11.30.2015

Jawaban Atas Pertanyaan Sendiri

Menyambung dari pertanyaan yang gw buat sendiri maka pada kesempatan kali ini akan gw jawab sendiri. (Iyes, emang rada #Dangdut Mode ON).
Mandi mandi sendiri...makan makan sendiri. Nanya nanya sendiri...jawab jawab sendiri 

Dalam hal pemilihan buku, apakah Ibu yang menseleksi buku yang pantas dibaca oleh anak-anak, Ibu membiarkan anak-anak memilih sendiri buku yang disukainya, atau Ibu merekomendasikan beberapa buku untuk dipilih oleh anak-anak ?

Gw termasuk ke dalam golongan emak-emak yang menseleksi terlebih dahulu buku-buku yang akan dibaca anak gw
Ntar setelah lolos sensor emaknya barulah membiarkan anaknya milih sendiri mau buku yang mana. Yang sudah lulus sensor dong tentunya.

Kesannya gw emak-emak yang otoriter bertangan besi ya ?
Terserah lah mo dicap apa, yang jelas untuk sementara waktu, gw (merasa harus) melakukan ini karena sejujurnya gw pernah kecolongan.

Udah lama sih di salah satu seminar parenting, Bu Elly Risman ngingetin kita para orang tua untuk lebih berhati-hati dalam membelikan bacaan anak.

Beliau bercerita bahwa pernah ada kejadian seorang anak minta dibelikan komik anak-anak yang dipajang di rak deket kasir di suatu supermarket. Karena sibuk mengurusi barang yang akan dibayar di kasir, orang tuanya tanpa mengecek lagi langsung menyetujui pembelian komik tersebut.

Ternyata belakangan orang tuanya baru menyadari bahwa komik yang ditujukan untuk anak-anak itu memuat konten pornografi. 
Bayangkan sekarang pornografi udah dikemas dalam buku yang-kita-kira-bacaan-anak-anak dan dengan beraninya dijual di depan kasir !

Kalo kasus gw, justru lebih dodol lagi.
Beberapa tahun yang lalu, gw ikut salah satu seminar parenting dimana menurut gw beberapa teori parenting beliau cukup applicable dan praktikal untuk diterapkan. 
Bahkan gw pun hingga saat ini masih menerapkan beberapa teori parenting beliau.

Nah, dalam seminar tersebut, sang tokoh parenting menjual beberapa bukunya. 
Puas dengan seminarnya, gw gak tanggung-tanggung langsung memborong 4 buku yang ditulis beliau sekaligus. *waktu itu masih napsu-napsunya sama yang namanya "parenting" :p*

Awal beli, Gw emang sempat membuka plastic wrapping buku dan menggantinya dengan sampul plastik seperti yang biasa gw lakukan untuk semua buku-buku gw.

Setelah itu, ke-empat buku tadi cuma tertengger duduk manis di Peron 3/4, perpustakaan gw dan Athia.
Gak pernah gw baca sama sekali.

Hayooo siapa yang kelakuannya juga begini ? 
Suka numpukin beli buku abis itu gak dibaca ? Hayooo ngaku ! 

Yang gw sesali adalah salah satu judul buku yang gw pikir tentang parenting itu justru menarik perhatian para mbak gw yang saat itu masih abege kinyis-kinyis.
Mereka jadi tertarik membacanya. 
Beberapa kali gw memergoki mereka sedang asyik membaca buku itu.
Gw malah mikir baguslah, mereka udah belajar parenting sejak dini. 
Duh gusti.

Kemudiaan, lamaaaaa setelah buku itu berdebu di Peron 3/4, akhirnya terkuaklah satu kenyataan yang bikin lutut gw jadi lemes dan terduduk.
Gw mendapat broadcast peringatan di salah satu group pengajian bahwa buku tersebut gak layak untuk dibaca. 

Awalnya gw pikir cuma hoax, masih dengan rasa gak percaya, buru-buru gw lari ke peron 3/4 dan membuka buku yang dimaksud. 
Astaghfirullah, ternyata emang bener.

Bayangkan buku ini dibaca oleh mbak-mbak gw yang masih abege. 
Secara moril, gw merasa ikut bersalah dan ikut bertanggung jawab. 
Bagaimana bisa gw ceroboh, lalai, membiarkan buku itu selama ini ada di peron 3/4.

Walaupun gw termasuk orang yang mengikuti teori-teori parenting beliau, tapi untuk hal yang ditulis di buku itu tetap saja gw gak sependapat. 
Dan gakkan pernah sependapat.
Terserah sih kalo para pendukung teori beliau berdalih lain, tapi setidaknya itu #sikap gw.

Buat gw, gw setuju banget bahwa kita harus dibiasakan untuk memilih dan menerima konsekwensi atas pilihan kita.
Tapi ada hal-hal dalam hidup ini, satu-satunya pilihan adalah tidak ada pilihan dan harus tunduk akan aturannya.

