1.31.2011

Shape Up Your Financial Future

Udah dari beberapa minggu yang lalu gw daftar pengen ikutan seminar "Shape Up Your Financial Future With Ligwina Hananto" yang diselenggarain Femaledaily Sabtu tanggal 29 Januari 2011 kemarin.

Karena Hani lagi DLK (dinas luar kota) ke Yogya dari Jum'at pagi, makanya gw berangkat sendirian dari Bekesong. Rada ngeraba-raba dimana The Belleza tempat acara berlangsung soalnya gw bener-bener payah deh kalo daerah selatan. Gak menguasai daerah Jakarta Selatan sama sekali. Untung punya suami yang emang daerah jajahannya di daerah Jakarta Selatan, jadi Hani bisa kasih patokan " pokoknya depannya ITC permata Hijau situ".

Sampe sono, langsung ngetag'in tempat untuk dua temen genk racun yang juga berpartisipasi dalam acara ini : Dhita sm Iti duduk di bangku deretan terdepan.


Acara dipandu sama Amy Zein dan sempet ada presentasi dari pihak sponsor sebelum mulai ke pembahasan yang ditunggu-tunggu. 

Sebenarnya kebanyakan yang dibahas sama Wina pagi itu masih gambaran umum sih kayak tujuan loe apa, terus kenapa disarankan membeli asuransi termlife dan biaya pendidikan anak. Sebelumnya, Gw juga udah pernah share hasil belajar dari blogwalking sana sini tentang asuransi term life dan menyinggung soal ngitung biaya pendidikan anak zaman sekarang.

Namun, teuteup ada beberapa hal yang pengen gw share dari hasil seminar kemarin untuk menambah catetan gw juga :
1. Menabung saja tidak cukup
Secara hitungan matematika, untuk jangka waktu pendek mungkin masih kekejar antara tujuan angka yang pengen kita capai dengan cara menabung saja.

Contoh dari perhitungan sekolah Ganesh yang pernah gw itung di tahun 2010:
Level      Periode      Tahun     Total Biaya(Rp)     Waktu    Biaya nanti (Rp)
PG            1             2012        4,900,000              2           7,056,000.00
TK            2             2013       10,600,000             3          18,316,800.00
SD            6             2015       25,000,000             5          62,208,000.00
SMP          3             2021       30,000,000            11        222,902,511.21
dst...

Misalnya nih gw set pengen menabung 1juta/bulan. Dalam rentang waktu dari tahun 2010 sampe 2012 (selama 24 bulan) maka saldo tabungan gw pas Ganesh mau masuk PG sejumlah : 1 juta X 24 bulan = Rp 24,000,000

Wohooo...cukup dong! Target gw kan cuma bayar Rp 7,056,000 saja. Berarti masih sisa saldo Rp 16,944,000 di rekening tabungan gw.

Nabung lagi aaah sampe tahun 2013 untuk Ganesh masuk TK. Gw kembali nabung 1 juta selama 12 bulan = Rp 12,000,000. Ditambah sisa saldo kemarin berarti uang gw jadi : Rp 12,000,000+ Rp 16,944,000 = Rp 28,944,000.

Uang segitu mah masih cukup dong buat bayar TK Ganesh. Berarti sisa saldo di tabungan tinggal : Rp 28,944,000 - Rp 18,316,800 (buat bayar uang pangkal TK Ganesh) = Rp 10,627,200.

Terus gw lanjut nabung lagi nih masih dengan 1 juta/bulan untuk uang pangkal SD Ganesh di tahun 2015 nanti.
Berarti perkiraan uang tabungan gw Rp 1 juta ditabung selama 24 bulan = Rp 24,000,000.

Ditambahkan lagi dengan saldo sisa bayar TK Ganesh 2 tahun yang lalu di rekening gw kemarin, maka total uang gw di rekening sejumlah = Rp 24,000,000 + Rp 10,627,200 = Rp 34,627,200.

Nah Lho! Sementara untuk masuk SD gw perlu uang Rp 62,208,000. berarti gw minus sekitar Rp 27,580,800.

Atau jika gw mau tetep milih nabung, berarti gw harus mengejar kekurangannya sebesar Rp 62,208,000 (uang muka SD) - Rp 10,627,200 (sisa saldo) = Rp 51,580,800 dalam rentang waktu 24 bulan. Yang artinya untuk mencapai sejumlah angka itu, gw harus menabung Rp 51,580,800/24 = Rp 2,149,200 / bulan.



