6.20.2012

Growing Up is Optional

What a hectic week!
Tau-tau udah Rebo aja dan gw belum bisa blogwalking.


Gw lagi dilema nih. #tsaaah emang ada yang nanya??
Dilema karena ada perampingan di struktur organisasi gw, dan gw harus memutuskan siapa yang harus tetap tinggal satu team dengan gw; dan siapa yang harus angkat koper mutasi ke department lain.


Yang bikin dilema adalah : mereka semua adalah orang-orang yang udah bekerja sama sebagai team dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun. Bahkan ada yang udah 15 tahun, 13 tahun.  Amazing, huh ?


Mungkin cerita gw mengenai lingkungan pabs di blog ini banyakan cerita konyolnya ya. Tapi sebenarnya gw juga menyimpan beberapa cerita lain sebagai bagian dari perjalanan hidup gw.

Tahun 2004
Waktu itu gw masih kerja di pabrik yang lama. Salah satu inspector gw resign dan gw harus mencari penggantinya. 
Boss gw mengusulkan untuk ngambil dari internal karyawan kami aja. 
Anggep aja sebagai peluang untuk peningkatan karir alias promosi bagi karyawan. Terbuka bagi karyawan tetap maupun permanen yang penting masuk kualifikasi.


Posisi QC Inspector di pabrik gw yang lama itu selevel dengan team leader/foreman dan biasanya setelah probation ato kontrak 1 tahun, selanjutnya gw dan boss gw mengusahakan agar mereka diangkat menjadi karyawan permanent.


Biar karyawan merasa secure kerja di sini, sehingga dia bisa lebih fokus kerja tanpa dibebani pikiran macam-macam. Begitu argumen gw dan boss gw.


Jenjang karir di pabs itu biasanya kayak gini *CMIW, BunDit, Fitri Dyah mungkin lebih tau secara sesama orang pabs*
Operator - team leader / foreman - Officer/ Supervisor - Superintendent/Assistant Manager - Manager.


Bahkan ada beberapa perusahaan nambahin level : ASUP alias Assistant Supervisor. Beuuuh, makin panjang aja yak jenjang karirnya. Untung gak nambah AFOR : Assistant Foreman. 


Dan tau gak, ternyata beberapa perusahaan lagi, punya posisi helper
Buat bantuin si operator. Do'oh! 
Tapi sisi sopitipnya : membuka lapangan kerja.


Eniwei, gw menyambut usulan Boss gw tadi dengan senang hati. Segera gw lakukan komunikasi dengan HRD, dan rekruitmen pun dimulai. 


Ada banyak karyawan internal perusahaan kami yang melamar untuk posisi Inspector ini. Gak tau apa karena boss nya kece, baik hati, welas asih *ngaca* atokah karena mengejar status. 


Bukan status pelsong. Tapi status sebagai " Karyawan Permanent".

Termasuk ada dua kandidat yang saat itu melamar. 
Dua-duanya adalah operator yang masih menyandang status karyawan kontrak.  Setelah menjalani test, interview yang panjang, gw akhirnya memutuskan untuk memilih satu dari karyawan tersebut.


Menyakitkan dalam karir itu adalah 
saat boss loe (Team leader), bossnya boss loe (Supervisor), boss bossnya boss loe (Manager) udah tau kalo loe akan menjalani serangkaian test untuk posisi yang lebih baik di department lain; loe sudah menjalani sekian panjang rentetan test rekruitmen, loe sudah terpilih;  tiba-tiba indirect boss loe yang selevel dengan bossnya boss loe mengajukan keberatan ke Manager karena loe dianggap sebagai memegang kunci penting dalam pekerjaan di department loe.


WTH ??
Pengen ngamuk bawa golok gak sih ??

Jadi sebut aja Pak X, ngadep Pak Manager dan menyatakan keberatan kalo salah satu dari kandidat tersebut direkrut menjadi Inspector QC.


