4.27.2010

Belajar Dulu Sebelum Nyemplung Investasi Reksadana

Meneruskan postingan gw soal asuransi term-life, sekarang gw mau cerita aja pengalaman gw. Setelah memiliki asuransi jiwa murni (istilah kerennya term life), gw harus meng-investasi-kan sendiri sisa premi. Iya dong...gw ngambil term-life dan gak memilih Unitlink karena selisih preminya harus diinvestasi sendiri.

Wedeew..sejujurnya gw sendiri gak terlalu paham soal investasi. Gw bukanlah Perencana Keuangan yang professional, karena latar belakang gw berangkat dari Teknik Elektro. Kuliah ekonomi Cuma 2 sks itu pun Ekonomi Teknik. Jadi pengetahuan gw cuma didapet dari brosing-brosing di blog, mantengin (red:baca) diskusi di Female Daily sama diskusi dua arah sama Dhita dan Yudith yang emang kompeten di bidang ini. Ciyeee…



Berhubung sebenarnya gw juga lagi belajar dan berusaha untuk menata kondisi finansial gw, Gw hanya ingin berbagi pengalaman. Gw sendiri gak fanatik terhadap satu perencana keuangan saja. Semua blog para Perencana Keuangan ini gw baca dan gw pelajari. Yang pas dan cocok buat gw, gw coba serap dan terapin.


Setelah gw mengatur alokasi uang untuk kebutuhan sebulan, cicilan yang harus dibayarkan, barulah gw memulai misah-misahin duit gajian ke post-post tertentu. Namun sebelumnya gw budgeting dulu tujuan post berdasarkan kebutuhan gw:


1. Emergency Fund
2. Dana Pendidikan PG
3. Dana Pendidikan TK
4. Dana Pendidikan SD, SMP
5. Dana Pendidikan jangka panjang
6. Dana Pensiun
7. Dana Liburan



1. Emergency Fund atau lebih tenar dengan sebutan “Dana Darurat”
Dana ini adalah suatu dana yang telah dialokasikan secara terpisah untuk memenuhi kebutuhan darurat misalnya pas kena PHK. Besar dana yang harus disiapkan tergantung jumlah keluarga yang ditanggung. Dari yang gw baca dari Perencana Keuangan besarnya dana darurat yang harus disiapin untuk:
Single : 1 – 3 bulan gaji
Berkeluarga tanpa anak : 4-6 kali gaji
Berkeluarga dengan 1 anak : 6-9 kali gaji

Berkeluarga dengan 2 anak : 9-12 kali gaji


Walopun Ligwina Hananto menyarankan untuk menyimpan Dana darurat ini di tabungan atau deposito karena sifatnya liquid dan tidak beresiko tinggi, tapi ada juga yang menganjurkan untuk simpan di reksadana pasar uang karena resikonya kecil.


2. Untuk pendidikan PG-TK gw sisihkan rutin setiap bulan pake Tabungan Pendidikan Bank Niagara-gara. Bunganya lebih tinggi dari bunga tabungan biasa, didebet langsung dari rekening. Gw membuka tabungan ini pas saat Ganesh usia 1 bulan, jatuh tempo pas sebelum Ganesh masuk PG.


Setelah kemarin survey price list pre-school **dari situ kebayang deh harga SD, SMP hingga SMA** dan kemudian menghitung biaya uang sekolah Ganesh dengan asumsi kenaikan sekitar 20% per tahun (hitung aja berapa kenaikannya berapa puluh tahun mendatang), begitu kalkulator dari blog Wina menunjukkan hasil yang harus gw keluarkan, gw langsung terbengong, pengen mewek di pojokan. Do’oh kira-kira sanggup gak ya gw membiayai pendidikan Ganesh kelak? **catet ini baru biaya pendidikan buat 1 anak lho**


Okay, jadi jelas gw pengen menyiapkan dana pendidikan Ganesh SMA hingga Universitas dan menyiapkan dana pension supaya pada saat gw memasuki usia non-produktif setidaknya gw bisa mempertahankan life-style yang sama. Dan jika hanya keukeuh coba menyisihkan uang dari gaji gw setiap bulan sepertinya gakkan mencukupi. Karena bisa jadi nilai uang yang gw simpan sekarang di bank, di masa depan nilainya tidak akan sebesar saat ini. Kalo cuma ngandelin tabungan, sepertinya bunga tabungan harian gakkan bisa mengejar laju inflasi di Indonesia.


