3.06.2013

Bijak Memilih Kurikulum Sesuai Rencana Pendidikan Anak

*kibas-kibas blog yang lama ditinggalkan*
Punten ya, teman-teman tercintah. 

karena kesibukan gw akhir-akhir ini, baru sekarang gw sempet nulis cerita soal seminar yang ini.

Memang judul seminar " Mengirim Anak ke Sekolah Internasional : Gengsi ? Mencari Prestasi ? Atau malah membuat anak frustasi ? " mengesankan seminar ini akan fokus membahas sekolah Internasional. Tapi apakah kemudian seminar kemarin hanya bermanfaat bagi yang resah pengen menyekolahkan anaknya ke sekolah Internasional ?

Silahkan duduk manis dan monggo lanjutin baca cerita eike. 

Berbeda dengan seminar kami yang terdahulu yang hanya mengandalkan dresscode, di seminar terakhir kemarin kami semua patungan untuk membeli seragam masing-masing. Bukan seragam ala cinderella gitu deh. 

Sederhana kok.
Hanya polo shirt pink fuchsia yang dibordir dengan tulisan Supermoms dan blue jeans. Simple but chic.

as you can see, it's mine!
Oh yeah, Size does matter !
Bahkan MC kami pun, Mas Dana tanpa ragu mengenakan seragam yang sama...
Part of Supermoms Indonesia
Salah satu yang membuat kami, Supermoms Indonesia merasa terharu adalah ketika Bu Elly Risman bersedia meluangkan waktunya untuk hadir di seminar pagi itu. Meskipun hanya sebentar, karena Bu Elly dan putrinya mampir dalam perjalanan mereka menuju ke bandara. Bu Elly sempat memberikan kata sambutan di awal acara ini.

Sama seperti yang beliau sampaikan kepada kami beberapa waktu sebelum kami akhirnya memutuskan mengadakan seminar ini. 
Saat ini banyak orang tua yang 'terjebak' dalam salah memilih kurikulum sekolah. 

Salah satu contohnya adalah orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah Internasional tanpa alasan yang jelas. 

Bisa jadi dari mereka memilih menyekolahkan anak mereka di suatu sekolah Internasional hanya karena alasan peer-pressure, supaya keliatan lebih bergengsi, mengira prestasi sekolah Internasional sudah pasti lebih bagus daripada sekolah nasional atau ingin anaknya bersaing di era globalisasi.

Kalau hanya salah memilih sekolah, mungkin bisa dipindahkan ke sekolah lain yang lebih sesuai.
Namun jika sedari awal salah memilih kurikulum, tentunya anak akan kerepotan beradaptasi dengan kurikulum lain yang di sekolah yang baru.

Pemilihan sekolah dan hidden kurikulum juga sangat penting dalam pola pengasuhan anak. Jangan sampai pola pengasuhan yang kita terapkan kepada anak di rumah ternyata berbeda jalur dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Karena itulah, Supermoms Indonesia tertarik untuk menyelenggarakan seminar dengan tema ini. Namun, dengan kerendahan hatinya, Bu Elly Risman merekomendasikan orang lain untuk menjadi pembicara dalam seminar ini. Seseorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup, pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang akademis dan kemampuan yang lebih untuk membahas kurikulum sekolah.
Dan orang yang beliau rekomendasikan adalah Bapak Faisal Sundani, LC, M.ed .

Seperti yang gw pernah bilang sebelumnya di sini, saat ini Pak Faisal sebenarnya berdomisili di Malaysia. Namun begitu mengetahui adanya jadwal beliau ke Jakarta di awal February yang lalu, kami tanpa ragu-ragu langsung meminta kesediaan beliau untuk jadi pembicara di seminar kami.

Sepaham dengan apa yang disampaikan oleh Bu Elly Risman, Pak Faisal mengatakan bahwa saat ini banyak orang tua yang terlanjur terjebak memasukkan anaknya ke kurikulum yang tidak sesuai dengan cita-cita akademik anak.

Seorang bapak lulusan Teknik Mesin dari salah satu perguruan tinggi terkemuka di Bandung berniat mengarahkan anaknya kuliah di kampus yang sama dengannya. Sang ibu tentu saja mendukung cita-cita suami tercinta.

Saat teman-teman di sekeliling si Ibu berbondong-bondong memasukkan putra-putrinya ke sekolah Internasional, pun si ibu tidak mau ketinggalan. Dengan harapan anak bisa dengan mudah bersaing dalam era globalisasi. Apalagi bahasa pengantarnya yang dipergunakan di sekolah tersebut adalah bahasa Inggris.

Yang belum dipahami Ibu adalah :
1. Tidak semua sekolah yang mempergunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar adalah internasional school.
2. Jika tetap berkeinginan anaknya masuk ke PTN di Indonesia, maka anak tersebut harus belajar di kurikulum DikNas yang berlaku.

