2.10.2012

Drama Januari : Ujian Berhijab

Diskriminasi bisa menimpa siapa saja, suku dan ras mana saja, dan agama manapun. Tidak hanya bisa terjadi pada diri saya, tapi juga bisa terjadi terhadap semua orang.


Berhubung Drama Januari ini akan menjadi hal yang sangat sensitive sekali, gw berusaha untuk menuliskannya dengan hati-hati. Semoga yang membaca justru melihat sisi positifnya ketimbang menyerap sisi negative nya.
Bismillah.


Lagi-lagi terinspirasi oleh salah seorang teman gw (belio HRD-Training di perusahaan gw yang lama) nyeletuk sederetan kalimat yang ditulis di blognya ke gw pertengahan November yang lalu :


“ Kesuksesan itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Namun sebaliknya, jika seseorang merasa bahagia, maka bisa jadi dia merasakan kesuksesan. “


JLEB ! JLEB ! JLEB!


Itulah tepatnya yang gw rasakan saat itu. Bagi teman-teman yang suka mampir baca blog gw, mungkin udah bisa merasakan aura gundah gulana gw di blog ini. Di satu sisi, gw keliatan lebih sukses secara jenjang karir daripada pekerjaan gw sebelumnya, namun di sisi lain gw gak merasa bahagia. Bukan karena gw tidak mencintai pekerjaan gw. Tapi kondisi lingkungan kerja yang tidak sehat membuat gw tertekan dan diet otomatis.

Boook, berat badan gw balik lagi ke zaman gw masih gadis. Bayangkan gw yang super gragas ini bisa-bisanya keilangan napsu makan tiap makan siang dan pulang kantor.


Ada banyak hal yang sering membuat gw pengen ngomong “ That’s it! I can’t bear it anymore! I’m quit! Starting NOW!”.
Tapi melihat Athia yang tertidur lelap, semangat gw timbul kembali “ Aaah, gw cemen banget sih. Masa gitu aja udah nyerah”. Dan gw pun menahan perasaan, menutup telinga untuk terus bertahan di perusahaan yang sebelumnya.


Namun di sisi lain, keinginan gw untuk mewujudkan Big Step gw justru makin gak tertahankan. Saat diskusi dengan Hani, Hani Cuma ngingetin “ Sayang, diriku mendukung keputusanmu. Tapi melihat kelakukan Boss mu yang ‘ajaib’begitu, diriku gak yakin dia tidak akan mempermasalahkan soal dirimu berjilbab. Dirimu harus siap beserta resikonya lho ”

Tapi gw keukeuh sureukeuh siap dengan segala resikonya. Dan Hani menguatkan gw dengan “ Apapun yang bakalan terjadi ke depannya, kita hadapin bersama…”. Dan itulah yang kemudian kami lakukan. *love you more each day, honey…*

Masuk ke kantor dengan penampilan baru didukung banyak orang. Gak hanya dari rekan-rekan yang sesame muslim, tapi juga dari rekan-rekan yang non-muslim. Sampe gw merasakan desiran gak enak saat mantan boss gw yang lama, masuk ke ruangan dan setengah terperangah melihat penampilan gw. Bukan takjub, tapi ada aura ketidaksukaan dari sorot matanya. Gw udah menyadari itu. Dari sorotan mata pertama.

Para wanita temen genk makan siang gw udah ngingetin gw supaya siap-siap aja bakalan dipanggil mantan boss gw untuk ngomongin soal jilbab gw. Dan sampe hari pertama itu berakhir, gak ada tanda-tanda boss gw manggil gw ke ruangan. Gw menghela nafas lega. Menyesal udah su’udzan. Gw pun mulai berpikir cobaan gw berhijab adalah sama dengan teman-teman gw yang lebih dulu berhijab : gak bisa berenti shopping online, gak pernah merasa punya cukup scarf dan shawl. LOL

Tapi gw terlalu naïve. Keesokan harinya mantan boss gw manggil gw ke ruangan. Tanpa basa-basi dia mengutarakan keberatannya bahwa gw berhijab. Dia beralasan bahwa waktu gw diinterview dan diterima kerja, gw tidak mengenakan jilbab. Lagipula semua jajaran bawahannya yang berada di level posisi gw tidak ada yang mengenakan jilbab.