Buku itu akhirnya gw musnahkan daripada dibaca oleh orang-orang yang belum paham maksud buku tersebut.
 
Sejak itu, gw memaksakan diri untuk membaca terlebih dahulu isi suatu buku hingga tamat untuk memastikan bahwa konten buku tersebut aman untuk dibaca oleh semua orang, sebelum buku itu akhirnya menjadi penghuni Peron 3/4.

Setidaknya sampai Athia mempunyai pondasi yang cukup untuk memilih sendiri mana yang baik dan mana yang gak sejalan dengan prinsip keluarga kami.

" Sekalinya mereka (red: anak kami) sudah terkontaminasi di luar sana, Kita repot ngebersihinnya lagi di rumah, Ndah ", begitu curcol Mbak Nana, mentor pengajian Al Galaxyah. 
Ana Setujes, Mbak Nana !

Di antara koleksi buku anak-anak di rumah, manakah  porsi buku yang lebih banyak : buku yang secara tersurat menanamkan nilai-nilai kepada anak (menumbuhkan karakter, keimanan dsb) ataukah buku-buku yang mengasah anak imajinasi dan kreatifitas anak dan membiarkan anak belajar memutuskan sendiri  tanpa harus secara gamblang menyatakan anak harus begini, harus begitu ? 

Hasil pengamatan gw, ada tiga golongan emak-emak dalam memilih buku untuk dibaca anak-anaknya.

Pertama, golongan emak-emak yang lebih condong memilih buku dimana fungsi buku jelas sebagai sumber ilmu pengetahuan. 
Pilihan utama mereka tentu buku yang sarat informasi mulai dari sains sampai ke value ( karakter dan keimanan untuk anak) bahkan what-to-do.

Buku Ensiklopedia, buku-buku yang secara khusus membahas sesuatu sampai detail, buku-buku agama yang secara tersurat menyatakan anak harus begini, begitu dan mengajarkan anak what to do: membersihkan kamar, menyikat gigi, mandi, adab bermain, pokoknya from A to Z semua ada panduannya !

Golongan kedua adalah ibu-ibu yang ingin memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk anak saat membaca buku.  
Biasanya golongan kedua ini lebih menyukai tema cerita yang kuat dan ilustrasi yang bagus
Kalo anaknya udah agak gedean mulai memilih alur cerita yang menarik.  

Ibu-ibu golongan kedua ini biasanya gak terlalu suka buku-buku yang terkesan "menggurui".  
Mereka lebih suka mengedepankan imajinasi dan membiarkan anak belajar menyimpulkan sendiri nilai-nilai baik secara tersurat.

Golongan ketiga adalah golongan suka-suka, asal suka dan seketemunya.

Gw sebenarnya masuk ke antara golongan satu dan dua, tapi dari koleksi buku yang ada di rumah kami, mungkin lebih dominan ke golongan yang kedua.

Pendapat gw pribadi, kecintaan akan buku bukan hanya sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun juga merupakan salah satu makanan jiwa.

Buku yang ingin gw kenalkan ke Athia adalah buku yang memberikan dia proses membaca yang menyenangkan.

Buku yang gw hunting bukan hanya menyampaikan sesuatu atau informasi, namun penulis juga menularkan sentuhan emosi di dalam tulisannya.

Sehingga buku tersebut dapat membuat kita, pembacanya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang tokoh
Kita bukan hanya sekedar membaca, namun seakan-akan ikut serta dalam petualangan cerita.
Terhanyut dalam rasa sedih, rasa gemes, rasa amarah, penuh tawa, dan ikut deg-degan.

Pernah gak baca buku yang begitu dalam meninggalkan kesan di saat kita membacanya sehingga begitu sampai di halaman terakhir, seakan kita kok jadi merasa sedih yaa berpisah dengan ceritanya. 
" Yah kok udahaaan sih... I want more ! "

Bukan berarti gw menganggap buku yang membahas ilmu pengetahuan, mendidik anak harus begini, begitu itu gak penting lho ya.

Mengingat selama ini seringkali kita fokus kepada memaksimalkan kecerdasan intelektual anak, kadang kita lupa untuk mengasah emosi anak.

Makanya gak sedikit anak-anak jaman sekarang gak tau proper way untuk meluapkan emosinya, bahkan gak mengenal apa emosi yang sedang dia rasakan. 
     
Saat ini koleksi buku-buku anak-anak Ibu di rumah , lebih banyak buku import ataukah buku pengarang lokal ? Mengapa anak-anak lebih suka membaca buku import / pengarang lokal ?

Jujur, kalo disuruh milih sudah pastilah, gw akan lebih memilih buku pengarang lokal.
Eh, bukan karena gw sok-sokan biar keren bisa pasang hesteg #LokalSupport lho.

