5.03.2011

Emang PAUD Juga Perlu Kurikulum ?

Beberapa minggu yang lalu Yudith informasiin gw adanya Bulan Sharing Kupas Tuntas Tentang Anak Usia Dini yang diselenggarakan oleh salah satu PAUD Bintang Bangsaku. Kebetulan Ary, anak Yudith bersekolah di sini per Juli 2011 nanti. Ada beberapa topik yang dibicarakan tiap wiken selama bulan Mei ini. Kalo pengen tau apa aja topik dan siapa pembicaranya, bisa cek di Web Bintang Bangsaku

Dan Sabtu pagi, 30 April yang lalu, gw bareng temen-temen genk gw : ensiklopedia Genk Racun @ydhappy, ibu-ibu cantik nan modis @vinasumitro dan @risnaps Supermoms Indonesia ngikutin seminar perdana dari serangkanian paket seminar dengan judul " Curriculum For Early Learner" yang dipresentasikan oleh Mbak Yanthi Dewi Purwanti, S.Psi, KepSek Bintang Bangsaku yang pernah meraih penghargaan sebagai Kepala TK Terbaik tingkat Nasional tahun 2009 setelah memaparkan prestasi dalam menyusun kurikulum untuk PAUD inklusi yang berbasis kinerja otak

Don't judge a book by its cover! Never! Pertama kali gw menapakkan kaki di sekolah PAUD ini sepintas memang keliatan gak ada yang istimewa. Mainan di PAUD ini bukan keluaran Little Tikes, bangunannya gak sekokoh bangunan sekolah yang belasan juta, cenderung memiliki karakter mirip dengan TK Mini Pakkasur. Ada kolam ikan kecil nan sederhana agar murid-murid bisa belajar memberi makan ikan. Nampak sangat sederhana namun sebenarnya guru-guru sudah mempertimbangakan aspek safety saat merancang mainan di sini.


Namun begitu Yudith minta Kakak Admin di PAUD Bintang Bangsaku ini menunjukkan contoh buku raport salah satu anak yang bersekolah di situ, gw langsung membelalakkan mata dan amazed : WOW!!


Tau gak apa yang ditunjukkan ke gw pagi itu? Satu buku yang sangat tebel dan gede. Ukurannya hampir seukuran dengan bantal busa baru. Di dalamnya adalah isi laporan perkembangan dari guru setiap hari pelajaran terhadap satu murid saja selama anak di sekolah. Buku segede dan setebel itu hanya menceritakan perkembangan satu anak saja lhoooo...


Gw jadi penapsaran dan tertarik offkors, pengen tau seperti apa sih kurikulum yang cucok diajarkan untuk anak usia dini. Seminar yang cenderung santei ini baru dimulai jam 9 pagi di salah satu kelas di lantai 2. Gw, Yudith dan Vina duduk satu meja di kursi anak TK yang udah lama banget baru-baru ini kami tinggalkan.


Mbak Yanthi DP, sang pembicara dengan kostum santai dan bersahaja memperkenalkan diri. Sebagian besar peserta seminar di ruangan itu tampak sudah sangat mengenal Mbak Yanthi DP. Latar belakang sekitar 20-30 peserta seminar pagi itu pun berbeda-beda. Ada dosen sekaligus orang tua anak yang bersekolah di situ kayak Yudith, ada ibu-ibu yang sedang mencari sekolah untuk anaknya kayak gw, Pince dan Risna. Ada orangtua sekaligus guru PAUD juga, ada orang tua yang mencoba jadi guru dan memulai homeschooling bagi kelima anaknya. Bahkan ada juga salah satu psikolog dari LSM " Jangan Bunuh Diri" yang juga pengen belajar.


Sebelum memulai seminar, Mbak Yanthi DP terlebih dahulu meminta 4 peserta menjadi volunteer untuk suatu permainan. Yudith langsung semangat maju menawarkan diri bersama ketiga peserta lain. Setelah keempat peserta ini mengenakan penutup mata, Mbak Yudith DP meminta keempat volunteer ini untuk menyentuh huruf "U: pertama pada tulisan "Aku Bintang Bangsaku" di ruangan kami seminar itu. Dengan meraba-raba bak orang buta, akhirnya cuma satu orang yang berhasil menyentuh huruf U seperti instruksi di tembok bagian belakang. Yudith hampir sampai di daerah "Aku" tapi masih gagal menyentuh huruf U. Sementara dua orang lagi malah nyasar jauh banget di tulisan "Bangsaku".


