11.30.2009

Salahkan Siapa ? Bertanya Pada Siapa?

Di tahun 2009 ini di team gw gak cuma gw yang diberikan anugerah untuk menambah anggota keluarga. Setidaknya ada tiga inspector gw juga mempunyai anggota keluarga baru.


Walopun gw tidak mendapatkan kesempatan ASIX 100%, tapi gw sepenuhnya mendukung ibu-ibu untuk melek ASI. Terus terang gw akui gw gak punya cukup keberanian untuk secara lantang menggemakan ASIX kepada staf, cukup dengan meminjamkan buku-buku gw yang berisikan pentingnya ASI, memberi contoh memompa di kantor walopun hasilnya Cuma seiprit.


Tapi tidak demikian dengan inspector gw. Gw bisa lebih terbuka membagi informasi dan pengetahuan yang gw punya kepada para inspector gw dengan harapan mereka akan menforward informasi yang mereka dapat dari gw pada istri mereka. Karena mereka gak punya akses untuk buka internet, apalagi jadi anggota milis tertentu. **kalo punya akses, jangan-jangan saingan belanja Online jadi nambah...*


Apalagi para inspector gw cukup terbuka dengan sesuatu yang baru.
Namun minimnya asuransi kesehatan membuat mereka tidak bisa leluasa memilih DSA yang komunikatif, pro-ASIX, pro RUM. Bahkan untuk menekan biaya, anak mereka diimunisasi ditangani bidan yang gak jauh dari tempat tinggal mereka.


Suatu sore, gw menanyakan kabar salah satu anak inspector gw yang baru berusia 2 bulan. Ternyata dengan tanpa dosa, inspector gw mengaku bahwa anaknya sudah diberi makan pisang oleh ibunya. Gw jadi menanyakan asupan ASI ibunya. Biasanya anak sudah diberikan makan pisang karena takut asupan ASI nya kurang.

Tapi inspector gw ini menggeleng. Menurutnya produksi ASI istrinya banyak. Bahkan jika sedang menyusui di salah satu payudara, payudara yang lain sampe muncrat keluar ASI nya.
Tanpa bermaksud menggurui, gw cuma bilang bahwa sebaiknya anaknya diberikan MPASI setelah berusia 6 bulan. Apalagi ASInya melimpah begitu. Mending ibunya aja yang maem pisangnya, bayinya biarkan saja tetap menyusui.


Dia minta diprint informasi dari IDAI atau WHO yang mengatakan ASIX 6 bulan supaya dia punya dalil saat berbicara dengan istrinya di rumah nanti.
Gw pun memberikan yang dia minta, dan Alhamdulillah istrinya manut untuk tidak lagi memberikan pisang kepada bayinya hingga mencapai usia 6 bulan “ Bu Indah kayaknya lebih ngerti ya, Yah..”




Inspector gw yang anaknya sekarang berusia 4 bulan lain lagi ceritanya. Gw tadinya udah hepi aja karena tahu kalo anaknya yang pertama katanya ASIX.
Gw maen pede aja kalo anaknya yang kedua ini juga akan mengikuti jejak kakaknya. Eh..ternyata oh ternyata…di usia 4 bulan ini anaknya juga udah dikasih makan pisang.


Otomatis gw nanya dong kenapa anak yang pertama bisa ASIX, anak kedua kok MPASI dini.
Jawaban yang gw terima sungguh sangat mengenaskan.
Ternyata yang menyarankan anaknya yang masih berusia 4 bulan itu dikasih mamam pisang adalah bidan dimana anaknya biasa diimunisasi.
Gak taulah posyandu atau bidan praktek di rumah.


Tapi OMG! Gw jadi mempertanyakan sejauh mana pemerintah mensosialisasikan program ASIX 6 bulan? Kok bisa tenaga medis seperti bidan di Cikarang sini gak up to date dan masih berpegang dengan ASIX selama 4 bulan?


Gw gak kebayang…ini yang di Cikarang, yang cuma 31 KM dari Cawang, Jakarta lho. Gimana yang berada ribuan kilo dari Jakarta??


Gemez..tapi mau gemez ke siapa ?


Nyalahin bidan karena ketidakmutakhiran ilmu yang dia punya?
Atasan bidan yang tidak mensosialisasikan program ASIX 6 bulan?
Pemerintah yang tidak memberikan kemudahan akses internet gratis utuk masyarakat menggali informasi sendiri di website terpercaya?
Atau kah perusahaan gw yang memberikan asuransi kesehatan yang minim sehingga inspector gw harus mengkonsultasikan kesehatan dan tumbuh kembang anaknya ke bidan yang notabene “minim informasi” ??