Gw sih cuma mikir pake itung-itungan kasar aja sih. Coba bayangin aja bunga deposito di bank aja Cuma 6-7% setahun, bandingin sama kenaikan biaya uang masuk sekolah per tahun yang bisa mencapai 20%. Apalagi Cuma nabung doang, gakkan bisa ngejar kenaikan persentasenya. Itu itungan kasar nya aja lho. Tapi plis jangan pake embel-embel “aah, rezeki mah ada aja…pake kalkulator Tuhan”.


Untuk itu gw perlu suatu instrument dimana uang yang gw sisihkan bisa menghasilkan suatu angka dan nilainya bisa memperkecil gap laju inflasi. Dan untuk itu gw harus memulai berinvestasi. Wedeew…Dulu begitu gw denger kata “investasi”, yang kebayang di gw adalah “ Modal harus gede, resiko juga gede”.


Tapi ternyata dengan semakin maju nya teknologi, semakin sering belajar, akhirnya pengetahuan gw juga bertambah. Ada bermacam-macam investasi yang yang bisa dijalani dengan tingkat resiko yang bermacam-macam.

Di genk racun sendiri gak cuma pada jago ngeracuni ‘belanjaan’ lho, tapi juga jago ngeracunin investasi. Ada yang udah lama ngumpulin logam mulia, gw sebelumnya mencoba investasi di property, ada yang berani ambil resiko untuk investasi saham, ada juga yang udah mo khatam investasi investasi reksadana.

Pertama kali Iti dan Dhita (mereka pioneer di Genk Racun yang terjun bebas ke RD) ngomongin reksadana di BBG Genk Racun, gw sama sekali blank. Gw gak kebayang samsek klo gw pun akan coba terjun investasi reksadana ini walopun bentuk investasi ini sering direkomendasi oleh para perencana keuangan.


Tapi emang karena gw orangnya penapsaran dan mau tahu aja, gw tanya-tanya sama Dhita dong. Secara dese udah lama nyemplung di Reksadana ini, paling komplit infonya menyamai perencana keuangan professional, dan pastinya paling cepet responnya kalo ditanya-tanya (bahasa halus “Dhita lebih banyak waktu luang untuk ditanya-tanya bak Personal Banker”) *PLAK...minta digaplok!*.


Tapi karena sedari awal emang gak punya basic soal RD ini,mau nanya-nanya sama Dhita juga tetep gak nyambung. Jadi gw mikir kalo emang gw mau ikutin saran para perencana keuangan untuk mencoba berinvestasi di sini, paling gak gw harus tau dulu 'medan' yang mau gw hadepin. Gak bisa cuma sekedar ikut-ikutan, datang ke Bank terus melongo, gak tau apa yang mau gw beli. Sorry to say ya,tapi biasanya orang yang gak cukup bekal ilmunya gampang jadi sasaran empuk para sales. Salah-salah gw malah ditawarin produk lain kayak unitlink lagi.


Okay,dengan rasa ingin tau yang membara, gw belajar sedikit apa itu reksadana. Barulah gw paham, jadi Reksadana itu semacam media bagi masyarakat yang pengen berinvestasi secara kolektif. Kalo kita mau berinvestasi langsung ke saham, tentunya butuh uang yang gak sedikit, udah gitu kita harus direpotkan memantau sendiri pergerakan saham, mutusin sendiri saham mana yang harus dibeli.


Nah kalo di reksadana ini, uang yang kita setorkan dikumpulin dan disimpan di Bank Kustodian seperti Standard Chartered, Deutshe Bank,Citibank,HSBC dll. Terus uang tadi mau diinvestasikan akan dimanage oleh suatu Manager Investasi. Manager Investasi yang mengelola dana tadi misal : Fortis,Mandiri, Manulife,Schroder dkk.


Nah reksadana sendiri ternyata terdiri dari banyak jenis. Praktikalnya kalo kita mau coba investasi di reksadana, kita musti tahu jenis reksadana mana yang sesuai dengan resiko yang berani kita tanggung.


