12.03.2013

Value, Not Amount

Sewaktu liburan ke Bangka kemarin, ada pertanyaan yang bikin DEG, yang gw yakin mungkin gak sengaja terlontar dari sodara gw " Emang kalian gak diwariskan sepetak pun dari tanah warisan keluarga kalian di Bangka sini ? Sayang lho, sekarang Bangka udah jadi propinsi. Sekarang harga tanah Bapak kalian itu jadi mahal blablabla..."

Ada luka lama yang udah mulai sembuh, namun kini terasa menganga kembali bak dikucuri jeruk nipis. 
Pedih dan nyeri.

Almarhumah Nenek gw meninggal satu tahun setelah kelahiran gw, sebelumnya beliau mewariskan hektaran tanah untuk dibagikan sama rata kepada ketiga orang anaknya yang masih hidup. Salah satunya adalah alm bokap gw.

Dengan meninggalnya alm abang gw dulu, maka hanya tinggallah kami bersaudari keturunan bokap gw dimana ketiga-tiganya adalah anak perempuan. 
Hukum dalam Islam memberikan sedikit celah untuk jadi pembenaran bagi keponakan laki-laki bokap gw merasa berhak sebagian dari tanah warisan dari bokap gw.

Ah, Gw masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi dengan romantika tanah warisan tersebut. 
Awalnya, kami bertiga gak ada yang tertarik untuk ikut campur dalam tanah warisan alm bokap gw.

Namun ketika gw duduk di bangku kuliah, gw emang sempat mempertanyakan keputusan alm bokap gw. 

Kenapa alm bokap kami gak memikirkan untuk mewariskan tanah warisannya ke kami, anak-anaknya malah membiarkan keponakannya menjual tanah warisan bagian alm bokap gw. 
Bukankah sepupu kami ini seharusnya sudah dapat bagian warisan dari orang tua kandungnya sendiri. 

Bukan karena gw serakah ingin mengangkangi warisan bokap gw, hanya saja....ok, I was mad. I was angry. 
Geram. Dengan sepupu gw.  
It's just not fair, you know !

Alm bokap gw tersenyum sebelum menjelaskan ke gw yang ngomong pake napsu dan berapi-api. 
Saat kami duduk berdua di teras depan rumah itulah, beliau mencontohkan jika kelak gw menjadi orang tua dan tidak membekali anak-anak gw dengan ilmu, maka akan seperti itulah gambarannya.

Yang gw (akan selalu ) inget (untuk selamanya) adalah itulah alasan kenapa beliau gak mengumpulkan banyak harta agar bisa diwariskan ke kami. 

Namun selama beliau masih sanggup, beliau merasa bertanggungjawab agar gw tetap bisa mendapatkan pendidikan yang baik.
Dengan begitu, kelak gw bisa mendapatkan apa yang gw inginkan tanpa harus bergantung pada warisan dari siapapun.

Waktu itu, gw gak menyerapi intisari maksud obrolan bijak alm bokap gw. 
Gw biarkan sisi berontak dalam jiwa gw mengatakan bahwa itu cuma alasan bokap gw aja untuk ngeles dari pertanyaan gw.
Hati kecil gw tetep gak terima.

.........hingga hari itu, 3 November 2013

Gw berdiri menatap lahan yang dulunya kebun ilalang sekarang menjelma menjadi rumah-rumah yang mulai tumbuh. Gak pernah kebayang kalo dulu sepanjang mata memandang hanyalah pohon karet, sekarang bergeser menjadi hunian yang mulai rame.

Seperti yang sodara dari nyokap gw bilang, gak tersisa sepetak pun dari tanah nenek gw ini diwariskan kepada keturunan bokap gw.

Gak munafik, hingga saat itu masih ada rasa yang berkecamuk di hati gw. 

Entah kenapa, dalam pengamatan gw dan setelah merenung beberapa lama, gw mulai memahami apa yang diomongin alm bokap gw di teras rumah kami sore itu.

Perlahan, Gw mulai bisa melepaskan semua yang sedang berkecamuk, dan mengemasnya sedemikian rupa. 
Sehingga ketika gw mendatangi sepupu gw, gak satupun di antara mereka yang menyadari bahwa pernah ada bara dalam sekam. 
Walopun kini mulai meredup, belum berarti mati total.

Ada perasaan lega sekaligus terharu ketika melihat sebuah Musholah berdiri garang di sebidang lahan yang diwakafkan alm bokap gw. 
Akhirnya cita-cita alm bokap gw di menjelang sisa umurnya tercapai. 
Sayang, beliau gak berkesempatan melihat Musholah itu berdiri dan menjadi imam shalat ketika beliau masih hidup.

Ketika kemudian, pertanyaan yang bak memercik api dalam sekam itu dihadapkan kembali ke gw, gw cuma menarik nafas panjang dan tersenyum sebelum menjawab .....

