10.11.2010

Revolusi Technology Imbangi Dengan Revolusi Pengasuhan Anak

Sabtu pagi gw deg-degan menatap jendela...Yah Bekasi diguyur hujan deras sedari dini hari, I guess. Bukan napa-napa soalnya kalo hujan biasanya identik dengan macet. Sementara Sabtu pagi itu gw sanget excited untuk hadir dalam seminar " Mendisiplinkan Buah Hati Dengan Kasih Sayang" oleh Ibu Elly Risman, Psi dari yayasan Kita dan Buah Hati jam 9 pagi di JDC.

Namun untunglah jam 7.30 pagi hujan mulai reda. Dan gw pun langsung berangkat ke JDC. Aaah...ternyata Bekasi-Semanggi lancar jaya gak macet seperti dugaan gw. Walhasil gw pun nyampe JDC sekitar jam 8.15. Langsung daftar ulang dan pilih kursi paling depan.

Soo, gw, Resti dan Icus pun duduk di jejeran paling depan. Huusssttt...bukan karena gw pengen bener-bener pokus, melainkan biasanya kalo ada doorprize yang duduk paling depan bisa lebih cepat sampe panggung. Huhahaha...

Motivasi kenapa gw ingin ikut seminar ini? Emang saat ini belum ada sekolah khusus dimana jebolannya dijamin jadi orang tua yang terbaik. Tapi setidaknya gw mo belajar lebih banyak bagaimana menjadi orang tua yang mendidik dan mengarahkan ganesh. Jujur di lingkungan sekitar gw sekarang banyak anak-anak yang bersikap kurang pantas pada usia yang sangat kecil.

Tentunya kita sepakat bahwa anak kita memerlukan gizi. That's why alasannya gw bela-belain ikut milis mpasirumahan, gizi bayi balita. Ato kenapa ibu-ibu stress kalo anaknya lagi masuk masa GTM. Tapi ternyata anak tidak hanya membutuhkan gizi dari makanan saja. Lebih tepatnya ada 3 gizi yang dibutuhkan oleh anak kita :
1. Gizi Fisik
2. Gizi Emosional
3. Gizi Spiritual

note: pssstt...gara-gara gw bisa jawab pertanyaan 3 gizi ini di akhir acara, maka gw memenangkan salah satu doorprize gratis berlangganan majalah Toddie selama 3 bulan. Resti juga lho..tuh kan bener kalo duduk di depan biasanya menang doorprize *info gak penting*

Sebelum memulai presentasi, kami diberikan questioner untuk mengetahui pemahaman tiap hadirin mengenai Disiplin dan bagaimana dulu kami diajarkan disiplin oleh orang tua kami.

Mungkin postingan ini bakal panjang banget. Gw coba menulis ini untuk catatan buat gw juga. makanya mungkin gw akan bagi jadi beberapa bagian kali ya.

Okay, dimulai dari pengertian disiplin. Dari questioner yang dibagikan sebelumnya tampak banyak macam jawaban yang dipilih hadirin. Ada yang menjawab hukuman dan hadiah, patuh pada peraturan, paham dengan peraturan. *maap, gw lupa yang lainnya*

Pernah gak terpikir bahwa sebagian besar pola pengasuhan kita terhadap anak dipengaruhi oleh pola pengasuhan orangtua kita ke kita dulu?
Contohnya begini...waktu masa kecil kita sering dicubit oleh orang tua kita jika kita melakukan kesalahan ato berbuat yang gak berkenan di mata orang tua. Istilahnya 'dikit-dikit nyubit, dikit-dikit nyubit' maka itu akan terus terekam sama otak kita. Dan otak kita pun akan terprogram kalo anak salah = dicubit.

Tapi pernahkah kita terpikir bahwa saat orang tua mencubit anaknya, bagian mana yang terasa paling sakit? Di bagian yang dicubit kah? Aaah...mungkin di situ juga terasa sakit. Tapi sebenarnya yang paling sakit buat sang anak adalah hatinya. Dan itu akan terus terekam oleh anak. Oleh kita, sehingga kita melakukan hal yang sama ke anak kita, anak kita akan melakukan hal yang sama ke cucu kita, terus menerum rekaman di otak itu diputar bak lingkaran setan.

Tapi ada juga yang melakukan sebaliknya. Karena kita tau sakitnya dicubit, maka kita memotong rekaman program tersebut di otak untuk berhenti mencubit. Maka kita gak mau lagi mencubit anak kita.

