9.26.2012

Session 2 : Upgrading My Parenting Skill

Sama seperti permintaan Bu Elly Risman di session 1, apa yang kami dapatkan dan kami serap di session 2 sebaiknya kami share kepada tiga lingkungan yang mungkin mempengaruhi anak-anak kami.

Dan sama seperti rangkuman di session 1, ini akan jadi postingan yang sangat panjang. Semoga yang baca tetap tertarik membacanya hingga kata terakhir, karena ini bermanfaat untuk melindungi buah hati kita.

Diawal seminar, Bu Elly minta izin kepada peserta yang sudah pernah mengikuti Materi Session 1 untuk mengulang sekilas beberapa point penting materi session 1 kemarin.

Mengapa Bu Elly dan Team menyiapkan satu materi khusus mengenai Kekerasan Seksual pada anak ini ?
Dan mengapa akhirnya Supermoms Indonesia memilih materi ini sebagai salah satu topik dalam Seminar Tetralogy tahun ini.

Bu Elly menjabarkan data dari Pratista Indonesia, rekapan data Kasus Anak selama periode April 2005 - Agustus 2012 (untuk kota Bogor, Kab. Bogor dan Luar Bogor).

Mari kita perhatikan dan analisa bersama-sama grafik yang sudah disiapkan oleh Tim Bu Elly Risman...
Data statistik Kasus Yang Menimpa Anak
Data statistik tersebut di atas yang mendasari Bu Elly Risman dan Supermoms Indonesia merasa penting untuk meningkatkan pengetahuan kita untuk mencegah kekerasan sexual ini pada anak.

Sebelum kita lanjut lebih dalam ke upaya menghindari kekerasan seksual terhadap anak kita, gw pengen check pemahaman kita sebagai orang tua dulu deh. *eciyee...Bu Elly Mode ON*

Sebenarnya, saat mendengar kata " Kekerasan Seksual ", kita ngertinya apa sih ? 
Kayak gimana sih yang bisa dikategorikan sebagai " kekerasan Seksual " ?
Jangan sampe gw ngomong sampe berbusa-busa, nulis sampe tangan keriting soal Kekerasan Seksual, tapi kita malah gak ngerti apa itu Kekerasan Seksual.

Jadi, yang dimaksud dengan 'Kekerasan Seksual' itu apa sih ? 
adalah kegiatan atau aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa atau bisa jadi oleh anak yang lebih besar, terhadap anak, balita atau bayi. 
(punten, kalo saya tambahin ya, Bu karena sekarang bayi pun sudah banyak yang menjadi korban kekerasan seksual)  

Kegiatan ato seksual yang dimaksud bisa bermacam-macam. 
Bisa melibatkan fisik korban secara langsung maupun secara tidak langsung.

Kalo yang melibatkan fisik korban secara langsung kayaknya lebih gampang kita deteksi sebagai kekerasan seksual ya. 
Contohnya : membelai ato meremas-remas bagian sensitif anak, yang lebih parah tindakan perkosaan.

Yang selama ini mungkin gak kita sadari bahwa itu merupakan bagian dari kekerasan seksual, contohnya : 
  • diolok-olok dengan kata-kata porno *Kalo kita gak nyaman dengan  becandaan porno yang dilakuin bapak-bapak termasuk kekerasan seksual juga gak sih ?*. 
  • Pernah ngeliat pria exhibitionist yang suka memamerkan alat kelaminnya kan ?
  • Ngintipin orang mandi 
Sekarang, coba kita kembali melihat data-data statistik yang disiapkan oleh Bu Elly dan Team mengenai Kekerasan Seksual ini terhadap anak


Ternyata lebih banyak korban yang tidak tau, tidak mengerti
atau merasa tidak pernah menjadi korban kekerasan seksual
ya iyalah pasti marah dan trauma
Masya Allah...
Saat Bu Elly menunjukkan kepada kami sekilas berita tentang kekerasan seksual mulai dari keluarga sekandung memperkosa keluarganya, kemudian ditampilan ulangan berita mengenai anak-anak usia SD yang sudah berani melakukan hubungan seksual di bawah tenda pesta pengantin. Astagfirullah...

Apapun yang sudah dilakukan anak-anak ini di usia dini seperti itu, gak bisa kita pungkiri bahwa anak-anak ini hanyalah korban. 
Karena bagaimanapun karakter seorang anak terbentuk tentunya tidak terlepas dari bagaimana pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tuanya di rumah.

Marilah kita bersama-sama bercermin, mengintropeksi diri, melihat kembali tujuan pengasuhan yang kita sudah terapkan ke anak di rumah kita selama ini.
Ingatkah kita bahwa setiap anak yang dianugerahkan ke kita, bukanlah milik kita namun hanyalah titipan-Nya, dimana kita PASTI dimintai pertanggungjawabannya ?

Bagaimana selama ini kita berkomunikasi ke anak kita ? 
Apakah hanya komunikasi satu arah ? 
Sudahkah kita berikan perhatian yang dibutuhkan anak kita ?
Iya, Iya...kita mungkin sudah sering memberikan bentuk perhatian ke anak kita. Begitu anak pulang sekolah, kita sudah berikan perhatian dengan 
" Kamu ada PR ? Jangan lupa bikin PR dulu baru boleh main ya " , 
" Kamu jangan lupa makan siang, abis itu bobo sampe jam 1. Mama mo ingetin, jangan lupa kamu ada les bahasa Inggris jam 3 sore ya..."