Alasannya : 
Karena mereka adalah salah satu orang terbaik produksi. 
Dan Pak X ini sudah menurunkan semua ilmunya ke kedua kandidat ini sehingga saat ini mereka udah megang peranan kunci di produksi. 
Kalo mereka pindah ke QC, terus produksi jadi galau kehilangan kunci.


Cetek kan alasannya ?
Kedua kandidat ini pun dipanggil sama Pak Manager.
Tentu aja keduanya udah menyatakan keberatan kalo dipaksa mengundurkan diri dari kandidat QC.


Alasannya ternyata cukup sederhana.
" Bapak Ibu saya teh bilang supaya saya ambil kesempatan ini, Pak. Bapak Ibu saya teh bilang yang penting saya kerja jadi karyawan tetap. Udah bertahun-tahun saya kerja di PT *red:perusahaan* tapi terus-terusan aja masih jadi karyawan kontrak. Saya cuma mau jadi karyawan tetap, Pak..." dengan logat Sunda sedemikian melasnya.

Apadaya, Pak X dan Pak Manager sudah bulat keputusannya untuk tidak melepas kedua kandidat ini. Giliran gw dong yang gak terima.


I just didn't get it.
Mereka karyawan terbaik produksi. The best employee di sectionnya!
Andalan di sectionnya.
Tapi mereka gak boleh dipromosi naik jabatan di department lain.
Sementara di department sendiri, udah gak mungkin ada posisi baru dengan level yang lebih tinggi dari posisi mereka saat ini.
Dan juga gak diangkat jadi karyawan tetap. 


Yang bisa diberikan :
naik gaji UMR, daaaan kontraknya terus diperpanjang. Dari satu outsourcing ke outsourcing yang lain.


Giliran Gw dan Boss gw yang maju :
" Kalo emang gak mau kasih kesempatan ke mereka berdua untuk peningkatan karir, harusnya ngomong dari awal. Jadi mereka gak usah ngelamar, gak usah ditest, diinterview. Gak perlu buang-buang waktu kami dan gak perlu menyakiti perasaan mereka!"

Gw dan Boss gw udah coba bawa issue  ini ke PresDir, tapi tetep yang dimenangin pihak Produksi.
Akhirnya boss gw nyerah dan bilang " Kamu cari kandidat dari orang luar aja, Ndah"


Dari situ gw belajar, bahwa masih ada orang cetek kayak Pak X.
Dan ternyata hidup itu gak selalu berjalan mulus dan gak selalu happy ending.
Tapi gw yakin Allah SWT punya rencana lain untuk kedua orang itu.


Sampe akhirnya gw rekrut orang luar, dan inspector gw itu jadi karyawan tetap, kedua orang ini cuma bisa meratapi nasib. Dengan tatapan iri.


Akhirnya mereka berdua diangkat juga jadi karyawan tetap. Tapi itu pun selang dua tahun setelah inspector yang akhirnya gw rekrut dari luar, menjadi karyawan permanent duluan.

Tahun 2010 dan 2011
Gw kembali merekrut inspector baru karena work loading pun kian bertambah.
Kembali merekrut dari internal.
Bedanya kali ini supervisornya bukan orang yang sama dengan supervisor produksi yang kejadian di tahun 2004.
Supervisor Produksi yang memimpin di tahun 2004 itu asa kurang gimanaaa gituh, IMO.
Nah Supervisor kali ini diibaratkan memimpin ala junta militer.

Jujur, walopun gw dan Supervisor Produksi ini sering bentrok beda pendapat, tapi sebagai teman dan kolega, gw sengaja datengin ruangan dia.
Ngomong baik-baik maksud kedatangan gw dan nanya apakah dia punya rekomendasi beberapa nama untuk dipromosikan sebagai Inspector.


Di luar dugaan, respon dese sangat baik sekali dan menyambut antusias maksud gw. 
Dese malah rekomendasikan beberapa nama yang memang adalah karyawan terbaik Produksi.


