6.13.2013

Session 3 : It wasn't Wrong Decision At All

Waktu menyelenggarakan seminar tetralogy tahun kemarin, Session 3 Ketika Anak kecanduan Games merupakan session yang paling sepi.

Setelah gw mengorek-korek dari peserta yang ikut session lain, alasan mereka skip session 3 rata-rata sama.
" Anak mereka belum kecanduan games,"  
" Gak mungkinlah anak mereka kecanduan games. " 
" Emang seberapa sering sih anak maen games."
" Kalo kecanduan games, tinggal buang aja gadget nya."

Ah, C'mon. No big deal.

Yah, gw (dan Supermoms Indonesia) sangat menghargai alasan mereka.
We are sure the parents know what's the best for their children. 

Namun walau begitu, Gw yakin apa yang dirumuskan untuk menjadi topik seminar oleh Ibu Elly Risman and team bukanlah sesuatu yang hanya sekedar sekelebat muncul di pikiran perumusnya. 

Pasti melalui suatu proses research yang panjang sehingga Ibu Elly Risman dan Yayasan Kita dan Buah Hati sampai merekemondasikan topik Kecanduan games pada anak ini diangkat menjadi suatu topik seminar.

Beberapa bulan setelah gw kelar mengikuti seminar session 3....

Gw mengamati satu anak laki-laki yang lagi lucu-lucunya. Gw perkirakan dia berusia sekitar 5-6 tahun.
Ibunya nampak sedang menikmati acara kumpul-kumpul dengan teman-temannya, saat anak tadi meminta pulang.

Ketika ditanya Ibunya kenapa anak keliatan tidak nyaman di restoran tersebut, alasannya simple saja. Rupanya alasan anaknya sedari tadi merengek minta cepetan pulang karena sang anak pengen maen games di rumah. 

Merengek dan gelisah sepanjang acara. 
Sampai kemudian sang anak melihat salah satu gadget teman ibunya. Di luar dugaan kita banget, anak kecil zaman sekarang tuh jauh lebih pinter ya. Dia meminjam gadget teman ibunya. Yah teman ibunya pun tidak keberatan meminjamkan gadgetnya. 

Sang anak mencari games di gadget teman ibunya tersebut, namun sayang dia tidak menemukan games apa-apa. Karena temen ibunya tidak menginstall games apapun di gadgetnya. 

Kenapa gw bilang sang anak jauh lebih pintar ?
Karena sang anak bisa menemukan playstore di gadget teman ibunya dan masuk menginstall games dari playstore tersebut.

Frankly speaking, gw tercengang melihat pemandangan itu. 
You know, Folks,, this kid is even smarter than me !

Memang untuk beberapa saat dia gak kepikiran soal games, namun gak lama kemudian dia pasti akan kembali minta pulang karena mau maen games di rumah.

Dari cerita ibunya yang gw dengar, ibunya lah yang pertama kali memperkenalkan games ke anaknya di PC. 
Dari alasan sejuta ibu : mainan yang ditujukan untuk menstimulasi otak anak sampe biar anaknya anteng sementara ibunya bisa melakukan hal yang lain.

Kejadian lain.
Waktu gw datang di Tea Party di Sekolahan Athia beberapa minggu yang lalu, salah satu acara adalah adanya semacam seminar kecil. Pembicara yang diundang merupakan terapist anak berkebutuhan khusus.

Di luar anak-anak yang memang berkebutuhan khusus dari lahir, ada fenomena baru yang menggiring orang tua di zaman Digital ini mengirimkan anaknya ke terapi sensori integrasi.

Jadi sekarang yang antri di terapi sensori integrasi itu, bukan hanya untuk anak-anak yang kehilangan sense rasa takut ato rasa takut berlebih saja. Mereka yang harus antri di terapi sensori integrasi (sekarang masih sedikit) juga termasuk anak-anak yang selama ini terlalu lama berinteraksi dengan....ipad/tab.