Tapi kan kalo ngebacain anak buku Bahasa Inggris emang jadi PR banget. 
Abis bacain ceritanya dalam bahasa Inggris nya, kemudian harus mikir paraphrase dulu. :p

Kalo baca buku pengarang lokal kan tinggal baca doang, ngatur intonasinya dan penghayatan biar baca ceritanya lebih menarik buat anak.     
  
Masalahnya, buku pengarang lokal yang gw temuin menulis buku kebanyakan berusaha memenuhi keinginan emak-emak golongan pertama.

Somehow gw merasa, mereka cuma menuliskan informasi atau ilmu apa yang ingin mereka sampaikan tanpa memberikan sentuhan emosi di dalam buku tersebut. 
Sehingga ketika saat kami membaca buku seperti itu, rasanya datar banget, garing dan terkesan didactic.

" Laaah.... ini mo cerita apaan sih ? Dari tadi basa-basi gak jelas eh, tau-tau tamat" 
  Gw mencoba untuk gak menyudutkan para penulis lokal genre buku anak-anak. 
Kata Della Firayama, penulis buku Tinta Cinta Sitti Hawwa dan Senja Milik Sandra, emang gak gampang menulis buku anak-anak. 
Itu genre yang paling susah, begitu pengakuannya.

Jadi kami mengkoleksi beberapa buku import. Tapi tetep gw lebih suka sih buku penulis luar namun udah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia.

Tadinya, sedari dulu gw gak terlalu suka baca buku dimana tokoh utamanya anak perempuan dan ceritanya perempuan banget kayak Babysitter, Dear Diary, Malory Towers, St Clare.

Namun, setelah gw udah beranak satu gini, gw justru menikmati cerita Tracy Beaker karangan Jacqueline Wilson.

Edan. 
Cerita anak perempuan yang nakal ini bisa bikin mata gw berkaca-kaca. Padahal ceritanya sama sekali gak ada menyinggung disiksa ibu tiri lah, kesialan bertubi-tubi lah, kayak sinetron Indonesia gitu lho. 

Ceritanya justru mengisahkan betapa nakalnya dan menyebalkannya Tracey Beaker. Hanya saja, cara dia bercerita dari sisi kepala seorang anak kecil yang broken home tepat menyentuh sisi keibuan gw. Huhuhu....

Kalau boleh tau, apa nih buku terfavorit Ibu dan anak-anak yang definitely akan Ibu rekomendasikan untuk anak-anak yang lain ? Mengapa ?
   
Gw agak menemui kesulitan mencari buku karya anak bangsa dan buku islami yang memenuhi kriteria gw ( gak didactic, mengangkat tema yang kuat dan ada sentuhan emosi dalam ceritanya)
Susah ya, bukan berarti gak ada !
Ada sih ada, namun musti pilih bener-bener yang sesuai dengan harapan kami.

Begitu ketemu buku sesuai dengan harapan tuh rasanya bahagia banget. 
Dan tentu buku-buku (yang menurut gw) oke ini akan gw rekomendasikan ke ibu-ibu lain.
#EmakEmakPickyUnite!

Buku-buku Athia di Peron 3/4 yang ingin gw rekomendasikan akan gw tulis di postingan berikutnya ya.

Kalo kalian termasuk pemburu buku golongan nomer berapa ? 
Yuk share buku-buku buat anak-anak yang menurut kalian patut untuk direkomendasikan

6 comments:

  1. Sptnya gw msk ke golongan 2 deh, soalnya buku2 yg gw bacain buat Millie itu rata2 buku anak yg menggambarkan kehidupan sehari2. Jd dia bisa sekalian berimajinasi sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss lah kita, Ye.
      Mungkin nanti kita bisa playdate bareng hunting buku yaaa

      Delete
  2. Hmmm ribet juga kalo semua buku harus kita baca dulu sampe tamat sebelum kasih ke anak. Tergantung usia anak kayaknya ya. Kalo buku nya tipis sih masih ok. Tapi kalo kayak Andrew udh baca novel tebel tebel udh gak ada waktu kita bacain satu satu haha. Modal nya ya baca synopsis dan berdasarkan review si amazon. 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo anak seusia Andrew sih udah bisa membedakan mana yang boleh dan gak boleh kali ya, Man. Yang penting basic nya udah kuat mah dikasih terpaan apaan aja pasti bisa memilih mana yang baik dan mana yang gak baik.

      Delete
  3. kayaknya gue golongan 1 ama 3
    gue seneng kasih buku yang kasih contoh yang bagus buat anak2, kayak kenapa harus gosok gigi, kenapa harus mandi, ya gitu2..
    selebihnya ya berdasarkan seketemunya gue ama buku2 yang ceritanya lucu buat anak2.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha....gw juga kadang masuk golongan emak nomer 1, biar anaknya melahap ilmu. Tapi mungkin karena gw tau anak gw bakalan kayak emaknya, jadi takut bete aja kalo semua bukunya aliran golongan nomer 1, makanya diselingin aliran golongan nomer 2

      Delete