Selanjutnya Mbak yanthi DP meminta bantuan 2 peserta lagi untuk jadi volunteer. Kali ini gw pun maju menawarkan diri bersama satu peserta lain menjadi volunteer. Kami berdua diminta untuk jadi guide bagi dua kelompok yang terbentuk secara tak sengaja tadi. Gw yang juga harus memakai penutup mata diminta jadi guide bagi kelompok Yudith. Dan gw diminta untuk membimbing kelompoj gw menunjukkan gambar gunung di ruangan itu. Wadoooo....lah menegetehe! Akhirnya gw gagal membimbing kelompok kami, sementara kelompok yang satu lagi berhasil beranjak menjauhi tembok belakang ke depan dan menyentuh gambar gunung. Kami malah stuck di belakang dan jauh banget dari gambar gunung. LOL.


Sekarang Mbak Yanthi DP meminta salah satu bantuan peserta yang kebetulan sedang hamilton untuk menjadi volunteer. Kali ini peserta ini gak perlu memakai penutup mata. Dia cukup berdiri di depan, dan dengan suaranya dia hanya perlu mengarahkan kedua kelompok yang semuanya masih mengenakan penutup mata menuju jam dinding di ruangan itu.


Pertama sekali yang dia arahkan adalah kelompok kami karena ternyata posisi jam dinding berada di dekat kami. Sementara kelompok yang berhasil menyentuh gunung tadi diarahkan sesudah kelompok kami.


Saat kami semua yang melakukan permainan ini diminta duduk kembali, semua peserta diminta untuk menuliskan 5 hal yang kami inginkan dilakukan oleh anak kami pagi itu. Mostly jawaban para emak-emak emang gak jaoh-jaoh : Makan, mandi, sikat gigi, berpakaian dan minum susu.


5 hal yang kami inginkan untuk dilakukan anak kami pagi itu bisa dikatakan sebagai contoh short term goal yang ingin dicapai. Dan kita sebagai orang tua seringkali tidak sabar dan cenderung ingin agar short term goal ini bisa tercapai saat itu juga. Kita cenderung ingin menyelesaikan masalah saat itu juga. Akibatnya kita secara tidak langsung bisa mengajarkan anak untuk tidak konsisten. Aaaah masa siiih??


Contohnya begini : kita menginginkan anak kita untuk bisa makan dengan mandiri. Namun dengan makan sendiri, anak makan lebih lama sementara kita dikejar-kejar waktu (mau berangkat seminar, mau berangkat sekolah), maka biasanya kita akan cenderung mengambil solusi jalan pintas : kita suapi anak supaya makannya cepat selesai! Beres deh!


Mengapa sih kita cenderung mengambil solusi jalan pintas tadi ? Karena kita sebagai orang tua butuh ketenangan. Karena kalo anak makannya gak kelar-kelar, mana bisa kita meninggalkan rumah dengan tenang? Ya kan? Padahal sebenarnya yang memerlukan kemandirian itu adalah anak kita.


Kemudian Mbak Yanthi DP meminta kami menuliskan 5 hal yang kami inginkan dari anak-anak dalam rentang waktu 20 tahun ke depan. Sebagian besar dari orang tua kembali mengharapkan adanya kemandirian dari diri anak-anaknya.


Dan ini lah yang sebenarnya yang dikatakan tujuan jangka panjang. Dan ketika kami kembali diminta menuliskan satu saja keinginan untuk anak-anak kami sebelum kami menutup mata untuk selama-lamanya, satu keinginan itulah yang dinamakan sebagai Visi.


Terus apa hubungannya semua ini dengan kurikulum PAUD ? Mengapa kita perlu kurikulum PAUD?


Dari permainan tadi sebenarnya kita udah bisa menarik kesimpulan. Pada saat ketiga orang yang nyasar mencari huruf "U" dan hanya satu orang yang berhasil, itulah gambaran anak-anak kita yang buta dalam menuju Visi yang kita harapkan karena tidak ada kurikulum yang membantu.


Sementara gw yang diibaratkan orang buta menuntun orang buta tadi adalah contoh orang tua yang diberikan waktu lebih lama untuk memperhatikan alam sekitar, namun tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk tujuan longterm.


Dan yang menuntun kami semua hingga mencapai tujuan dengan mudah tadi diibaratkan dengan kurikulum. Jadi dengan adanya kurikulum, maka:
- Kita mempunyai visi : Visi yang salah akan mengantarkan kita ke jalan yang salah juga
- Kita mempunyai misi : langkah-langkah apa yang akan kita lakukan demi tercapainya visi kita tadi
- Kita tau mana yang duluan yang ingin kita lakukan ato ingin kita capai.