Harap dicatat bahwa selama gw menabung sejumlah itu untuk uang pangkal SD ganesh, tentu saja gw juga harus mengeluarkan sejumlah uang untuk bayar SPP Ganesh di TK, bayar jemputan, bayar catering dan tetek bengek biaya dari TK nya.

Kesimpulannya untuk jangka waktu sampe TK, mungkin menabung masih bisa kekejar dengan inflasi. Tapi untuk jangka > 3 tahun, bunga tabungan udah gak bisa mengejar laju inflasi. *semoga pada ngerti sama penjelasan ilustrasi gw ya. Pusing? Sama! gw juga...hihihi tapi kurang lebih gitu deh!*

2. Buat posting/planning akan kemana larinya penghasilan kita
a. Maximum cicilan hutang : 30%.
b. Menabung dan investasi : 10% - 30%. *silahkan tentukan sendiri. Tapi komit ya minimal 10% dari penghasilan harus disisihkan*
C. Pengeluaran (premi asuransi, rumah tangga, transportasi, anak, keluarga, pekerja BS+supir, kesehatan) : sisa dari posting bayar cicilan hutang, menabung dan investasi.
D. SET pengeluaran pribadi : 20%.
Ini gw banget! Gak mau doong, udah capek-capek kerja trus gak bisa bersenang-senang pas SALE, gak bisa hang-out sama temen-temen. Nah biar keren tapi gak cuma modal utang kartu kredit, gw harus menyisihkan 20% ini dari penghasilan.

3. Switch dan Activate Your Money
Jika sebelumnya urutan alokasi dana pas nerima gaji seperti ini :
- Penghasilan
- Pengeluaran
- sisa/tabungan
Maksudnya begitu dapet penghasilan/gajian, pake dulu buat pengeluaran ini itu, ntar sisanya baru ditabungin. Nah masalahnya, apa kita yakin bakalan ada sisanya ? huahahaha...Sumpah! ini gw banget!

Sekarang coba deh di-switch urutannya jadi begini :
- penghasilan
- investasi/tabungan
- pengeluaran

jadi kita ubah jadi begini : begitu gajian, langsung otomatis pindahkan sejulah 10%-30% (tergantung komitmen kita) ke rekening lain sebagai tabungan dan investasi. Setelah disisihkan, baru deh sisanya kita atur gimana caranya supaya cukup untuk expense selama sebulan.

Godaan terbesar dalam menabung adalah sabotase dari kita sendiri. Maksudnya kita selalu 'gatel' pengen ambil saldo dari rekening tabungan itu karena udah keabisan duit di posting expense. Nyehehe...makanya kuatkan komitmen dengan alasan yang kuat tujuan kita menabung/investasi: buat liburan, pendidikan anak, buat dana darurat dsb.

4. Dana kesehatan setelah pensiun
Pe-er banget buat gw. Selama ini kesehatan kami sekeluarga dicover asuransi dari kantor. Selain nyiapin dana pensiun yang akan kami pake berdua (biaya hidup gw dan Hani), gw juga harus mikirin dana kesehatan kami berdua (biaya kesehatan gw sendiri, biaya kesehatan Hani sendiri yaa). Setting rentang waktunya untuk berapa lama dana kesehatan ini akan dipakai setelah pensiun nanti.

5. Pilih Asuransi Term life sebagai proteksi
Perhitungan gw waktu menghitung uang pertanggungan asuransi gw sepertinya kurang tepat deh. Waktu itu gw ngitungnya pake cara yang di sini.

Agen asuransi gw pernah ngajarin sebenarnya cara menghitung uang pertanggungan adalah : Saat terjadi apa-apa dengan nasabah, maka jika uang pertanggungan nasabah dimasukan ke deposito, bunga deposito uang pertanggungan tersebut sama nilainya dengan pengeluaran sang nasabah tersebut.

Maksudnya jika pengeluaran nasabah untuk keluarga adalah 10 juta/bulan. Maka kita harus menghitung uang pertanggungannya supaya kalo dimasukin ke deposito, bunga depositonya bisa sejumlah 10juta/bulan. Gitu lho.