Berikut ini adalah jenis reksadana yang diurut dari resiko yang paling rendah hingga resiko yang paling tinggi.


1. Reksadana Pasar Uang (Money Market Fund)
Oleh Manager Investasi uang kita diputarkan di Tabungan,Deposito,Surat Utang Jangka Pendek. Menurut perhitungan Ligwina Hanato, Target return asumsi= 7% /thn. Ini kurang lebih sama kayak deposito gitu deh.

2. Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund)
Uang kita produk-produk investasi pendapatan tetap, terutama pada obligasi. Menurut Ligwina Target Return asumsi 10-15% /thn


3. Reksadana Campuran (Balanced Fund)
Manajer Investasi akan menginvestasikan uang kita ke dalam saham dan obligasi, masing-masing dengan komposisi yang kurang lebih sama. Target return nya menurut Wina kurang lebih sama dengan RDPT

4. Reksadana Saham (Equity Fund)
Manajer Investasi akan menginvestasikan duit kita sebagian besar ke dalam saham. Untuk menyeimbangkan, maka sisanya, kurang lebih sekitar 20%, dimasukkan pada produk investasi pendapatan tetap, seperti obligasi atau produk pasar uang.
Target return : 20%/tahun


Terus muncul dong naluri emak gak mau rugi: dari ke-empat jenis reksadana di atas, reksadana mana yang terbaik untuk investasi?


Katanya prinsip investasi ini adalah dana yang ‘nganggur’. Makanya supaya hasilnya bisa maksimal, kita perlu tahu dulu tujuan kita apa dan berapa lama uang itu bisa ‘nganggur’ sampe akhirnya kita mau gunakan dana itu untuk tujuan kita. Kalo uang ini mau kita pergunakan dalam waktu dekat, sebaiknya gak diinvestasikan. **ini kalo kita gak berani ambil resiko. Kalo High Risk lover mah asik-asik aja..**


Kalo dana itu mau kita pergunakan untuk:
< 1 tahun : RD Pasar Uang
1-3 tahun : RD Pendapatan Tetap
3-10 tahun: RD Campuran
> 10 Tahun: RD Saham

Tentunya kalo mau dapet High Profit, harus siap dengan High Risk! RD Saham memang memberikan High profit, tapi juga dengan high risk. Kalo mau safety player (gw maksudnya), takut jantungan nilainya menukik tajam, makanya disarankan untuk tujuan dana pendidikan yang masih lama dan dana pension. Soalnya kalopun turun tajam, toh duit itu masih belon kepake juga dalam waktu >10 tahun ini. Dan bagaimanapun harga investasi pasti akan naik. *ini kata perencana keuangan proffesional lho*

Berbekal segelintir ilmu inilah, gw ,Mommy Ganesh, memberanikan diri untuk mencoba berinvestasi di Reksadana. Gw rencananya gak mau repot-repot beli ke Manager Investasi ah. Apalagi gw kan kerja di Cikarang sini. Riweuh ngurus-ngurusnya. Lagian ngapain juga beli jauh-jauh, kalo di Bank juga bisa beli RD, berlaku layaknya Supermarket RD. Tinggal pilih mau RD apa, Manager Investasi sapa, produknya apa.


Misalnya mau coba investasi di RD Pasar uang, pilih mau Manager Investasinya Schroder, Mandiri atau Manulife.

Bahkan kalo mau coba beli RD Saham, malah lebih banyak pilihan yang harus dipilih. Pilih MI nya Schroder, Fortis, Mandiri, Manulife.
Kalo pilih MI Schroder harus pilih lagi mau produk Schroder Dana Prestasi Plus atau Schroder Dana Istimewa. Begitu juga kalo pilih Manulife, harus pilih lagi Manulife Daham Saham atau Manulife Saham Andalan.