Seperti pengakuan Irvan Hakim yang juga datang bersama istrinya Della pada sessi Tanya Jawab di akhir acara. Masa kecil Irvan keliatannya begitu sempurna. Dia selalu menduduki ranking 1-2 di sekolah, pintar mengaji, shalat OK jadi contoh teladan bagi anak-anak tetangganya. Tapi ternyata Irvan mengaku sebenarnya dia lelah dibanding-bandingkan, dia merasa tidak bahagia. Oleh karena itu dia gak mau anak-anaknya mengalami hal yang sama.

Jadi ada rantai memori yang terekam dalam otak kita yang harus kita putus. Jika dulu orang tua kita mendisiplinkan kita dengan sistem reward & punishment, pukulan, maka pola seperti inilah yang harus kita ubah. Apalagi saat ini zaman sudah mengalami Revolusi Technology. Adanya TV, handphone, internet, Blackberry, ipad, yang gak hanya jadi perangkat kita, tapi sepertinya sudah jadi perangkat elektronik anak kita juga.

Jika gempa beresiko bencana tsunami, maka perangkat elektronik itu berpotensial pada bencana kerusakan otak anak kita. Hiperbola ? rasanya make sense kok...

Yiuuuk kita liat sekeliling kita. Pernah liat anak-anak TK punya Handphone? Aaah itu mah so last year! Liat keponakan yang baru duduk di bangku SD punya Blackberry dan jadi teman kita di jejeraring sosial seperti twitter, fesbuk? Anak piyik-piyik maen game di internet, maen game di ipad?

Sekarang boro-boro anak SD, wong anak baru lahir aja udah punya account twitter, fesbuk yang update terooos dari Blackberry dan ipad nya. Hayo ngakuuuu!!! hihihihi...

Sungguh bukan maksud gw nancepin piso ke kepala siapapun karena ini murni dari seminar kemaren lhooo. Pernah baca kasus sekian banyak anak dibawah umur yang mengunduh video Ariel-Cut tari-Luna Maya? Saat kita memberikan perangkat elektronik itu ke anak kita, apakah kita sertai dengan penjelasan manfaatnya, batasan yang jelas ?

Ato ke pertanyaan yang paling mendasar dulu aja deh. Bagi ibu-ibu yang udah memberikan perangkat elektronik ke anaknya, udah pernah mikir alasan kenapa kita memberikan perangkat tersebut ke anak kita?
JLEBSS!! Make sense sih buat gw...

Dengan gempuran Revolusi Technology yang gak bisa kita hindari, maka kita harus menjaga agar anak kita tidak terpengaruh hal-hal negative dari revolusi ini. Dan demi anak-anak kita, maka kita perlu melakukan suatu revolusi juga, yakni REVOLUSI PENGASUHAN ANAK. Mulai saat ini juga...Yay!!

Jadi sebenarnya perlu gak sih disiplin buat anak? Dan apa sih disiplin itu sebenarnya?

Gw lupa bahasa latinnya, tapi menurut Bu Elly Risman, disiplin sebenarnya adalah suatu instruksi. Anak perlu disiplin karena jika anak tidak mempunyai suatu instruksi, petunjuk dalam keluarganya maka anak akan menjadi bingung, cemas. Dia gak punya pegangan. Oleh karena itu anak penting diajakrkan untuk disiplin.

Kapan sih saatnya mulai mengajarkan disiplin ?

Menurut Bu Elly Risman, anak-anak mengalami beberapa tahap. Usia 0-7 taun, 7-14 tahun dan 14-21 tahun.

Saat yang paling baik adalah mengajarkan sedini mungkin, usia 0-7 tahun. karena di periode ini seperti halnya yang sering gw dapet dari pakar-pakar lain merupakan Golden Age. Jika kita bekerja keras dan berhasil mendidik anak pada usia ini, maka untuk melangkah ke depannya akan jauh lebih mudah.

Jika pada usia 0-7 tahun ini saja kita udah gak bisa membimbing anak dengan baik, memberikan contoh yang baik, gak bisa mengisinya dengan hal-hal yang baik, bukan gak mungkin anak akan berlaku gak pantas, gak sopan, membangkang. Itu baru di usia 0-7 tahun lhoo...gimana ntar kalo usia 7-14 tahun, terus masuk di usia 14-21 tahun? Silahkan bayangkan sendiri

Gw udah melihat contoh hasil panen anak yang dididik dengan pola yang kurang tepat...dan gw gak mau itu terjadi sama Ganesh.