Oh, kalo si anak ternyata sudah memiliki adik, Ibunya mungkin akan menyambut si anak pulang sekolah dengan situasi kurang lebih kayak gini " Kamu udah pulang ? Eh, eh...buka sepatumu dulu terus susun di rak sepatu. Abis tuh makan... " seraya menggendong adiknya, nenenin adiknya. 
Ato sambil nyapu. 
Sambil goreng ikan. 
Apalagi ngomong sama anak, matanya fokus nonton infotainment gosip seru Syahrince.
Whatever, intinya : ngomong sama anak pake disambi lah.

Hayooo....siapa yang sering melakukan hal ini, ngomong sama anaknya disambi ngelakuin kerjaan yang lain ??
Serius loe, In the name of MULTITASKING MOM ?! 

Oh C'mon, Mommy...
Jangan pernah komunikasi sama anak kita dengan disambi ngerjain hal yang lain!

Jika memang ada pekerjaan yang musti kita bereskan, buru-buru selesaikanlah sebelum anak kita pulang ke rumah.
Jika dia sudah dikaruniai adik , pastikan adikmya sudah bobo ato sudah tenang, sehingga kita bisa bener-bener fokus dengan apa yang Kakak alami hari itu.

Pernahkah selama ini kita menanyakan pendapat anak kita ? 
Tau gak, bahwa menanyakan pendapat anak itu merupakan bagian dari Teaching Thinking.
Selain mempunyak efek yang sangat penting untuk merangsang logika anak, menanyakan pendapat anak kita terlebih lagi yang berhubungan dengan dia,  juga merupakan bentuk validasi kita terhadap anak. 
Bahwa dia diterima dan dihargai keberadaannya di tengah keluarga.

Sudahkah ayah menjalankan perannya dengan baik dalam DUAL PARENTING ?
Gw udah rangkumin betapa penting peran ayah dalam pengasuhan anak di session sebelumnya. 

Bagaimana kita mengajarkan ajaran agama dan nilai-nilai yang kita anut dalam keluarga kita ke anak ?
Apakah selama ini kita subkontrakkan pendidikan agama anak kita ke sekolah "Al-Al-" an, guru ngaji, guru PPKN ?
Padahal yang tau persis nilai-nilai agama seperti apa yang kita harapkan ke anak, adalah orang tuanya sendiri kan ? 

Emangnya siapa nanti yang diminta pertanggungjawaban atas anak di hadapan Tuhan ? 
Adalah kita sebagai orang tuanya.  
Guru sekolah, guru ngaji, Ustadz A, Ulama B mah gak akan diminta pertanggungjawabannya atas kehidupan anak kita.

Masalahnya : bagaimana kita bisa pede mengajarkan ajaran agama yang kita anut ke anak kita jika kita sendiri aja banyakan gak pahamnya ?

Siapa sih pelaku kekerasan seksual terhadap anak itu ?
Di negara manapun di dunia ini, kekerasan seksual umumnya justru dilakukan  oleh orang yang dekat dan dikenal anak.
Nah lho!

Gimana caranya mereka bisa melakukan kekerasan seksual itu ke anak kita?
Bisa dengan cara mengancam anak kita maupun membujuk mereka.
Saat melakukan kekerasan seksual, anak kita gak berani bilang kepada orang tuanya karena diancam oleh sang pelaku.
Tapi bisa juga karena dibujuk, dirayu dan diiming-imingi dengan sesuatu yang membuat anak tertarik dan lengah.

Kenapa sih kekerasan seksual ini semakin marak terjadi ?
Yah karena orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar di sekitar anak kita sudah mengalami kerusakan otak seperti yang diuraikan dalam seminar session 1. 
Jadi bisa dikatakan jika seseorang kecanduan pornografi dibiarkan terus menerus, maka orang tersebut akan mengalami kerusakan otak dan terus terangsang untuk melakukan kekerasan seksual ini.

Salah satu penelitian mengatakan bahwa akhir-akhir ini Phedofilia justru meningkat dengan pesat.
Mengapa ?
Karena menurut hasil observasi, saking ketagihan dan selalu menginginkan sensasi yang lebih tinggi efek pronografi, mereka ini sampai menganggap bahwa dengan melihat foto-foto anak-anak kita justru dianggap memberikan sensasi seksual yang tertinggi. Ewwwwww!!!

Jadi kita mulai harus mulai berhati-hati dengan keberadaan foto-foto anak kita yang dirasa bisa membangkitkan nafsu para phedofilia ini. 
Emmm...Gw langsung kepikiran satu hal. 
Sering banget ngeliat anak-anak jalanan yang masih balita itu di pinggiran lampu merah dalam keadaan tanpa mengenakan celana dalam.

Ya Allah, Ya Rabb, lindungi lah mereka, Anak-anak yang tidak pernah memilih untuk dilahirkan dan dibesarkan dengan dunia seperti itu.

