3.23.2010

Hasil Chatting dan Sharing : Memilih Sekolah Yang Tepat

Akhirnya postingan ini kelar juga setelah udah dikejar-kejar sama para emak gawool di milis mpasirumahan pas kopdar kemarin. Semoga tulisan gw ini gak mengecewakan mereka. Do'oh jangan over-expectation ya, Bok. Maklum ini tulisan emak blogger yang masih amatir...jangan disamain sama liputan jurnalis yang mang udah makanannya sehari-hari menulis dari narasumber. **wink wink*


Sebelum gw lanjut soal hasil chatting gw dengan Yudith, gw ingin meluruskan persepsi gw yang salah selama ini tentang PAUD. Selama ini gw (dan gw yakin hampir sebagian besar orang juga) pikir bahwa PAUD adalah pendidikan usia dini yang dibina oleh pemerintah sebelum masuk TK. Ternyata gw salah,sodara-sodari.

PAUD mencakup pendidikan formal (TK dan RA) maupun pendidikan informal (KB, PG, Home Schooling, Community Based Education, kegiatan belajar di Posyandu dll). PAUD yang digalakkan pemerintahadalah PAUD dalam arti seperti penjelasan di atas. Bukan sekedar alternatif selain TK dan RA.


Bu Yanti DP, Kepsek salah satu Paud di Jakarta sendiri mengakui bahwa sebenarnya anak tidak perlu dikirim ke PAUD, karena pada dasarnya seperti yang gw yakini juga pendidikan yang terbaik datanganya dari orang tua dan lingkungan social di rumah, jika dan hanya jika:
1. Orang tuanya bisa KONSISTEN
2. Orang tuanya memahami perkembangan anak
3. orang tuanya memiliki wawasan yang luas
4. orang tuanya memiliki pengetahuan soal proses pembelajaran

Gw udah jelasin di postingan sebelumnya kenapa akhirnya gw memilih untuk menyekolahkan Ganesh di PAUD.

Pas datang ke Preschool Fair di Grand Indonesia beberapa waktu yang lalu, gw melihat banyak banget sekolah yang menawarkan PAUD. Mulai dari sekolah berbasic keagamaan, embel-embel internasional school, metode Montessori dan masih banyak lagi deh. Gw pun pulang dengan membawa beberapa brosur sekolah yang menurut gw menarik.

Sebelum gw terlibat diskusi dengan Yudith, sejujurnya gw belon punya gambaran yang jelas sekolah yang bagaimana yang sebenarnya gw cari untuk Ganesh. Yang gw tahu masing-masing preschool ngasih price list yang aje gile-gile aje. Silahkan baca postingan ini dan siap-siap untuk pingsan jika bernasib kantong sama dengan gw.

Dari pemahaman gw yang sama sekali gak ada background soal ilmu pendidikan, kita semua pengen memilih sekolah yang tepat sesuai dengan perkembangan anak supaya anak tidak mengalami Brain Down Shifting. Untuk itu ada beberapa tahapan yang harus kita perhatiin niy:

Tahap REFLEKS: 0-1 tahun
Pada tahap ini anak berada dalam tahap refleks. Lebih banyak mengekplorasi refleknya kali ya. Walopun sebenarnya ketika anak menginjak umur 6 bulan, gerak refleksnya sudah berkurang. Makanya ada juga sekolah yang menawarkan mulai dari usia 6 bulan. Kalo emang mau menyekolahkan anak pada usia segini, orang tuanya harus komit untuk ikut menemani anak di sekolah supaya apa yang diajarin di sekolah bisa diterapkan di rumah.

Contohnya adanya beberapa PAUD yang menyelenggarakan kelas "Mommy and me" di hari Sabtu. Tuh kan " Mommy and Me", bukan " Nanny and Me". Hihihi...

Tahap BERMAIN: anak berumur 1 thn - 4 tahun
Bagi orang dewasa, bermain mungkin berarti sekedar selingan, sekedar menjalani intermezzo dari serangkaian rutinitas kita yang harus kita jalani. Tapi hal ini kebalikan dari anak-anak, bagi mereka aktivitas utama dan pekerjaan utama mereka adalah bermain.