Gimana sih caranya supaya anak mau dengerin kata orang tua, bisa disiplin?

Saat usia 0-7 tahun, syaraf-syaraf otak anak belum bersambungan. itulah sebabnya usia 0-7 tahun sebenarnya belum wajib diajarkan kognitif. *jadi nyambung sama seminar PAUD nya Yudith tempo hari*. Anak usia 0-7 tahun gak boleh diajarkan disiplin dengan cara dipukul. Toh dalam agama Islam sendiri sudah diatur bahwa gak boleh mukul anak seusia itu.

Pukulan sendiri hanya membuat anak berhenti melakukan kesalahan itu sesaat, membuatnya cenderung berbohong *dia akan berbohong supaya tidak dipukuli*, agresif.Anak yang sering dipukul di usia < 3 tahun akan jauh lebih agresif pada usia 5 tahun. Dan pada usia > 5 tahun, anak ini akan tumbuh jadi anak yang suka memukul lho. Nah lho! Lagipula pukulan itu tidak membuat anak jadi paham kesalahan yang dia lakukan.

Jika orang dewasa seharusnya bertindak berdasarkan: Emosi-Pikiran-Aksi, maka anak-anak di usia 0-7 tahun akan cenderung bertindak berdasarkan Emosi-Aksi-Pikiran. Maksudnya gini, anak-anak cenderung bertindak dulu baru mikir. Nyehehe...kalo itu mah, sometime it happens to me too.

Ajarkan anak untuk BMM yakni Berpikir-Memilih-Memutuskan. Caranya adalah dengan bertanya. Tapi perlu kita inget, jangan bertanya sambil marah-marah, teriak-teriak.

Iiih jadi malu, gw banget tuh! Selama ini kalo gw ngedapetin Ganesh lagi berantakin kartu-kartu ATM di dompet gw, pas gw lagi cuapek banget pasti reaksi gw " Ganeshaaa!!! Astagfirullaaaaaaah!!! Ngapain sih kamu blablabla..." *seterusnya udah kayak CD rusak diputar*

Dan Ibu Elly Risman sukses ngingetin gw kalo gw egois ngerasa capek kerja seharian, gimana dengan Ganesh sendiri? Pernah kah gw berpikir bahwa dia juga capek seharian nungguin mommy nya pulang buat sekedar maen sama dia? Setelah nunggu 8 jam lebih, dia cuma bongkar-bongkar kartu ATM gw dan yang dia dapetin bukanlah dekapan Mommy, tapi malah dibentak Mommy?? 'Hellow...what's wrong with you, Mom??? ' Gitu kali reaksi Ganesh kalo udah lancar ngomong. Huaaa...mata gw langsung berkaca-kaca.

Ajak anak untuk berkomunikasi. Kalo anaknya udah bisa respon, mungkin bisa coba contoh kasus kayak gini. Misalnya kita udah bilang " Ganesh, jangan lari-lari di dalam rumah ya, Sayang...ntar Ganesh jatuh".
Biasanya Ganesh gakkan dengerin tuh, dia akan terus lari-lari hingga akhirnya jatuh. Respon yang biasanya spontan keluar " Rasain!', " Tuh kan apa mommy bilang!"

Sekarang ? Duduk manis, tarik napas panjang. Setiap mo mulai komunikasi dengan anak, awali dengan senyuman. Kenapa? karena senyuman akan memberikan vitamin ke otak kita. Selain itu jika kita tersenyum pada anak, anak otomatis akan cenderung tersenyum kembali. Gak percaya? Well, I've tried it and Ganesh did it.

Saat tersenyum orang akan merasa senang.

Catet ya boibo, Jika hati senang, maka otak akan menyerap lebih banyak. Dan pesan yang ingin kita sampaikan ke anak pun cenderung lebih gampang diterima daripada kita ngomel-ngomel.
Cobalah sambil tersenyum tanyakan : " Ganesh kenapa?"
Ganesha : " Jatuh, Mom.."
M : " Jatuh kenapa, sayang?"
G : " Hmm..kesandung mom "
M : " Oooh kesandung? karena Ganesh lari-lari ya ?"
G : mengangguk pelan
M : " Sakit gak, Sayang ? "
G : " Sakiiiit mom "
M : " Hmmm....masih mau jatuh kayak gini?"
Ganesh geleng-geleng
M : " kalo gitu masih mau lari-lari dalam rumah "
Ganesh geleng-geleng lagi
M : " Nah Ganesh bisa gak jalan aja kalo dalem rumah gak usah pake lari-lari?"