Di sisi lain, sebagai orang tua, kita juga belum terbuka matanya akan kejahatan yang mungkin mengincar buah hati kita. 
Kita kurang membekali anak kita bagaimana menghindari kekerasan seksual ini.

Kita tidak memberikan anak kita kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya, sehingga otaknya gak pernah dipakai untuk berpikir. 
Padahal dengan mengasah kemampuan anak untuk berpikir, anak menjadi lebih kritis terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar dia. 

Kita juga tidak membekali dia dengan konsep diri : bahwa DIRINYA sangat berharga! 
Sangat berharga untuk disentuh, 
sangat berharga untuk diserahkan kehormatannya untuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kita gak pernah ngajarin mereka untuk waspada sekaligus bagaimana menjaga dirinya terhadap segala macam bahaya yang mengancam dirinya, termasuk pelecehan seksual dan perkosaan.

Mungkin selama ini karena kita terlalu sibuk ngurusin : " Udah ngerjain PR ?", " gimana ulangan kamu ?" , " Udah les ini itu ?"

Demi mengantisipasi tindakan kekerasan seksual ini, gak bisa kita lakukan hanya dengan dari sisi kita saja. 
Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita mengasuh anak, kita juga harus menggalang kerjasama di dalam maupun di luar rumah.

Kerjasama ? Kerja sama yang gimana sih yang dimaksud ?
  • Tentunya kerja sama Ayah dan Ibu dalam mengasuh anak. Lagi-lagi menekankan pada konsep : DUAL PARENTING.
  • Kerja sama dengan orang yang terlibat dalam pengasuhan anak kita. Jelaskan tujuan pengasuhan kita kepada Orangtua kita, mertua kita sehingga dalam mengasuh anak, kita semua berjalan seiring sejalan dalam rel yang sama. Komunikasikan juga pengasuhan seperti apa yang kita harapkan dengan pengasuh anak kita, supir. Saat kita merekrut pengasuh anak atau supir, pastikan kita menseleksi mereka dengan sebaik mungkin dan memastikan mereka mempunya track record yang bersih. *oh well, boro-boro yang bersih, kadang kita suka sedapetnya aja karena terdesak kebutuhan ? Lebih parah lagi ini terjadi pada Working Mom, yes ?*
  • Jalinlah kerjasama dengan pihak sekolah dan tetangga untuk ikut memperhatikan anak kita dan sekeliling kita. Informasikan dengan baik siapa saja yang boleh menjemput anak kita dari sekolah. Dengan makin canggihnya triks dan tipuan yang bisa mengelabui para guru, para pedator ini bisa lenggang kangkung membawa pulang anak kita dari sekolah. Coba cari cara untuk mensiasatinya. Misalnya dengan mensepakati " password" yang hanya diketahui oleh anak kita dan kita. Maksudnya jika ada orang asing yang ingin menjemput anak kita tanpa ada konfirmasi dari orang tua, mintalah orang asing tersebut menyebutkan kata sandi rahasia.
  • Cobalah bekerja sama dengan lingkungan RT, RW, bagaimana kita bisa bersama-sama memonitor dan mengawasi warnet, sewaan komik, games on line supaya keberadaan bisnis ini tidak merusak anak-anak kita dan lingkungan sekitar kita.
Sekarang, bagaimana cara kita mempersiapkan anak kita supaya anak kita bisa menjaga dirinya dan waspada terhadap bahaya yang mengancam tadi ?

1)  Tentunya dengan meningkatkan komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak
Seperti yang dijelaskan di atas tadi, jangan komunikasi dengan anak dalam suasana terburu-buru, ato dengan disambi hal yang lain. 
Buatlah suasana santai agar anak lebih rileks dan komunikasi yang terjadi dalam bentuk dua arah. Antara anak dan orang tua.

Gunakan kalimat bertanya dalam menyikapi pertanyaan dari anak.
Misal, jika anak kita yang baru berusia 3 tahun mendadak bertanya kayak gini " Pacaran itu apa sih, Ma ?"
Jangan terburu-buru panik, tegang ato ketakutan teu pararuguh. 

Biasakan untuk menanyakan apa yang dia pahami tentang apa yang dia tanyakan, " Yang kamu tahu apa, nak ?" 
Dengarkan apa yang dia tahu. 
Bisa jadi apa yang dia pahami ternyata tidak seperti yang kita takutkan. 
Bisa jadi apa yang dipahami anak jauh lebih sederhana. Pola pikir anak kan belum serumit kita.

Dengan mengajukan kalimat bertanya seperti itu, kita sedang melakukan "Teaching Thinking " ke anak. 
Kenapa ?

Ketika diberikan pertanyaan balik, anak akan memeriksa dirinya tentang apa yang dia tanyakan, kemudian itu akan merangsang anak untuk berpikir.
Ya iya dong, karena kan sebelum memberikan jawaban, tentunya anak harus berpikir dulu jawaban apa yang mau diberikan. 

Dan jika ini dilatih terus, maka anak kita tentunya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kritis.

Ingat : jawaban anak kita mungkin akan berasa #gak penting banget. 
Tapi yang penting buat kita adalah proses bagaimana anak berpikir sebelum memberikan jawaban.