Maaf, tapi ini konyol banget. Mengingat, hanya dua orang muslim yang ada di level posisi gw yang berada di bawah divisi dia. Dan yang satu lagi adalah Pak Ahmad (bukan nama sebenarnya), yang sebagaimana kita tahu justru akan aneh sekali jika dia mengenakan jilbab.

Gw pun mempertanyakan apakah keberatannya mempengaruhi performance kerja gw.
Mantan boss sendiri bilang “ Hmmm…gak sih…tapi menurut kamu ?”
Gw : “Tidak ada hubungannya antara mengenakan jilbab dengan performance saya, Pak. “
Mantan Boss gw : “ Mumpung kamu masih baru nih, Ndah make jilbabnya bisa gak, dibuka aja. Lagian kamu lebih manis kalo gak pake jilbab “

….Astagfirullah….jantung gw berdesir tak simpatik

Gw : “ Maaf, Pak. Ini bukan fashion, yang bisa dipake, dibuka, dipake,dibuka. Ini bentuk keimanan dan keyakinan saya terhadap agama yang saya anut. Lagipula posisi saya ini mengurusi Quality System, jadi saya rasa gak perlu juga berpenampilan manis.

Akhirnya boss gw diam dan menggantung keberatannya. Tapi dengan karakter dia yang walopun baru gw kenal selama 4 bulan, gw tau banget dia akan mencecar dan mengorek-ngorek kesalahan gw seperti yang biasa dia lakukan ke semua bawahannya. Daaaan…he enjoy it! Very much! Weird ? Embyeer!

Tak pelak lagi, gw pun diancam warning letter untuk sesuatu yang terlalu mengada-ada, sehingga HRD tidak meloloskan SP yang diberikan. Dia membiarkan gw menunggu giliran menghadap dia untuk mendiskusikan sesuatu hingga jam 8.30 malam.

Dan teganya, setelah rekan kerja wanita yang pernah bilang gw gak se-level sama dia (11-12 kelakuannya sama mantan boss gw) selese menghadap dia di urutan pertama jam 6.45 malam, mantan boss gw seakan dengan sengaja bilang “ Kamu pulang aja lah. Sudah malam. Kamu kan wanita. Kasian anak kamu menunggu kamu di rumah…”

Ya Allah, ingin rasanya batin ini menjeriiit. Bukannya gw iri, tapi bisa-bisanya dia kasian sama tuh cewek pulang malem, tapi dia tempatkan giliran gw setelah tiga rekan kerja gw yang lain satu per satu menghadap dia.

Sementara rumah tuh cewek di Alam Sutra, rumah gw di Pekayon. Dia kasihan sama tuh cewek pulang malem dari Alam Sutra – Melati Mas, sementara gw ? Udah harus menempuh Melati Mas – Pekayon, gw ditarok diurutan terakhir. Satu kata jerit batin gw : TEGA!

Alhasil gw baru meninggalkan kantor setelah semua teman gw udah pulang, dan dia pun udah nguap-nguap di depan gw. Total diskusi : 15 menit saja. Gw harus menunggu 3 jam untuk durasi diskusi 15 menit aja. Dan gw masih menerima keadaan seperti itu. Dengan tidak ikhlas tentunya. :p

Walopun begitu, Gw berusaha tahan-tahanin terus walopun gundah gulana curcol mulu di BBM sama @astie92. Sampai akhirnya gw melakukan kesalahan fatal. Karena merasa sesama muslim, gw pun menceritakan soal keberatan boss gw yang menurut gw tidak adil terhadap hijab gw. Gw bercerita dengan rekan satu divisi gw, Pak Ahmad.

Gw gak pernah menyangka bahwa dia yang satu-satunya sodara seiman di divisi gw untuk level yang sama, yang sering bertegur sapa di Musholah, yang bentar lagi mau naik haji, dengan tak berperasaan menusuk gw dari belakang demi meraih sebuah status “ karyawan permanen”.

Entah apa yang dia bisikkan ke mantan boss gw, yang jelas mantan boss gw merasa mendapat dukungan atas keberatan dia dengan hijab gw. Dia memanggil gw kembali seraya ngoceh “ Ahmad (maksudnya yang seiman sama gw) juga setuju kok kalo blab la bla…”

Gw udah gak focus dengan perkataan selanjutnya. DUEEEER...Rasanya seperti ditiban container. Kaget luar biasa!