Oleh karena itu kita gak bisa memandang sebelah mata kegiatan bermain anak,sehingga melepaskan anak begitu saja saat mereka bermain seakan-akan gak ada akan bermakna apa-apa untuk perkembangan anak. Justru sebaiknya kita memberi perhatian khusus pada kegiatan bermain anak,Karena sebenarnya bermain memiliki banyak peranan bagi perkembangan anak-anak.

Bermain bisa dianggap sebagai salah satu aktivitas penting dalam tahapan perkembangan anak-anak, dapat menjadi tolak ukur perkembangan anak, baik secara kognitif maupun social emosional-nya.

Lah kok bermain bisa jadi tolak ukur perkembangan anak secara sosialemosional ?
Adalah Mildred Parten yang berteori Parten's Classic Study of Play sebagai berikut


1. UNOCCUPIED PLAY
Ini biasanya dilakukan pada saat anak masih bayi. Mereka hanya melakukan gerakan tanpa tujuan, belon ada ketertarikan atau minat terhadap sesuatu. Biasanya anak Cuma memandang suatu sudut, menggerak-gerakkan tangannya.

2. SOLITARY PLAY
Ini biasa dilakukan oleh anak bayi hingga usia 2 tahun. Biasanya anak hanya antusias dan senang dengan aktivitasnya sendiri, dan masih belon menunjukkan minat dengan lingkungan sekitar. Anak sibuk menggigit botol susu bisa dianggap salah satu contoh bermain dalam fase ini.

3. ONLOOKER PLAY
Di sini anak mulai terangsang emosi sosialnya terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Dia mulai tertarik dan memperhatikan anak lain yang sedang bermain. Tapi baru pada tahap tertarik dan memperhatikan saja, dia belum memutuskan untuk berinteraksi langsung dalam permainan.

4. PARRALEL PLAY
Saat anak mulai masuk sekolah, biasanya anak tertarik dengan apa yang dimainkan oleh temannya. Anak mungkin sudah berada satu kelompok, namun karena merasa belum nyaman dengan teman-temannya, dia memilih bermain sendiri-sendiri walopun melakukan permainan yang sama, mainan yang sama.

5. ASSOSIATIVE PLAY
Biasanya dialami pada saat anak memasuki masa prasekolah. Anak sudah menunjukkan kemampuan berinteraksi dalam permainan yang melibatkan orang lain tapi masih belum terarah dan belum jelas pengaturannya. Misalnya main kejar-kejaran. Mereka Cuma lari-lari aja, gak jelas siapa mengejar siapa.

6. COOPERATIVE PLAY
Interaksi sosial ini sudah dimulai sejak anak memasuki tahap TK dan lebih sering lagi dijumpai pada saat anak masuk SD.
Di sini anak sudah mengerti adanya kompetisi dan perlunya bekerja sama.

Nah sebaiknya pada usia tertentu pola permainan anak seharusnya sudah jauh berkembang, jadi gak terus-terusan kemampuan sosialnya hanya pada solitary play atau onlooker play. Kalaupun iya, pada usia tertentu misalnya 5 tahun, sudah wajib kita waspadai kemampuan social anak kita.

Teori ini juga bisa dipakai untuk menstimulasi kemampuan sosialisasi anak. Pada saat anak sudah pada tahap associative play, kita bisa bimbing untuk meningkatkan kemampuan sosialisasinya ke tahap cooperative play.

Lanjuuut ke tahap berikutnya
Tahap IMAJINASI: anak berumur 3,5 thn - 7 thn.
Pada tahap ini anak mulai mengembangkan kemampuan mereka untuk berpikir logis tapi dengan konsep berpikir sebab akibat dalam bentuk yang sederhana.

Dalam fase ini, anak mulai menunjukkan ketertarikan pada kegiatan yang bersifat konstruktif atau menciptakan sesuatu misalnya menyusun balok atau menggambar.

Anak juga mulai mengembangkan daya khayalnya dari sesuatu yang sebenarnya gak ada dibuat seakan-akan ada di dunia imajinasinya. Misalnya mengajak boneka berbicara, berbicara pada kucing peliharaannya, pura-pura menjadi ibu rumah tangga saat main masak-masakan.

Kreativitas seperti ini sering kali bertolak belakang dengan pemikiran yang dipercaya oleh kita sebagai orang dewasa. Sehingga terkadang kita sebagai orang dewasa pada umummnya,orang tua pada khususnya tidak mengerti apa yang ada di pikiran anak-anak.