Saat mengkomunikasikan hal ini dengan kakak, bisa jadi caranya berbeda dengan saat membicarakannya dengan sang adik. Karena bagaimana kita berkomunikasi ditentukan oleh :
- Tergantung jenis kelaminnya
- Tergantung usianya
- Tergantung emosi anak : apakah dia anak yang extrovert ataukah introvert
- Tergantung kecerdasan anak

Jika anak kita tergolong anak yang pintar, kita harus mempersiapkan mental dengan kemungkinan timbul pertanyaan -pertanyaan kritisnya seperti " Apa lagi ? " apa lagi ?"

Tapi tahukah, bahwa dengan mendorong anak berpikir kritis akan membantu anak menghadapi kasus per-bully-an yang marak dalam kehidupan anak kita belakangan ini ?

Sedikit intermezzo bagaimana kita menyikapi kasus per-bully-an ini :
Gw mungkin mengacu kepada agama yang gw anut. 

Bismillah

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِي

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim“. Ash-Shuraa:40

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

 “Tetapi barangsiapa yang sabar dan suka memaafkan, sungguh hal yang demikian itu termasuk hal yang diutamakan“. Ash-Shuraa:43

Selalu tanyakan anak emosi yang dia rasakan,
Biarkan dia membuat pengeluaran got emosinya, meluapkan apa yang dia rasakan.

Jelaskan kepada anak bahwa balasan untuk anak yang suka memukul adalah hal yang serupa, yaitu pukulan. 
Mereka boleh saja balas memukul saat dipukul temannya, tapi jangan lupa untuk mengingatkan lanjutan ayat tadi.
Jika kita memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah.

Toh kalopun kita balas memukul tidak akan menyelesaikan masalah. 

Biasanya anak yang sudah terbiasa berpikir kritis, dia akan menanyakan ke temannya yang suka memukul " Kenapa sih kamu pukul-pukul aku ? " 
atau dengan tegas berani mengutarakan perasaannya " Aku gak suka dipukul sama kamu "

Tapi ini bukan berarti kita mengajarkan anak untuk membiarkan orang bertindak semena-mena terhadapnya.
Kita pun harus mengajarkan sejak dini untuk fight back!
Mengajarkan bahwa dia jangan sampai kehilangan Dignity nya!

Sebaliknya, adalah PR buat orang tua dan guru yang salah satu anaknya suka memukul untuk mencari tahu latar belakang yang menyebabkan si anak menjadi pembully seperti itu.
Karena dibalik seorang anak yang suka membully, semua berawal dari lingkungan rumahnya!
Jadi kita harus cari tau dulu akar permasalahan dari anak tersebut mengapa dia suka memukul.

Sementara jika anak kita suka memukul, bisa kita coba ajarkan ke anak seperti ini :
Pegang tangan anak, lalu katakan seperti ini " tangan untuk mengambil barang, tangan untuk melambai, tangan untuk mengusap... tapi TIDAK UNTUK MEMUKUL "
Ulangi terus menerus.
Fungsi tangan bisa aja diganti-ganti, asal intinya mengingtakan bahwa fungsi tangan ini bukanlah untuk memukul

OK, balik ke lagi ke topik seminar session 2.
Apabila kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan anak, jangan ngarang bebas membohongi anak ya, Bapak Ibu. 
Jangan dipikir seakan-akan karena masih kecil anak bisa dibohongi.
Percaya deh, anak zaman sekarang gak selugu kita saat dibohongi dulu. Heu heu heu...
Akan lebih fair buat dia jika kita terus terang aja" Nak, saat ini mama tidak tahu jawabannya. Mama cari tau dulu jawabannya nanti Mama kasih tahu ke kamu ya "

2) Ajarkan ke anak bahwa tubuhnya berharga 
Kenapa DUAL PARENTING dirasa perlu ?
Salah satunya karena orang yang paling penting untuk membuka pembicaraan ini adalah AYAH.
Mulailah dengan pernyataan seperti ini " Athia...Athia tau gak,kalo Athia itu adalah milik Deded yang paling berharga di dunia ini. Makanya jangan biarkan sembarangan orang menyentuh atau mengelus-elus badan Athia yang berharga ini ya, Sayang... Inget pesen Deded ya, Sayang'

Untuk menanamkan bahwa tubuhnya adalah miliknya yang penting, bisa dimulai dengan memperkenalkan kepemilikannya. Seperti " Ini bajuku ", "Ini rambutku ".
Jadi anak dengan mudah memahami dan berani untuk mengatakan " Ini badanku, Punyaku!"

3) Kenalkan pada anak bedanya : orang asing, kenalan, teman, sahabat, kerabat dan muhrim (bagi yang muslim)

Orang asing:
Adalah orang yang tidak dikenal sama sekali.

Misalnya : orang yang ketemu sama kita saat antri di kasir supermarket, orang yang ketemu kita saat di Rumah Sakit.


Ingatkan anak untuk tidak boleh terlalu beramah tamah atau langsung percaya dengan orang asing ini.
Kalau ditanya nama, boleh dijawab.
Tapi jika ada orang asing yang menanyakan nama mama, nama papa, rumahnya dimana, di rumah ada siapa aja, jelaskan bahwa pertanyaan seperti ini gak boleh dijawab. 

