6.11.2010

Imunisasi MMR : Siapa Yang Harus Gw Percaya?

Ditengah-tengah ke-crancky-an melanda, gw mencoba menarik sebuah kesimpulan bahwa MMR adalah satu dari sekian banyak imunisasi yang dianjurkan yang paling menuntut seorang ibu untuk bersemedi lebih lama. *gak perlu ngaku kok*. Dan yang pake acara semedi ini bukan ibu-ibu yang belum terbuka wawasannya lho, tapi justru datang dari ibu-ibu yang udah melek informasi, ikut milis A,B,C, aktif di kegiatan D,E,F.




Imunisasi MMR ini untuk mencegah penyakit Measles (Campak), Mumps (gondongan) dan Rubella (Campak Jerman).
Dan MMR ini direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk diberikan kepada anak pada saat usia 15 bulan, namun pada kenyataannya banyak banget yang menunda memberikan imunisasi MMR sampe usia anak mencapai > 20 bulan karena takut oleh momok Autisme yang merebak di milis dan entah dimana lagi.


Malah yang pernah gw baca, ada juga DSA yang menganjurkan pasiennya (anak kecil ) untuk TIDAK mengambil imunisasi MMR. Dan maaf kalo ternyata pengamatan gw ini menyinggung emak-emak, tapi gak sedikit yang bersemedi hingga anak menginjak usia > 20 bulan ini justru emak-emak dengan semangat so called RUM.


But eniwei, gw menghargai bahwa setiap ibu mempunyai hak prerogative menentukan apa yang terbaik untuk anaknya. Ganesh saat ini berusia 14 bulan, dan kalo ngikutin yang direkomendasikan oleh IDAI maka bulan depan seharusnya Ganesh sudah mendapatkan MMR. Tapi dr. Rinawati, Spa (K) menjadwalkan Ganesh diberikan imunisasi MMR pada bulan Juli/Agustus yaitu usia 15 bulan atau 16 bulan. Hm…jujur, gw pun sempat resah. Gw cuma punya waktu semedi 1 bulan lagi apakah mengikuti jadwal DSA yang udah gw percayaa jadi partner kesehatan Ganesh atokah issue Autisme yang terus menghantui emak-emak dan MMR. 




Beberapa minggu yang lalu somehow Ganesh tertular virus Rubella. Berbeda dengan kedua kakaknya yaitu Rubeola (Campak) dan Roseola yang diawali dengan suhu tinggi, Rubella ini justru bermain di suhu rendah, dan paling tinggi cuma 38.9 derajat.






Dan itu emang gejala awal yang dialami Ganesh. Rabu dinihari, Ganesh tiba-tiba muntah dan badannya rada sumeng. Suhu tubuhnya turun naik hingga Jum’at malam. Namun saat diukur suhu tertingginya cuma 38,5 derajat sih. Saat itulah gw mulai kasih Sanmol (paracetamol) karena Ganesh mulai rewel. Tidak ada batuk, pilek, gak ada sariawan juga (curiga HMFD tapi biasanya HMFD juga diawali suhu tinggi). Cuma Ganesh emang sempat dua kali muntah. Setelah menginjak hari Sabtu, suhu tubuhnya masih turun naik. Gw memutuskan untuk berkonsultasi dengan DSA nya Ganesh via telephone. Menurut dr. Rinawati, jika demam sudah mencapai 3 hari dan tidak ada tanda-tanda batuk pilek, sebaiknya diperiksa oleh DSA. Berhubung hari itu dr. Rinawati praktek di RSB YPK, maka gw pun mendaftar ke YPK. Dan ow ow…Ganesh mendapat nomer antrian 60 dan kebagian jam 9 malam. Gubrakkksss…


Rasanya gw gak bisa tenang kalo harus nunggu hingga jam 9 malam. Gw pun kirim BBM ke Ira (emaknya Nadira) nanyain siapa DSA langganan Nadira di RSIA Hermina Jatinegara. Ira pun merekomendasikan dr. Herbowo SpA sebagai dokter yang RUM, Pro ASI dan komunikatif plus bonus “ muda dan ganteng, book”. *toyor manis Ira*. Kebetulan dr. Herbowo SpA ini praktek jam 08-12.00 di RSIA Hermina Jatinegara. Langsung lah gw meluncur ke RSIA Hermina Jatinegara.


Setelah diobservasi oleh dr. Herbowo, SpA Ganesh diminta check darah. Hedeeeh…gw pun nanya diagnosanya kenapa Ganesh perlu dicheck darah. Selain demam tanpa batpil lebih dari 3 hari, Ganesh ditemukan ada ruam samar-samar di sekitar punggung. Ada pembengkakan pada kelenjar getah bening di belakang leher dan dibalik telinga Ganesh sehingga diagnosa dr. Herbowo, SpA saat itu adalah virus Rubella. Tapi untuk tidak menutup kemungkinan adanya gejala DB, soalnya Ganesh ada keluhan dua kali muntah. Untuk memastikan aja, makanya dengan berat hati gw bersedia Ganesh diperiksa darahnya.