Walopun begitu sebaiknya tidak melarang anak untuk meneruskan aktivitas imajinasinya hanya karena kita tidak bisa menyelami apa yang ada di pikiran mereka.

Contoh jika anak menggambar laut dengan warna ungu,jangan main langsung dikomentari aja " Kok laut warnanya ungu? Laut tuh warnanya biru,Nak". Itu karena kita mempercayai laut berwarna biru, tapi mungkin yang ada diimajinasi anak bahwa laut berwarna ungu. Jika kita melarang anak tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan ke kita mengapa dia memilih warna ungu untuk laut, maka tanpa kita sadari,kita sudah membatasi kreativitas dan perkembangan kognitifnya.

Tanyakan kepada anak kenapa dia memilih warna ungu untuk mewarnai laut. Bila perlu ikut melebur dalam permainan imajinasinya.Percakapan-percakapan kita dalam permainan imajinasi dengan anak akan merangsang kemampuan anak kita untuk berkomunikasi. Dan imajinasi ini bisa kita arahkan. Terutama jika imajinasinya bisa berakibat merugikan orang lain. Tapi tentunya dengan penjelasan yang bisa diterima untuk anak seusianya.

Jadi tahap ini yang perlu kita kembangkan adalah imaginasi, kemandirian (pakai baju dan sepatu sendiri, sopan santun dan sosialisasi)

Nah tahap 1,2,3 tadi adalah masa dimana perkembangan otak kanan anak akan lebih dominan ketimbang otak kirinya.

Tahap KOGNITIF:
Mulai Usia 7 atau 8 tahun.
Pada tahap kognitive inilah anak mulai berkembang kemampuan berpikir dengan otak kirinya dan mulai bisa diajak berpikir logis.

Sebenarnya pada tahap inilah anak baru sepenuhnya siap untuk diajarkan calistung. Tetapi mengingat banyaknya SD terutama SD unggulan yang menetapkan anak harus bisa calistung sebagai persyaratan masuk,membuat kesiapan anak untuk belajar calistung seakan dipercepat.

Timbul pertanyaan dari para orang tua,boleh gak sih jika memang keadaan meminta anak belajar calistung sebelum kemampuan mereka mencapai tahap kognitive?

Sebenarnya boleh saja, asal anak sudah melewati beberapa tahap yang penting sebelum diajarkan calistung. Dan mengajarkannya pun tidak seperti kita mengajarkan calistung pada anak yang sudah siap memasuki tahap cognitive ya. Mungkin ini yang terlewati dari kita sehingga beberapa di antara nya mengalami Brain Down Shifting.

Yang pasti sebelum mengajarkan calistung, pastikan:
- Anak sudah lancar berkomunikasi
- Anak sudah melewati tahap perkembangan bermain dan imajinasi dengan baik

Mengajarkan calistung pun gak asal mengajarkan cara instant, yang penting outputnya anak bisa membaca, menulis dan berhitung untuk bisa melewati test masuk SD unggulan sesuai keinginan orang tua.

Berbeda dari akronim calistung itu sendiri (membaca,menulis dan berhitung) yang sebaiknya pertama kali kita perkenalkan justru adalah Berhitung.

Pengenalannya pun tidak langsung berbentuk angka 1,2,3 dst lho. Karena sebenarnya angka 1 dianggap angka 1 kan adalah merupakan kesepakatan. Jadi anak balita belon tentu sepakat angka 1 adalah 1, angka 2 adalah 2 dong.

Yang ingin kita tanamkan ke anak adalah pemahaman, kemampuan nalarnya, bukan menghapal simbol 1,2,3. Jadi sebaiknya yang kita perkenalkan lebih dulu adalah jumlah benda. Misalnya memperkenalkan 2 kucing yang sedang duduk, menghitung 5 buah mangga di pohon.

Setelah paham dengan berhitung, selanjutnya kita perkenalkan dengan membaca.

Belajar membaca juga tidak diperkenalkan dengan menggunakan simbol. Melainkan dari lafal pengucapan huruf seperti " a,b,c ..." atau huruf vokal. "a i u e o " terlebih dahulu.