Tapi setelah gw pikir-pikir kalo ngikutin ngitung UP dengan cara begitu, pasti UP nya gede banget, dan belon tentu juga gw dan Hani sanggup bayar preminya.

Dan sekali lagi, seperti yang gw jelasin di blog terdahulu : buy Term and invest the difference.
Ciri-ciri asuransi term life adalah :
1. preminya murah
2. Jika tidak terjadi apa-apa dengan nasabah, maka uangnya hangus.

Biasanya kita mudah tergiur dengan iming-iming "uang bagi hasil', "hasil uang investasi" yang dibayarkan jika tidak terjadi apa-apa dengan kita setelah masa kepesertaan kita berakhir. Hayoo ngaku!!! *itu gw doang apa ya??*

Mengambil contoh pengalaman seorang ibu muda cantik dan cosmopolitan *ehm ini penting*, yang berencana mengambil suatu asuransi jiwa termlife. Dengan usia terpaut beberapa tahun di atas usia ibu muda ini, premi asuransi gw per tahun jauuuuh lebih murah ketimbang premi ibu muda ini untuk uang pertanggungan yang sama.

Padahaaal secara ilmu per-asuransi-an, untuk premi yang sama dan jenis kelamin yang sama (maap, tapi premi asuransi jiwa untuk laki-laki lebih mahal ya, Bok) seharusnya premi gw lebih mahal dong secara usia gw lebih tua banyak ketimbang dia.

Ternyata selidik punya selidik, pengakuan dari ibu muda ini bahwa untuk uang pertanggungan yang sama, dia sempat ditawarkan dua pilihan:
1. Premi sejumlah Rp 2 juta/tahun tapi jika dalam rentang 10 tahun tidak terjadi apa-apa maka uangnya akan hangus, atau 
2. Premi sejumlah Rp 4 juta/tahun tapi jika dalam rentang 10 tahun tidak terjadi apa-apa, maka dia akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 32 juta diakhir kepesertaan.

Kalo gw jadi jadi ibu muda ini maka gw bakalan mikir: Jika bayar 2 juta/tahun terus hangus dalam waktu 10 tahun berarti rugi Rp 20 juta dong.

Tapi bayar mahalan dikit 4juta/tahun tapi dalam 10 tahun (berarti bayar 40juta/10 tahun) balik lagi uangnya sebanyak Rp 32 juta. Berarti ruginya cuma 8 juta doang. Mending rugi 8 juta daripada rugi 20 juta.  

Ehm, sebenarnya jika Ibu muda ini sanggup membayar 4 juta dan mengubah scheme nya seperti ini: 2 juta/tahun dibayarkan untuk asuransi jiwa yang hangus. Maka selisih premi yang 2 juta lagi diinvestasikan sendiri dalam 10 tahun akan menjadi seperti ini:
Rp 2,000,000 / 12 = Rp 167,000/bulan.

Jika Rp 167,000/bulan ini diinvestasikan sendiri dalam RDS dengan asumsi return 15 % saja maka estimasi hasilnya dalam 10 tahun = Rp 46,535,764.35

Jika dengan asumsi return rata-rata 25% maka estimasi hasil investasi 10 tahun = Rp 88,978,378.88

Udah liat bedanya kan?? Jreng-jreeeng...

Takut investasi sendiri di Reksadana saham karena situasi pasar yang gak menentu ? jiaaah...wong return dari asuransi yang dijanjiin ke kita juga dapet dari hasil investasi ke situ kok. Nyehehehe...

Tapi kalo males investasi sendiri mendingan emang biarin asuransi ajah yang investasi selisihnya. Emang sih returnnya lebih kecil, tapi daripada kita males nyoetor selisihnya, toh jadi gak dapet uang tunai jugak. :p

Oh ya tips dari Yudith : sebaiknya pilih perusahaan asuransi yang udah punya track record bagus dan udah banyak nasabahnya yang ikut program yang sama ya.

Kenapa ? Karena semakin banyak orang yang ikut program asuransi yang sama di asuransi tersebut, maka secara hitungan statistik, distribusi normal nya bagus dan ini secara otomatis akan mempengaruhi harga premi juga. Dengan banyak nasabah mereka yang terkumpul, mereka lebih berani menawarkan harga premi cenderung lebih murah. Ya kan,Dith?

