4.28.2010

PESAT 11 Session 1 : Jadilah Pasien Yang Pinter, Bukan Pasien Yang Keblinger

Sebenarnya gw sedang dilanda kemalasan amat sangat untuk nulis blog tentang kesehatan, tapi karena inget lagi pesen Bunda Wati di seminar PESAT 11 kemarin. Dengan menuliskan kembali apa yang gw dapet di seminar PESAT 11 session 1 akan membuat gw semakin paham. Dan juga rikues dari MaRes (Resti emak Nico). 
Do’oh kenapa rikues ini gak datang dari idola nya Sari dan Astie yang slenge’an itu ya?

Sebelum gw mulai menulis dan dihujat rame-rame, gw pengen menegaskan bahwa gw bukanlah penganut RUM Saklek, harga mati say No to Anti-Biotik, Fanatic terhadap satu dokter. 

Tapi juga bukan anggota klan emak-emak yang banggain anaknya bisa ke DSA mehong, pulang bawa obat paten paling caspleng segambreng-gambreng, tuh resep penuh sampe ke bawah *ooh..believe me, masih ada temen gw yang nyaranin begitu. Tutup muka*

Jangan mikir pulak kalo gw emak yang sangat strict, welas asih, Nope! Gw cuma emak-emak baru yang sedang dalam proses belajar jadi emak-emak. Nah alasan kenapa gw pengen ikut seminar PESAT 11 karena ini termasuk proses pembelajaran gw mencoba jadi Smart Mommy untuk Ganesha dengan berguru langsung dengan narasumber yang memang mendalami di bidang medis ini.

Nantinya keputusan yang gw ambil mengenai kesehatan Ganesh, bukanlah mengikuti omongan si A yang pernah konsul ke DSA ternama, ato karena berdasarkan nasehat C karena baca-baca di milis X.

Tapi karena gw paham betul alasan kenapa gw harus mengambil tindakan tersebut, berdasarkan informasi yang gw dapatkan adalah langsung dari sang narasumber yang kompeten, tanpa ada distorsi informasi, tanpa keraguan, tanpa menduga-duga “ ini bener gak ya? Salah gak ya?” . 

Ini hanya opini gw lho ya… kalo bersebrangan, ya maaap…menurut gw semua informasi didenger, dibaca, tapi filter dan serap yang sudah lolos saringan. Too much information will kill you!

Beberapa bulan yang lalu, Resti Mama Nico yang kebetulan panitia PESAT 11 menawarkan untuk ikut menghadiri seminar PESAT 11 yang dimulai pertengahan April kemarin. 

Mulanya janjian sama Yudith, tapi berhubung sang ibu dosen berhalangan hadir karena ada kegiatan wisuda di tempat dia mengajar, akhirnya gw pun janjian sama Sari, Ibu Haidar yang ikut bersama suaminya, Mas Aat yang ternyata kocak lho *toweng toweng godain lakor (laki orang) lagi deh*, terus Astie Ibu Luhung yang juga sama suaminya, *sayang Bapaknya diumpetin sama Ibu Luhung*, Mbak Syafrina Siregar, dan Mbak Siska juga dengan suaminya.

Session 1 dimulai jam 8 pagi, dan gw tiba sekitar jam 7.45 pagi di Intiland (ex Wisma Dharmapala). Gw duduk satu deretan dengan Sari dan kami sempat bertegur sapa dengan Mbak Nana (red:Syafrina Siregar) pas menyerahkan kuis yang dibagikan sebelum session dimulai. Dan Ibu penulis novel yang sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia perbakingan ini pun menawarkan cake ketan hitamnya yang endess. 

Ah, bagaimana bisa kami menolak pesonamu,Mbak Na? *maksudnya pesona cake gretong*.
 Saking endessnya, Sari malah lupa bawain sepotong untuk Mas Aat. *sorry,Sar, gw buka rahasia loe. Hihihi*

Session 1 dimulai dengan topik 1: Kesehatan Kulit Pada Bayi dan Anak. Pembicaranya dr. Fabian atau kalo yang sering ke Markas Sehat dipanggil dengan dr. Ian. 