Setelah itu kenal dengan lafalnya, baru dikenalkan dengan bentuk hurufnya. Masih inget gak kalo zaman sekolah dulu, kita diajarkan membaca dengan mengeja? Atau metode mengajarkan baca dari teori Glenn Doman yang populer belakangan ini?

Menurut pembicara talk show yang diikuti Yudith, kedua metode di atas pada dasarnya adalah "menghapal". Setelah ikut talkshow ini, baru disadari mungkin metode menghapal untuk mengajarkan baca memiliki kekurangan yang bisa dirasakan saat ini. Mayoritas dari orang yang diajarkan dengan metode menghapal (termasuk menghafal ejaan) akan menemukan kesulitan untuk memahami isi tulisan jika membaca cepat.Kita baru bisa memahami isi textbook jika membaca secara perlahan. Waaakkss…frankly speaking, gw juga baru nyadar! Iya gak ya?? **Hmmm…berimajinasi pegang-pegang jenggot yang sebenarnya gak ada**

Nah, corrective action dari kekurangan methode ini adalah mencoba mengajarkan anak membaca dengan mengenalkan nalarnya dulu. Diharapkan jika anak belajar membaca secara bertahap dengan mengenalkan nalarnya, maka kesulitan yang memahami jika membaca cepat tadi bisa dieliminasi.

Terus caranya gimana dong? Inget gak beberapa waktu yang lalu ada iklan susu **susu bukan ya? Eike lupa?** yang mengajarkan anak membaca dengan symbol tulisan Ibu dan gambar jempol jadi "Ibu Jari". Nah metode itu yang ingin kita terapkan kepada anak-anak kita sekarang. Misalnya kita mencari huruf "A", kemudian meletakkannya dibelakang huruf "S" maka akan kita lafalkan "SA". Diletakkan di depan huruf "S", maka akan dibaca " AS"

Nah, jika anak sudah bisa membaca, barulah kita ajarkan menulis. Menulis pun tidak langsung serta merta menggunakan alat tulis seperti pensil, pulpen gitu. Namun menggunakan suatu alat bermain **maap, gw belon bisa kasih foto maupun penjelasan detail secara gw juga belon pernah liat bentuk fisiknya**. Pertama-tama anak akan dilatih dengan menggunakan 5 jari nya untuk memegang mainan ini. Setelah mahir, ditingkatkan lagi menggunakan 3 jari sehingga anak siap memegang pulpen dan siap belajar menulis.

Tahap MANDIRI
Dimulai pada usia 15 tahun. Pada usia ini anak biasanya sudah matang konsep dirinya, sangat bisa membedakan mana yg baik dan mana yg salah.

Sehingga jika ada yang berkeinginan menyekolahkan anak di sekolah berasrama, pesantren yang bersifat mendidik kemandirian, sebaiknya di mulai dari usia 15 tahun.

Jeung Yudith, mohon dikoreksi jika rangkuman hasil interview dan pemahaman gw ternyata ada yang keliru. Tapi semua kembali kepada kita sebagai orang tua.

Yang jelas dengan sharing bersama dua pendidik yaitu Jeung Yudith dan Jeung Ires serta teman-teman dunia maya lainnya **yes, you know who you are...wink wink** membuka sedikit mata gw dari kacamata kuda.

Kadang kita terlalu menggenjot anak di sisi akademis, menyekolahkan di sekolah unggulan, sekolah dengan reputasi internasional, tapi untuk keinginan siapa. Keinginan Ganesh kah? Atau hanya obsesinya Mommynya?

Dari sharing Yudith dan Ires ini, orientasi gw tentang sekolah jadi berubah. Yudith mengajak gw untuk observasi kurikulum dan raport salah satu sekolah PAUD terbaik di Jakarta. Gak pake embel-embel internasional, gak pake membuat gw nangis darah merogoh kocek sedalam-dalamnya demi membayar uang pangkal dan uang sekolah per bulannya. Bukan sekolah yang hanya mengejar profit tanpa memikirkan kualitas pendidikan yang diberikan.

Yup, walopun mungkin gw gak bisa menyekolahkan Ganesh di situ karena factor lokasi yang jauh beeng dari rumah gw. Tapi setidaknya gw punya gambaran gimana sih kurikulum yang dianjurkan sesuai dengan usia anak.