Dan setelah melalui test dan interview, ternyata memang kandidat yang akhirnya gw pilih itupun adalah salah satu dari nama yang direkomendasikan oleh Bapak Supervisor ini. 


Jadi saat dia menyebut beberapa nama, dese emang gak cuma basa-basi doang. Tapi nama yang dia kasih ke gw itu bener-bener pantas untuk direkomendasikan.


Namun ujung-ujungnya tebaaak, here he go again!
DEJA-VU! Balik meneh ke jaman primitip alias jaman 2004.


Helooow, Pak X lagi-lagi beraksi! 
Kayak pahlawan kesiangan!
Ngadep ke meja yang sama, dan Pak Manager yang sama. 
Menyatakan keberatan yang sama. 
Kalo nama yang akhirnya terpilih oleh gw itu memegang peranan kunci, bla bla bla...omongan yang itu-itu juga. Isssh....so-last-year banget deh, Pak!


Gw udah siap-siap asah taring lagi. Kali ini gw gak mau kalah untuk kedua kalinya. Nothing to lose. 
Pak X udah yakin aja kali ini Pak Manager juga akan mengabulkan permintaan dese.
Tapi Pak Supervisor meyakinkan gw, " Serahkan aja sama saya, Bu Indah. Biar saya yang ngomong sama Pak Y (manager) ". sambil senyum-senyum kadal.


Eh bener lho. Tapi kali ini, agak imbang. Karena gw dan Pak Supervisor dipanggil ke meja Pak Manager untuk ngebahas issue ini bersama Pak X.


Pak Manager : " Indah, apa benar kandidat QC Inspector yang kamu pilih adalah A ?  Aduh, gimana ya, A ini orang kunci di produksi, Ndah...bla bla bla..." yang gw tau itu adalah copas omongan Pak X.


Terus  Pak X juga nambahin menyatakan keberatan ini itu, .
" Coba kalo Bu Indah di posisi saya. Punya anak buah bagus, udah susah-susah ditraining jadi pinter, eh udah pinter malah diminta sama Department lain...dikasih gak ?"


Gw : " Loh ? Kalo ada posisi yang lebih baik untuk Inspector saya, saya tidak akan pernah melarang lho, Pak. Saya akan dukung mereka untuk mendapatkan posisi yang selayaknya memang berhak mereka terima. Saya sama sekali tidak akan merasa usaha saya bikin mereka pinter jadi sia-sia, tapi saya justru malah bangga...karena usaha saya ada hasilnya..."


Pak X diem.
Tapi Pak Supervisor berhasil meyakinkan Pak Manager untuk melepas kandidat-kandidat tadi.


Alasan gw dan Pak Supervisor kompakan :
Pak Supervisor merekomendasikan nama karyawannya yang performancenya paling bagus. 
Dengan melakukan ini akan menaikkan motivasi dan moral di kalangan karyawan kami. 
Bahwa jika mereka memberikan performance yang baik, maka mereka akan direkomendasikan atasan apabila ada posisi yang lebih baik. Ini memacu semangat anak-anak untuk bekerja lebih baik. 


Tapi kalo setiap karyawan yang terbaik malah ditahan terus, jadinya karyawan males memberikan performance yang bagus. Pikir mereka, buat apa toh gak ada untungnya.


Make sense toh ?


Pak Supervisor meyakinkan Pak Manager untuk segera mencari pengganti si A (yang akan gw ambil) sebelum si A bener-bener fokus di Quality. Dan gw juga berjanji akan memberikan smooth transition bagi A supaya bisa hand-over kerjaan dan keahliannya kepada penggantinya.


Alasan Pak Supervisor lagi yang menurut gw tak terbantahkan " Jika saya memberikan orang-orang terbaik saya untuk gabung dengan team QC, ini justru akan membantu Produksi menjaga kualitas produk Pak. Karena jika QC melakukan pekerjaan dengan baik, contoh: menjaga barang-barang yang disupply oleh supplier yang masuk ke produksi hanya barang bagus saja, tentu saja efeknya juga akan ke produktivitas produksi..."


