1.04.2012

Kadang, Senyum Aja Cukup

Kadang saat menyampaikan simpati kepada orang yang sedang mengalami kesusahan, gw tidak berkata apa-apa. Gw hanya tersenyum, dan menunjukkan expressi bahwa gw ikut bersimpati atas apa yang menimpanya. No words!


Kenapa ? Karena gw takut salah dalam memilih kata-kata. Kadang maksud kita cuma basa-basi, namun membuat pihak yang sedang kesusahan merasa gak nyaman.


Waktu gw mengalami musibah kebakaran kemarin, yang paling gak mengenakkan buat gw adalah saat gw diminta menceritakan kronologis kejadian. Berulang-ulang. Lagi dan lagi.


Jujur, buat gw, itu sangat gak nyaman.



Salah seorang teman kantor : " Indah, turut sedih ya atas apa yang menimpa kamu dan keluarga "
Gw : " Iya, makasih...."
Dia lanjut lagi : " Eh jadi gimana sih kejadiannya ?"


OK. Gw mencoba menguatkan hati untuk menceritakan kronologis malam itu. 
Selese cerita. Dia yang bertanya : " Oooh gitu toh..."


Untungnya temen-temen gw di dunia maya, gw udah dengan sengaja tulis di sini biar gak bolak-balik nanya kronologisnya di BBM.


Jelang beberapa menit, ketemu lagi beberapa orang temen kantor department lain. Mereka menyampaikan simpati. Gw tersenyum serasa mengucapkan terima kasih. Daaan, datang lagi pertanyaan itu " Gimana sih, Ndah ceritanya ?"


Hiyakloooh cerita lagi. Kalo gw sepuluh kali berpapasan dengan orang lain, sepuluh kali juga gw harus memutar kembali rekaman yang sebenarnya pengen gw hapus dari memory gw. Tapi gak bisa, karena gw harus mengulang kembali untuk bisa memuaskan keingintahuan mereka. 


Bahkan ada juga sih yang komentar dari mulut gak pake filter lagi ke otak " Abis rumahnya Indah pengaman listriknya kurang canggih sih ya bla bla bla ..." ato " wajar aja kalo tetangganya nuntut bla bla bla" . Sempet bikin gw pengen jedotin pala tuh yang komen ke tembok.


Helloooow, gw ini sedang dalam keadaan susah. Gak usah disakitin dengan komen begitupun, hati ini udah down. Pengeeen banget lari ambil lakban terus tempelin tuh ke mulut ex temen kantor gw sambil bilang " kalo loe gak bisa cari kata-kata yang lebih bagus, mendingan gak usah komen!".


Gw pikir itu hanya keegoisan gw aja. Orang-orang udah bersimpati ke gw, udah perhatian terhadap apa yang menimpa gw, tapi gw justru merasa gak nyaman. 


Tapi aaah, ternyata gw gak sendiri. 


Saat melihat salah satu temen gw yang sedang berduka dikerumuni oleh beberapa orang yang menanyakan kronologis, gw memilih mengamati dari jauh. Dan gw makin bertanya-tanya apa dia juga merasakan apa yang dulu pernah gw rasain, saat dia 'ditodong' untuk bercerita kembali dengan group yang berbeda.


Saat dalam suasana agak santai dengan dia, gw pun nanya. 
Bener kan, dia juga merasakan apa yang gw rasakan. Bahwa gak nyaman banget, di saat sedang berusaha menghilangkan kesedihan, harus mengulang-ulang cerita yang menyakitkan tadi.  


Ada satu cerita lain yang membuktikan teori bahwa sometime, silence is gold.


Ibu dari A, salah satu temen genk nya Hani mengidap penyakit yang cukup berat yang memaksanya untuk keluar masuk RS. Jika Ibunya A yang sakit ini hanya mempercayai pengobatan melalui medis, lain hal dengan B, salah satu temen genk yang lain. Dia justru sangat memuja pengobatan dengan alternatif tusuk jarum.


Saat Ibunya A kembali masuk rumah sakit, B dan C (temen genk Hani yang lain) ingin menjenguk ke RS. Akhirnya B dan C diizinkan A untuk menjenguk ibunya dengan catatan : Jangan pernah menyinggung soal pengobatan Alternatif. ITU SANGAT TERLARANG SEKALI untuk diucapkan di depan ibunya.


B dan C manggut-manggut. Awalnya datanglah B ke RS membesuk ibunya A. Bercakap-cakap ringan dengan ibunya A. Ibunya A tampak enjoy sekali dengan percakapan sore itu. 


Saking asyiknya ngobrol, sampai B lupa dengan pesan A di kantor  : " Kenapa Ibu gak coba pengobatan akupuntur aja ?"


Seakaan petir menggelegar. Suasana langsung berubah 180 derajat. Seketika.  