Terlepas dari pameran preschool Grand Indonesia kemarin, saat ini ada beberapa sekolah yang bikin gw tertarik karena selain metode pengajarannya yang pas buat merangsang kreativitas otak kanan sesuai usia,with very reasonable and competitive price. Selain itu ternyata lokasinya gak terlalu jauh dari rumah gw. Cuma gw belon bisa share di sini karena gw belon survey satu per satu. Masih lama juga toh gw menyekolahkan Ganesh. Masih 1 tahun lagi waktu untuk survey sebelum bener-bener nentuin yang terbaik. Ngeliat minat dan potensi Ganesh juga sih. Mau nyanyi, melukis, memahat..lho lho??

Well, smart parents, happy hunting sekolah yang pas untuk toddies ya...semoga hasil chatting gw dan Yudith yang gw tuangkan di tulisan ini bisa bermanfaat sebagai masukan untuk yang sudah bersedia membacanya. Amin

10 comments:

  1. ndahhh,bagusss bgtttt. nambah ilmu lagi mampir ke blognya mommynya ganesh.
    aku tunggu riview sekolah nya ya, sapa tau bisa diriku jangkau, n ga bikin kantong gemporr...xixiiii

    ReplyDelete
  2. fiki (mamanya khansa)March 23, 2010 at 1:13 PM

    Mba Indah..thnx banget postingannya, sangat2 membuka mata. Mau ijin copas di facebook boleh? soalnya temen2 banyak yang pengen baca postingan mba juga, mereka pengen tau 4 tahapan itu.

    Mba Indah aku ada beberapa pertanyaan boleh :
    1. Yang lagi in sekarang itu soal mengajari anak membaca dengan kartu-kartu sejak dini itu sebaiknya dilakukan atau nggak ya mba? Kalau dari postingan mba siy aku ambil kesimpulan itu malah bikin mudah menghafal tapi tidak paham tapi saya masih bingung jadi mesti gimana ya cara mengajari membaca yang benar, masih belum kebayang soal yang huruf dengan jari itu.

    2. Kadang aku minder mba kalau khansa masih gak sepinter teman2nya atau dia terlihat penakut akhirnya saya pengen memasukkan dia ke PAUD atau PG? bener gak se mba saya? apa saya terlalu memaksakan? saya takut kalau dia jadi korban keingin mamanya. (FYI: Khansa seumuran Ganesh, 27 maret ini 1 tahun)

    3. Mba kapan2 di share soal kurikulum PAUD yang bagus itu ya mba, soalnya disini susah banget cari sekolah yang dekat rumah (aku tinggal di depok..hehehe..)

    Makasih banyak ya mba Indah...
    btw aku juga sering nyontek menu ganesh...(maaf ya baru bilang sekarang)

    ReplyDelete
  3. Iis,
    Jadi malu pujiannya..
    Sip! Beberapa sekolah yang menurut gw lumayan ini di daerah Bekesong kok.
    Ntar kalo gw udah survey dan pelajari kurikulumnya gw share yaaa...

    ReplyDelete
  4. Mbak Fiki di Depok,**asa bales surat di majalah Femina**
    Boleh aja, Mbak. Asal dikasih link sumbernya darimana. :p

    Hmm…aku jadi senyum-senyum sendiri baca pertanyaan Mbak Fiki. Soalnya aku sendiri sebenarnya gak ada background ilmu pendidikan dan pengalaman sebagai guru.
    Aku coba jawab sesuai dengan kapasitasku aja ya…
    1. Maksud Mbak Fiki dengan membaca kartu sejak dini itu method Glenn Doman yang menggunakan Flash cards bukan ya? Hmm..aku juga sempat nerapin itu sih ke Ganesh. Tapi setelah diskusi dengan Yudith yang mengikuti Talk show kemarin, katanya metode Glenn Doman memiliki kekurangan. Seperti halnya dengan proses hapalan mengeja zaman kita cilik dulu **ehm, zamannya sama gak ya? hihihi**, metode ini menerapkan hapalan ke anak. Jadi anak bisa membaca berdasarkan hapalan, tapi tidak mendapatkan essensi nalarnya.

    Yang lebih dianjurkan adalah mengajarkan dengan mulai memperkenalkan nalarnya ke anak. Misal ada kartu huruf U yang gede. Mbak bisa bilang ke Khanza “ Nak, ini ada huruf U. Yuk kita cari huruf B. Nah ini huruf B. Kalau huruf U ditaruh di belakang huruf B, bacanya jadi BU “. Kurang lebih seperti itu,Mbak.