Menurut pembicara seminar Rumah Kepik pagi itu, saat ini ada banyak anak-anak usia SD mogok menulis di sekolah.

Menulis itu perlu effort lho.
Dan anak-anak itu sudah terbiasa mempergunakan tangan mereka dengan " touch screen " sehingga gak mo lagi menulis.

Ah masa sih ?
Tapi gw sebenarnya percaya...karena ibu ini adalah terapis di salah satu klinik tumbuh kembang. Tapi...tapi...tetep aja masa sih ada kasus beginian ?

....dan emang bener adanya.
Ibu tadi praktek di salah satu klinik tumbuh kembang di Cipete.

Sementara di Salah satu RS yang menyediakan tumbuh kembang di Bekesong, ada yang cerita sama gw kalo bener adanya kasus tersebut.

Yang cerita sama gw ini bilang kalo dia ngeliat ibu-ibu muda dan bapak-bapak muda lagi nungguin anaknya di terapi SI.
Yaah...biasalah ibu-ibu suka mo tau aja.
Salah satu ibu (kayaknya penghuni lama) yang juga lagi nungguin anaknya terapi di kelas lain, kepo nanyain salah satu ibu (yang pemaen baru) kenapa anaknya harus diterapi SI. 

Eiym. Mo tau aje ye.

Ibu tadi mengaku bahwa anaknya sebenarnya dulu bukanlah anak berkebutuhan khusus. 
Dia memasukan anaknya ke terapi SI ini dikarenakan anaknya sudah dua tahun berturut-turut gak naik kelas. Ohya, anaknya duduk di kelas 2 SD.

Bukan karena anaknya mengalami kesulitan fokus dalam mencerna pelajaran.
Bukan karena anaknya tidak pandai.
Tapi karena anaknya malas menulis.
Lagi-lagi karena sedari kecil udah terbiasa bersentuhan dengan ipad.
Yang dengan ngeluarin tenaga seicrit sedikit aja, dia bisa mendapatkan apa yang dia mau.

Jadi anaknya gak mo nulis. 
Gak cuma gak mo nulis. Bok, anaknya gak mo ngapa-ngapain.
Tangannya cuma mo dipergunakan untuk dua hal : makan dan maen ipad.
Selain dari dua kegiatan itu, dia males. 
Termasuk ketika harus bersosialiasi dengan orang lain.
MALES. Period.

Anak dari bapak muda yang sedang memegang ipad itu juga mengalami kasus yang sama. 

Gw pikir anak itu males beraktivitas karena *duh, maap ya*...overweight.
Tapi yang cerita sama gw menyangkal teori gw " Gak. Dua-dua nya gak overweight kok. Dua-duanya malah cenderung skinny "

So, Ok, whateverlah.
Tap jelasnya, ada dua anak (yang ketauan) aja yang butuh terapi SI itu di klinik di bekasi . 
Dengan orang tua yang berbeda. 
Artinya ada dua kasus. 
Dan ohya, itu baru ketemu di hari itu dan jam kelas segitu aja. 
Entahlah, apakah masih banyak anak yang tadinya bukan anak berkebutuhan khusus namun akhirnya memerlukan terapi yang sama di hari dan jam yang lain.

Kenyataan ini bikin miris gak sih ?

You don't know idea bagaimana emak-emak dengan anak berkebutuhan khusus harus berjuang bersama supaya anaknya bisa punya masa depan selayaknya anak-anak lain.

Sementara ada anak-anak yang tadinya sempurna lahir batin, namun kini harus berjuang bersama anak-anak berkebutuhan khusus lainnya dikarenakan kekhilafan kita sebagai orang tuanya.

Yah gw juga sih. 
Kadang #gwbanget tuh suka ngasih Athia apapun yang dia sukai asalkan dia bisa anteng. 

Give him anything. Anything he like.
Asalkan dia bisa diam dan gw leluasa melakukan apa yang juga gw sukai.