Sang Ibu langsung cemberut dan melengos. Si A melotot ke B dan langsung lemes. B langsung mati gaya. Baru sadar kalo udah melanggar wasiat yang udah diwanti-wanti dengan sangat oleh A


Saat C ingin menjenguk, sebenarnya A udah agak keberatan sih. Takutnya akan berakhir tragis kayak B. Tapi C berhasil meyakinkan A kalo dia akan selalu mengingat-ingat wasiat " Jangan pernah menyinggung soal pengobatan alternatif". Akhirnya A dengan berat hati mengizinkan.


Sepanjang perjalanan ke RS, C selalu menghipnosis dirinya untuk " gak ngomongin pengobatan alternatif". Dia selalu mengingat-ingat pesan tadi. 


Begitu bertemu dengan Ibunya A di RS, dia tersenyum...otaknya mengatakan " Jangan ngomongin pengobatan alternatif..." " jangan ngomongin pengobatan alternatif".


Dia menyalami sang Ibu dan terluncur kalimat basa-basi " Halo Ibu, kok masuk Rumah Sakit lagi sih..."


Dan Sang Ibu kembali melengos " Siapa juga yang mau sering-sering masuk RS!" dengan ketus. 


Si A menahan napas dan kembali lemes . C mendadak bisu, pengen gali lantai, masuk ke dalam bumi dan gak keluar lagi. Dalam jangka waktu cukup lama.


Berdasarkan pengalaman-pengalaman diatas, membuat gw makin meyakini bahwa kadang senyum aja cukup. Daripada sok basa-basi tapi ternyata gak sesuai dengan skenario yang kita harapkan.


Kalo ada temen gw yang lagi berduka, terpuruk, sedih, gw gak kan bertanya. Gw hanya mengatakan kalo gw ikut simpati dan pengen dia tahu kalo gw selalu ada buat dia. Itu aja. Jika memang orangnya sudah siap bercerita, maka dia akan bercerita dengan sendirinya, dan gw siap mendengarkan.


So, ungkapan simpati apa yang biasa teman-teman lontarkan kepada temannya yang sedang dirundung duka ? Tips dooong....

17 comments:

  1. salam mba, selama ini saya hanya baca aja tulisan mba. sekarang ijinkan saya untuk komen ya.. ya.. ya...
    saya biasanya ga bisa ngomong apa-apa. paling mencoba senyum sambil mengusap punggung yang tertimpa kesusahan (kalo seumuran) atau kata2 klasik "semoga diberi kesabaran yang lebih ya pak/bu".

    and.. this is what i like about your writing. could always combine bitterness with a laugh in it. salam kenal ya. you're my blog-idol lah

    ReplyDelete
  2. hmm berat bahasannya...kadang saya juga takut terjebak dalam "salah omong" atau "salah ucap"..saya pribadi terus terang juga agak takut untuk melontarkan koment ketika melihat seseorang kena musibah, pertanyaan pamali seperti gimana kejadiannya saya berusaha jaga untuk tidak ditanyakan disaat baru kejadian atau dia masih butuh cooling down....biasanya standard, Turut bersimpati, semoga kuat dan sabar yah..*itu yang standard...setelah itu saya lebih cenderung diam dan mengikuti pola komunikasi yang saat itu sedang terjadi...*lebih baik diam daripada takut omong...kecuali dengan teman yang sangat dekat dan mengerti banget saya atau sebaliknya...mungkin sedikit berbeda..

    ReplyDelete
  3. salam kenal mba, namaku Dila anakku kurleb seumur Athia nih 32 bulan :) kalo aku pribadi pernah ngalamin 2 musibah, waktu rumah kerendem banjir dan semua harta benda rusak, selama seminggu kami cm bs makan mie instan dan nasi karena benar2 ngga punya uang. saat itu banyak relasi dan saudara yang menghaturkan simpatinya, tapi jujur aku butuh dari sekedar simpati tapi juga empati. yang bikin terharu teman2 kuliahku urunan mengumpulkan baju bekas dan uang. juga teman2 lama yang aku ngga sangka2 datang dan membantu membereskan rumah. jujur kalo buat aku pribadi aku lebih terbantu oleh bantuan secara materi dibandingkan sekedar kata2 simpati. tapi ini menurutku yaah karena saat itu kondisi yang memang membutuhkan materi dan tenaga. musibah kedua waktu alm. bapakku meninggal 2 tahun yang lalu seperti biasa ucapan simpati berdatangan. tapi banyak juga yang datang untuk melayat dan memberikan pelukan hangat. jujur aku merasa sangaaaattt terharu ketika dipeluk walaupun org itu sebetulnya ngga seberapa deket denganku, rasanya beban seperti terbagi. juga bantuan saran2 dan arahan dalam membereskan dokumen alm karena kami sekeluarga cukup clueless mengenai hal2 tersebut.
    memang tidak semua orang memiliki empati, kadang hanya sekedar simpati dan ngga benar2 mengerti apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh orang yang berduka, tapi kita juga ngga bs menolak simpati sih, doa dan ucapan udah cukup berarti bagi kami saat musibah terjadi ngga bs ngarep juga supaya setiap org ngerti hehehe....
    karena itu sekarang kalau ada teman/saudara yang tertimpa musibah kata2 yang aku katakan adalah : ada yang bs kami bantu? dan aku betul2 tulus siap membantu apabila memang dibutuhkan :)kadang2 juga berupa sentuhan atau pelukan hangat tapi bergantung orgnya sedia ngga disentuh hehehe....
    segitu aja opiniku maaf kalo kurang berkenan :)