Mantan boss gw sengaja memanggil Pak Ahmad ke ruangan untuk menjadi saksi bahwa dia emang udah diskusi dengan Ahmad. Pak Ahmad masuk dengan wajah gak enak ati. Dia gak berani ngeliat muka gw. Merasa mendapat angin, mantan boss gw langsung menekan gw sekali lagi yang intinya gw suruh milih : Buka Jilbab atau gw gak usah kerja lagi di perusahaan ini.

Gw udah punya jawaban yang sudah mantap saat itu juga. Tapi mantan boss gw memaksa gw untuk memberikan jawabannya keesokan harinya aja.

Keesokan paginya mantan boss gw dengan sangat-niat-sekali menyambangi ruangan gw dan meminta jawaban gw. Setelah duduk berdua dengan mantan boss gw di ruangannya pagi itu, gw dengan mantap dan pasti menyatakan bahwa gw tidak akan membuka jilbab gw dan untuk itu gw bersedia mengundurkan diri.

Mantan Boss gw menawarkan gw kerja hingga akhir Februari, tapi gw menyatakan akan berhenti bekerja per akhir Januari kemarin.

Bagaimana mungkin gw masih bisa konsen kerja dengan orang yang tidak menghargai agama orang lain. Gw sendiri merasa mendapat kekuatan yang entah datang dari mana sehingga gw yang sebelumnya selalu maju-mundur ingin berhenti kerja, tapi kali ini bisa dengan kuat sekali menyatakan “ I’m quit!”.

Yang tadinya gw sering dilanda ketakutan kalo berhenti kerja, terpaksa harus jobless dulu , takut ini, takut itu, mendadak semua ketakutan itu hilang saat gw harus dihadapkan memilih antara keimanan gw atau pekerjaan.

Setelah kejadian keberatan mantan boss gw yang pertama sekali (sebelum dia bawa-bawa dukungan Pak Ahmad), hampir semua menyarankan untuk meminta bantuan ke Direktur HRD. Yaah..gw memang menceritakan masalah gw ini kepada Direktur HRD, tetapi terlepas dari itu, dalam setiap sujud shalat, gw sepenuhnya meminta pertolongan dari Allah.

Karena gw yakin saat selevel direktur pun tak mampu berbuat apa-apa, tapi DIA akan memberikan solusi yang terbaik bagi hamba-Nya yang sudah meminta.

Gw percaya dan yakin Allah akan membantu gw dari masalah ini. Dan karena itulah gw memilih untuk meneruskan komitmen gw dengan Maha Pemberi Rezeki daripada komitmen gw dengan mantan bos gw. Gw percaya rezeki tidak hanya datang dari perusahaan ini aja kok. Perusahaan ini hanya perantara. Rezeki datangnya dari Maha Pemberi Rezeki.

Beberapa teman bahkan yang non muslim sekalipun ikut memberikan dukungan terhadap masalah yang gw hadapi. Gw jadi terharu. Pengen mewek rasanya.


Tapi ternyata drama Januari gak berhenti sampe di situ. Dimana karyawan yang mengundurkan diri bareng gw sudah menerima gaji, gaji gw masih tertahan hingga Jum’at 27 Januari dimana seharusnya itu hari terakhir gw.

Untuk mendapatkan gaji gw dibayar, gw harus melengkapi Form Clearance Sheet yang berisikan pernyataan bahwa gw tidak lagi tersandung dan tersangkut di masalah Finance (hutang piutang kantor), legal, mengembalikan semua fasilitas perusahaan di HRD dan IT. Tentu saja dengan hubungan baik gw yang walopun Cuma 4 bulan, semua rekan-rekan gak ada yang mempersulit. Hanya saja setelah semua tandatangan, gw harus mendapatkan tandatangan mantan boss gw itu.

