada di pihak sang anak untuk tidak mengijinkan orang tersebut menyentuh anak kita.

Kayaknya cukup segitu aja deh rangkumannya. 
Itu aja udah kepanjangan. Sekilas emang bahasa yang digunakan rada gimana gitu. Namun waktu ikut seminar ini, gw jadi paham secara maksud keseluruhan tentang apa yang biasanya cuma gw baca sepotong-sepotong di milis.

Waktu di seminar Pak Ge sempat jelasin, yang menjadi tolak ukur kita apakah we are on the right track dalam pengasuhan anak adalah ketika kita sudah semakin percaya, sudah berkurang khawatirnya terhadap anak dan kita makin mudah berkomunikasi dengan anak.

Tujuan gw menulis review-review seminar sebenarnya untuk menyegarkan kembali ingatan dan pemahaman otak gw dalam bentuk tulisan tentang apa yang gw dapat dari seminar.
Namun, gw akan senang dan bersyukur banget jika review-review yang gw tulis bisa bermanfaat buat orang lain. 
Apalagi kalo ternyata dengan membaca materi seminar yang gw share, bisa membantu orang tua dan anaknya berkomunikasi lebih baik. 

Saat ini berseliweran informasi mengenai parenting sehingga gak sedikit membuat orang tua justru merasa labil gamang, teori mana yang paling bener, cara gimana yang paling cocok. Bahkan ada yang mulai merasa bahwa parenting ini adalah beban, momok.
Semua itu tergantung orang tuanya sendiri untuk memilih cara mana yang paling efektif untuk mencapai tujuan pengasuhan bersama sang anak.

Gak ada teori parenting yang bener-bener sempurna untuk semua orang.
Karena pasti akan adaaaa aja kelemahannya yang ngerasa 'gak fit' dengan teori yang kita pikir sudah perfecto banget ! 
Oh yes, ini berdasarkan pengamatan pribadi gw. 

Menurut Pak Ge lagi, Rute pengasuhan - pendidikan di atas bertujuan untuk membantu mencapai kedewasaan dalam batasan sanggup berpikir-belajar-peduli. Memfokuskan peran orang tua adalah untuk meneladanin-nemenin-kamusin.

Kalo pengalaman gw sendiri yang baru seumur jagung, parenting itu kemampuan gw mencampur tiga komponen : Ilmu, Art dan insting.
Bergawullah lebih sering dengan anak kita sehingga insting kita menjadi lebih tajam. 
Tanpa perlu dia berbicara banyak, kita sudah tahu apa yang dirasakan anak kita.
Kita tau kapan dia berbohong, 
kita tahu bahwa dia sedang dalam masalah, 
kita tau saat dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Kita tau kapan dia sangat membutuhkan kita.

OOT, Hari ini kayaknya gw bakalan sibuk berat. *ciyee...penting gituh diumumin di sini!*
Soalnya ada kerjaan dari Big Boss dan kudu kelar jam 3.
Do'ain ya semoga beneran bisa kelar sebelum jam 3. 

Rencananya selepas jam pulang kerja, gw ada mo ketemuan sama beberapa temen di Genk Ratjoen dan beberapa temen di Supermoms Indonesia. 
Kami mo memberikan dukungan berpartisipasi dalam salah satu event yang diadain oleh FemaleDaily nanti malam, acara launching party salah satu platform baru dari FemaleDaily. 
Jangan-jangan temen-temen di sini malah udah ada yang mulai maen-maen ke situ. :p

Adakah teman-teman di sini yang mo ikutan juga ? C U there ya!

14 comments:

  1. Baru gabung milis Om Ge ini minggu lalu, dan merasa 'tersesat' karena blom ngerti istilah-istilah yang dipake.

    Makasih ya mbak Indah untuk sharing-nyaaa :) Sangaat bermanfaat :D

    Semoga kita bisa jadi orang tua yang asiiik yaa :D

    ReplyDelete
  2. Makasih ya jeng, untuk selalu membuka mata, hati dan pikiran ..... #ketjup#

    ReplyDelete
  3. makasih banyak, mbak indah, buat reviewnya :)
    sangat membantu sekali saya yg berbalita 1 ini :D

    ReplyDelete
  4. kadang sebagai orang tua suka ngasih begitu aja ya karena kasihan melihat anak sendiri :) padahal itu salah ya

    ReplyDelete
  5. hihihi asli ngakak gue yang bagian emak garuk2 kepala pake linggis..:D

    pak toge canggih ya ilmunya..suka banget deh ama perumpaan2 yang dikasih. Jadi banyak belajar juga inih..;))

    ReplyDelete
  6. bagian manjat sofa (kalao kanaya senangnya manjat tempat tidur) itu yg paling kena buat aku mba Indah... seringnya emang aku bantuin naik, supaya ga jatoh, tapi pernah juga cuma aku liatin aja dan ternyata emang udah mahir meskipun tempat tidurnya tinggi.... emak2 emang harus ngilangin khawatir yg berlebihan ya...

    ReplyDelete
  7. Astaga, Ndah, salut banget deh kamu bisa bikin rangkuman sepanjang ini... thanks banget yaaa

    ReplyDelete
  8. Mba..makasih banyak ya buat rangkumannya..lagi bingung dan tercemplung kesini..Alhamdulillah dapet pencerahan...

    salam kenal..

    aRie

    ReplyDelete
  9. gue sempet ikutan milisnya *eh yg parenthink itu bukan sih* cuma kuat bbrp hari,lalu OUT....hehehe abisan gue lbh sering terima imel yg bukan ttg parenting...

    setuju bgt apa kata lo ndah...kita ambil yg menurut kita cocok dan sesuai dengan pola pikir,pemahaman dan insting kita...krn gak ada satupun ilmu parenting di dunia ini menurut gue yg plak plek bisa diterapin utk semua kondisi anak,hehehe...ahh jadi panjang...eniweeii terima kasih review nya...selalu dapet ilmu baru..*gabungkan...gabungkaann :) *

    ReplyDelete
  10. Aduh sesuatu deh dapat ilmu baru disini, aku copy print deh buat didiskusikan bareng suami. TFS ya mbak Indah yang cantik *kecup*

    ReplyDelete
  11. Hmm nggak rugi melupakan release me release document demi BW kesini, duh..thank u mak...keren abis sharingnya...ILmu lagi didapat..ilmu gratis hasil bw yah seperti ini..padahal ilmu ilmu parenting kayak gini kan mahal yah...kalo ikut seminarnya aja bisa ratusan ribu :) *kidding mbak...
    asli berguna banget..diuluas dari berbagai aspek dan sudut pandang..top bgt ijin copas share sama bojo...dan kawan kawans..yang emang pingin update ilmu parentingnya..:)
    Jazakillah mbak indah cantik..:)

    ReplyDelete
  12. Wiiih mantebs ulasannya mam. Thanks berats ..jd nambah ilmu :-)

    ReplyDelete
  13. Wah lengkapnyaaaa!
    Aku ingat banget sering ngomong "Bunda mau kepasar...Little Bee mau ikut atau tinggal dirumah?Klo mau ikut, ayo mandi"
    Berarti udah bener yak? Sukurlaaaaah.... *lega*

    Makasih ya mbak Indah! Sering-sering posting ginian!

    ReplyDelete