    Untuk lebih tahu lebih banyak mungkin Mbak bisa merujuk ke buku “ Einstein Never Used Flash Cards”

    2. Mbak, kalau aku lho ya *semoga bisa menjadi gambaran untuk Mbak Fiki ya* liat dulu apakah Ganesh suka dan enjoy kegiatan di sekolah, bertemu dengan teman-teman sepantarannya (karena di kompleks perumahan kami jarang ada bayi seumuran Ganesh) dan bermain bersama mereka. Aku berharap dengan bersekolah memberikan waktu yang bermanpaat karena bermain dan belajar dengan pengarahan, memberikan pengalaman baru buat Ganesh di saat Mommynya bekerja dan gak bisa menemani dia.

    Karena bagi anak seusia Ganesh dan Khanza yang kita utamakan saat ini adalah perkembangan otak kanan ketimbang otak kirinya.
    Masih inget toh perkembangan otak kirinya baru mulai berkembang penuh saat dia usia 7 tahun. Jadi Mbak Fiki jangan khawatir kalau kemampuan Khanza gak sama dengan teman-teman seusianya. Biarkan aja Mom, mereka mengexplorasi dunia mereka.

    Sebisa mungkin jangan pernah membanding-bandingkan anak lho,Mbak. Semua anak istimewa, termasuk Khanza. Dan Mbak Fiki sebagai Mamanya tentu saja harus mempercayai itu. Kalo mamanya memberikan support dan membimbing Khanza, tentunya Khanza akan lebih percaya diri terhadap lingkungannya lho.

    3. Sip,Mbak. Di Depok banyak kok sekolah yang bagus. Mungkin kita yang kurang jeli. Semoga ibu-ibu di sini ada yang mau bantu rekomendasi.

    Gitu aja ya,Mbak…**jadi kepanjangan deh**

    ReplyDelete
  5. Indah,

    good job for the review ;) and all decision back to each parents, right?!?

    Thanks for reminding me that good school quality didn't mean international or even high cost :) just find the right school with suitable curiculum and match with our budget :)

    ReplyDelete
  6. fiki (mamanya khansa)March 23, 2010 at 5:35 PM

    Mba Indah...thank you so much...hiks2..jadi terharu ada orang sebaik mba Indah..
    iya mba..terimakasih sekarang aku jadi ngeh deh. Semoga bisa aku terapkan dengan baik ke Khansa. Maklum mba, ibu muda dengan gejolak emosi yang masih berapi api (hehehe..lebay) jadi kadang gak karuan persepsinya ke perkembangan anak.

    Thnx ya mba. Nanti kalau ada yang mau aku tanyain jangan bosan menjawab ya.

    Iya mba, pasti aku akan menyertakan sumber dari mana (lha wong copas), nanti kan orang2 pada nanya.. itu ganesh siapa? mba Indah siapa, nah kalau aku kasih link aku akan bilang baca aja sendiri..hehehe..(jadi nanti pahala mba indah bakal nambah2 deh soalnya di tularkan terus. :D)

    terakhir makasih banyak ya mba...

    ReplyDelete
  7. @ Nana Ulie,
    Ya pastinya semua kembali kepada orang tua masing-masing dong,Na. Kita kan gak sepenuhnya mengerti kondisi anak orang lain toh...

    @ Mbak Fiki,
    Aduh aku jadi tersipu-sipu malu, Mbak. Pasti Depoy dan temen2 lain yang kenal aslinya aku jadi ketawa ngakak baca komen tulusnya Mbak Fiki..hihihi

    ReplyDelete
  8. "Pasti Depoy dan temen2 lain yang kenal aslinya aku jadi ketawa ngakak baca komen tulusnya Mbak Fiki..hihihi"


    iya gue ketawa ndah, HAHAHAHA...

    tapi bener ko posting lo ini bagus!!

    ReplyDelete
  9. mommy indah..ijin copas link ini ya..dan aku sertakan sumbernya :) thx mom.

    ReplyDelete
  10. @ Mbak Ecy,
    Monggo...semoga bermanfaat. :D

    ReplyDelete