    ReplyDelete
  4. @ Mbak Tati,
    Salam kenal juga. Monggo komen aja. Sering juga gak apa-apa kok.

    @ Mama Kinan,
    Sama, Mama Kinan. Apalagi aku sebenarnya termasuk orang yang kaku yang suka mati gaya harus bicara apa.

    @ Mbak Dila,
    Ikut simpati atas musibah yang Mbak alami. Alhamdulillah, waktu kebakaran kemarin banyak teman yang menunjukkan perhatiannya melalui bantuan yang luar biasa. Iya sih kadang kita memerlukan bantuan berupa material, tapi kadang kita juga memerlukan dukungan moril. tergantung musibah yang dialami. Seperti yang Mbak bilang gak semua memiliki empati, gak mengerti apa yang sebenarnya kita butuhkan. Tapi kadang teman dekat ada yang gak bisa ikut membantu karena dia pun sebenarnya ingin membantu secara keuangan, tapi keuangannya mungkin pas-pasan. Kita juga gak tau. kalo menurut aku lagi nih, kalaupun gak bisa memberikan bantuan berupa uang/tenaga, setidaknya sejukkan hati ini dengan komentar yang positif. *lebay*

    ReplyDelete
  5. hahaha iyaa mba kadang banyak yang tanya2 atau malah berkomentar sinis mungkin karena liat orangnya ngga kliatan sedih. pernah juga aku berantem sama salah satu teman yang berkomentar pedas karena dia anggap aku sekeluarga salah tinggal makanya kena banjir,aku bilang terus terang kalo komennya nyakitin hati dan ternyata dia sendiri ngga sadar dan akhirnya minta maaf. kadang aku mikir jg apa aku yg terlalu sensitif karena pikiran lg mumet setelah musibah.tapi setelah dipkr2 lagi org2 yang ngga empati dan berkomentar seakan tau segalanya ngga usah diambil hati dijadiin pelajaran aja untuk diri sendiri.itung2 belajar jadi lebih bijak dalam menyikapi masalah, maklum juga setiap orang memliki latar belakang berbeda - beda jadi berpengaruh juga dengan cara mereka berkomentar

    ReplyDelete
  6. Setuju ndah..kadang senyum aja cukup. Curhat dikit ya, gw pusing kalo org nanya anak gw kok blm lancar ngomong. Pertanyaan basinya .."Emang ga diajakin ngobrol"..
    Ya diajakin ngobrol lah, masa gw ajakin ngerokok..
    Mudah-mudahan mommy Athia selalu sabar ya..Insyallah diberikan yang terbaik..amien

    ReplyDelete
  7. kalo gak terlalu deket, paling bilang i'm sorry aja. tapi kalo deket baru trus tanya gimana ceritanya. tapi ya tentu liat2 sikon.

    emang paling males kalo trus ada yang malah sok2 menasehati atau malah nyalah2in. gak pada tempatnya banget.

    prinsipnya if you don't have anything nice to say, just don't say anything!
    ya gak? :D

    ReplyDelete
  8. setuju mba indah.... saya pun kalo ada yg kena musibah biasanya ga mau banyak bicara, karena khawatir membuat tidak nyaman.... jadi inget waktu alm papa meninggal karena sakitnya yang tidak biasa... semua orang tanya detail dari awal sampai meninggal berikut komentarnya yang aduhaiiii....... sampai kepikir pengen rekam kronologis kejadian di kaset dan diedarkan ke semua orang.... hehehe.... saking betenya ditanya2 melulu...

    ReplyDelete
  9. @ Mbak Dila,
    Ya gitu deh. We can't control their comments. Tapi setidaknya kita bisa berusaha mengkontrol mimik. tetap senyum *walopun dalam hati udah terbakar esmosi pengen cabik-cabik sama yang komen gak karuan...LOL*

    @ Moeti,
    *peluk*
    Embyeeer. I feel U. Yah semoga aja kita diberikan kesabaran ya ngadepin permasalahan ini.