Somehow, gw su’udzan merasa dia menghindari ketemu dengan gw supaya gw gak bisa melengkapi clearance sheet tersebut dan gaji gw terus akan ditahan.
Menahan gaji bawahannya yang mengundurkan diri bahkan secara baik-baikpun, itu selalu dia lakukan. *ngelus dada*
Sejak tanggal 24,25,26,27 gw gak pernah berkesempatan ketemu dengan mantan boss gw.Hingga tanggal 27 Januari itu, gw kejar dia sampe ke kantor pusat. Gw tungguin dia keluar dari ruang meeting hingga jam 19.30 malam. Ternyata ujian belon selese. Begitu ruang meeting sepi, gw mendapati ternyata mantan boss gw udah kabur dari jam 5 sore dan balik ke Serpong. Sumpaah…lemezzz lutut ini.

Saat itulah gw belajar menghargai gaji gw sendiri…biasanya tau-tau udah ditransfer aja. Tapi kali ini gw harus jatuh bangun untuk mendapatkan gaji gw. Gaji gw bulan Januari itu adalah hak gw sendiri. Kata @mayialexa.

Untungnya HRD tidak mempersulit gw. Begitu gw mencoba menawarkan solusi minta tandatangan CEO yang kebetulan masih meeting di kantor jam segitu, mereka pun menyetujui.

Akhirnya gw menghadap pak CEO yang seharusnya secara legalitas dan struktur organisasi adalah atasan langsung gw. Entah bagaimana mantan boss gw bisa mengklaim dia atasan gw, udah gak penting. Tanpa banyak cingcong mempersulit, beliau menandatangani semua yang gw perlukan. Barulah Senin siang 30 januari gaji terakhir gw di perusahaan itu dibayarkan.


Alhamdulillah…akhirnya Drama Januari itu selesai dengan manis berkat rencana Allah. Gw gak menyalahkan perusahaan, suku,ras, agama manapun yang telah mendzalimi gw.

Ini murni adalah PERSONAL OKNUM tersebut yang emang dari sononya udah bermasalah. Dari sononya udah jadi The Public Enemy yang setiap hari menuai do'a-do'a yang tidak baik dari rekan-rekan yang sudah didzalimi. Jadi bukan karena embel-embel suku,ras,agama dkk.

Kelakukan diskriminasi itu hanya segilintir orang yang merusak dukungan dan kebaikan teman-teman yang lain.


Hiuuuufff...Satu ujian sudah kembali terlewati. Dan Hani selalu ada di samping gw untuk melalui setiap ujian yang kami hadapi.

Ada banyaaak hikmah dan pelajaran yang gw dapatkan dari pengalaman pahit ini. Dan hikmah dan pelajaran yang manis inilah yang gw harapkan untuk dishare ke teman-teman yang bersedia meneruskan membaca postingan gw yang panjang ini.

Gw sudah mendapat karma baik atas ujian berhijab yang berhasil gw lalui, begitu pula mantan boss gw. Dia juga sudah mulai menuai karma atas apa yang dia tanam dulu.

To be continued ke postingan JAWABAN.

35 comments:

  1. YA Allah Indah.. Kalo gw kayaknya udah nangis guling2 gak karu2an deh.. Tapi gw yakin Allah pasti senantiasa melindungi umatnya yang walaupun terdzalimi tetap berpegang teguh pada imannya. Semoga oknum itu dibukakan pintu hatinya dan Inshaallah dirimu (dan keluarga) senantiasa dilindungi Allah SWT. Amin.

    ReplyDelete
  2. subhanallah :)) smh makin berkah ya mba kedepannya..

    ReplyDelete
  3. Eh emang mantan boss lo menuai karma gmn ndah skrg? Gw jd ga sabar baca posting selanjutnya

    ReplyDelete
  4. Subhanallah ndah...kamu heybaaadddd!!! Cium jauuuhhhh

    ReplyDelete
  5. Ndah...sory ye, gw memulai bulan februari elo dengan drama "petualangan membaca peta jogja" :D LOL

    ReplyDelete
  6. @ Mira, Mbak Arnindita,
    Makasih do'anya ya, Mbak. Alhamdulillah, satu ujian lagi terlewati.

    @ Dhita,
    Sabaaar dong, Book. Gw kan sibyuk sekarang.

    @ Firah,
    Hedeeh...gak drama kegosrek terjal nya All Season sekalian ?