" Belum disadari aja, kalo sebenarnya Atok ( panggilan gw ke alm bokap gw) udah mewariskan banyak hal....
Dia wariskan ilmu kepadaku, 
Dia wariskan aku leadership,
Dia wariskan aku kemampuan orasi dan public speaking,
Dia wariskan aku supaya punya prinsip dalam hidup ini 
yang kemudian semua yang diwariskan menjadi bermanfaat dalam perjalanan hidup aku..."

Gw gak mencoba menyombongkan diri kalo kemudian gw sekarang menjadi tajir.
Gak sama sekali karena emang masih jauh untuk ukuran itu.

Tapi gimanapun gw harus mensyukuri bahwa gw sedikit lebih beruntung dengan apa yang diwariskan oleh orang tua gw sehingga Alhamdulillah gw bisa memperoleh my own vehicle  , membangun istana gw sendiri, masih bisa travelling,  bisa menyekolahkan anak gw di sekolah yang baik.

I have inherited VALUE, not AMOUNT from my oldman.
Values that I can utilize to conquer this life.

Oh yes, Life is tough..sometime even cruel.
Alhamdulillah, we still survive !

The same thing sedang disiapkan untuk diwariskan ke Athia : Value.

Thank you for inspiring me, Dad. 
I love you !

Xoxo,
Your Proud Daughter

16 comments:

  1. Keren Bu... Ilmu dan kebaikan yang diwariskan sama bokap lu itu, jauhhh melebihi kekayaan duniawi (walaupun kalau dikasih juga gak nolak haha).

    Anyway, soal warisan dalam hukum Islam itu kadang membuat gue rada bingung. Tapi gara-gara itu juga elu dapet warisan yang beda ya dari bokap.

    ReplyDelete
  2. @ Leony,
    Iya...jangankan loe, gw aja masih belon paham sepenuhnya. Yang penting hidup bahagia ajalah. Siapa tau ada milyarder yang mo warisin sebagian hartanya ke gw. Wakakak

    ReplyDelete
  3. jd inget bapakku, dia sll bilang ilmu yg utama yg diwariskan...kmu hebat ih mba indah, pasti atok bangga bener sm kmu :)))

    ReplyDelete
  4. Beruntungnya dirimu, Ndah punya figur ayah sangat bijaksana. Pasti beliau bangga sekali punya anak perempuan yang hebat :).

    ReplyDelete
  5. ah yaa bener banget warisan ilmu ga akan abis...malah jadi berguna banget buat masa depan kita kan..

    ReplyDelete
  6. soal warisan aku juga kurang ngerti bahkan bingung, tapi benar juga ya bapaknya semua bisa dimiliki tanpa bergantung pada warisan

    ReplyDelete
  7. tapi kan lebih baik lagi kalo juga dapet value dan amount, ya gak ndah? *kembali mengorek luka lama* huahahaha

    ReplyDelete
  8. eh kayaknya tadi gua salah pake id nya esther ya... :P

    ReplyDelete
  9. harta memang perlu. tapi warisan ilmu akan lebih berharga.

    ReplyDelete
  10. keluarga ibuku yang gitu Ndah....beda sama keluarga bapakku.
    emang terasa sekali bedanya....warisan ilmu itu jauhhhh lebih bikin kita kaya dibanding cuma warisan harta, yang akhirnya pun bisa bikin gontok2an

    toh kita akan jauuuuh lebih merasa bersyukur kalau apa yang kita punya sekarang itu murni dari keringat dan darah kita
    *membesarkan hati buat diri sendiri*

    ReplyDelete
  11. Warisan oh warisan.... Sedikit banyak pasti bikin ribut. Makanya gue setuju banget sama alm bokap lo yang memilih ikhlas. Keren bgt keputusannya 👍👍👍

    ReplyDelete
  12. Iya gw juga sampai sekarang ga ngerti soal warisan2 yaaah.. hihi Tapi bersyukur banget ya Ndah, lebih indah kalau bisa dapet semuanya atas usaha sendiri.. walaupun kayak yang lain bilang kalo dikasih mah ya ga nolak.. muahahaha.. :P

    ReplyDelete
  13. sama kayak bapakku mbak. beliau sering bilang, "aku memang nggak bisa membekali kalian dengan apa-apa, aku hanya bisa menyekolahkan kalian. dengan ilmu yang sudah kalian perolej itu, silakan mencari harta sendiri"

    ReplyDelete
  14. Dear Mbak Indah,

    Salam kenal dari saya Inong yang sudah beberapa bulan ini jadi silent readernya :-)

    Suka banget kalau Mbak Indah cerita tentang kebanggaannya terhadap almarhum Ayah di posting-posting sebelumnya. Dan entah kenapa, pas baca posting yang ini, saya jadi terharu banget :-) Dan jadi seperti pengingat buat diri saya sendiri :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mbak Inong, salam kenal juga.
      Ini juga pengingat buat aku mendidik anakku kelak, Mbak.

      Delete