Oh well, maap maap aje ya, biasanya gw ngamatin gadget adalah senjata paling mematikan ampuh.
Anak biasanya langsung diem dan sibuk maen apps di gadget.
Bukan begitu, bukan ?
*namun, sayangnya Athia gak demen tab gw. Dia lebih suka narik-narik gw untuk maen smack down, ato rebutan cemilan gw. Hiuufff...*

Tapi, pesan Bu Elly Risman di setiap seminar yang selalu menohok jantung gw setiap kali gw mengingatnya.
" Cukup anak orang yang begitu. Jangan anak kita "

Gw baru menyadari dibalik session 3 kemarin : (keliatan) remeh tapi ternyata penting ya...
Sayangnya, masih banyak orang tua yang gak ngeh...

Jangankan yang skip seminar.
Yang udah paham, udah ikut seminarnya, udah denger cerita ini, tapi tetep aja kan ..kan..kan..#lagi-lagi #GwBanget

Makasih banget buat Bu Elly Risman dan Yayasan Kita dan Buah Hati yang kepikiran untuk menjadikan Kecanduan Games ini sebagai salah satu topik seminar. 

Dan group hug buat semua temen-temen gw di Supermoms Indonesia ...
Siapapun yang udah milih dan akhirnya mutusin " Ketika Anak Kecanduan Games" kemarin menjadi salah satu topik dalam Seminar Tetralogy kita. 

Session 3 kemarin mungkin tergolong sepi peserta, namun sesungguhnya kita gak salah pilih kok...

Tengkyu ya, Ladies...

Jaga baik-baik anak bangsa di tangan kita, ya parents....
Karena masa depan mereka yang sedang kita pertaruhkan.
Karena masa depan mereka yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. 

#ngomong sama mirror depan gw
#self reminder buat gw dan Hani.   

19 comments:

  1. Sering gw perhatiin makan di resto sekeluarga gak berkomunikasi samsek, semua sibuk pegang gadget. Sedih banget ada keluarga kebersamaannya hanya fisik saja bukan secara emosional seperti itu. Terima kasih atas sentilannya mbak Indah :)

    ReplyDelete
  2. melongo.....asli tercengang membacanya...*aku aslinya pingin banget dengar dan ikutan live seminar bu elly risman..*semoga suatu saat nanti..
    mbak asli fenomanamu itu nggak hanya di kota besar...kota kecil se iprit tanjung uban ini udah ada kenyataannya..kawanku kerja...awalnya begitu bangganya mengatakan..anaknya pinter main games bahkan download sendiri game ini lah itulah zombie lah..asli dan pamer ke kawan kawan kantor lainya..anakku lho baru 3.5 tahun udah pinter main ni itu..bahkan we chat ke kawan kantor lainnya aja udah bisa...nggak mau sekolah kalo nggak bawa HP smartphone..PAUD sekolahnya..terus nggak mau belajar menulis katanya belajarnya di HP aja...dan aku heran kenapa kawanku ini manut sahaja..mengalah dengan anaknya yang katanya tantrum setiap gak boleh main game...dan dia mengalah.mengiyakan....alhamduilah selama ini kinan saya kerasin..kalo saya bilang tidak artinya tidak.. biar dia tidak merengek dan alhamduillah mengerti.....ada kalanya memang kita harus keras dan disiplin biar bener2 tidak kecanduan...dan lebih banyak aktifitas outdoor atau aktifitas fisik

    ReplyDelete
  3. Semoga gw bs mendidik millie dgn bnr *berdoa* Aminnnn..

    Kejadian d lingkungan gw Ndah,anaknya udah d jejelin ipad,anaknya bs maen ipad dr siang smpe magrib ga berenti2, mkn aja ga, emaknya? Cm manggil doang,anaknya nengokpun ga,matanya melotot aja ke ipad. Gw gregetan pengen ambil itu gadget, tp gw mls dah, wong emaknya aja ga peduli -__-"

    ReplyDelete
  4. noted! bgt Iiin..tfs yaaa :)

    ReplyDelete
  5. Ndah, penasaran.. Saran bu Elly gimana ya?
    Tetep bole game dengan dibatasi atau stop sama sekali?
    Gw termasuk sering minjemin tablet ke ponakan, supaya disambut hangat kalo gw dateng hahaha..