Kenalan :
Adalah orang yang kita kenal namanya, sering lihat mukanya, pekerjaannya tapi tidak lebih jauh dari itu.

Misalnya abang tukang sayur langganan mama, tukang koran.
Kita sering lihat orangnya, kita tau namanya " Bang Samin ", tapi kita gak tau rumahnya dimana. 

Kalopun kita tau rumahnya di Pekayon, tapi kan kita juga gak tau pasti di sebelah mananya Pekayon.

Nah, dengan kenalan seperti ini, kita pun harus berhati-hati tidak memberikan informasi tentang keluarga kita lebih dalam.

Teman :
Kita tahu lebih banyak tentang dia bahkan tahu sifatnya. Kita boleh bergaul lebih baik dengannya, boleh mempercayainya tapi tetap pada batas-batas tertentu.

Misalnya : Timothy, Nickolas teman sekelas Athia di sekolah. Maira anaknya Tante Meryl yang sering playdate sama Athia.

Sahabat :
Lebih dari sekedar teman, kita sangat mempercayainya tetapi tetap dalam batas tertentu, tidak semuanya kita percaya.

Misalnya : Athia kan suka banget maen sama Aris. 

Kadang anak suka merasa sahabat itu segalanya. 
Jadi saat dia mengalami penolakan dari sahabat atau putus persahabatan, tak jarang anak menjadi  down. Takut untuk memulai persahabatan baru.

Persahabatan buat anak bak pisau bermata dua. Bisa memberikan sisi positive, namun juga kadang memberikan sisi negative.
Dan kelak, jika Athia harus deal dengan urusan persahabatan ini, gw mungkin akan berdamai dengan hati gw melakukan apa yang dishare Erry di sini.
*makasih ya, Bibi Titi Teliti. Di luar kebiasaan loe yang rada unik suka nendang kulkas itu, ternyata banyak sisi parenting yang bisa gw pelajari dari loe. Peluuuk*

Kerabat :
Anggota keluarga dekat
Ada hubungan darah atau perkawinan, yang kita kenal betul.

Kenalkan kepada anak silsilah keluarga besar kita, baik dari pihak ayah dan ibu agar anak mengenal siapa keluarganya, siapa kerabatnya demi menjaga tali silahturahmi. Jangan sampe anak kita tidak mengenal keluarga besarnya sendiri.

Namun kepada kerabat pun kita harus tetap berhati-hati lho. 
Udah banyak berita seorang paman memperkosa keponakannya kan ?

Muhrim
Bagi yang muslim, sejak dini kita harus mulai memperkenalkan bahwa muhrim adalah seseorang yang kita gak boleh nikah dengannya.
Dalam kesempatan ini juga, kita bisa mulai menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan aurat.

Misalnya mengapa Momom di rumah boleh gak pake jilbab, tetapi kalo ada tamu laki-laki pake jilbab. Ato kenapa kalo ada sodara dari Deded yang laki-laki, momom tetap pake jilbab.

Mengenalkan konsep keenam tipe kenalan tadi sebaiknya jangan dilakukan hanya sekali. 
Mungkin selama seminggu ini mengenalkan konsep orang asing, selama seminggu ke depan mengulang-ulang konsep kenalan.
Dan ini semua harus terus diulang-ulang karena otak anak belum bersambungan sehingga besar kemungkinan anak cepat lupa.
Dengan diulang-ulang terus menerus, sistem wiring dalam otak anak akan menebal sehingga anak akan lebih ingat.

Jangan lupa untuk selalu memeriksa pemahaman anak. 
" Sampai sini, Athia paham yang Momom maksud ? Hayo coba, tadi Momom bilang orang asing tuh yang mana, sayang ?"
Ini penting supaya penyampaian kita membuahkan pemahaman yang sama dengan yang diterima oleh anak.

Berikan contoh yang konkrit nan sederhana, karena itu akan lebih memudahkan anak dalam menyerap apa yang kita sampaikan.
Misalnya kita bisa memberikan kemungkinan-kemungkinan yang akan dia hadapi nanti , " Nanti kalo ada yang nawarin Athia pake mobil-mobilan, 'sini oom kasih mobil-mobilan. Tapi om mau nanya dulu dong, kamu rumahnya dimana ?', terus Athia jawabnya gimana, Sayang ?"

Ingat, metode pelaku kekerasan seksual tadi gak hanya berupa ancaman, tapi juga dalam bentuk bujukan. 
Dikasih tau sejelas mungkin ke anak, lengkap dengan contoh-contoh bentuk ancaman seperti apa, bentuk bujukan seperti apa, yang mungkin akan diterapkan oleh pelaku.

Somehow, gw terbiasa melakukan seperti ini juga kalo di pabrik.
Setiap gw abis ngasih training atau instruksi, gw selalu mengecek apakah yang diberi training atau instruksi paham dengan apa yang gw bilang.

Karena terkadang, seringkali apa yang gw sampaikan ternyata tidak sejalan dengan apa yang dipahami dan diserap oleh mereka. 
Sehingga harus diulang-ulang dan dipastikan bahwa mereka mengerti.