Contoh : saat ibu yang hamil tadi memilih mengarahkan kelompok kami terlebih dahulu, bukan kelompok yang sudah benar menyentuh gunung. Itu dikarenakan karena kelompok kami berada lebih dekat dari tujuannya, bukan mendahulukan kelompok yang lebih pintar tapi lebih jauh keberadaannya.

Jadi saat kita menuju suatu visi, kenali dulu baseline kita dimana. utamakan yang paling dekat untuk kita capai ketimbang mendahulukan yang lebih hebat.  


Saat mendidik anak, jangan lupa untuk memperhatikan dan pahami
- Karakterk belajar mereka
- Developmental milestone
- Social contex dimana lingkungan anak itu dibesarkan. Contoh kalo di Amerika, anak-anak diutamakan untuk diajarkan kemandiran, di Jepang diutamakan anak-anak diajarkan tata krama.


Berikut ini adalah urutan perkembangan anak yang harus kita asah sebelum menuju ke jenjang berikutnya :
- Motorik
- Emosi
- Imajinasi
- Logika


Jadi yang utama di usia 0-7 tahun itu adalah perkembangan fisik (motorik)nya. Di usia ini juga anak-anak sedang mengexplore kemampuan motoriknya jadi jangan pernah mengharapkan anak untuk tetap patuh duduk diam manis di usia hingga 7 tahun. Kalo kata Bu Elly, syaraf belum bersambungan Cyiin.

jadi jangan maen menfitnah anak kita dengan " paling nakal...", "paling gak bisa diem", paling ini paling itu. Dari semua orang tua yang mengeluhkan anaknya paling ini, paling itu tadi, hanya 10% yang memang anak dengan special needs!

Nah balik ke perkembangan motorik. Kemampuan yang satu ini ini seringkali kita abaikan dan kita terburu-buru mengajarkan anak langsung ke tahap logika (berhitung, membaca).

Kita cenderung lebih suka mengajarkan anak mencoret-coret memegang crayon ketimbang mengajarkan anak makan menggunakan sendok sendiri. Padahal sebelum anak itu siap memegang crayon, terlebih dahulu anak itu harus sudah bisa memegang sendok sendiri. Dengan belajar memegang sendok, motorik anak akan berkembang dan jika sudah terbiasa memegang sendok, maka akan lebih mudah diajarkan memegang crayon.


Tanda-tanda anak belon siap memegang crayon : pada saat memegang crayon, jempol anak masih ke menunjuk ke atas. Hayooo coba liat tangan anak kita di rumah yang udah memegang crayon. Masih begitu gak tangannya? Kalo iya, menurut guru-guru PAUD sebenarnya anak kita belum siap memegang crayon.


Dan prosesnya memerlukan kesabaran lhooo. Biasanya kalo guru PAUDnya ato Emaknya gak sabaran, jempol anaknya dipaksain menunjuk kebawah gitu aja. hayoo...siapa lagi yang melakukan ini ke anak-anaknya ?


Sebenarnya sebelum mencoret-coret dengan crayon ada baiknya dilakukan kegiatan ini terlebih dahulu :
- Merobek-robek kertas
- udah jago merobek kertas barulah belajar menempel-nempel 
- belajar memegang botol minuman, belajar makan sendiri
- baru deh belajar nyoret-nyoret pake crayon.


Tahap-tahap belajar sesuai usia udah pernah gw posting  di sini .


Jangan demi gengsi, demi tuntutan zaman, demi tuntutan pergawolan emak-emak, kita jadi memaksakan anak kita belajar sesuatu yang emang belon siap untuk diajarkan ke anak.


Gak cuma ditakutkan akan mengalami Brain Down Shifting di kelas 4 SD, eh malahan up date dari Mbak Yanthi DP sekarang udah mundur jadi kelas 2 SD. Usia remaja harus jadi langganan psikolog dan usia lebih dewasa lagi bisa jadi pasien LSM Jangan Bunuh Diri. Na'udzubillah min dzalik.


Segala teori developmetal milestone anak itu bukanlah harga mutlak! Jadi jika anak usia 18 bulan belon menguasai perkembangan yang diperuntukan untuk anak usia 9-12 bulan, sebaiknya jangan difast forward langsung belajar perkembangan untuk usia 18-24 bulan. Biarkan saja mundur belajar usia 9-12 bulan tadi karena yang kita utamakan adalah pondasi perkembangan anak kita.