    ReplyDelete
  6. Mba Indaaaaah...berasa di tampaaar... Anak aku emang cuma sesekali siiih mainan games di HP aku, trus tapiiii rencananya ultah dia nanti pengen beliin gadget buat dia sendiri dalam rangka ya itu tadi, biar dia anteng dan mainan edugames endebra endebra
    Abis baca ini langsung urungkan niat... TFS ya Mbaaaa :)

    ReplyDelete
  7. @ Twolittekoalas,
    ya gak memungkiri kadang pun aku dan suami masih suka gitu sih, Mbak.
    Dan Athia kadang suka ngeliatin aku lama gitu dengan tatapan melas minta diperhatiin. Abis itu aku nyesel banget udah nyuekin dia. Biasanya kami bertiga langsung bergumul main hahaha...

    @ Mbak Arti,
    Emang jaman sekarang kan kalo anak kita gak pegang ipad/tab, artinya gak gawol. Istilah Bu Elly " ber-ipad anak orang, ber-ipad anak kita ". Semoga kita bisa lebih wise ya mbak...

    @ Yeye,
    Nah yang kayak gitu tuh yang bikin anak jadinya kecanduan ipad. tapi yah kita cuma bisa menjaga semoga kita gak kayak gitu

    ReplyDelete
  8. @ Umnad,
    Kalo Umnad pastinya lebih wise dooong....kan ummi bijak. Hihihi

    @ Ine,
    Boleh aja kok maen ipad. Tapi batasin dan awasin.
    Batasin berapa lama dia maen games di gadget. 2X 15 menit cukup buat anak maen games di gadget.
    Sisanya ? Mending aktivitas fisik yang riil.
    Masa iya seharian maen futsal, tapi yang bergerak cuma jari. Kan mending olahraga beneran.
    Takut Kotor ? kan ada rinso, Mamaa... #iklan niye...

    Terus dampingin terus apps yang dia mainin. Jangan sampe dia mainin apps yang cenderung ngajarin kekerasan, dan hal-hal negative lainnya.
    Intinya itu aja kok, batasin, dampingin dan sepakati rambu-rambunya dengan jelas di awal.

    @ Reyliarey,
    hahaha...mo lebih ditampar Bu Elly lagi gak ?

    Punya anak = sudah siap resiko dirempongin, direcokin. #JLEB SE MAKJLEB.
    iya juga sih. Aku juga sama sih kayak Rey. Pengennya Athia anteng. Diem. gak gangguin kita dengan apa yang lagi kita kerjain.
    Tapi yaaah...namanya juga punya anak.
    Emang yah dirempongin, direcokin gini.
    Cuma beberapa tahun kok dirempongin gini...selebihnya mungkin dia akan sibuk bersosialisasi dengan teman-temannya.
    Nikmatin aja masa-masa dirempongin anak, Rey.
    #PESAN UNTUK DIRI SENDIRI juga sih

    ReplyDelete
  9. Sampe males nulis dll dan gak naik kelas itu seremmmmm banget. Duh masalahnya aku sendiri sehari2 selalu pegang gadget ga pernah ngga. Hiks.. Harus menghentikan kebiasaan ini kalo anaknya udah lahir ntar ya..

    ReplyDelete
  10. Dududu sungguh aku tertohok

    ReplyDelete
  11. aku sendiri suka deg-degan kalau mulai malas nulis tangan. berhubung apa2 sekarang sudah pakai keypad dan touch screen aku jadi jarang nulis di kertas. sampai2 nulis diary pun jadi pendek2 :( untuk ngatasinnya aku batasi penggunaan gadget, buat kerja dan sosialisasi sama teman atau kerabat yang jauh sih OK, tapi kalau sudah berada di tengah teman2 dan keluarga aku masukin gadget ke dalam tas, jauhin godaan untuk pakai. takut2 malah butuh diterapi lagi gara2 kecanduan, hahaha :)

    nb: tapi aku sama adikku thank God gak ada yang kecanduan game. mungkin karena kami lebih seneng ngobrol ya. pada cerewet, hehehe. jadi game kalah asyik di mata kami deh :p