Dan saat menerangkan sesuatu, gw berusaha menerangkan dengan contoh sesimple mungkin, yang kira-kira bisa diterima oleh latar belakang trainee. 
Ini terbukti lebih cepat masuk di otak mereka, ketimbang sok-sokan ngasih bahasa yang sophisticated. Ujung-ujungnya mereka gak ngerti juga maksudnya apa.

See, itu aja masih kejadian di lingkungan pekerjaan yang notabene usia di atas 20 tahun. Apalagi untuk anak-anak usia di bawah 7 tahun ?

4) Selanjutnya PR kita adalah mengajarkan anak jenis-jenis sentuhan
Ada tiga jenis sentuhan

a) Sentuhan yang baik / diperbolehkan
    Menyentuh dari bahu ke atas atau dari lutut ke bawah

Biasanya sentuhan seperti ini dilakukan sebagai bentuk kasih sayang.
Misalnya dengan mengusap, membelai kepala, mencubit pipi, menyentuh dagu.

Tapi please note, ini semua sentuhan dengan tangan ya, bukan dengan bibir.
Hati-hati berciuman pipi, apalagi ciuman bibir.
Termasuk untuk yang suka ciuman bibir dengan pasangan, Jangan lakukan di depan anak.
Anak-anak kita adalah peniru ulung lho.
Takutnya kebiasaan itu dia lakukan juga dengan anak lain. 
Kan anak belum paham kenapa kita lakukan itu, dengan siapa sih itu boleh dilakukan.

b) Sentuhan yang membingungkan

  • menyentuh bagian badan dari mulai bahu sampai di atas lutut
  • Menunjukkan kasih sayang dan nafsu, misalnya mula-mula mengelus kepala, memeluk dan meraba bagian tubuh dari bawah bahu sampai atas dengkul. Ato bagi anak perempuan sih paling sering, mepet-mepetin dada supaya maaf, bagian payudaranya tersentuh bagian tubuh pelaku.

Maksud dari sentuhan yang membingungkan ini bukan berarti kemudian anak harus merasa bingung lho. 
Tapi pada bagian ini, yang perlu kita ingatkan ke anak adalah dia harus mulai waspada, masang ancang-ancang.

Yang membingungkan itu adalah maksud dan tujuan orang saat menyentuh bagian tersebut. Kita kan gak pernah tau pasti tujuannya, makanya saat bagian itu disentuh, ibarat lampu lalu lintas, anak sudah kita latih untuk bereaksi bak 'lampu kuning' , mulai waspada.

c) Sentuhan yang jelek

" LAMPU MERAH " jika ada orang lain yang mulai menyentuh :

  • Bagian tubuh yang ditutupi pakaian renang 
  • menyentuh, meraba-raba paha, atau bagian yang dekat dengan kemaluan

Ini berlaku untuk anak laki-laki maupun wanita.

5) Ajarkan anak untuk mempercayai insting nya / perasaannya
Kalo gw sih sering bilang ' naluri detektip' heu heu heu...

Disadari maupun tidak, tapi sebenarnya anak-anak sudah memiliki basic insting / kepekaan terhadap perasaan dan perlakuan orang lain terhadapnya.

Pernah ngeliat gak anak kadang menyodorkan tangan saat melihat seseorang yang mungkin menurut instingnya, orang tersebut tulus ?
Tapi kemudian anak tersebut memalingkan wajahnya, menolak digendong oleh seseorang yang menurut perasaannya bukan orang yang bisa bikin dia merasa nyaman.

Nah, anak kita sebenarnya bisa kita latih atau ajarkan untuk memperhatikan dan mempercayai berbagai macam perasaan yang dialaminya bila ia berhadapan dengan orang lain.
Apakah perasaannya itu menyenangkan, membingungkan atau malah menakutkan ?

6) Ajarkan anak untuk berkata TIDAK, GAK MAU atau JANGAN BEGITU !
Anak harus belajar berani bertindak tegas mengatakan : JANGAN BEGITU, TIDAK, GAK MAU kepada orang dewasa atau anak yang lebih besar dari dirinya saat dia merasa perlu melindungi dirinya sendiri.

Jika dirasa perlu karena dirinya terancam, anak diperbolehkan untuk berbohong.
Tapi agak kontradiksi sih sama apa yang kita ajarkan agar anak tidak berbohong. 
Makanya harus ditekankan benar-benar bagian ini : hanya jika dirimu terancam!

7) Yakinkan anak untuk bisa berbagi rahasia dengan kita
Inilah kenapa di awal tadi kita harus meningkatkan kualitas komunikasi antara kita dengan anak.
Agar anak merasa nyaman untuk menceritakan kepada kita setiap bujukan maupun ancaman yang datang kepada dirinya, berkaitan dengan pelaku kekerasan seksual ini.

Laah, bagaimana anak bisa mau jujur dengan kita kalo kita dianggap bukanlah tempat yang nyaman untuk diajak curhat atau paling gak diajak ngomong.
Anak baru mangap dikit, kita udah nyerocos motong pembicaraan
Anak baru ngaku sepatah kalimat, kita udah ngomel serentet kalimat.