    ReplyDelete
  7. @ Cimon,
    Dirimu kemanaaah. I miss you. *kecup sampe basah*

    ReplyDelete
  8. Hallo Mbak, salam kenal yah. Selama ini cuma diem2 aja baca blognya :). Tapi untuk tulisan yg kali ini saya ga tahan pengen komen krn ga habis pikir, masih ada aja kejadian kayak gini yah.. Saya sendiri Kristiani, tapi boanyaaak teman saya muslim dan berjilbab dan we live in harmony :). Tetep sabar ya Mbak, rejeki gak akan ke mana. Saya jd ga sabar juga baca kisah kelanjutannya *lu kate sinetron? :D*

    ReplyDelete
  9. bacanya sampe mendelik2 saking kebawa esmosihnya...Hebat bgt deh Ndah :') gasabar postingan lanjutanya

    ReplyDelete
  10. Ya Allah Indah, gw ngelus-ngelus dada baca cerita mu. Ada ya orang yang dengan sengaja seperti itu. Ckckckck..
    Tapi berbahagia ya Ndah, sesungguhnya Allah betul-betul sayang sama kamu sehingga ketika dirimu memutuskan berhijab langsung dikasih ujian naik kelas yang luar biasa.
    Subhanallah banget Ndah, gw salut sama prinsip teguh dirimu, salut sama dukungan suami, aku salut banget nget nget..
    *peluk peluk Indah* :)

    ReplyDelete
  11. hahaha...sesama punya derita batin sama mantan boss *ih nyama2in muluk deeeh*

    insyaAllah rejeki lo selanjutnya jauuuuh lebih baik Ndah. Been there ;)

    ReplyDelete
  12. gw salut ama lo Ndah!! Gak ada kata2 lain.
    trus si mantan bos kena karma apa? gak sabar...

    ReplyDelete
  13. terharu..ikut merasakan perjuangan mu mba indah..

    krn januari jg adalah drama ku..hampir sama kejadiannya..gara2 diffictl person..tp alhamdulillah..Hujan yg sempet turun terganti pleangi ALLAH..Alhmdlh...

    Semangt ya mba...smg akan selalu dan selallu istiqomah...

    ReplyDelete
  14. Hebat ndah.. lo sabar banget. kalo jadi gue mgkn udah gue maki2 seribu bahasa.. udah gue toyor2in seribu gaya. lanjut ceritanya. lebih seru drpd novel :D

    ReplyDelete
  15. meski mellow yellow...dikau perempuan hebat yg tangguh Ndah *peluk*

    ReplyDelete
  16. indaahh..
    itu mantan bos lo pengen gw gantuuung...

    *emosi*

    ReplyDelete
  17. salutttt bgttt sama mom indah,
    aku juga pernah ga diterima kerja di salah satu bank swasta *depan pp* gara2 beragama islam.
    Harus percaya klo rejeki ga akan ketuker, Allah maha segalanya, semoga tetep istiqomah yaa indah :)

    ReplyDelete
  18. wuiiii mantan boss lu udah gilaaaa...

    gua bacanya jadi emosi nih ndah. kok jaman gini masih ada orang yang kayak gitu ya???

    masalah keimanan itu kan urusan lu ama Tuhan. itu hubungan yang tertinggi. gak ada orang lain yang bisa ikut campur. bahkan keluarga pun gak berhak (menurut gua). apalagi cuma sekedar 'bos'.

    gua salut ama keputusan lu! support 1000%! jelas lu harus resign dari sono.
    emang sih harusnya dilaporin aja ke HRD (dan udah juga ya). harusnya sih kalo HRD nya bener, itu bos yang dikasih SP karena memperlakukan lu secara tidak fair.

    tapi anyway kalo dia dikasih SP pun gak menjamin dia akan berubah. dia bakal tetep nyari2 ya dan bikin idup lu susah disono.

    jadi ya udah bener lah kalo lu keluar disono. buat apa juga kerja ama orang kayak begitu!!!

    dan yah biar Tuhan yang membalas ya....

    gila deh, gua bener2 gak abis pikir... orang kayak gitu kok bisa jadi bos sih?? yang bener aje.... btw CEO nya tau gak? harus dikasih tau tuh....

    ReplyDelete
  19. ndah, gue rasanya mau bawa golok deh ke kantor lo. coba apa nama kantornya? biar si oknum gue emek2

    ReplyDelete
  20. Baca postingan ini seperti membuka luka lama dg mantan bos. Trnyata ada jg yg sma dg karakter mantan bosku dl..hhmm. Saya pribadi percaya dg karma baik dan karma buruk.
    Anyway, selamat mbak indah utk keteguhannya.

