1.20.2010

Lebih Lanjut Dengan Imunisasi : Immunization Administration

Makin ke sini, gw makin merasakan manfaat dari pertemanan di dunia maya ini. Semalam gw nyempetin untuk ikutan hadir di chatting BB Group mpasirumahan. Udah lama gak ikutan ngerumpi bermutu bareng ibuk-ibuk ini. Makanya tadi malem gw pengen up grade ilmu per-emak-an gw yang sungguh masih pada level basic ini.



Lho..lho..lho tau-tau Garet a.k.a emak Ayska dan Ayu a.k.a mama Rayyan (temen milis mpasirumahan dan twitter gw) pada antusias ngebahas istilah "intramuscular, subscutans"?? Omigod, makanan apakah sih ini ??  Gw kok malah merasa asing dengan kedua istilah yang bau-baunya sih kedokteran ya...



Daripada gw minder dan kabur, makanya gw beranikan diri untuk bertanya sama Ayu " Kok tiba-tiba ngebahas vaksin, imunisasi dan intramuscular ini. Emang ada apa sih?" 



Ayu, Mama Rayyan ini pun berkisah bahwa saat imunisasi Rayyan dia menemukan DSA nya mengunakan administrasi imunisasi yang berbeda dengan yang dianjurkan CDC.



Oooh gw rasanya seperti tertimpa container 40" **kayak pernah ngerasain ditimpa container ajah?!?**, karena selama sepanjang nganterin Ganesh imunisasi di DSA, gw gak pernah merhatiin DSA nyuntik secara Intramuscular (IM) atau Subcutaneous (SC),gw malah gak pernah tau apa itu Immunization Administration. Dan gw gak pernah monitor DSA gw apakah imunisasi Ganesha diberikan mengikuti Immunization Administration dari CDC.



Astaga ternyata gw masih harus banyak banyaaaaaaaaak belajar lagi. Maklum ini pengalaman pertama buat gw menjadi orang tua. gw pikir soal imunisasi ini cukup dengan mantengi jadwal imunisasi dari CDC atau IDAI. Ternyata gw salah besar!



Pagi ini gw pun membuka link yang diberikan sama Garet dan Ayu, memperhatikan dengan seksama dan akhirnya gw coba merangkum apa yang bisa gw cerna dari berbagai sumber.

Vaccine administration ini sangat critical untuk keefektifan vaksin yang diberikan.




JENIS VAKSIN :



A. Vaksin Hidup (Live attenuated Vaccine)
Vaksin terdiri dari kuman atau virus yang dilemahkan, masih antigenik namun tidak patogenik. Contohnya adalah virus polio oral. Oleh karena vaksin diberikan sesuai infeksi alamiah (oral), virus dalam vaksin akan hidup dan berkembang biak di epitel saluran cerna, sehingga akan memberikan kekebalan lokal. Sekresi antibodi IgA lokal yang ditingkatkan akan mencegah virus liar yang masuk ke dalam sel tubbuh.



B. Vaksin Mati (Killed Vaccine/Inactivated Vaccine)
Virus mati jelas tidak patogenik dan tidak berkembang biak dalam tubuh. Oleh karena itu diperlukan pemberian beberapa kali.



C. Rekombinan
Susunan vaksin ini (misal Hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesa dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gene epitop bagi sel penerima vaksin



D. Toksoid
Bahan yang bersifat imunogenik dibuat dari toksin kuman. Pemanasan dan penambahan formalin biasanya digunakan dalam proses pembuatannya. Hasil dari pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid, dan merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi bakteriil toksoid effektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk memperlama rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya.



E. Vaksin Plasma DNA (Plasmid DNA Vaccines)
Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode antigen yang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian. hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang respin humoral dan selular yang cukup kuat, sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini sedang dilakukan.



CARA PEMBERIAN VAKSIN



1. Subcutaneous



Subcutaneous ini adalah penyuntikan vaksin di bawah kulit, di atas jaringan otot.



Panjang jarum suntik (untuk bayi 1-12 bulan, anak-anak diatas 12 bulan, remaja dan dewasa) : 5/8"



Gauge jarum suntik: 23-25



untuk menghindari mencapai jaringan otot, masukan jarum pada sudut 45 derajat dan masukan vaksin ke dalam jaringan.



Umumnya pemberian vaksin dengan Subcutaneous ini diperuntukkan untuk virus hidup seperti: Campak, BCG, Varicela (cacar air), MMR



2. Intramuscular




Intramuscular adalah jenis penyuntikan masuk hingga mengenai otot.



Panjang jarum suntik
- Newborn (1-28hari): 5/8"
- Bayi (1-12 bulan): 1"
- Balita (1-2 tahun): 1-1.25"
- Anak-anak dan remaja (3-18 thn): 5/8" -1"
Gauge jarum suntik: 22-25



Masukkan jarum pada sudut 90 derajat supaya bisa menembus jaringan otot.


Umumnya teknik penyuntikan ini diberikan untuk imunisasi virus mati seperti: DPT, Hib, Hepatitis B.


Untuk lebih jelasnya, bisa lihat di link ini .