    ReplyDelete
  12. Di sekolah Ary, ada seorang ibu pengusaha yang bersama suaminya memiliki usaha besar. Sedari anaknya kecil selalu ditinggal sama pengasuh.
    Suatu sore, si Ibu mendadak pulang (anaknya saat itu berusia 4 tahun dan 3 tahun) , dan mendapati masing-masing anak duduk diam terpaku di depan game yang tersambung dengan TV. Mereka tidak berinteraksi satu sama lain dan belum makan dari pagi. Si pengasuh lagi asyik main mobile phone di lantai lain rumahnya.
    Setelah itu baru kedua anak diperiksa ke klinik tumbuh kembang, dan terdeteksi berkebutuhan khusus, tidak bisa berinteraksi dengan orang lain.
    Si Ibu akhirnya memutuskan jadi full time mom.

    ReplyDelete
  13. salam kenal mba :)

    Sy jg mo sharing nih, adalah pokoknya kenalan sy, yg anaknya ga mo sekolah gara2 d beliin mainan zaman skrg play station gitu, tp anehnya ortunya manut2 aje, malah anaknya klo d suruh sekolah ampe ngamuk2 gitu, ampe kedengeran lo.....

    Dari situ sy bertekad dlm hati anak sy mudah2an jgn smpi gitu deh, d kasih semua mainan yg zaman sekarang bikin anak jd ga ngeh sm sekitarnya. Eeh...ternyata sepupu anak sy jg gitu mash umur 3thn udah d kasih laptop sm bapaknya, jd k paud s anak hrs bawa2 laptop, klo ga, ga mo sekolah dia....

    Sy juga sering gitu, main hp smpi ke asyikan, walaupun buat kerjaan jg sih :p. Dari cerita mba indah, moga sy & suami bisa belajar jd org tua yg bijaksana.

    ReplyDelete
  14. Setuju banget tuh di bagian "Cukup anak orang lain yang begitu. Jangan anak kita.". Intinya memang orang tua harus ngejalanin peran kontrolnya ya, kalo buat aku gak apa dikenalin ke gadget, tapi anak bisa ngerti batasan yang bisa dia buat dengan gadget itu...

    ReplyDelete
  15. Emg harus dibatasin seeh mb... Kl ga gitu tar jadi kebiasaan.. Fiuuhh.... Thx utk pencerahannya mb... *kisskissbuatAthia

    ReplyDelete
  16. dalam membatasi anak kadang aku saklek :) makasih sharingnya ya

    ReplyDelete
  17. Waktu awalnya liat jadwalnya, yang sesi ini menurutku tadinya juga gak akan menarik loh NDah. Ternyata setelah aku baca laporannya buset berguna banget ya, dan ini makin bikin kita tau alasan kita membentengi anak jadi bukan sekedar ngerasa "ah gak bagus" gitu doang

    ReplyDelete
  18. nice post mbak....saya baru tau lho kalo ada yang ketagihan gadget sampe males nulis....

    OK deh...singkirkan gadget dari anakku :-) untung si nanny di rumah agak gaptek jadi dia kekeuh ngasih mainan masak-masakan Aqila...ato kalo udah bosen ya ganti kertas kosong+crayon dan aksi coret2pun dimulai....:-)

    ReplyDelete
  19. mbak, sy elaine
    sy pengen banget ikut seminar2 tentang parenting terutama tentang gadget. bukan karena anak sy kecanduan sih, tp karena sdh ada bukti nyata disekitar, plus supaya kami lebih bijak mengenalkan gadget ke anak.
    kira2 di pekanbaru sy harus hubungi siapa ya? atau gimana ya supaya bisa ikut seminar ibu elly risman?
    makasih

    ReplyDelete