Well-said. 
Bravo Pak Supervisor!
Then, Approved! 
Horray!!! 
Kesian deh loe, Pak X!


Terlepas dari ketidaksukaan beberapa rekan-rekan terhadap Pak Supervisor, tapi untuk hal ini gw jadi salut dengan pemikiran Pak Supervisor.
Karena menurut gw, terlepas dari kekurangan yang dimiliki Pak Supervisor, ternyata ada sisi positive dimana gak semua orang bisa punya pemikiran kayak dia.


Kadang gw gak ngerti kenapa ada orang punya pemikiran macam Pak X.
Kenapa bisa tega menahan karir bawahannya yang sebenarnya adalah kesayangan-dia, kepercayaan-dia, yang-membantu-meringankan-kerjaan dia selama ini. 
Padahal Pak X ini udah tua lho, so called udah banyak makan asam-garam dalam leadership, produksi, dunia kerja. 


Tapi seperti kata pepatah " growing old is mandatory, growing up is optional ". Indeed.


Walopun protes yang gw ajukan di tahun 2004 rupanya sangat membekas di hati senior management, dan berimbas pada karir gw sendiri, tapi buat gw, gak masalah.


Gw anggap itu sebagai bagian dari perjalanan hidup, sebagai pembelajaran. Dan gw ngerasa udah melakukan apa yang seharusnya gw lakukan. 
Walopun apa yang gw lakuin itu, bukan untuk diri gw sendiri.

Aaah, balik lagi ke tahun 2012. Lagi-lagi gw dan dilema gw.
Mungkin ini sebabnya kenapa sampai saat ini Allah SWT masih memberikan gw kesempatan mencari rezeki di lingkungan pabrik. 

Supaya gw bisa terus belajar untuk mencoba jadi orang yang bijaksana.
Belajar dalam sekolah yang bernama : kehidupan. 


*balik kerja meneh*

17 comments:

  1. Indaaaah! postnya menohok. tapi gue setuju sama lo kalo karir seseorang ga boleh ditahan. bagus kita udah ngebagi ilmu ke orang lain. dan kalo orang lain berkembang karena support dari kita, pasti kita ikutan bangga. mereka ga akan lupa deh sama perjuangan lo ngebuat mereka lolos :D

    ReplyDelete
  2. Memang di mana-mana kejadian seperti ini banyak ya Ndah. Jalan pikiran orang mmg beda-beda, cuma aneh aja kalo ada orang yang sukaaa banget ngalangin orang lain untuk maju... Coba kalo dia yang digituin, pasti deh udah marah2 :D

    ReplyDelete
  3. Meski gak sama, aku jadi inget temen di pabrik dulu. Dia dapet kesempatan di perush lain tapi digandolin sama atasan, padahal disitu dia juga gitu2 aja. Sama perush baru diminta masuk dalam 2mgg, tapi atasan dia mensyaratkan waktu yang lebih lama. Kalo dia kabur, dia gak berhak ama pesangon dan surat pengalaman. Duit bisa dicari yah, tapi kalau surat pengalaman dan referensi kalau dulu dia kerja dengan baik disitu kan penting juga. Dia jadi dilema....
    Untung dulu aku seminggu aja bilangnya, diijinin. Daripada kabur yah.... kita kan g tahu gimana kedepannya, lebih baik pergi baik2

    ReplyDelete
  4. iih ga abis pikir juga ama pak X, tega banget nahan2 karir seseorang buat maju kayak gitu.
    Thank's God masih ada orang2 kayak lo dan si suprevisor itu. Kalo kita masih berpikiran sama kayak si bapak X, mana bisa maju negara kitaa.. *tsaah*

    ReplyDelete
  5. Mbak indah, iki tombol 'like'-e ngendi tho kok ora ono? aku mau like- nihhh....