Tadinya gw membayangkan Ganesh akan disuntik di pembuluh darah di lengan dan disedot darahnya seperti layaknya gw kalo diambil darah untuk test darah di RS Mitra Keluarga. Tapi ternyata gak lho…Ada alat semacam suntikan di jari telunjuk Ganesh, abis itu darahnya diteteskan ke tabung. Hedeeh…tetep aja sedih banget liatnya. Gw peluk toddie boy gw erat-erat seraya tetep berbisik " Ganesh gak apa-apa kok...Ganesh kuat kok "


Oh ya sekedar intermezzo : dr. herbowo, SpA beneran asyik, muda dan ganteng. Hihihi...tapi Hani tetep maunya gak pengen berpaling dari dr. Rinawati, SpA (K). *mesem-mesem malu*Alhamdulillah setelah satu jam menunggu, hasil lab tersebut dibawa kembali ke dr. Herbowo dan hasilnya Ganesh terinfeksi Rubella, bukan DB. Hiuuff…menurut dr. Herbowo, SpA Rubella ini sebenarnya tidak terlalu berbahaya buat anak seusia Ganesh, namun jangan sampai Ganesh deket-deket Ibu hamil. Karena virus Rubella ini justru sangat berbahaya untuk ibu hamil. Bisa mengakibatkan cacat pada bayi. Jadi Rubella ini tidak memerlukan obat khusus.


Pengalaman treatment yang gw lakukan ke Ganesh untuk Rubella ini:
- Perbanyak konsumsi buah untuk meningkatkan imun tubuh
- Berikan paracetamol jika memang demam diatas 38.5 dan anak mulai rewel. Kalo gak ya gak perlu dikasih obat apa-apa
- Perbanyak konsumsi cairan, baik air putih, susu, UHT, dkk
- Tetap dimandikan supaya tidak terjangkit kuman-kuman lain


Beberapa hari kemudian Ganesh pun sembuh. Dengan tertularnya virus Rubella, gw sempat kepikiran mau semedi lebih lama lagi soal MMR. Toh udah terjangkit rubella ini pikir gw yang kadang dodol. 


Sampai akhirnya gw berdiskusi dengan Yudith. Arry (anak Yudith) sudah diberikan MMR dan sebelum dia setuju diberikan MMR, terlebih dahulu dia diskusi dengan dr. Rinawati *kebetulan DSA kami sama*. Sebelum diimunisasi Yudith diyakinkan dengan serangkaian test yang membuat dirinya yakin bahwa Insya Allah Arry tidak ada tanda-tanda penderita Autis.


Hm…lagipula kata dr. Rinawati, SpA bahkan kalopun benar anaknya autis pun tetep harus diberikan imunisasi MMR lho. Dan yang lebih meyakinkan gw lagi untuk tidak memperpanjang semedi adalah artikel di sehat group di sini.


Jika gw masih meragukan apa yang disampaikan oleh dr. Rinawati, SpA dan Bunda Wati, apakah gw juga masih meragukan pernyataan DepKes RI, Ketua BPOM, ketua IDAI, CDC, American Academy of Pediatrics bahkan sekelas WHO di link tersebut ketimbang informasi Autisme yang jujur gw aja gak tau darimana asal muasalnya ?


Rasanya gak perlu gw jawab di sini, tapi gw pengen mengutip message # 3 dari link tadi


Bahaya yang Anak Anda hadapi dengan penolakan/penundaan pemberian vaksin MMR bisa sangat fatal!!


Seluruh dunia sangat khawatir dengan meningkatnya wabah penyakit menular akibar virus MMR yg menyebabkan meningkatnya angka kematian bayi dan anak.


Tahukah Anda akibat yang bisa disebabkan oleh virus MMR? Mumps/gondongan bisa menyebabkan anak menjadi tuli. Virus measle/campak bisa menimbulkan radang otak atau viral encephalitis, dan bila terinfeksi bisa menyebabkan kerusakan pada otak, CP vegetatif (hidup – tetapi seperti tanaman akibat kerusakan otak) atau bahkan kematian. Virus rubella bisa menyebabkan bayi cacat (katarak, kelainan jantung, otaknya rusak dan kecil), dll.


Jangan karena imaginary scared, suatu ketakutan yang tidak beralasan dan tidak terbukti mengenai vaksin MMR-autis ini, anak anda malah didahapkan ke bahaya-bahaya nyata yang dapat terjadi bila tidak/menunda vaksin MMR, sebuah resiko tinggi yang tidak hanya berpotensi membahayakan jiwa, tetapi juga membuat cacat seumur hidup. Please be smart, for the sake of your children


Imunisasi merupakan upaya yg sangat cost-effective, aman, murah, mudah, dan tentunya lebih etis TENTUNYA LEBIH ETIS (DALAM BAHASA AWAMNYA LEBIH MANUSIAWI) KETIMBANG MEMBIARKAN ANAK JATUH SAKIT.