Buat bikin piramid udah nyampe puncak, tapi pondasinya masih banyak bolong-bolong. Toh gakkan kuat menopang piramid tersebut. Suatu hari pasti akan runtuh dan harus mulai dari awal lagi. Sebaliknya jika pondasinya kokoh dan terisi semua, maka akan lebih mudah untuk menuju perkembangan-perkembangan berikutnya!


Seperti kata Bu Elly Risman, jangan mengajarkan anak dalam posisi tegang karena percuma buang-buang tenaga! Anak tidak akan banyak menyerap pelajarannya. Anak sebaiknya diajarkan dalam kondisi fun jadi akan menyerap lebih banyak. Selain itu kita harus membuat anak merasa secure, nyaman belajar di lingkungan yang nyaman juga.

Oh ya seperti pengalaman teman gw Vina yang mengalami kesulitan mencari PAUD dengan kurikulum ideal (bermain, gedung bagus, murah, guru perhatian, mainannya safety) gak apa-apa sih kalo memang terpaksa harus menyekolahkan anak di sekolah yang kurikulumnya udah mengajarkan calistung di usia dini. Dengan catatan : asal orangtuanya tidak memaksakan anaknya untuk mencapai target ya.

Begitu juga teman-teman yang tidak puas dengan kurikulum formal terus ingin mendidik anaknya dengan metode homeschooling. teman-teman tetap harus punya kurikulum yang jelas. Karena kalo gak bisa menyusun kurikulum dengan jelas dan cocok untuk homeschooling anaknya, ya sami mawon wae. Itu pesan Mbak Yanthi DP ke salah satu peserta yang memilih mendidik anaknya dengan homeschooling.

Jadi kenapa akhirnya kita mutusin mengirimkan anak kita ke PAUD ? Demi gengsi kah? Demi pride ? Biar kita punya Me-Time, sementara anak berangkat sekolah, emaknya punya waktu buat nyalon ? Ato biar anak-anak kita menggapai tumbuh kembangnya dengan lebih optimal ?

Semoga hasil sharing seminar ini bermanfaat ya. Maklumin kalo gak detail ya. Soalnya gw bolak-balik ngambil makanan selama seminar. *maaap ya, Ibu Moderator Margaret fendi yang menugaskan saya untuk menulis sharingan ini, tapi saya malah nakal*

10 comments:

  1. Mantap...tiap kali kesini dapat ilmu, wah mbak yang rajin ikut seminar seminar dan mer-reportnya di blog ya biar saya yang nun jauh dari kota jakarta in tahu update update yang bagus untuk bekal "mengasuh dan mendidik kinan anakku" sip sip..jadi pingin lihat kinan kalo pegang crayon..kok nggak begitu perhatian ya,..padahal saya dulu pun juga mantan pengelola PG dan TK di ALam Sutera-tangerang, tapi tidak terlalu detail soal itu...hehehe..:)

    ReplyDelete
  2. ilmunya banyak banget nih mbak di postingan ini. bener banget tuh jangan sampai pasang target untuk anak-anak TK. Ada di sekolahnya Pascal yang ortunya selalu memasang target demi PIALA. oopss moga2 ga dibaca :-D
    lagi sensi nih di protes terus karena nama anak2 aku mbak.walah jadi curcol. padahal yang komen belum tentu dia lebih baik

    ReplyDelete
  3. @ Mama Kinan,
    Mantan guru preschool ya, Mbak ? Mungkin zaman Mama Kinan jadi pengelola TK dan PG belon sampe ngeliat perkembangan anak sedetail ini. Lagian kan tiap masa, kebutuhan dan perkembangan anak berubah ngikutin perkembangan zaman juga.
    Sip, Mbak! Nanti kalo ada seminar lain, aku share di sini. Bukan bermaksud sok menggurui, ato sok-sokan mau jadi Supermoms sih. Tapi menambah ilmu pengetahuan kan gak dosa ya, Mbak...

    @ Mbak Lidya,
    Nah lho..siapa sih,Mbak Lid. Jangan dipikirin, Mbak. Ngapain musingin nama anak orang lain. Wong dalam setiap nama aku percaya ada makna yang dido'akan orangtuanya. Ya kan?

    ReplyDelete
  4. Indah, makasih ya sharing nya berguna bangeet..

    terus bagi ilmu ya ndah :)

    ReplyDelete
  5. makasih sharingnya. Sangat-sangat informatif bagi saya yang tinggal di bagian timur indonesia, yang jarang ada event2 parentingnya.

    tentang development milestone, jadi agak worry sama anakku yang sudah 4 th tapi masiiiih bnyk ga bisanya. Baca bukunya Slow and Steady jadi tambah setres...