Satu hal yang pernah gw pelajari, bahwa jika kita sudah menjadi tempat yang nyaman untuk diajak ngobrol, diajak curhat, umumnya anak dengan sendirinya gateel, gak bisa menahan diri untuk gak curhat ke kita.

Gak percaya ?
Lihat aja kelakuan kita sendiri.
Kalo kita udah punya sohib yang kita percaya, yang udah enak banget diajak curhat, setiap ada masalah, apa aja kayaknya gak afdol kalo kita gak curcol ke dese. Betul ?

8) Genapkan ikhtiar dengan doa
Setelah semua ikhtiar kita lakukan, selanjutnya kita hanya perlu berdo'a dan pasrah. Semoga Allah SWT melindungi anak dan keturunan kita dari bencana.

Setelah menyimak materi seminar session 1 dan session 2, apa yang kita rasakan sebagai orang tua zaman sekarang ?
Khawatir ?
Parno ?
Cemas ?

Semua itu adalah perasaan yang wajar kita rasakan. 
Itu adalah naluri kita sebagai orang tua adalah melindungi buah hatinya, dari bencana dan ancaman yang datang darimanapun, dari siapapun.

Kecemasan itu tidaklah membuat kita stuck, gak move on, apalagi tidak melakukan apa-apa.
Namun kecemasan itu haruslah kita sikapi dengan ilmu.

Kalo kata gw mah, menjadi orang tua dan parenting skill itu bak anti virus di gadget kita.

Parenting skill yang kita punya saat ini harus terus menerus diupgrade ke level yang mengikuti perkembangan zaman.
Jika kita hanya bertahan di antivirus versi terdahulu, tentunya tidak bisa menahan gempuran virus yang bermutasi tiap saat.
Jika kita hanya bertahan dengan parenting skill jaman baheula, tentunya udah berat banget membentengi anak-anak kita dari gempuran problema yang dihadapinya sekarang.

Anak itu bukanlah milik kita, dia hanya titipan.
Saat anak dilahirkan dari rahim kita, dia menangis, memecahkan kesunyian penantian kita selama 9 bulan, 
Dan kita tersenyum bahagia saat melihat dia terlahir sempurna. 
Tak kekurangan satu apapun.

Janganlah ketika tiba waktunya Yang Menitipkan meminta kembali titipan-Nya, kita kembalikan dalam keadaan 'rusak'...
Rusak pikirannya,
Rusak moralnya,
Rusak jiwa raganya.

Terjadi pada siapapun, usia berapapun, Kekerasan Seksual itu akan menimbulkan bekas dan trauma yang mendalam.

Karenanya mari kita kerahkan segenap jiwa dan raga untuk membesarkan, mendidik dan melindungi buah hati kita...

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan, masih dibukakan pintu hati dan pikiran untuk mengupgrade parenting skill gw...
Demi mencapai tujuan pengasuhan gw ke Athia
Agar dapat dipertanggungjawabkan ke Allah SWT ...jika tiba saatnya

Dan Insya Allah, tanggal 24 November nanti akan mengupgrade parenting skill untuk suatu topik " Ketika Anak Kecanduan Games ".

Semoga ulasan dan rangkuman ini bermanfaat untuk para orang tua yang senantiasa ingin mengupgrade parenting skill nya...
Karena kita tidak terlahir , satu paket komplit dengan parenting skill...
Apalagi dengan versi "automatically upgraded" *smile*

20 comments:

  1. Wow! TFS ya mba indah, berguna banget tulisannya. Smoga ortu jaman skarang makin aware sama pentingnya komunikasi & agama, jadi generasi anak anak kita udah makin terbebas dari bahaya bahaya seperti ini. Aamiin..

    ReplyDelete
  2. wii dikupas tuntas setajaaam sileeettt
    *mata ditajem2in biar keliatan judes :D.

    pengen ngerangkum seminar ini juga tapi koq gak bisa sedetail ini ya? *hammer.
    aku link langsung kesini aja boleh kah mbak? ^^. makasiih

    ReplyDelete
  3. Dunno what to say, kecuali thanks banget ya Ndah udah ngerangkumin yang *sepertinya* lengkap dan detil banget! *pake sepertinya, secara aku kan gak ikut seminarnya, hehe*

    ReplyDelete
  4. TFS Mbak Indah...ilmu parentingnya lengkap buatku sebagai new mom, tadi juga mampir di blognya mbak erry jadi kenyang deh sama ilmu baru, semoga bisa diterapkan dengan baik ke Amanda :D

    ReplyDelete
  5. ahh gilingan.. okeh bener ini materinya.
    berasa kyk lagi belajar secara langsung ;)

    komunikasi antara orangtua & anak emang paling penting. Gue pun setuju ama semua poin yang disebut diatas.

    mudah2an kita bisa jadi orangtua yang bisa bimbing anak2 dengan bener ya..amin..:)

    ReplyDelete
  6. @Allisa, iya lis...ini bener2 lengkap bin lengkap plus detail...secara aku ngerasa ngulang momen2 itu di saat bu Elly R berbicara di depan. Eh plus contoh-contohnya.