So mommas, they 're your babies, it’s your decision! Hmmm....Semoga kita para mommies, melakukan yang terbaik untuk anak kita. Whatever it is...Amin.

10 comments:

  1. insyallah anak2 kita sehat selalu ya mak...gw sampe konsul sana sini......toh kita imunisasi kan itu buat si anak dengan maksud agar dia sehat selalu
    btw dr.herbowo ini bukan lakinya si menik ya?

    ReplyDelete
  2. @ Arienda,
    Amin,Mak. Suaminya Menik emg Herbowo dan ganteng,tp bukan dr.Herbowo inih. Wah Yey org kesekian ribu yang nyangka dr.Herbowo ini adalah suami Bu Dokter..hihihi

    ReplyDelete
  3. Internet yg merupakan gudang informasi emang seperti pisau/pedang bermata 2. Malah ada yg bilang too much information will kill you.Hihihi suseh ye??? Jadi ya ikuti kata hati. Yang penting manteb, tidak ragu2 buat memutuskan.

    Dulu awalnya saya malah memutuskan cuma imunisasi wajib buat Dita. Tapi setelah baca2 segala informasi, terutama soal MMR. Saya makin yakin, imunisasi itu sbg upaya membekali anak buat menghadapi penyakit. Saya renungkan. Ahirnya saya mantep imunisasi MMR buat Dita, walau dg catatan saya menunggu Dita lancar bicara dulu.

    Semoga apapun keputusan mommy adalah yang terbaik buat Ganesh :-)

    ReplyDelete
  4. Ndah aku termasuk ibu yg ga terpengaruh autis krn mmr, makanya aurell dah kuksh mmr pas doi umur 15M, alhamdulilah ga kenapa" mlh hbs itu jd pinter n lancar ngomongnya, yg gw takutin malah waktu nyuntiknya ngilu bok secara gw plng takut ma jarum suntik :(, jng lupa varisellanya juga ya mama ganesh :)

    ReplyDelete
  5. Setuju!!!
    Lagian, dari yang gw baca dan penjelasan DSA nya Kyara, autis itu penyebabnya bukan imun MMR. Meski ngga MMR, kalo dari sananya memang autis ya anak tetep autis. Hanya saja biasanya keliatan gejalan mulai sekitar umur 1,5th-2th, makanya byk yg mengkaitkan sama imun MMR. Ayo ganesh siap2 di njusss yaa :)
    Amien, smoga anak kita sehat2 ya ndah..

    ReplyDelete
  6. Huahahaha arieenndd.. eh tp Bpk. Herbowo-nya menik juga ganteng pan? *kedip genit*

    Indah, gue belon sampe MMR nih karena kmrn sibuk semedi IPD. Kalo memang MMR nya umur 2 tahun gimana yah.. scr kan 9 bulan udah campak.. Tapi gak jaminan juga sih ya.. *pusing*

    Dr. Endah juga bilang ngga ada hub nya autis dengan imun MMR.

    Duh kasian ganesh.. ga tega kalo anak sakit :( Sehat terus ya nak..

    ReplyDelete
  7. @ BunDit,
    Bener banget deh too much information will kill me. Dan itu yang aku rasakan saat ini. Hihihi...lagi merenung, menimbang, sebelum memutuskan nih, Bun. Semoga apapun yang kita pilihkan untuk anak kita bisa lancar jaya terus ya, Bun..

    @ Jeenot,
    Sip! Varicella mah udah pas Ganesh umur 12 bulan. Bailah, nambah satu temen yang pro MMR.

    ReplyDelete
  8. @ Motik,
    Amien, Mak. Semoga anak-anak kita sehat terus dan perkembangannya sesuai yang kita harapkan...

    @ Iti,
    Tuh Depoy deh yang pernah ketemuan sama Herbowo papa Mayca.
    Lah..Zahra kan seumuran Ganesh. jadi emang belon MMR. MMR kan pas menginjak 15 bulan, Ti. Gw mau mencari pengalaman temen2 dulu ah yang suntik MMR pas usia 15 bulan...

    ReplyDelete
  9. mak, izan (3y6m) saat 15m udah MMR padahal saat itu dia masih babling aka blum jelas bicaranya loh. tapi gue tetep imun soale takut ama efeknya kalo blum MMR (buat cowok salah satunya bisa impoten kalo kena mumps hiks)... Alhamdulillah Izan nga knapa-napa tuh dan baru bawelnya pas umur 2th hehehe karena tnyata dulupun emaknya dia telat bicara jadi bukan karena MMR..

    jadiii no need to worry lah..

    *hug buat baby G*

    ReplyDelete
  10. @ Mbak Rita,
    Makasih sharingnya, Mbak. Aku tadinya sempet ketar-ketir karena Ganesh kok agak 'cool' gak sebawel mommy nya. Semoga karena anak cowok jadi bawelnya lama kali ya, Mak...

    ReplyDelete