6.06.2016

Bertemu Penulis Idola di ASEAN Literary Festival

Menurut gw, buku yang sarat dengan pesan-pesan yang ingin disampaikan itu rata-rata membosankan. 
Bahkan dari kacamata gw sebagai orang tua pun merasa kadang penulis terlalu bernafsu ingin 'mengirimkan pesan' ke pembaca sehingga fokus bagaimana menyelipkan pesan, bukan bagaimana membangun jalan cerita dan ending yang menarik.
Akhirnya jalan cerita menjadi hal yang gak penting, yang penting pesan tersampaikan. 
Yang penting bisa memuaskan kepentingan 
Ibu-ibu mencekoki anak-anak dengan buku-buku sarat moral dan pelajaran. Titik.

Tapi tentunya gak semua orang tua berpikiran yang sama kan.

Siapa di sini yang sebelumnya udah sering ato pernah denger ASEAN Literary Festival ?
Gw sejujurnya baru pertama kali denger ketika diajakin temen-temen Kelas Inspirasi untuk daftar jadi relawan.

Udah pernah jadi relawan Kelas Inspirasi kan udah, jadi pengen juga ah coba pengalaman jadi relawan ASEAN Literary. 
Biar kalo update di path gw bisa branding " Kekinian yang sophisticated ".   

Tapi sayangnya niat ini jatuh berguguran, karena 3rd ASEAN Literary Festival tahun ini jatuhnya pas 5-8 Mei barengan sama long wiken awal Mei lalu.

Udah gitu pengakuan temen gw yang pernah jadi relawan di sini, peminat acaranya juga sedikit bahkan nyaris gak ada yang dateng.

Ah masa iya sih ?
Kok kenyataan ini bertolak belakang banget ya sama Big Bad Wolf Sale di BSD yang juga barengan dengan ASEAN Literary Festival ini ?
Kayaknya hampir semua orang update di IG, di path bangkrut abis ngeborong buku di sini.

Dimana hampir semua orang yang mengaku pecinta buku, book hunters, penimbun buku datang berbondong-bondong bela-belain antri panjaaang bahkan banyak yang sengaja datang dini hari demi mengurangi antrian panjang demi memborong buku import ini

Gw datang di hari Kamis siang langsung angkat bendera putih pas ngeliat antriannya dan gak nemu-nemu ujung antrian untuk mulai antri.
Iya saking panjangnya. Hihihi... 
Lalu gw jadinya cabs sebelum mulai antri....dan makan soto kuning di...Bogor. :p  

Walopun menggagalkan niat jadi relawan ASEAN Literary Festival, tapi gw masih penasaran sama acara-acaranya. 
Pas gw liat di hari terakhir, ada Discussion and Reading Session with Clara Ng The Importance of Storytelling jam 10 - 12 siang.

A-p-p-a-h ? Ada Ibu Clara Ng ?
Gw dan Athia penggemar semua buku anak-anak yang ditulis Clara Ng.

Duh, Mak, AKU pengen datang. HARUS.

Masuk ke Galery Cipta 2, disambut sama para relawan. Acara ini diselenggarakan dengan sederhana banget. Bahkan saat acara Bu Clara Ng sempat kipas-kipas karena AC ruangan tersebut kurang sejuk.  


Seperti yang dibilang temen gw, emang cuma ada beberapa orang umum ( di luar relawan) yang hadir. Sisanya adalah para relawan yang memiliki ketertarikan yang sama.
Mungkin para pecinta buku masih sibuk antri di BBW Sale kan hari terakhir.

Tapi walopun begitu, kami tetap khusyuk mengikuti acara diskusi ini. 
Diskusi dibuka dengan pembacaan novel Clara Ng yang terbaru
Topik yang dishare Ibu Clara Ng sangat menarik dan ada banyak catatan buat gw yang selama ini belum tau tentang kenapa storytelling buat anak-anak itu bisa mempengaruhi ke cara berpikir seorang anak.

Kapan sebaiknya kita mulai membiasakan aktivitas storytelling ke anak-anak ?
Sedini mungkin. 
Seringkali orang tua mengharapkan anaknya suka membaca buku pada saat sang anak menjelang remaja. Padahal sedari kecil, orang tua belum mendorong anak untuk mencintai buku.

Orang tua terlebih dahulu harus memberikan contoh gemar membaca ke anak dan perlu diingat menumbuhkan minat baca anak bukanlah seperti projek Roro Jongrang, bisa dalam tempo waktu semalam.   
  
Bagaimana sebaiknya kita memilih buku yang sesuai dengan usia anak ?
Untuk anak usia 1-2 tahun, 
]sebaiknya pilih buku yang bisa dibikin bernyanyi, memiliki ritme atau pantun. Buku-buku ini bertujuan agar memperkaya kosa kata anak.