    Bener banget mbak setuju ama kamu. Emang ada banget bos yang kayak gitu. Ada juga yang pelit ngasi ilmu. Jadi bawahannya kurang berkembang. Mau ga mau si bawahan nyari2 ilmu diluaran ga ada bimbingan dari atasan. Mesakno thooo...Ada yang jadinya bagus....ada juga yang jadinya keblinger...

    Kayaknya mbak Indah dan supervisornya perlu dikloning neh.. :)

    ReplyDelete
  6. @ Pepi,
    Yoi, Pep. Kalo bawahan kita maju, kan atasannya juga ikutan bagus namanya. Lah bimbingan atasan toh ?
    Jadi atasan jangan suka cerita kalo bawahan melempem. Emang dia begitu atas arahan dan bimbingan sapa ? :p

    @ Allisa,
    Iya banget, Lis.
    Dan ketika tahun 2011 Pak Supervisor dipromosi jadi Assistan Pak Manager, Pak X cemburu luar biasa! Hahaha...

    @ Lulu,
    Ternyata gak dimana-mana ya, ada aja orang yang suka liat orang susah. Susah liat orang senang.

    @ Desi,
    Yah itu dia, Des. padahal dese udah tua lho. Kalo masih muda, ok lah masih labil dan belum mature. Lah ini udah bangkotaaaan.

    @ Pungky,
    Aduh kalo punya boss kayak gitu, setres ya, Ky.

    ReplyDelete
  7. what a nice post. di perusahaan sering gitu ya, banyak org spt pak X yang cuma mikirin diri sendiri (gak mikir kemajuan anak buah dan kemajuan perusahaan, yang sebetulnya di jangka panjang bakalan ngaruh juga ke kemajuan pak x sendiri). pikirannya pendek banget (cuma 2 meter hehe). but bravo not only for pak supervisor tapi juga buat ibu indah hehehehe, krn dari 2004 udah memulai perjuangan dan syukurlah di 2012 ini lebih berhasil kasih kesempatan karyawan buat maju

    ReplyDelete
  8. si pak X itu sangat gak bijaksana ya. cuma mentingin dirinya sendiri, gak mikirin orang lain. coba kalo dia yang di posisi si operator itu gimana.

    setiap orang kan pasti pengen meningkat karirnya. apalagi performancenya udah diakui bagus. herannya kok senior mgt nya malah ngebelain pak X pas th 2004 itu sih.. bingung gua...

    ReplyDelete
  9. Masih aja ya orang macam begono Mbak Indah...
    Mikirin keuntungan dewe dan gak ngeliat nasip orang, lupa kali sama pelajaran PPKN tentang tenggang rasa :D

    ReplyDelete
  10. Salah satu alasanku resign dari pabrik di th 2007 selain gaji yang ga masuk akal dan isu SARA di setiap lini, ya karena ga bisa berkembang samsek. 3th kerja, ga pernah sekalipun ikut training, ga ada jenjang karir,bahkan koneksi internetpun ga ada :(.

    Dulu aku pernah mbayangin mba, gimana ya seandainya aku bisa jd inspektor buyer yang punya wewenang penuh terhadap quality,ada penghargaan kerja, bisa berkembang. Dan emang bener, be careful what you wished for..

    Now here I am, jd representative qc inspector buyer di Indo dan salah satu pabrik yang ta inspek ya pabrik tempat aku kerja dulu *evil grin*
    Waktu pertama kali mereka tau kalo yang dateng inspek aku, langsung heboh kebakaran jenggot semua, lha piye? kalo ada masalah mau ngeles kemana ya aku pasti tau, wong dulu aku yang in charge dari receiving raw mat sampe shipment hehe...