Intinya boibo baik yang pengen ikut asuransi termlife, unit link,asuransi pendidikan, itung dulu deh angka-angkanya sebelum memutuskan. jangan karena kalap apalagi kalo dah pake embel-embel pendidikan " asuransi pendidikan", " tabungan pendidikan", tentunya gak mau dicap sebagai orang tua yang tidak bertanggung jawab, kita kalap mata dan maen beli saja produknya tapi gak teliti apakah sesuai dengan tujuan kita.

Diibaratkan sama Wina kemarin, jika kita mau ke bandara soekarno-hatta dan pengen lewat tol, pastikan tol nya memang menuju arah bandara.

Jika memang kita sudah tahu salah ambil tol jagorawi mau menuju Bandara, ya secepatnya mending buru-buru keluar di exit terdekat, jangan ngelanjutin naik tol sampe ke Bogor hanya karena terlanjur sayang udah bayar uang tol jagorawinya.

Gw gak bisa kasih contoh soal unitlink soalnya emang gak pernah ikutan sih. Nyehehehe...

Cukup sekian hasil rangkuman saya mengenai seminar finansial kemarin. Abis seminar, kami sempet foto-foto dengan Wina *tengkyu ke Ira yang berani berkata lantang " Mbak Wina, foto dooong" dan udah mau gw tebengin pulang* huahahaha...kecup Ira.

Semoga apa yang gw share di atas bisa bermanfaat ya. Tapi jangan pada konsul sama gw ya..*jiaaah...narcist!*. Soalnya gw gak ada background finance.

Kalo ada yang mau konsul masalah keuangan mending langsung ke Ligwina aja deh. Ato kalo mendingan sama Dhita ato Iti aja ya. ya ya ya

Sama kayak konsul kesehatan anak, wong background gw di engineering jadi bukan orang yang berkompeten diajak konsultasi secara mendalam yaaa...

Intinya gak ada larangan untuk shopping, selama investasi jalan terus pleuus duitnya ada. *nah ini yang susye !!*

**Femaledaily, adain lagi dong ikutan seminar finansial kayak gini. Secara gw masih oon bener dah kalo soal beginian**

13 comments:

  1. Wih, gue emang selalu terkagum-kagum dengan liputan lo untuk hal seminar dll ndah.. eh tapi diitungin pula term life yang mau gue tanyain ke wina kemaren *sygnya udah angkat tangan tinggi2 ga dipilih, mgkn emg hrsnya pake goyangan dikit* XD

    iya yah, gue jd sadar juga mahal juga. Cuma setelah gue liat UP gue pun bergerak ngikutin tahunnya. Jd kontrak 700jt, ntar pas th ke-10 jadi 732jt (asumsi bunga 6%) Dan pertimbangan gue kmrn (selain males nyamperin Manuhidup) asuransi ini berbasic syariah.

    Dan ada kemungkinan 'sabotase' gue gede, hahaha.. itu yang paling bahaya. Tp coba gue itung lagi deh, skalian cari buat ican soalnya. Thk u ya ndah

    ReplyDelete
  2. @ Iti,
    Teuteup gw kalah dibanding Bheboth. Dia fokus bener sama presentasi. Terbukti dapet semua doorprise. Huahaha...
    Gw kebanyakan ngakaknya daripada fokus seminar.

    Soal premi, ya itu tadi tips dari Yudith ke gw. Premi asuransi syariah mungkin emang lebih tinggi ketimbang premi asuransi konvensional kayak gw. Soalnya nasabah asuransi konvensional kayak gw lebih banyak daripada yang ikut asuransi syariah, Ti.
    Inget teori distribusi normal kata Wina kemarin kan?
    Jadi teori Yudith sih gw anggep make sense...

    ReplyDelete
  3. comment gw td masuk ga yah...
    tfs ndah, bermanfaat bgt nih. emg skr bayar pendidikan gilingan ye. masuk pre school aja udh amit2. makanya gw sll berdoa spy anak2 gw bs dpt beasiswa kuliah kyk ayah bunanya, jd ga terlalu berat :D

    ReplyDelete
  4. @ Ira Kusuma,
    Gak masup,Ra. Cuma yang ini aja lho yang masup *takut disangkain gak approve komen loe*

    Amin. Semoga Ganesh juga bisa dapet beasiswa jadi duitnya bisa buat modal usaha nya dia...nyehehehe