Untuk anak usia 3-5 tahun, 
pilihlah buku bergambar ( Picture book).
Sebaiknya orang tua memiliki jadwal storytelling dengan anak. Dan ingat, saat membaca, bacalah dengan lantang (out loud).   

Usia 6-10 tahun,
orang tua biasanya sudah malas membacakan buku untuk anak karena menganggap anak yang pada usia ini sudah duduk di kelas SD sehingga sudah mampu membaca buku sendiri. 
Di tambah lagi, pada usia SD ini anak dipadati dengan buku-buku non fiksi dan sibuk dengan buku-buku yang berkaitan dengan kurikulum.

Pada usia inilah anak mulai diajarkan membaca novel atau buku-buku non gambar.
Bisa dimulai dari buku-buku yang chapter (bab) nya tidak terlalu panjang seperti novel Dru, Roald Dahl.

Úsia 11-15 tahun,  
Pada usia ini anak-anak ingin membuka diri kepada orang tua. Daripada kita sibuk berceramah, mending kita diskusikan apa yang mereka baca.

Kenapa baca buku fiksi juga tidak kalah pentingnya dengan membaca buku non-fiksi?
Pada saat anak kita masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, anak diharapkan memiliki kemampuan analitical thinking. 
Cerita fiksi mengajak anak-anak untuk melihat segala sesuatu dalam bentuk abu-abu, bukan dalam hitam dan putih.

Fiksi yang 'baik'tidak menceramah, tidak mengajarkan hitam dan putih.
Anak yang terbiasa membaca buku fiksi secara tidak langsung akan diajak menganalisa, melatih untuk beropini dan dipaksa belajar melihat kehidupan yang tidak homogen. 

Misalnya cerita dalam novel Dru.
Ketika Dru yang memanjat pohon rambutan dan menjatuhkan buahnya ke tanah, namun ternyata di bawah sudah ada anak lain yang memungut rambutanyang dijatuhkan Dru. 
Menurut Dru, tindakan anak itu sama seperti pencuri. Namun menurut kakak dari anak tersebut, adiknya sama sekali tidak mencuri.
    
Di sini anak dihadapkan dengan situasi abu-abu.  
Tidak ada jawaban yang pasti benar.
Anak dirangsang untuk beropini apakah anak setuju dengan Dru, bahwa yang dilakukan anak tersebut sama saja dengan mencuri ?
Ataukah sepakat dengan kakak si anak ?

Atau anak belajar mengenai cerita kehidupan yang mungkin belum pernah dijumpai anak dalam kehidupannya sehari-hari. 
Belajar tentang kehidupan yang tidak homogen ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa empati ke anak atas permasalahan sosial.

Bahkan untuk anak usia 7-9 tahun dirangsang untuk membuat resensi buku yang dia baca, atau malah menulis ending yang berbeda menurut versi dia sendiri.    

Lalu, bagaimana peran orang tua ?

Anak-anak memerlukan pendampingan orang tua dalam mencari buku fiksi yang sesuai dengan perkembangan usia anak.

Orang tua harus tau karakter anak dan tau buku apa yang disukai dan dibaca anak lalu memberikan refleksi. Jika perlu, minta anak menuliskan refleksi.

Orang tua harus jadi devil advocate yang menantang anak berargumentasi tanpa mendiskriditkan pendapat anak sehingga diskusi anak dan orang tua pun lebih dinamis dan terbuka. 
Kalo anak dan orang tua selalu setuju, maka tidak akan ada diskusi berpikir secara kritis.

Gimana ya caranya membacakan cerita sama anak yang gak bisa duduk manis, anteng kalo storytelling ?
Maka ajak mereka bereksperimen langsung.
Misalnya jika mau membacakan buku tentang dinosaurus, ajak mereka ke museum purbakala. 
Akhirnya bisa ketemu penulis idola
Sayang banget, abis diskusi ini gw langsung pulang.
Ternyata di hari yang sama jam 15.00-17.00 ada acara "From Poetry to movie : Gunawan Marynto X Aan Mansyur ".

Iyes, Aan Mansyur yang nulis "Tidak Ada New York Hari Ini "dan puisi-puisi Rangga di AADC2.

Arrgghhh....Nyesaaal.

Ya terus.
Sampai ketemu di ASEAN Literary Festival tahun depan yak.

2 comments:

  1. emang idealnya kita diskusi tentang buku yang dibaca anak ya. gua awal2 dulu juga gitu. lama2 kok males ikutan baca novel nya. abis gak menarik. huahaha. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sharing Bu Clara sih justru dengan diskusi itu kita merangsang kemampuan anak untuk beranalisa. Tapi gw abis baca cerita bawaannya pengen bobo, Man. Hahaha

      Delete