Selain itu, ada aturan/prinsip yang mengatur mengenai pemberian imunisasi simultan, jadi kita nggak asal kasih misalnya vaksin A dengan vaksin B, trus minggu depannya kita kasih vaksin C dengan vaksin A-kedua, dst. Guideline utamanya sih:



Vaksin Mati + Vaksin Mati= bisa simultan kapan saja
Vaksin Mati+ Vaksin Hidup = bisa simultan kapan saja
Vaksin Hidup + Vaksin Hidup = bisa diberikan simultan, tetapi apabila tidak simultan, harus ada jarak/rentang pemberian 4 minggu antara satu vaksin hidup dengan vaksin hidup lainnya.


Hmm...okay, ilmu gw bertambah lagi. Makasih banget buat Ayu yang udah mau sharing...
Dan kalo ada yang mau berbagi ilmu lain ke gw, monggo ditunggu yo..

10 comments:

  1. info nya bermanfaat banget nih. sekalian merefresh & mempersiap2an imuniasi calon baby nanti

    ReplyDelete
  2. Haaah, berarti besok2 klo imunisasi, aku pratiin cara nyuntik dokternya ah.

    Walaupun ada beberapa (oke, banyak) istilah dari tulisan ini yang ngga aku ngerti, kyknya intinya ada di aturan pemberian simultan antara vaksin hidup dan mati, sama cara nyuntiknya yg 45 atau 90 derajat kan ya??

    btw, mbak.. kalo salah posisi nyuntik, selain ngaruh ke efektivitas vaksin, juga ngaruh ke 'bekas vaksin' di kulit bayi nggak sih? Soalnya bekas BCG anakku jelek banget, dan kulihat bekas BCG bayi2 lain ga sejelek maryam.

    ReplyDelete
  3. @Mbak Lidya,
    Hayo kita sama-sama belajar lagi.

    @Nuri,
    Aku coba jelaskan semampu aku ya,Mbak.
    Sepanjang yang aku tau ya. Kan biasanya yang simultan itu DPT+Hib+Hepatitis B? Nah itu kan semua virus mati, jadi cara penyuntikannya semuanya sama pake Intramuscular dan disuntik dengan 90 derajat.

    Atau DPT+Hib+Polio. Nah kalo polio yang pake suntik, itu adalah polio yang virus inactivated alias virus mati. Jadi sama aja kayak DPT+Hib, disuntik dengan Intramuscular 90 derajat.

    Kalopun polio virus hidup, biasanya di Indonesia ini gak pake suntik melainkan oral alias ditetesin.

    untuk virus hidup kayak BCG, Campak gitu bukannya jarang di comboin ya. Mungkin kalo simultan dengan imunisasi virus mati, kan suntiknya 2X. jadi virus hidup tetep (campak, BCG) nya disuntik dengan SC dan imunisasi virus matinya disuntik pake IM.

    BCG memang berbekas, Mom.Malah yang berbekas itu menunjukkan bahwa imunisasi BCG nya cukup efektif. Tapi kalo gak berbekas pun gak berarti gagal dan harus diulang.

    HTH ya, Mom

    ReplyDelete
  4. Wah..thanks banget infonya. Saya baru mau cari2 tentang imunisasi simultan eh udah nongol tulisan ini. Saya sendiri gak pernah liat saat Dita disuntik...nggak tega je. Ternyata emang harus dipentelengin ya. Ntar deh make sure prosedur ini ke DSA nya Dita. Moga2 selama ini dokternyapun telah benar.

    Kalau soal BCG, saya memutuskan ulangan imunisasi BCG buat Dita, karena imunisasinya gak berbekas. Tapi sebelumnya test Mantoux dulu, bila hasilnya + gak perlu diulang, bila -, imunisasi BCG perlu diulang. Selengkapnya di Serba-serbi Imunisasi DPT dan BCG

    ReplyDelete
  5. BunDit,
    Aku juga ndak pernah merhatiin cara DSA nyuntik Ganesh kalo pas imunisasi soalnya udah sibuk berjoget-joget biar Ganesh gak fokus ke suntikannya. Hihihi...

    Katanya,Bun, BCG ini emang perlu teknik khusus. Jadi gak semua DSA jago bisa nyuntik BCG ini dengan hasil effektif.

    Untungnya DSA Ganesh yang sebelum dr.Rinawati ini udah lumayan pengalaman (baca:tua). jadilah berbekas tapi dikit kok...heu heu

    ReplyDelete
  6. Thanks Ndah, atas infonya
    tadinya gw hanya tahu metode (cara) suntik itu untuk penanganan pengobatan yg sudah ga mempan pengobatan secara home treatment dan oral medicine (nyontek dari PESAT kemarin. Bermanfaat kebetulan besok mo imunisasi MMR ke dr Rinawati:)

    ReplyDelete
  7. Thanks Ndah info bermanfaat secara besok mo MMR ke dr Rinawati:)
    selama ini gw cuma tahu suntik intra dan sub muscular itu yg terkait dengan pengobatan setelah home treatment dan oral medicine ga mempan (hehehe, nyontek dari PESAT kemarin)

    ReplyDelete
  8. Yudith,
    Loe mau coba dr. Rinawati??
    Huhuhu...semoga gw gak salah merekomendasi ya...

    ReplyDelete
  9. Oalahh...setelah baca artikel yang mom tulis ini, baru deh saya tau knp kalo DSA-nya Raja ngasih suntikan BCG dan Campak, jarum suntiknya dimiringin. Tapi kalo imun yang laen, jarumnya ditegakkin.

    Udah lama penasaran, tapi br sekali ini nemu jawabannya di sini, he he... tks buat info-nya ya mom..

    BTW, blognya saya link ya mom..

    ReplyDelete