Tapi ternyata bidan tadi bukanlah satu-satunya faktor masalah yang gw temuin di Inspector gw.


Kemarin pagi, istri inspector gw melahirkan secara SC di salah satu RS Santo Y**** di Bandung. Dalam sms nya, Dia sedang sedih karena anaknya gak mau menyusu dot (baca: susu formula).


Gw langsung menelpon dong nanyain kenapa dia harus sedih kalo anaknya gak mau minum dari sufor. Ternyata selidik punya selidik, inspector gw ini sedang gundah gulana *bukan Gundala anak petir!* karena Berat badan anaknya turun dari berat badan baru lahir.


Dan guess what??
DSA nya tidak menenangkan perasaan kedua orang tua baru ini dengan mengungkapkan fakta bahwa umumnya bayi akan kehilangan BB sampai dengan 10% dalam beberapa hari pertama setelah lahir.
Even di website salah satu produsen SuFor pun menyebutkan hal ini, bukan berarti asupan minum si bayi kurang.


“ Abis ASI nya Yanthi (istrinya) masih sedikit, Bu…kami takut dia kurang cairan makanya BB nya turun..” katanya lemas.


ASI nya masih sedikit untuk ukuran siapa? Untuk ukuran bayi yang belon sampe 24 jam beradaptasi dengan dunia luar, apakah perlu minum sebanyak 100 ml??


Tampak tidak ada niat maupun usaha baik dari para suster, DSA nya untuk memberikan suntikan perangsang ASI kek, pijat payudara kek, pompa ASI kek supaya volume ASI ibunya cepat meningkat.


NO! Yang mereka tawarkan seakan cuma jalan pintas seperti ini “ ASI Ibu gak keluar. Yuk kita jejeli susu formula!”


Jika inspector gw yang terdahulu punya informasi yang gak benar dari seorang bidan, akhirnya bisa gw maklumi.
Lah wong kalo sekelas DSA sebuah RS aja bisa tidak informative, gimana kita bisa berharap banyak dengan pembantu medis yang lain?
**mohon jangan dianggap sebagai sebuah underestimate. Ini cuma kekesalan doang**


Sekarang gw bingung harus bertanya ke siapa yang bertanggung jawab atas kesimpang siuran ini.
Masih menyalahkan asuransi company gw yang menyebabkan inspector gw gak bisa cari dokter sekelas dr. Oetami roesli atau Bunda Wati yang pro ASIX, pro RUM, komunikatif?


Gw masih terus berpikir, dari tiga inspector gw yang baru melahirkan anaknya, bahkan dua diantaranya melahirkan anak kedua, ketiga-tiganya tidak mempunyai basic information yang cukup mengenai ASIX, MPASI, apalagi boro-boro RUM.
Pastinya ujung-ujungnya maen dijejeli antibiotik juga buat supaya stock antibiotik di apotek RS jadi cepat habis inventory nya. **Ya Allah, maapkeun hamba-Mu yang jadi su'udzan inih..**


Then, bagaimana dengan nasib sisa masyarakat Indonesia yang jangankan untuk bergabung di milis AFB, gw rasa apa yang namanya milis aja mungkin banyak yang gak tahu.
Aduuuh plis gak bisa ngarepin mereka dengan sendirinya bersedia googling mencari ilmu seperti yang lazimnya kita lakuin. Kenapa ibuk-ibuk atau bapak-bapak gak mencari informasi sendiri? Kan udah dilakuin...lah wong bidan, DSA nya say nothing atau malah nganjurin sufor, terus mereka harus nanya ke siapa? Ke ibuk-ibuk pendukung ASI atau ASI lover? Boleh aja, tapi mereka tahu darimana siapa aja yang mendukung ASI, siapa yang bisa memberikan informasi jalan yang lurus kepada mereka?


Toh, selama ini gw belon pernah nemu iklan di angkutan bunyinya " Anda punya masalah dengan ASI? Ingin tahu lebih banyak soal ASI. hubungi saya di nomer 021-XXXXX atau 081YYYYY" selayaknya gw nemu iklan " Anda bermasalah dengan wasir, keperkasaan dan bla bla bla..." heu heu heu


Lah terus, gimana dong? Nyalahin pemerintah ?


Entahlah...somehow gw berasa jadi politisi celebs...masih gregetan dengan kasus yang menimpa inspector gw…tapi apa daya gw juga gak bisa berbuat banyak. Haruskah menyerah pada nasib? Nasib yang gak bisa memilih untuk bisa berbuat lebih banyak…
Cuma bisa curhat di blog yang syukur-syukur ada yang mau baca. Dan maapkeun juga kalo bahasanya agak extreme. Maklum lagi nyolot! untung gak senggol, silet dot com!