Nah dengan begitu jadinya kita mengarahkan anak kita untuk berpikir, memilih dan mengambil keputusan sendiri. Dan hal ini penting karena dengan begitu kita sudah mengarahkan anak kita menjadi pemimpin di masa depan.Bukan hanya follower.

Note to my self : gw gak boleh terus-terusan ngambil keputusan untuk Ganesh. Biarkan dia belajar memutuskan...

Masih banyak yang mau gw tuangin di catetan gw ini. tapi biar gak capek dan gak bosen bacanya, segini aja dulu kali yaa.Next time, gw postingin yang lainnya...Semoga yang baca masih tertarik baca lanjutannya.

10 comments:

  1. iya kmrn gue juga jadi berkaca2 mulu kalo si Ibu Elly dah kasi2 contoh gtu..jadi inget Nara..huhu..semoga qta bisa ya Ndah..ayo tulis lagi ndah..

    ReplyDelete
  2. sayang banget gue ga bisa dateng ndah (pdh; dah daftar jauh2 hari) :(. pasti serunya kemarin seminarnya...

    makasi ya sharingnya, as usual tulisan lo selalu enak untuk dibaca. kena banget gue tentang pola pengasuhan gue ke haidar, gue orang paling ga sabaran klo ngadepin haidar tantrum... :(

    semoga kita bisa jadi ortu yang lebih baik lagi ya ndah..amiin.

    ReplyDelete
  3. Mak Ganesh plis lanjutin lagi ya postingannya. Diriku serasa berada di seminar bersama dirimu *lebay*



    Semoga kita jadi orang tua yang jauh lebih baik,lebih sabar menghadapi anak2 kita :)


    Eike tunggu ya mak

    ReplyDelete
  4. berasa dengerin bu elly risman lagi kaya kemaren nih...mommy ganesh emang oke berat tulisannya..gue mah setengah idup mau nulis sambil inget2 beginih *ga kreatip*..hihi..nice to meet you mak :)

    ReplyDelete
  5. ga nyesel kan ndah ikutan seminarnya bu elly?? *pengen bisa jadi psikolog spt beliau*

    bulan juni/juli (lupa tepatnya) kemarin gw ikutan berdua hubby, materinya tentang komunikasi dalam pengasuhan anak. buat hubby gw yg dunianya jauh dr psikologi, mantab juga tuh..hehehe..

    gw juga mau ikutan lagi kalau ada. yg gw incer materi tentang konsep diri. soalnya temen nyokap gw ada yg prnah ikutan, dan katanya bagus banget.

    TFS ya ndah...

    ReplyDelete
  6. Waa hebat ganesh udah bisa ngomong tersandung yaa.. pinterrr..

    gue jd tertarik nih ikutan seminar ini ndah

    ReplyDelete
  7. indah... ditulis lanjutannya dong.. plisss... :)
    baca postingan lo aja gw berkaca-kaca ndah, pas banget dibagian yg berantakin dompet. persis bngt sering kejadian marah2 sampe triak2 ke kyara krn dompet gw dan isinya berantakan, duit pindah semua ke dompetnya dia. gw pernah stress duit ratusan ribu ilang smua dr dompet padahal buat bayar orang yg lagi nungguin di luar. ternyata pindah ke dompet kyara semua. gw marah2 saat itu, tapi pas udh ngga emosi jd nyesel banget.
    ah comment gw kok malah jd curhat nih.

    ditunggu lanjutan nya ya indah... :)

    ReplyDelete
  8. Wah...isi seminarnya ok banget mam. jadi merasa diingetin ya, kadang kita suka ngomel gak jelas sama anak. Jempol nih buat mom ganesh yg selalu mau nambah ilmu lewat seminar :-)

    ReplyDelete
  9. Gue juga berkaca2 pas bagian "apa kita mikir kalo anak juga cape nungguin kita pulang kerja". Iya gue ga pernah mikir gitu ya... Hari Minggu kemaren gue rada "tertohok". Gara2 gue lagi sibuk masak nasi tim buat sarapan, trus Nara nyamperin gue dan gue ditarik2 untuk nemenin dia nonton, dan selama nonton dia megangin tangan gue sambil senderan. Gue langsung mikir jangan2 gue terlalu sibuk masak, bebersih, dll malah "lupa" nemenin Nara. Hiks... Ealah malah curcol :p

    ReplyDelete