Wahduh…udah harus milih mau naruh di Reksadana jenis apa, harus milih lagi siapa manager investasi dan produk nya yang mana pulak. Masa milih berdasarkan itung kancing sih? Salah-salah pilih ntar malah nyesel pulak. Huhuhu


Gw pun mulai brosing-brosing lagi, sekarang mulai nyambung untuk diskusi sama Dhita yang keliatannya makin jago aja *uhuuy..*. Akhirnya yang menjadi pertimbangan gw dalam memutuskan memilih RD yang sesuai dengan kebutuhan gw *Catet: gw adalah type konvensional yang safe-player. Beda sama Dhita tipe yang Agresif, Risk-taker*:


1. Usia Reksadana > 3 tahun
Ini dimaksudkan reksadana tersebut udah stabil. Jadi kalopun market mengalami lonjakan, hasilnya juga gak melonjak jauh-jauh amat.


2. Investasi History
Gw biasanya cari info performance reksadana yang terbaik satu tahun terakhir, terus lihat performance dia di 3 tahun terakhir. Kemarin gw dikasih list-nya sama Aini. **Hug Aini**

Emang bukan jaminan untuk performance dia ke depannya pasti bagus, tapi setidaknya gw punya pegangan ngeliat performancenya.


3. Memilih Manager Investasi
Berdasarkan sharing dari temen-temen di forum Female Daily yang duluan berkecimpung di RD, untuk pemula kayak gw baru berani ngelirik 3 Manager Investasi asing. Katanya mereka bisa dikatakan ‘matang’ dalam menghadapi market.

Baru-baru ini temen gw bilang bahwa NAB/unit dari Manager Investasi pilihan gw harganya udah mahal. Jadi dia mendingan cari Manager Investasi dengan NAB/Unit masih murah. Jadi itu akan lebih menguntungkan.


Pas gw balik diskusi sama Dhita, dese bilang menurut Ligwina NAB/Unit gak gitu ngaruh. Karena gw orang awam, makanya Dhita ngasih link dari blognya Wina, dan gw kutip di sini:


Ayo membandingkan dua reksadana saham dengan komposisi portofolio yang hampir sama. Reksadana ABC dengan NAB/unit sebesar Rp 10.000 dibandingkan dengan Reksadana DEF dengan NAB/unit sebesar Rp 5.000.
Misalnya pasar saham naik 20% hari ini, kedua reksadana ini juga sama-sama naik 20%. Maka NAB/unit Reksadana ABC akan menjadi Rp 12.000. Sementara NAB/unit Reksadana DEF akan menjadi Rp 6.000.

Kalau saya sama-sama punya Rp 1.000.000 di ABC dan di DEF maka uang saya akan tumbuh seperti ini.

NAB/unit Kemarin                                            NAB/unit Hari ini
ABC Rp10.000 x 100unit = Rp1.000.000               Rp12.000 x 100unit = Rp1.200.000
DEF Rp5.000 x 200unit = Rp1.000.000                 Rp6000 x 200unit = Rp 1.200.000


Sama aja kan hasilnya?
Jangan terkecoh bahwa Rp 10.000 naik jadi Rp 12.000. Padahal kenaikan Rp 2.000 dari Rp 10.000 itu kan secara persentase sama aja dengan kenaikan Rp 1.000 dari Rp 5.000.

Jadi NAB/unit itu gak berpengaruh besar pada saat memilih reksadana. Yang penting adalah komposisi portofolio reksadana tersebut, historical returnnya (bukan untuk menjamin masa depan, tetapi untuk melihat pola) dan siapa MI nya.


4. Biaya-biaya dalam Reksadana
Setelah gw mengamati dan mempelajari list Reksadana di Bank Mandiri dan Bank Commonwealth, ternyata ada beberapa fee dalam reksadana : subscription (pembelian), redemption (penjualan) dan switching (kalau mau tuker dari satu jenis ke jenis lain).


Akhirnya setelah gw mempunyai sedikit ilmu di atas, gw jadi punya gambaran soal investasi Reksadana ini. Tadinya gw juga gak berani untuk investasi di Reksadana ini, pengen investasi di logam mulia aja. Takut resikonya! *ketauan emak gak mo rugi*. Tapi setelah diskusi sama Astie,Ibu Luhung *gw kebanyakan diskusi kali ya??* ingetin gw kalo Logam Mulia ini sebaiknya untuk investasi jangka menengah, soalnya susah penyimpanan fisiknya kalo untuk investasi jangka panjang, makanya jadi mulai terpikir ke sini.