    Juni depan insya allah masuk TK, lagi cari yang bagus n terjangkau. Ngiler bgt lihat review TK n playgroup di jakarta sana...

    hiks, malah jadi curhat. Maaf ya...

    ReplyDelete
  6. mbak indah saya jawab dikoment juga yang soal mantan guru preschool yah hehehe, iya mbak dulu sempat nyantol mengelola Preschool dan kindergarten,cabang baru yang lagi buka di Alam sutera, didapuk ya Kepsek dan juga ngajar..juga admin..juga cari bahan bahan dan nyusun kurikulum...tukang promosi..dari murid 9 sampai 36 ..wah pokokna all in one ..hehehe tapi menyenangkan sekali, penuh suka dan duka..gaji kecil tapi fun ..itulah cita cita saya nanti kalo dah nggak jadi buruh pab mbak..pingin buka sekolah gak usah keren kerenlah dimulai dari PAUD atau PRe school gitu..halah...*sorry curcol..mau jawab jadi guru TK gitu aja mbuelet yah mbak :)

    ReplyDelete
  7. @ Nike,
    Huahaha...kalo gak jadi panitia seminar, gw justru konsen dan pokus lho. Kalo jadi panitia, bawaannya genit.*hosaaaa...*
    Udah gitu spas seminar kemarin pasti udah banyak yang nulis, makanya bingung mau nulis dari sisi yang mana.

    @ NauNau,
    Mbaak, jangan setres. Aku pernah berada di posisi Mbak juga kok. Karena kalo kita stress, kayaknya kita akan tegang ngajarin ke anak dan anak akan merasa beban buat dia, gak merasa fun. Justru itu akan bikin dia makin gak bisa nangkep apa yang kita ajarin. Coba deh kita coba lebih santai...

    Nasehat dari seorang dokter anak spesialis tumbuh kembang yang juga seorang psikolog untuk Mommy Athia yang suka parno ini: aku jangan pake kacamata hanya fokus pada kekurangan Athia. Aku juga harus fair melihat kelebihan Athia. :D

    @ Mama Kinan,
    Hebat!! Kami sesama emak-emak blogger mendukung cita-cita mulia Mama Kinan. Semoga cepat tercapai ya, Maaak...

    ReplyDelete
  8. Mba Indah, kok aku bingung ya? hehehe, jadinya kurikulum yang tepat itu kayak gimana mba? apa yang sesuai ama perkembangan itu kah? *maaf-maaf mbak..udah dibaca berkali-kali kok aku gak nemu2, maaf ya kalau udah ada tapi akunya gak teliti*

    btw jadinya kalau nyekolahin anak karena salah satu alasannya ibu butuh me time gak boleh ya mbak? *hiks*, soalnya aku gitu..salah satu alasan pengen "me time" lumayan buat ibu yang gak bekerja kayak aku, 1,5 jam khansa sekolah ibunya bisa bernafas bentar dan gak dimarahin ama papanya..*nyengir kuda*

    ReplyDelete
  9. @ Mbak Fiki,
    Aku udah pernah posting soal tahapan belajar anak di link di atas deh. Bukan postingan yang ini.
    Tapi aku coba refresh lagi ya. Intinya untuk tahapan anak usia 1-4tahun sih sebenarnya lebih banyak ke bermain. karena bermain ini adalah kegiatan utama anak.
    Kan ada tuh sekolah PAUD yang udah memperkenalkan calistung dari usia 2 tahun misalnya. Nah boleh aja sih kita sekolahkan anak dengan kurikulum seperti itu, tapi kita sebagai orangtua harus menekankan kepada guru bahwa kita gak menargetkan ato memaksakan anak kita untuk harus bisa calistung di usia sedini itu. Kasian karena memang belon waktunya anak untuk bisa calistung di usia sedini itu.

    Huahaha...kalo cuma alasan nomer 10sih gak masalah, Mbak. Tapi yang menjadi alasan utama Mbak menyekolahkan Khansa biar perkembangannya maksimal, biar bisa belajar berteman (gak cuma gelendot sama mamanya) kan?

    ReplyDelete
  10. Lha, saya juga baru kemaren nulis soal sekolah ini, tapi jelas gak sedalam tulisan mbak Indah ini sih, hehehe...

    seneng deh, mbak indah rajin ikutan seminar, jadi saya juga bisa dapat banyak ilmu di sini :D

    Btw, mbak, kalo di Amrik anak2 ditekankan soal kemandirian, di Jepang soal tata krama. Kalo di Indonesia apa yah???? Mungkin di sisi iman kali' yah biar gak bermental korup...hihihihihi...

    ReplyDelete