    ReplyDelete
  21. Mau nangis aku ndah bacanya..
    Tega banget sih mantan bosmu.. Semoga aja dicacah kecil2 pake scanpan di akhirat kelak!!
    Alhamdulillah indah kamu berhasil melalui ujian itu, insyaAllah naik kelasdengan flying numbers yaa :*

    ReplyDelete
  22. Salut indah...
    Boss kaya gitu byk disumpah serapah sm mantan karyawan nya deh. Insya Allah di tempat skrg lbh berkah ya ndah. Selamat udah naik kelas dr ujian berhijabnya :)
    Ayo ndah jgn kelamaan postingan lanjutannya. Penapsaran sm karma si mantan boss. Ditunggu season selanjutnya *lu kate cinta fitri pake season segala hahaha..*

    ReplyDelete
  23. Ya ampun tu orang kok level teganya tinggi banget yah Ndah. Parah! Syukurlah kamu sabar dan syukurlah udah keluar dari suasana gak enak banget kayak gitu dan lebih penting lagi syukurlah karena gajinya udah diterima, hehe...

    Apa yang ditabur orang itu yang dituainya, ndah. Kalo kita menabur kebaikan, kita juga akan menuai kebaikan ^_^

    Ditunggu lanjutannyaaa...

    ReplyDelete
  24. *puk puk mba indah...

    pasti menurut 4JJI itu yg terbaik buat mba indah :)

    ReplyDelete
  25. Duuuuh...itu orang kok ga punya hati banget sih mam. Cerita ini menunjukkan u r strong woman, mam. Salut. Ikut seneng juga akhirnya hak mam Indah sudah ditangan walau dengan perjuangan. Ditunggu "JAWABAN' ....bahwa hukum karma itu berlaku :-)

    ReplyDelete
  26. @ Mbak Icha,
    Makanya aku bilang ini murni hanya kelakuan oknum. Teman-temanku yang non muslim banyak yang justru mendukung keputusanku kok.

    @ Dian,
    Iya, udah gw post tuh, Di.

    @ Anggi,
    Makasih ya, Say.

    @ Indah,
    Amiiin. Kenapa nasib kita sama yak ? Sama-sama kece pulak *mainin ujung jilbab* Hahaha...

    @ Amel,
    Makasih ya, mel

    @ Mbak Yetti,
    Syukur lah semua ujian badai udah berlalu. Sekarang tinggal menikmati indahnya pelangi...

    @ Iti,
    Tadinya mau gw datengin rumahnya bawa golok, Ti. Eitts gw inget pencitraan. *busyet, masih pencitraan ajah. hahaha...*

    ReplyDelete
  27. @ Astie,
    *peluuuk*
    Makasih ya Tie udah meminjamkan dadamu untuk dipeluk #eh.
    Maksudnya menemani hari-hari mellow yellow gw...

    @ Della,
    Kuat emang loe ngangkat dia buat digantung ? hahaha


    @ Mbak Shintata,
    Amin. Emang rezeki gakkan lari kemana-mana kok, Mbak.

    @ Arman,
    Thanks ya, Man. Emang karakter dari sononya gitu, Man. Udah gitu gimana mo dikasih SP. Gw udah lapor Direktur HRD aja hasilnya gak sesuai harapan semua orang. Tapi sutralah, biar Tuhan yang membalas.

    @ Nadia,
    Sini gw asahan goloknya, Nad. haha..thanks ya.

    @ Rini,
    Maaf kalo membuka luka lama Mbak Rini. Semoga karma baik juga menimpa Mbak Rini ya...

    @ Dhira,
    kalo sapi tak cacah-cacah mah masih enak, Bun. Lah dia ? *mendadak eneg*

    ReplyDelete
  28. @ Motik,
    Makasih, Mot. Ketauan nih suka nonton Citra Fitri. Hahaha..

    @ Allisa,
    Betul betul betul. Untung gaji eike udah dibayar. hahaha...

    @ Mbak fey,
    Pastinya, Mbak. Makasih ya...