Topik 2 : perawatan Bayi Baru Lahir dan Kuning Pada Bayi (Jaundice) oleh dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAk. MMped dan Topik 3 : Demam, Kejang Demam, Demam Berdarah oleh dr. Windhi kresnawati.

Hm…tadinya pengen merangkum masing-masing topik seperti rikues Resti, tapi ntar kalo kepanjangan gw diprotes lagi. 


Tapi kalo gw udah gak malas lagi, gw akan coba ikutin kata Bunda Wati supaya gw makin pinter gw bakalan ngerangkum session 1 kemarin di blog. Tapi saat ini gw cuma pengen nulis inti yang gw dapet dari seminar ini. Dan gw rasa ini pun bakalan panjang. *lemez*

Kelirumologi yang ditangkep sama orang tua :

Contoh : ada yang meraba anak gw pake tangan terus bilang “ Eh Ganesh badannya anget. Kayaknya Demam deh “
Well, jangan percaya begitu aja. Tangan bukanlah alat ukur makanya gak pernah ada yang mengkalibrasi tangan kan? *becandaan gayus (garing dan jayus) ya?* 

Jadi kalo mau mengukur apakah anak ini demam apa gak, gunakan termometer : merkuri (paling akurat, tapi kalo pecah bisa jadi toxin bagi lingkungan) atau Digital (aman, akurat tapi sering cek batere ya takutnya klo batere soak hasil pengukuran gak akurat).

Update info dari Astie yang udah gw confirm juga sama Resti : Ear thermometer itu tingkat keakuratannya lebih bagus untuk anak < 3 bulan. Tidak dianjurkan untuk anak > 3 bulan, karena anak sudah banyak gerak. Ear thermometer itu seharusnya menutupi semua lubang, kan susah kalo anaknya udah banyak gerak

Sebenarnya suhu tubuh manusia itu udah diatur oleh thermostast bak remote AC yang disebut hypothalamus yang mengatur set point suhu tubuh manusia. Kulit dan suhu darah ini akan memberikan informasi ke hypothalamus untuk menaikkan atau menurunkan suhu tubuh untuk menyesuaikan dengan suhu lingkungan.

Contoh kalo suhu lingkungan dingin: maka thermostat dalam tubuh kita akan menaikkan suhu tubuh dengan mengecilkan diameter pembuluh darah sehingga kita akan merasa menggigil dan pucat.


Sebaliknya jika suhu lingkungan panas: maka thermostat akan menurunkan suhu tubuh melebarkan pembuluh darah, melakukan penguapan sehingga kita merasa panas dan berkeringat.

Kalo emang bisa di-set kayak gitu, kok bisa demam? Kenapa bisa bablas jadi temperature tinggi, emang hypothalamusnya ngapain aje?

Demam itu sebenarnya semacam ‘alarm’ bagi tubuh kita bahwa ada virus dan kuman yang masuk menyerang system tubuh kita. Justru pada saat demam tinggi itu lah, antibodi kita meningkat dan suhu yang tinggi itu sekaligus upaya mematikan kuman.

Mengapa pada saat anak kita demam, kita diharapkan observasi dulu dan gak maen langsung grabak-grubuk ke dokter? Soalnya demam tinggi ini bukanlah penyakit yang musti kita sembuhin. Yang perlu kita cari tahu itu adalah penyebabnya mengapa anak bisa jadi demam.

Umumnya demam tidak berbahaya, yang penting amati perilaku, cari penyebabnya, cegah dehidrasi, dan tahu kapan harus menghubungi dokter

Apakah karena batuk-pilek karena virus flu?
Sakit saat berkemih karena infeksi saluran kemih?
Radang tenggorokan? Batuk dahak, sesak karena pneumonia?
Sakit kepala hebat, muntah kaku kuduk akibat meningitis?
Tarik telinga, rewel karena infeksi telinga, tumbuh gigi?
Ataukah mual muntah, diare karena gastroenteritis?

Umumnya kalo cuma demam karena influenza doang akan sembuh dengan sendirinya setelah 72 jam.