Yang bener-bener menguatkan gw untuk mencoba adalah kata Ligwina, Gak ada investasi yang gak beresiko. Even gw milih investasi logam mulia pun, tetep masih punya resiko hilang atau digarong kan? Gak usah diinvestasi kemana-mana? Ditabung doang? Tetep ada resikonya…resikonya bakalan sering gw tarik di ATM atopun jadi ‘belanjaan’ gw di rumah. Huahaha…INI GW BANGET!


Bismillah, dengan ilmu yang masih segelintir itu, gw memberanikan diri untuk mencoba membuka account Reksadana di Bank di dekat kantor gw. Kebetulan Bank Mandiri maupun Bank Commonwealth, supermarket Reksadana buka cabang di Jababeka sini.

Waktu masih blank, gw emang gak pede untuk coba di Reksadana, soalnya kalo gak ngerti sebaiknya emang jangan ikut-ikutan. Tapi kalo belon mencoba, kita gakkan pernah sepenuhnya belajar.


Kayaknya gw nulis udah kepanjangan deh. Ntar gw lanjut lagi soal perbandingan beli Reksadana di Bank mandiri dengan Bank commonwealth dan Reksadana yang gw pilih. *Kalo ada yang berminat pengen tau sih..kalo gak ada ya, ya udah sampe sini aja. Malu ntar sangka pamer* GRIN

11 comments:

  1. *pingsan* indahhhh gue ga ngerti2 bgt ttg RD lo sebut2 mulu..
    *mudah2an kl gue salah omong ama lo ga ketauan ya LOL*

    itiii nohhhh udah gapee
    bgt..

    investasi nya bejibun dari mulai RD-property. property aja udah mau nambah 1 lagi

    ReplyDelete
  2. Lanjutin dong ndah.. Gw pengen tau nih biar memantapkan hati utk pny RD.
    TFS ya mak ganesh :)

    ReplyDelete
  3. Mbak...mantap investasinya...
    Saya ikut baca...menarik...tapi malah keder ;)

    Terusin mbak...
    Dan salam kenal

    ReplyDelete
  4. Mak ganesh keren kok dah pinter gitu, gw termasuk yg ikut ikutan tuh hihi, sukses ya :)

    ReplyDelete
  5. @ Dhita,
    Jangan pingsan dong. *kipas-kipas kasih minyak angin*.

    @ Mama Kyara,
    Hm..baiklah..nanti akan aku posting lanjutannya.

    @ Jeenot
    Harusnya gw yang berguru sama loe. Loe duluan kok yang invest di RD. Hayo share pengalamanmu, Mak

    ReplyDelete
  6. mbak mohon dishare dong, performa reksadana 3 tahun terkahir

    ReplyDelete
  7. Dear Mba Indah...
    Saya silent reader blogmu.syenang bisa nemu blog Mba INdah, informatif bgt, berguna bgt buat diriku yg baru mo bljar ttg investasi. Tku much ya buu:-)

    ReplyDelete
  8. suka lho dengan gaya tulisannya yang ringan tapi berisi. Kebetulan saya juga lagi minat terjun RD dan lagi cari2 info. Emg ujung-ujungnya harus rajin cari info dan learning by doing yah.

    Semoga sukses terus dan makin tambah pintar, mama Ganesh.

    ReplyDelete
  9. Hi mbak indah, wah mampir lagi di blog ini pas searching tentang RD kebetulan tertarik mau terjun tapi lagi searching info banyak banyak..emm,btw kulihat postingan ini kan 2010 tuh, nah sakrang 2011,kalo boleh tahu pingin tahu update RD nya dong, mantap atau gimana?? supaya saya yang pemula ini juga tambah yakin dan mantap gitu :)
    thanks alot for sharing
    btw sering lihat nama mbak indah di comment blog bunda dita dulu juga pernah mampir pas cari resep MPASI nya kinan di blog mbak indah..aku pernah copas juga dulu..thanks yah
    Salam kenal

    ReplyDelete
  10. @ Mama Kinan,
    Iya ntar aku coba share yang beli di Commonwealth ya.

    ReplyDelete
  11. salam kenal mbak indah..
    lanjutan postinganya ada gak mbak???
    aq pgn dishare donk perkembangannya...

    ReplyDelete