    Sorry mba komennya panjang, tapi intinya memang ketidakadilan itu ada di mana2, dan memang ada orang2 yang perlu usaha extra keras buat memperbaiki nasib :)

    ReplyDelete
  11. sukaaa banget ma tulisan ini.. saluut ma perjuangan mb indah n pak supervisor untuk nasib temen-2nya.. kerja dari kontrak ke kontrak tanpa kepastian itu sangaaat ga nyaman..

    ReplyDelete
  12. Merinding disko baca postingan ini Mba Indah.

    Jadi inget ama bos yang doi oke banget dulu di Bank *pemerintah terbesar di Indonesia dari segi asset*.

    Di Bank saya kerja dulu itu, karena saya termasuk management trainee yang ditugaskan ke berbagai belahan Indonesia, terkenal dengan bos-bos yang suka menahan kami ketika dapet promosi balik ke Jakarta/Jawa dengan alasan kinerja kami bagus dan susah cari pengganti sehingga akhirnya banyak di antara kami harus di tempat sampai lebih dari 3 tahun padahal tujuan awalnya disebar ke daerah untuk belajar soal operasional cabang. Setelah itu tugas menanti di kantor pusat.

    Nah bos saya itu punya prinsip, "Saya adalah manager yang bagus kalo semakin banyak anak buah saya yang jadi manager aka promosi". Naaah saya jadi salah satu 'korban' kebaikan beliau. Karena saking cintanya dengan si Bapak saya udah betah banget di Lampung, eh tiba-tiba saya dipromote ke head office di unit yang saya serem banget masuknya sampe perut saya kram dan muntah-muntah.

    Salut buat si bapak Supervisor untuk sisi pemikiran yang itu.
    *maap kalo malah ngeblog di komen*

    ReplyDelete
  13. ndah kapan2 cerita ttg Hani dan Athia dong :P

    *komen ga nyambung*

    ReplyDelete
  14. Hi Indah salam kenal...
    Jadi inget kata2 orangtua saya dulu, kalo kita suka menyulitkan org lain, rezeki kita juga akan dipersulit. Tapi kalo kita suka membantu org, insya Allah rezeki kita jg akan lancar. Semoga Pak X tuh sadar kalo dia sdh menyulitkan org lain.

    ReplyDelete
  15. @ Novi,
    Kalo aku selalu memposisikan aku berada di orang itu. Aku juga gak mau kan aku udah berikan yang terbaik tapi karirku ditahan sama atasanku ? Seperti itulah aku berusaha memperlakukan orang lain. Sebagaimana aku ingin diperlakukan.

    @ Arman,
    Ya gituh deh. Kadang kalo udah berasa di atas,permasalahan udah semakin kompleks. Dan kadang gak pengen nambah pusing.

    @ Maria,
    Banyak yang kayak gini. Kadang kalo udah di atas, orang suka lupa sama yang di bawah. betul ?

    ReplyDelete
  16. @ Fitri,
    Ya karena kerja di pabrik dan ngadepin semua permasalahan termasuk kayak kamu bilang itu, jadinya nambah pengalaman hidup. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik ya...

    @ Tika,
    Iya...ntar gw cerita deh.

    @ Mbak Asty,
    Bener banget. Alhamdulillah, rezeki mah gakkan ketuker kata orang zaman dulu. Insya Allah kalo kita menanam padi, akan menuai padi.

    ReplyDelete
  17. wah mbak drama seperti ini juga ada di tempat ku....emakku eh salah...managerku yang expat itu yang malah ngekep, kawan sedepartemenku pingin pindah ke engineering karena emang asalnya dia punya background disitu..wealah di jegal nggak boleh..kuciwa lah dia..terus akhirnya milih keluar...dapat tawaran diluar yang lebih menarik, oil and gas dan sekarang nangkring di malay...hmmm cubo kalo cuma ditempatku..pasti nggak berkembang..mentok...drama drama seperti itu emang ikrib dilingkungan pabrik seperti tempatku ....well...menjadi lebih baik dengan belajar di sekolah kehidupan..*nice quote :)

    ReplyDelete