Oya, jika demam tidak tinggi, gak perlu diobati. Karena virus marak di suhu tidak tinggi. Pesen Bunda Wati : DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER .


Jadi pada saat kita memang harus konsultasi dengan dokter, kita bisa memberikan informasi yang lengkap ke DSA supaya diagnose dan tindakan yang diambil tepat.
 

Diberikannya paracetamol, ibuprofen itu sebenarnya bukanlah obat untuk mengobati demam yang diderita anak kita, tapi hanya supaya anak kita merasa nyaman di tengah demam melawan virus penyakit yang sebenarnya.

Sambil observasi anak yang sedang demam, hal yang bisa kita lakukan :
- menjaga suhu ruangan untuk tidak terlalu panas
- Anak memakai baju yang tipis
- Kompress air panas
- Kalo anak gak mau makan, jangan dipaksa. Biarkan dia memilih makanan yang mau dimakan
- Beri asupan cairan sesering mungkin
- jangan berikan makanan yang mengandung banyak lemak karena susah dicerna

< 38 derajat :tidak perlu berikan obat penurun panas, berikan banyak cairan
> 38 derajat ; berikan obat penurun panas, kompres air hangat
> 40 derajat ; berikan obat penurun panas, kompres air hangat, hubungi dokter

Demam umumnya mempunyai komplikasi yang tidak berbahaya:

1. KEJANG DEMAM
Penyebabnya bukan di otak ya. Menurut kedokteran sih Kejang demam ini tidak mempunyai efek samping yang permanen.

Bohong kalo gw bilang gw gak takut kejang demam. Tapi setidaknya itu harusnya menguatkan kita untuk tetap gak panic kalo anak kita kejang demam. Ntar kalo kita panic, gimana kita bisa mengobservasi pada saat terjadi kejang demam ini.

Padahal pada saat kita berkonsultasi ke DSA, kita harusnya dapat memberikan informasi yang akurat soal kejadian kejang demam yang terjadi sama anak kita ke DSA sehingga memudahkan DSA dalam mengambil keputusan.

Jika terjadi, jangan panic;
- Rebahkan posisi badan anak menghadap ke samping
- Pindahkan benda di sekeliling anak yang berpotensi bikin cedera
- Longgarkan pakaian anak yang ketat dan sesak
- Jangan masukin apapun ke mulut anak * ini gw salah waktu ngisi kuis*
- Jangan menahan gerakan anak karena akan menyebabkan fraktur
- Kalo bisa, catet waktu berapa lama kejadian kejangnya. Karena takut, biasanya kejang berasa lama.

Biasanya berenti sendiri. Tapi kalo berlangsung lebih dari 10 menit, hubungi dokter

2. DEHIDRASI
Makanya harus diberikan cairan yang cukup, untuk mencegah jangan sampai anak dehidrasi. Sebaiknya anak jangan pake dispo dulu biar bisa ngecek frekwensi pipisnya.

Nah Kenapa sih sebaiknya observasi nunggu tiga hari?

Karena kalopun harus check darah untuk mengetahui pemeriksaan lebih lanjut (apakah terkena DB atau tidak), hasil lab ini baru akan valid setelah 72 jam atau lebih gampang ngitungnya klo dikonversi jadi 3 hari.

Bunda Wati mengingatkan bahwa test laboratorium ini hanya MENDUKUNG hasil pemeriksaan fisik. Jadi bukan kebalik ya, sok-sokan initiative pergi ke test lab dulu baru minta diagnose DSA.

Tapi inget ya, jangan karena observasi 3 hari, terus gak perduliin gejala yang lain. Kalo misalnya udah rewel, dehidrasi gak mau minum, letargi, kejang, nangis kuat terus, gak bisa dibangunin, sesak nafas, gelisah luar biasa, muntah-diare, sakit kepala hebat segera hubungi dokter.

Jangan sampe mentang-mentang baru demam 1 hari, tapi anak udah muntah darah, pingsan, terus masih mau diobservasi nunggu 3 hari baru ke DSA, yah itu mah namanya bukan Smart Mom lagi..tapi Dudul Mom. *maaf ya kalo bahasanya kasar*. 