    ReplyDelete
  29. mbak... aku bacanya sampai tegaaaang... subhanalah.. pertolongan Allah itu selalu hadir di setiap saat....

    ReplyDelete
  30. akhirnya ikutan komen, biasanya cm silent reader.. :)
    tau banget rasanya bikin nyesek di dada, aku dl jg pernah punya pengalaman yg sama dan yg lbh menyakitkan dr awal aku interview itu sudah berjilbab, kl memang tidak diijinkan ada karyawan berjilbab knp jg diterima..bpk supervisor sih ga masalah(yg nge-interview) tp ternyata si bos dpt komplen dari karyawan lain yg dl jg berjilbab dan lbh memilih lepas jilbab utk tetap bekerja di situ..knp ini ada karyawan baru yg berjilbab. akhirnya memilih mundur krn aku percaya aja Alloh pasti telah menyiapkan yg jauh lbh indah drpd pekerjaanku saat itu..dan ternyata bnr di tempat baru, lbh nyaman, partner yg baik, bos yg sangat2 baik dan gaji dan jauuuh lbh tinggi. alhamdulillah.. :)

    ReplyDelete
  31. Hampir ketinggalan cerita seru mbak indah...*Big hug....
    Ya allah aku mbacanya ra kedip maksudnya nggak ngedipin mata sedikitpun saat mbaca postingan mbak indah yang ini...dan berucap astagfirullah berkali kali..dan rasanya ingin menghujat itu Maaf "pak Ahmad" ....ya allah....entahlah...kenapa kok bisa begitu..dimana keimanannya....walah walah...demi sebuah status "permanen"...rela dan tega...dan lebih gila lagi itu yang katanya ngaku bos mbak indah maaf yah kalo saya bilang .."kurang obat" kali yah..atau kebanyakan obat...tidak bisa menghormati hak asasi orang lain..terus maaf apakah ini perusahan keluarga kok kayak gitu perlakuannya...saya jadi mengiyakan kata kata suami saya.."kawan kawan kerja yang orang2 expat lebih menghormati kita dalam bekerja, menilai performa kita dari skill dan result dan menjunjung tinggi hak asasi,dari pada kawan kawan satu negara sendiri bahkan satu agama,atau ras yang sama yang ada mereka sering menggunakan perasaan,like and dislike berlaku, iri mengiri, menilai kerjaan dari kecantikan, penampilan dll..walah walah....bener lho mbak..merasakan sendiri saya bolak balik seperti itu..hmmm...Ya allah alhamdulilah akhirnya ujian berat diawal memakai hijab semakin menguatkan dan membukakan pintu Rizki dari-NYA yang lebih baik dan barokah *amien..
    Salut dua jempol untuk mbak Indah..kalo saya mungkin sudah nangis darah kali mbak....

    ReplyDelete
  32. Membaca jurnal mbak indah dengan perasaan sedih. ternyata masih byk yah mbak di Indonesia yang mempermasalahkan ttg jilbab. mg ttp istiqomah, mbak..

    ReplyDelete
  33. @ bunda kanaya,
    Iya, Mbak. Selama kita berada di lajur yang benar, Insya Allah akan diberikan jalan oleh-Nya.

    @ Mbak Ira,
    Bener kan ? Dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya. :D

    @ Mama Kinan,
    Aaah Mama Kinan juga wanita tangguh kok. Kalo menurut aku semua wanita itu pasti tangguh. Soalnya secara alami, kita harus mengalami hal-hal yang gak dialami pria. Haid, hamil, melahirkan. Gimana gak tangguh coba ? Kalo Mama Kinan di posisi aku, aku yakin Mama Kinan juga bisa melewatinya.

    @ Mbak Fety,
    Makasih ya, Mbak

    ReplyDelete
  34. Assalamu'alaikum Mba Indah...kenalkan saya Enny.

    minta ijin untuk menjadikan pengalaman mba ini sbg salah satu testimoni dalam artikel saya ttg diskriminasi berhijab di dunia kerja, untuk majalah Laiqa.
    sebelumnya saya mendapat link tulisan mba ini dari Yudith.

    terima kasih sebelumnya mba... =)

    ReplyDelete
  35. @ Waalaikum salam, Mbak.
    Salam kenal juga ya.

    Boleh kok,Mbak.
    Makasih

    ReplyDelete