    @ Arman,
    Setujuuuu! Mending gak usah ngomong deh kalo gak bisa memilih kata-kata yang bagus. Masak udah jatuh ditindihin tangga pula.

    @ Bunda Kanaya,
    I feel U, Mbak. Ternyata aku ndak sendiri. Bukannya kita gak terima kasih atas perhatiannya ya. Yang menyebalkan udah kita ceritain kronologisnya, eeeh komen yang dihanturkan bikin kita pengen garuk-garuk aspal.Heu heu heu

    ReplyDelete
  10. Kalo gue sendiri ngeliat dulu dari karakter orangnya. Ada yang suka ditanya dan mmg orgnya ekstrovert, suka curhat, senang berbagi, ya gue (mgkn) akan nanya. Tapi klo gue liat orgnya gak suka ditanya2, introvert ya gue (mgkn) ga akan bertanya. Gue bilang 'mungkin' soalnya tgt kedekatan dan situasi juga sih..

    Yang gue coba ambil positif adalah mgkn org2 itu mencoba untuk simpati dan empati ama kita. itu niat baik yang harus dihargai.

    Cuma klo emg udah cape bgt biasanya gue cuma blg "ya gitu deh.." muka melas dan males, biasanya udah pd ngerti gue males cerita.

    Semoga ujian2 ini bisa dilalui lo sekeluarga dengan baik. amin amin

    ReplyDelete
  11. Memang sering gak enak juga kalo kita musti cerita berulang-ulang soal kejadian gak mengenakkan, apalagi kalo yang nanya bukan orang dekat dan gak bener-bener bersimpati apalagi berempati...

    Kalo aku, jika dalam kondisi aku bener-bener turut sedih, maka paling cuma bisa ikut diam aja...kadang malah ikutan nangis karena sedih yang dirasakan temen deket kita pasti bisa juga ikut kita rasakan kan? Dan kalo sama temen deket, kita tau pasti, hal pertama yang ia butuhkan dari kita sebelum kata-kata penguatan dan nasihat adalah keyakinan bahwa kita bisa turut merasakan apa yang ia rasakan...

    Dan setuju banget juga, mending kalo gak tau mo ngomong apa ya gak usah ngomong apa-apa...

    ReplyDelete
  12. @ Iti,
    Emang sekarang loe suporanatural, membaca angin ? Wakakak...

    @ Allisa,
    Ya kadang entah cuma basa-basi ato emang beneran pengen tau aku juga gak bisa bedain sih. Tapi kadang capek juga cerita ulang lagi, ulang lagi..
    heu heu...makanya aku tulis di blog sekalian.

    ReplyDelete
  13. nah kalo gwe ndah, senyum aja gag cukup pasti gwe latah ngikut nangis. cengeng berat gwe :D

    embyeeer gwe plg malessss sama pertanyaan dlm keadaan senep seputar kenapa/gimana terus-menerus. biasanya gwe blg langsung ke orgnya klo gwe cape cerita, tanya aja sama yg udah denger duluan. ato gwe ga jawab, senyum ajah seribu bahasa

    ReplyDelete
  14. Ah..beneran mam itu yg paling saya takutkan "salah ngomong" atau "salah bersikap". Wkt musibah yg dialami mam Indah itu, sy nitip pesan sama mam Lidya (maklum wkt itu gak punya noh HP mam Indah) dan berpikir kalau mam Indah pengin bercerita paling juga akan ditulis di blog. Tapi kalau gak, ya artinya sebaiknya jangan ditanya. Kadang emang sensitifitas org berbeda2 sih ya. Yang sabar ya mam hehehe

    ReplyDelete
  15. @ Indah,
    Hihihi...apa kayak Bunda Kanaya tadi aja, sodorin rekaman ?

    @ BunDit,
    Kalo cuma sekedar nanya kronologis sih masih gak apa-apalah, Bun. Yang lebih gak enakin, udah cerita panjang lebar dikomen gak enak. Hedeeeh...

    ReplyDelete
  16. duh jadi takut komenku waktu itu di sms menyinggung.maaf ya

    ReplyDelete
  17. ahhh beneeer banget mbak. Pernah pas anakq masuk rumah sakit, ada yang nanya2. sakit apa, kenapa koq bisa sakit, dll. Pertanyaannya gk msalah sih. Yang bikin sebel, komentarnya pas aku bilang kata dokter anakq kena infeksi virus (tp gak diketahui darimana), dia dengan nyantainya bilang
    "Kamu kurang bersiih kali orangnya makanya anakmu bisa kena infeksi virus gitu"
    masyaAllah...pengen ditimpuk apa yaa -_-"

    ehh..salam kenal ya mbakk.. aku suka baca blognya diem2 nih. :)

    ReplyDelete