    TFS mbak Indaaah...yahuuud banget...aku link yooo :)

    ReplyDelete
  7. Makasi ya Mba Indah. Nanti mau bikin rangkuman juga biar saya sendiri lebih meresapi. Nanti saya link ya Mba Indah.. :)

    ReplyDelete
  8. Mbak, Indah... ck, ck, ck. Dari sejak ada preview-nya yang dah kayak sinetron mau tayang, sampe sekarang ditayangin, saluuuut. :D Komplet, lengkap.

    Aku? Oh, belon. Dan kebetulan karena ada kasus, jadi sekalian menerapkan. Postingnya nunggu hasilnya dulu deh. ;)

    ReplyDelete
  9. Thank you, Ndah
    Lengkap sekali:)

    ReplyDelete
  10. TFS kakaaak!!
    semoga memberikan banyak manfaat buat yang gak ikutan. aamiin
    makasih banyak

    ReplyDelete
  11. Indaaaaaah...
    makasih yah udah sharing semua ilmu nyaaaa....dan makasih juga karena udah nge link ke postingan gue...hehhehe...

    Merasa terhujam juga baca postingan inih, karena jujur gue tipe emak2 yang suka nanya2 ama Kayla dengan disambi...makasih udah di ingetin yah Ndah...

    dapet banyak ilmu mampir sinih :)

    ReplyDelete
  12. ya Allah, merinding bacanya. Semoga kita para orangtua diberi kemampuan untuk mendidik dan menjaga anak2 kita ya...

    ReplyDelete
  13. WOW! thanks ya mbak Indah ulasannya. Aku jg nyoba mengulas hasil seminar di blog-ku, tapi kok ga se-lengkap dan se-keren ini ya *ehem ehem* Okoknya kalo ada seminar2 lagi, untuk review-nya liat blog-nya mbak Indah aja :) Alhamdulillah, pas di seminar agak mengerti, setelah baca blog-nya mbak Indah makin mengerti hehehe.. *maklum faktor U, agak lila' nyerapnya ;p*

    ReplyDelete
  14. Berarti bokap gw ud menerapkan dual parenting dong, Ndah, alhamdulillah..
    Makanya gw sekarang juga menerapkan itu ke Nadya, semata karena gw ngerasa itu pengajaran yang bagus sih, hehehe..
    Skrg aja kl lg jl2 tau2 ada om2 nowel pipi Nadya, biasanya gw giniin dng senyum manis, "Jangan pegang2 ya, Pak. Bkn brg inih." Bodo amat si Om2 mo bereaksi apa, hihihi..

    ReplyDelete
  15. Sebelumnya salam kenal ya mba Indah :)
    Alhamdulillah stlh jadi silent-reader setia -nya mba Indah diriku jd byk dpt ilmu,terutama dlm hal parenting ini. izin share di blog aku ya mba *sungkem*,boleh kaaannn...???

    ReplyDelete
  16. ternyata sesi kedua kemarin aku banyak yg kelewat..maklum aku masuk telat ampir 1.5 jam :(
    tp rangkuman ini bener2 mewakili banget..komplit n jelas bgt..
    matursuwun yo jeng krn aku ga iso ngerangkum sebagus ini hahaha..

    ReplyDelete
  17. Hiikks...makjleb...dan kata kata penutupnya itu...di paragraf2 akhir...suksess dah bikin gue merembeess

    ReplyDelete
  18. Indah gue baru baca sedikit tapi langsung makjleb. Mau bilang makasih dulu skalian ijin mau copas ke kompie gue buat baca2 lagi.
    Banyak barokah udah buat lo yang udah luangin waktu buat nulis ini :)

    ReplyDelete
  19. hai mbak.. been a silent reader for quite some times.
    ijin : bookmark, copy, link boleh ya *si rakus
    kapan mau adain di Bandung? Saya siap bantu =)

    ReplyDelete
  20. wah mbak thanks alot sharingnya..lagi lagi ijin copas untuk sharing informasi dengan kawan emak emak atau bapak bapak disini...penting banget nieh...
    btw aku mau mau numpang bilang aku dah reply komen dirimu soal postinganku hehehe...asli aku ngakak hehehe guling guling..hehehe syahrini, anang hermansyah dan ashanti hari hari jadi guyonanku sama kinan..plesetan nama ayah dan mamanya..eh ndelalah pak security ditempatku malah sukanya godaain aku dan panggil aku ashanti gara gara tahu nama suami anang..heueheuehue.....*byuh apa aku nggak minder jauh banget bagaikan bumi dan langit..kekekeke...
    btw sorry yah mak ane nggak rajin bw, lagi rempong serempong rempongnya kemarin ada hajatan go live online procedure QMS ditempatku dan juga stock take...makanya ini niatnya mau rapelan mbaca postinganmu..asli bagi para blogger yang dah terlanjur aku jatuh hati untuk baca postingannnya nggak afdol rasanya kalo ketinggalan cerita serunya...nggak enak rasanya ketinggalan tulisan dan update dari seleb blog...hehehe...*kidding mak..asli pingin nambah ilmu...
    tfs yah mbak... aku lanjut rapel baca postinganmu mumpung lagi senggang dikit..sok pura pura masih sibuk stock take..padahal BW hehehhe...kekekekke

    ReplyDelete