    ReplyDelete
  5. Tfs mam. Sangat mencerahkan walau makin bikin mules lihat angka dana pendidikan anak kita kelak hehehe :-)

    ReplyDelete
  6. waduh, mbak, pusing saya bacanya...hihihi...kalo udah soal finance trus udah persoalan liat angka-angka, saya nyerah deh...xixixixi... But anyway, tks a lot for sharing here, mbak, sangat mencerahkan. Kalo saya sih sejauh ini ngikutin Raja asuransi pendidikan ajah, pengen ikutan investasi macam reksadana, tapi yo gak ngerti apa-apa soal itu *eh, memang gak ngerti ato terlalu cuek gak mau tau yak????hihihi*

    Sekali lagi, tks ya mbak Indah, memang deh mommy Ganesha ini selalu detil kalo udah menyangkut liputan gini, gak pernah kepikiran jadi reporter TV news aja, mbak??? :D

    ReplyDelete
  7. @ BunDit,
    Hebat lho Bundit cuma mules, lah Mommy Ganesh sempet pingsan. :p

    @ Mbak Allisa,
    Pengen sih jadi reporter TV News. Tapi masalah gak ada yang mau terima..hihihi

    ReplyDelete
  8. uhuk2..jadi maluw..maap ya ndah..gue ngalahin ratu doorprize..:-P
    keren ini liputannya..gue link di tulisan gue ya biar saling melengkapi..hehe..thanks mamak ganesh..

    ReplyDelete
  9. wow nice share In :)..btw punya info ttg asuransi kesehatan gitu ga' Lo, yg spt Wina sering rekomendasiin gt ciri2nya..gw blm punya bayangan aj gt..tq ya Mak Ganesh

    ReplyDelete
  10. emang keren nih kalo mommy ganesh kasih report seminar. *10 jempol*
    eh ndah, ikutan paket seminar bu elly juga? asik ketemuan... gw bumil kuyu ndah, bb melorot mulu, males dandan, kuyu banget. jangan kaget ya lo hihihi...

    ReplyDelete
  11. @ bheboth
    Iyaaa...sip!

    @ UmNad,
    Kata Wina sih asuransi kesehatan setelah pensiun udah gak ditawarin lagi di Indonesia.
    gw coba pake RD aja kali ya nyiapin dana nya.

    @ Motik,
    Aaah masa sih. Iya ntar kita ketemuan Sabtu, 2 minggu lagi yaaa

    ReplyDelete
  12. wahhh post yg manfaat banget nih, walo harus pingsan-bangun-pingsan lagi ngliat angkanya ehuheuheu

    tp mo nanya ni mbak, kl kasus suami istri ga dicover kesehatan ama pensiun nya gimana dong?harus ngambil yg mana ya?

    ReplyDelete
  13. @ Mbak Gie,
    Maksudnya kesehatan setelah pensiun apa gimana, Mbak ?
    Kalo mau ambil asuransi kesehatan, carilah asuransi kesehatan murni. Dan kalo bisa cari asuransi yang mengcover sesuai plafon.

    Jadi misalnya plafon rawat jalan Mbak Rp 5 juta/tahun. Nah dari plafon itu Mbak bisa pake kemana saja asal tidak melebihi plafon 5 juta.
    Soalnya ada juga asuransi kesehatan nawarin plafon rawat jalan 6juta/tahun. Tapi serba dibatesin. Misalnya biaya dokter umum yang dicover cuma 50ribu. jadi kalo mbak ke dokter umum berobat bayar Rp 70ribu, tetap aja Mbak nombok 20ribu.

    Kalo kesehatan setelah pensiun, Mbak bisa cari asuransi kesehatan yang bisa mengcover Mbak hingga usia pensiun nanti. Kemarin aku pernah ditawarin hingga usia 66 tahun.

    Atau Mbak siapkan uangnya di RD khusus. Set dari sekarang jika Mbak dan suami *amit-amit!* terkena penyakit yang mengharuskan rutin berobat, berapa tahun Mbak dan suami mau bertahan untuk terus berobat. Nah silahkan estimasi biaya nya dan kumpulkan dari sekarang.

    Begitu juga untuk pensiun,Mbak.
    Semoga bisa bantu jawab ya. Soalnya aku juga bukan financial planner tapi emak-emak yang masih belajar juga

    ReplyDelete