5.13.2014

Jodoh Yang Tertunda

Setelah gw baca-baca lagi journal pencarian sekolah Athia, sesuatu yang duluuuu banget pernah mengganjal di hati gw, sepulang dari FieldTrip yang lalu, samar-samar kok jadi mulai hadir kembali.

Ditambah lagi, sejak gw pindah rumah, mbak nya Athia menemui kesulitan nganterin Athia naik motor ke Rumah Kepik. Soalnya kan musti nyebrang jalan raya dan mbak Athia yang sekarang masih kecil. Jadilah beberapa bulan belakangan ini Athia naik jemputan Rumah Kepik. 

Tapi solusi naik jemputan ini juga bukan bener-bener solusi yang effektif. Karena Athia harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih siangan. 

Tambahan lagi, mulai tahun ajaran baru kelak, Rumah Kepik sudah secara resmi menyatakan keberatan dan tidak bersedia mengantar jemput Athia. Karena katanya kalo ngejemput Athia, anak-anak jadi pada telat karena traffic di kompleks gw kan kalo udah siangan emang macet.

Duh, makin bertambah alasan gw untuk memindahkan Athia ke sekolah yang lebih dekat.

Dari sedikit pilihan, gw tertarik dengan satu sekolah yang bertema Islami gak jauh dari rumah gw. Setelah janjian dengan salah satu staff sekolah, gw sengaja ambil cuti dan ngajakin Athia trial di sekolah tersebut.

Dari materi seminar Bijak memilih Kurikulum yang masih nyangkut di otak gw, Pak Faisal pernah mengingatkan kalo kita cari sekolah jangan lupa memperhatikan beberapa point yang kadang suka diremehkan sama orang tua.

Salah satu point yang musti kita perhatikan adalah temui Kepala Sekolah nya.
Cobalah mengobrol dengan kepala sekolahnya.  Cari tau visi, misi dan pandangan dia mengenai pendidikan anak-anak dan sekolah yang dia pimpin.

Tanyakan juga jadwal kepala sekolahnya datang ke sekolah.
Sebenarnya tujuan kita mencari tau kepala sekolah ini adalah supaya kalo ada kejadian yang menimpa anak kita misalnya anak kita diperlakukan tidak adil, dibully teman-temannya, kita bisa dengan mudah melaporkan kepada kepala sekolah dan meminta dia melakukan tindakan.

Malah Pak Faisal menyarankan jika dirasa perlu tanyakan program pelatihan para guru di sekolah itu untuk mengetahui apakah kompetensi guru-gurunya diapdet secara reguler oleh pihak sekolah. 
Tapi yang satu ini kemarin gak gw lakukan sih. Bukan apa-apa, gw takut kebablasan jadi ngaudit sekolahannya. Hahaha...

Jadi, pas gw nanya apakah gw bisa bertemu dengan kepsek calon sekolah bertema Islami ini. Jawabannya agak errr...kurang meyakinkan.
Katanya untuk sementara gw belum bisa bertemu dengan kepala sekolahnya. Gw pikir karena hari itu kepseknya gak datang. Terus gw nanya lagi dong, kapan bisa janjian sama kepseknya.

Staff sekolah memberi statement bahwa gw mungkin gak bisa menemui KepSek dalam waktu dekat. DEG !
" Oh KepSek nya lagi cuti hamil, Bu ? " pancing gw, menutupi prasangka-prasangka yang mulai bertanya-tanya di kepala. 
Staff sekolah menjawab luwes " Oh bukan, Bu. Kepala Sekolahnya lagi sakit..."
Gw coba pancing lagi, " Tapi kalo udah sembuh, kepsek nya tiap hari ada di sekolah kan ? "
Staff Sekolah dengan lempengnya, " Ya gak tiap hari sih, Bu. Jarang-jarang juga..."

Gw manggut-manggut.
Keingetan kata Pak Faisal lagi, " Kalo pas Ibu baru mau memasukkan anak Ibu sekolah di situ, eh kepSek nya udah susah untuk ditemui. Nah, Ibu bisa bayangkan gimana kalo suatu hari nanti kalo Ibu mo menemui kepSeknya karena ada masalah dengan anak Ibu ? "

OKESIP, Pak, I've got the point.
Athia dan Emaknya juga kayaknya kurang sreg dengan lingkungan sekolah yang errrr...rada berantakan dan kurang tertata rapi.

Nyaris hopeless, gw kepikiran apa Athia lanjut di sekolah yang lama ya ?
Entah apa yang menggerakkan gw pagi itu, gw gugling di Internet mencari beberapa kandidat sekolah lain. 
Ada yang pendaftarannya udah tutup. DEG ! Pegimana inih ?

Namun gw berhasil membuat janji datang ke satu kandidat sekolah. 