Kalo kata Genk Racun, bahasa boss gw mungkin lebih silet " Use Your Logic, Indah".  *nyengir kadal, tapi rasanya mau jedotin pala sendiri ke tembok dengernya *

Soal Anti-biotik, pengertian yang sebenarnya adalah bukan memusuhi Anti-biotik. 

Bukan suatu sikap: MENOLAK kalo diresepkan AB, tapi tujuannya adalah orang tuanya harus paham dengan obat yang diresepkan untuk anak dan apa sih hasil diagnose dokter sehingga bisa diberikan resep tersebut.

Sebenarnya RUM ini cenderung untuk mencegah over-treatment. Be 
RATIONAL bukan REFUSING Usage of Medecine. 

Anti biotic adalah obat untuk infeksi bakteri, bukan virus. Sedangkan kebanyakan demam, batuk pilek disebabkan oleh virus makanya gak perlu diobati dengan anti-biotik.

Tapi jika memang diagnose DSA mengatakan bahwa anak memang terinfeksi bakteri, bukan berarti menolak pake anti biotic toh. Asal porsinya juga tepat.
Menurut gw RUM ini dimaksudkan “ Jangan sampe untuk membunuh nyamuk, kita pake senjata rudal”

Yah over-treatment dong, kalo bahasa gw lebayy namanya.

Dengan memahami RUM ini, meruapakan bekal yang buat gw sebagai orang tua sehingga tidak mudah panic. Karena orang tua yang panic bisa jadi sasaran empuk RS yang mencari profit. Di suruh menjalani test ini, bayar untuk test itu yang sebenarnya gak perlu dilakukan. 


Tapi karena gak punya bekal ilmu tambah panic pula, Udah deh bak kerbau dicocok hidung yang siap diperas isi dompetnya. Semua di-iyain aja, gak mikir lagi “kok sampe perlu test ini? “

Ada anggapan kalo udah tau RUM, terus gak mau konsul ke DSA lagi dong. Dan kalopun ke DSA, bela-belain harus kudu musti ke DSA yang tersohor itu aja.
Wahduh.. ini pesen Bunda Wati lho ya *siapa sih yang gak tau dukungan Bunda Wati untuk RUM ini* : sebenarnya siapapun DSA nya bukan masalah.

Jadi mungkin gak perlu sampe ngotot harus ke DSA yang RUM, yang penting orang tuanya smart dan gak panic. Tanyakan selalu ke DSA “ Apa hasil diagnose nya?"


Jika diberikan treatment, tanyakan kembali : “Kenapa anak saya perlu mendapatkan treatment ini? Jika tidak mendapatkan treatment ini, apa yang akan terjadi sama anak saya?”.
 

Pertanyaan terakhir bukan serta merta menolak untuk diberikan treatment, tapi mengetahui seberapa penting treatment ini untuk kesehatan anak kita.

Kalo perlu tanyakan ke DSA, untuk diagnosa apa aja sih obat yang ditulis di resep. Ini untuk memastikan dosis dan obat yang diberikan tidak memberikan efek samping yang berlebihan.

Catet : Saya mendukung RUM. Jika ada yang mau sharing dan bertukar informasi soal kesehatan anak, yuks saya senang diajak diskusi.

Tapi kalo ada anak sakit, bukannya saya tidak mau membantu lho ya, tapi tolonglah jadi ibu yang lebih rational, saya rasa saya bukan orang yang tepat untuk mendiagnosa penyakit anak, apalagi nanya sakit ini obatnya apa sih. *senyum manis*.

Bukankah akan jauh lebih baik jika berkonsultasi dengan orang yang memang berkompeten di bidang ini, belajar khusus tentang ilmu kedokteran ini.

Coba deh ditilik lagi, latar belakang saya bukan dari ilmu kedokteran apalagi spesialis anak lho, melainkan engineering yang sekarang bergelut dengan dunia metalurgi. Kalo mau nanya-nanya soal aluminium casting, saya akan coba jawab semampu saya.