*Ah, Mendadak pusing, lelah…dan pengen beristirahat sebentar menikmati angin sepoi-sepoi di Mushallah…

9 comments:

  1. hihihi..baca komennya mbak Lidya jadi inget. Temenku (temen dunia maya sih), sudah ngelahirin anak ke-3. Dan pas nanya2 kenapa saat menyusui sakit dsb (anak 1&2 kena sufor), aku jadi kampanye ASI sana sini karena dia nanya macem2. Pas nyebut AIMI, dia bilang "oooo Ibu Menyusui itu ada asosiasinya to".. :D

    ReplyDelete
  2. BunDit,
    Aku juga lagi membayangkan kalo istri inspector atau istri-istri orang produksi sini diajak ikut AIMI, piye ya?
    Karena hingga saat ini informasi kegiatan AIMI kebanyakan dari internet, milis.
    Sementara mereka kan masih gaptek gitu.
    Penyuluhan AIMI?

    ReplyDelete
  3. wah momy G.. aku tuh pernah yah lagi ke klinik bersalin deket rumah ibuku.. di dalemnya masih ada loh pamflet dr depkes mengenai MPASI di usia 4 bulan.. wakakakakak.. kayanya itu blm update bgt deh.. padahal penting loh secara nyokap ku tuh jadiin panduan bgt tuh pamflet.. jd kayanya ini PR besar untuk menkes sekrang yah.. kita doakeun sajah deh

    ReplyDelete
  4. Uci,
    Believe it or not, aku pernah ke klinik laktasi ternama waktu hamil 9 bulan dan dua minggu setelah melahirkan.
    Dan emang belon diapdet dari 4 bulan menjadi 6 bulan.
    Baru mau di apdet nunggu inventorynya abis dulu apa gimana ya?

    ReplyDelete
  5. heheee..dikantor setiap ada yg lagi halim n baru lahiran siap2 deh penyuluhan, namun sedihnya ada seorang welder di pabrikasi babynya baru2 bulan dia masuk, langsung tuh si baby dikasih sufor padahal babynya lebih milih asi ketimbang sufor tp karna ketidak tahuan dia malah bingung anaknya susah mimi sufor, akhirnya sedikit2 tak kasih tau n tak pinjemin pompaan yg emang nganggur. namun sayang 1 bulan kebelakang dia ga pernah keliatan katanya dia pindah jadi welder di project jadi babynya sama neneknya n berhentilah pemberian asi,....kasian. sori ndah puanjang bener yaks

    ReplyDelete
  6. Iis,
    Itu yang bikin gw miris. Dengan harga SuFor yang terus merangkak naik, kadang suka diirit-iritin jadi kandungan gizinya juga sudah tanda tanya.
    Belon lagi masalah higienis. Kadang susu yang gak abis berjam-jam yang lalu tetep dikasihin ke anak, karena sayang harganya mahal.

    Padahal ASI tuh murah, pasti higienis, dan kandungannya gak ada yang menyamai.

    Tapi untung masih ada Iis dan ibu-ibu lain yang terus berjuang mendukung ibu menyusui. :D

    ReplyDelete
  7. Salam kenal mbak..
    suka banget sama tulisanny..
    Kebetulan saya bersalin-ny mudik k kampung di ngawi sana, dan memang benar bahwa tenaga kesehatanny banyak yg tidak melek ASIX. bahkan KMS pun masih propaganda ASIX 4 bulan, dan di RS ada sales Sufor yg nongkrong...

    jadiny pas mau bersalin saya kabur ke RSUD kab.madiun, alhamdulillah didukung sepenuhnya. bidan2ny sangat tau tentang per-ASI-an..

    ReplyDelete
  8. Mommy ganesh..kbetulan aku bidan looh (bkn mo nyombong nii yaa hehe) tp mgkn bidannya ga up to date kali tuuh krn aku aja tau ko baby br boleh mpasi ya emg stlh 6m..wktu kul jg ada pelajaran khusus ttg mpasi n asix jg imunisasi jg diteksi tumbuh kembang bayi smpe 60m..ditambah pelatihan2 mgenai ilmu2 br di kebidanan n kandungan...jd mgkn tgtg bidannya jg mom ganesh..sama ky momm ganesh milih dsa, dsog, n ds2 yg lain..milih bidan jg jgn bidan yg "dong dong" hehe...aku ko jd ngebela diri gini yaaa kesannya hehe..mdh2an blog mommy ganesh ga bikin org pd underestimate ma bidan yaaa :) salam kenal ya mommy ganesh ;)

    ReplyDelete