Berbeda dengan staff sekolah yang sebelumnya, Mbak staff sekolah ini malah menawarkan dengan ramah, " Nanti Ibu bisa bicara langsung dengan kepala sekolahnya...."

Oh, OK. Marilah kita coba sekolahan yang satu ini.
Kandidat sekolah ini sebenarnya gak asing lagi buat gw dan Athia. Namun, selama ini gw kurang memprioritaskannya karena jujur, gw suka membandingkannya dengan Rumah Kepik. 
Yah Metode pengajaran, guru-gurunya, fasilitas sarana dan prasarana sekolahnya. 
Gak salah juga kan ya ? #pembelaanDiri

Sabtu pagi, sebelum ke sekolah untuk Coffee Morning di Rumah Kepik, gw mampir dulu ke kandidat sekolah ini. Kali ini gw dan Hani duduk di ruang kepala sekolah dan mengutarakan apa harapan kami tentang sekolah Athia.

Sembari nunggu, Athia sendiri langsung duduk di ayunan. 
Dari obrolan gw dan kepala Sekolah, gw mendapatkan informasi implisit kalo kepseknya datang setiap hari di sekolah.

Gw mengamati (kembali) gimana guru-guru berinteraksi dengan murid-muridnya. 
Penilaian gw masih sama seperti kala itu.

Zaman mungkin sudah berganti. 
Sekolah pun banyak yang 'menjajakan' metode pengajaran yang lebih terkini untuk mengimbangi globalisasi. 
Tapi kenapa sekolah ini masih keukeuh dengan konsep yang diusungnya sejak jaman jebot ? 
Emang gak bakalan ketinggalan zaman ya dibanding sekolah-sekolah yang lain ?

Tapi melalui obrolan sante dengan KepSeknya, gw berusaha gali terus apakah pandangan, visi, misi sekolah mengenai Pendidikan Anak Usia Dini sejalan dengan pemahaman gw.

Sepulang dari kandidat sekolah baru Athia, kami melangkah ke sekolah Athia untuk menghadiri undangan Coffee Morning di Rumah Kepik. 
Melihat bagaimana ide-ide kreatif yang ditampilkan para siswa hari itu, mendengar penuturan kata sambutan dari Ketua Yayasan sekolah, jujur gw harus mengatakan bahwa Rumah Kepik sangat bagus konsep pengajarannya.  

Di luar dugaan, dalam kata sambutan Ketua Yayasan Sekolah, beliau justru menyanjung komitmen dan pemikiran konsep PAUD para pendiri kandidat sekolah Athia yang kami datangi sesaat sebelum ke sini. 
Apakah-ini-pertanda ?!
    
Belum lagi sesaat gw melangkah masuk ke ruangan seminar, gw seakan menyaksikan lagi apa yang pernah mengganjal di hati gw.  
Dan walopun ibu-ibu yang hadir terlalu takjub melihat kemampuan anak kami, mungkin gw satu-satunya ibu yang merasa agak kurang nyaman.

Salah satu yang bikin gw merasa agak kurang nyaman itu, gw coba urun pendapat ke Yudith. Karena kok gw liat ibu-ibu (terutama yang berjilbab hahaha) yang hadir pagi itu fine-fine aja ya. Untunglah Yudith mendukung dan memahami apa menjadi concern gw.

Ohya, selang beberapa hari kemudian, gw baru ingat film " Anak-Anak Yang Sibuk " yang gw tonton di KidsToday beberapa minggu yang lalu. Anak-anak sekarang terlalu sibuk sehingga mereka kekurangan waktu bermainnya. 

No wonder, kemarin kepala sekolah calon sekolah Athia bilang kelas anak TK di sekolah itu dalam satu minggu cuma ada 4 hari sekolah. 1 hari khusus diperuntukkan untuk ekskul saja. Mungkin maksudnya biar kalo anak-anak masih mo ngambil kelas ekskul, tidak mengurangi waktu bermainnya. 
Mungkin lhoo yaaa....

Kemudian gw mikir, Iyes kelleus yes.
Mungkin gak semua harus berubah demi mengikuti perkembangan zaman. 
Kadang ada juga hal-hal mendasar yang sebenarnya gak perlu berubah.

Balik lagi ke yang dibilang Pak Faisal, saat memilih sekolah baiknya sesuaikan dengan tujuan dan rencana pendidikan anak. 

Tujuan dan rencana pendidikan orang tua anak yang satu dengan anak yang lain bisa jadi berbeda.
Nilai-nilai yang diharapkan oleh orang tua si Pulan bisa jadi berbeda dengan harapan orang tua si Anu.
Dari apa yang gw tangkep, sejauh ini nilai yang ingin ditanamkan di kandidat sekolah baru Athia ini kebetulan emang sejalan dengan apa yang kami inginkan.