Terus terang saya gak berani untuk sejauh itu. Saya kan gak memeriksa kondisi fisik anak yang sakit tersebut, bisa aja dengan ilmu yang masih cetek kayak saya terus sotoy memberikan diagnose yang salah, akhirnya jadi salah ambil keputusan, Na’udjubilah min dzalik. Wong pemeriksaan fisik secara langsung aja bisa salah diagnose.

Tapi Saya akan berusaha untuk memberikan dukungan supaya orang tuanya gak panic, mendukung untuk tetap rasional, menyumbang saran *tapi bukan berupa sakit apa, terus obatnya apa lho ya* dan menyerahkan keputusan tetep di tangan Sang Ibu.

Sungguh postingan ini gak bermaksud untuk menyudutkan siapa-siapa, hanya sekedar berbagi tentang apa yang gw pahami dari PESAT 11 Session 1 kemarin. Semoga bermanfaat dan pembelajaran buat kita untuk tidak panic, tetap rasional dan jadilah PASIEN YANG PINTER, BUKAN PASIEN YANG KEBLINGER.

Dan gw syukuri, bahwa gw beruntung punya banyak smart mommies di Genk Happy Mommies yang saling menguatkan untuk jadi Smart Mom jika ada anak kami yang sakit , yang selalu membagi pengetahuan baru yang kadang bikin gw melongo dan pengen terus dan terus belajar lagi * berpelukaaan…* dan Genk Racun yang selalu mendukung keputusan yang dianggap terbaik *Group Hug..pilih sebelah Dhita aaah*

Ehm, tapi eniwei buswei Resti, Sari, Astie, gak perlu gw ceritain lebih lanjut kan soal bronis slenge’an idola yang bikin deg-degan itu? *kabooor sebelum ditimpuk**

7 comments:

  1. Hai Ndah,

    Makasi ya..dah mau sharing hasil PESAT sesi 1 kemarin..dan ditambah nama gue dipublikasikan di blog lo ( ga tmsuk yang lo bilang gue ga inget kasih cake ketan item dr mak nad buat misua gue yah? hehehe)...*loh? kepo.

    Tulisan lo juga buat pengingat gue juga ni, klo klo gue lupa..eniwei, thank you so much..

    ReplyDelete
  2. wah aku belum kesampaian terus nih kalau mau ikut Pesat

    ReplyDelete
  3. makasi makasi makasi,,, buat rangkuman pesat nya dan pujiannya :)
    *ngareeep lo mel.. *

    peluk indah aah...

    ReplyDelete
  4. Tks buat rangkumannya ya jeng, bs nambah pengetahuan ttg RUM. Secara, aku belom pernah ikut pesat dan pengetahuan ttg rum ini cm didapat dari milis dan buku2nya dr Wati, makanya seneng banget dgn tulisan ini :)

    Aku juga sedang dalam masa belajar, berusaha untuk rasional, tapi juga gak mau untuk bersikap antipati. Aku lebih memilih untuk menampung semua info, entahkah dari dunia maya ataukah dunia nyata..semua ku anggap sebagai masukan, tindakan selebihnya, kuserahkan saja pada Tuhan yang berbicara melalui instingku :D

    ReplyDelete
  5. Wah, matur nuwun banget mam. Rangkumannya ok. Marilah kita sama2 belajar menjadi smart Bunda eh smart mommy :-)

    ReplyDelete
  6. @ Sari,
    Padahal loe lebih jago soal RUM ketimbang gw.

    @ Mbak Lidya,
    Yuks kapan-kapan kita barengan. Tahun depan yak?

    ReplyDelete
  7. @ Ameleea
    Kapan niy kita barengan ikut session lainnya? Sekalian kopdar. Mayan irit. Maksi udah disiapin Mak Nico soalnya. heu heu..*siyap-siyap kabur*

    @ Alisha
    Semua ibu pasti tau yang terbaik, Mbak.God will guide us...amin

    @ BunDit,
    gak pernah ada kata stop untuk belajar kan, Bun ? *wink wink*

    ReplyDelete