Ohya, kami ingin mengucapkan makasih buat Tante-Tante Rumah Kepik dan Ibu Anastasia Suratman yang sudah mendidik Athia selama beberapa tahun bersekolah di Rumah Kepik.
Masa-masa di Rumah Kepik tentunya akan menjadi memori yang gak terlupakan buat Athia dan kami orang tuanya.

Ok, let's Move on, shall we ?

Bismillah.
Akhirnya setelah tertunda beberapa tahun, Athia berjodoh juga dengan sekolah ini.

PS: Nama kandidat sekolah emang sengaja tidak disebutkan di sini demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

11 comments:

  1. mba indah, pas milih sekolah buat nody aku juga baca blognya mba indah loh. sempat mau trial di kepik tapi karena harus hari kerja , ga jadi deh. akhirnya aku masukin ke tk dalam kompleks deh, yg dekat lapten hehehe..sekolahnya kan cuma sabtu tuh. jadi aku bisa anterin.

    ReplyDelete
  2. Gue sama Mr. Y peserta seminar Pak Faisal juga sampai tips2x beliau kita coba terapin pas milih SD Zia.
    MMg susah banget Ndah milih sekolah yg sreg di hati, tapi mau gak mau akhirnya gue bikin list minimal yg harus ada. Ini sekolah Z sbnrnya gak sreg di hati krn pakai bahasa Inggris, tapi krn cara guru mendorong anak belajar out of box terus bagaimana cara memahami agama (gak sekedar belajar dosa dan pahala), kami memilih SD utk tahun ajaran depan. Semoga Athia senang ya Ndah :)

    ReplyDelete
  3. Judulnya sangat membuat orang penasaran sebelum membaca,,, untuk Athia semoga betah yah belajarnya dan menjadi anak yang berprestasi di kelas dan membanggakan nama sekolahnya :)

    ReplyDelete
  4. Memang terkadang sulit memilih sekolah buat anak, karena mamenag banyaknya kriteria yang ada di otak kita. Padahal metode pengajaran di sekolah juga bagi tiap anak akan berbeda. itu baru satu sekolah. Ayahnya anak-anak gak pernah memikirkan ini begitu pelik, yang penting anak bisa mengerti hak dan kewajibannya, terutama dalam norma Islam.

    ReplyDelete
  5. @ Mbak Windhy
    Aku juga nyari yang gak jauh-jauh dari kompleks kok.
    Di kompleks aja ternyata juga banyak banget sekolahaan. Hihihi...

    @ Tyas,
    Emang gak ada sekolah yang maha sempurna ya.
    Contohnya aja, Ada sekolah bonafide yang menurut gw methode pengajarannya keren bingits, eeeh tetep aja kata temen gw, WC nya jorki. Hahaha

    @ Mas Irfan,
    Amin
    Makasih do'anya, Mas.

    ReplyDelete
  6. @ Mbak Putri,
    Apanya yang keren, Mbak ? :p

    @ Mbak Henny,
    Karena tiap keluarga punya tujuan dan rencana pendidikan yang berbeda, Mbak.
    Ada yang mengutamakan pendidikan akhlak.
    Ada yang mengedepankan prestasi akademis.
    Yang terpenting, semuanya punya tujuan yang baik buat anak masing-masing. :D

    ReplyDelete
  7. ndah, waktu SMA aku sekolah di sebuah SMAN pinggiran (tapi sekarang sudah masuk top 5 di Surabaya, hahaha.. mejik!). deket banget dari rumah. jalan kaki paling cuma 10 menit. dalam kompleks lah. memang waktu itu, SMAN itu bukan yg terfavorit dan terpintar dll. tp dari segi jarak aja, aku sudah sangat diuntungkan karena NGGAK CAPEK dijalan. aku jadi punya waktu untuk pulang ke rumah, mandi, tiduran sebentar, sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya (les/kursus).

    ReplyDelete
  8. Semoga athia betah ya dan sekolahnya bagus

    ReplyDelete
  9. @ Memy,
    Enaknya kalo rumah deket sama sekolahan kayak kamu gitu, Mem, kalo mo pipis mendingan pulang, pipis di rumah. Terus kalo buku PR ketinggalan kan gak dihukum, soalnya bisa pulang dulu ngambil PR.

    @ Novi,
    Amin, Nov. Iya sekarang Athia jauh lebih hepi. Soalnya guru-gurunya yang di sini lebih sabar ngadepin Athia.

    ReplyDelete
  10. Assalamualaikum mbak..inspiratif banget tulisannya. To be honest,sy sedang galau pilih sekolah. Sementara ini uda ada yg cocok di duren sawit,tp masih kepikiran rumah kepik.
    Lalu baca tulisan mbak jadi penasaran,sekolah apa yg dimaksud? Boleh share info mbak?
    Tengkyu berattt :)

    ReplyDelete