Pada zaman dimana gw dibesarkan dulu, orang tua biasanya memilih sekolah untuk anak hanya berdasarkan seberapa banyak siswa yang lulus dan diterima di jenjang sekolah negeri unggulan  selanjutnya.
Atau mungkin karena kakak-kakaknya juga sudah disekolahkan di sekolah yang sama.

Hal ini sedikit berbeda dengan zaman dimana gw berperan sebagai orang tua yang mencari sekolah yang sesuai untuk anak gw. Dan itu yang gw alami dua tahun yang lalu.
Ada banyak hal yang gw pertimbangkan sebelum akhirnya memilih sekolah yang tepat bagi Athia.

Namun, terus terang, gw belum menguasai masalah pentingnya kurikulum dalam pemilihan sekolah.
Padahal zaman sekarang banyak sekolah yang menawarkan kurikulum dan metode pengajaran yang beraneka ragam.

Jangankan memilih sekolah dengan kurikulum yang sesuai, gw bahkan belum sepenuhnya paham apa yang dimaksud dengan kurikulum. Sering mendengar kata 'silabus' namun kurang jelas memahami seperti apa silabus.

Kurikulum, Silabus, mengapa harus memilih kurikulum Internasional, mengapa harus memilih kurikulum nasional, apa bedanya kurikulum IB dengan IGCSE, bagaimana cara mendapatkan kurikulum internasional namun dengan harga terjangkau adalah sebagian contoh informasi yang baru gw pahami dengan jelas setelah mendengarkan penjelasan dari Pak Faisal. 

Ternyata Pak Faisal tidak hanya mengupas mengenai kurikulum Internasional, kurikulum nasional pun ikut dibedah dari sisi positif dan negatifnya.

Dari informasi Pak Faisal jugalah wawasan gw sebagai orang tua terbuka bahwa tidak semua anak berbakat akademik.
Misalnya kita menemukan anak dengan prestasi akademik yang biasa-biasa saja. Walaupun digenjot habis-habisan tetap saja prestasinya tidak menanjak seperti anak-anak yang lain. 
Namun di lain hal, jika diamati anak ini memiliki kemampuan lebih di bidang bukan akademik.

Masalahnya, dalam masyarakat kita saat ini, tolak ukur keberhasilan seorang anak adalah jika dia berhasil menamatkan pendidikan di tingkat universitas.


Sibuk menyimak apa yang disampaikan Pak Faisal
Dalam seminar ini, Pak Faisal juga memberikan tips memilih sekolah buat buah hati. Ada banyak hal yang dulu terlewatkan oleh gw sewaktu memilih sekolah. Padahal gw setuju bahwa poin-poin yang disampaikan oleh Pak Faisal itu penting sekali.

Selepas dari seminar kemarin, banyak banget hal baru yang mencerahkan dan merubah pandangan gw tentang memilih sekolah. Gw semakin mantap dengan apa yang gw yakini. 

Kriteria suatu sekolah yang gw incar mungkin saja berbeda dengan kebanyakan para orang tua. Akan tetapi hal ini didasari oleh sesuatu yang gw yakini inilah yang sesuai untuk kebutuhan Athia dan sejalan dengan tujuan pengasuhan kami.
Pak Faisal di antara kami semua
Ibu-ibu muda yang haus ilmu parenting
Awal persiapan seminar ini, jujur gw menyangka akan mendapat informasi yang lengkap bagi ibu-ibu yang hendak memilih sekolah Internasional, tetapi saya tetap berpikir bahwa seminar ini tetap akan memberikan wawasan baru untuk saya, walaupun saya tidak memilih sekolah internasional.

Dan ternyata saya tidak salah.

Bahkan  saya mendapatkan banyak informasi baru mengenai akademis melebihi yang saya kira. Karena Pak Faisal benar-benar mengupas semua dengan tuntas dan bersedia menjawab semua pertanyaan peserta yang menyangkut sekolah. Sayang sekali,dikarenakan keterbatasan waktu sehingga tidak semua pertanyaan mampu dijawab saat seminar kemarin.


Karena kami merasa informasi yang disampaikan Pak Faisal sangat penting, maka kami pun menyayangkan para orang tua yang telah melewatkan seminar kemarin.

Sebagai salah satu bentuk kepedulian Supermoms Indonesia akan pendidikan anak yang tentunya berkaitan erat kepada pengasuhan anak dan juga masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab oleh Pak Faisal, maka kami pun berencana menyelenggarakan seminar " Bijak Memilih Kurikulum Sesuai Rencana Pendidikan Anak ".



Masih dengan pembicara yang sama, namun tentunya dengan membahas materi yang lebih diperbaharui.

Materi disesuaikan dengan kebutuhan para orang tua zaman sekarang sehingga tidak terombang-ambing dalam kebingungan memilih banyaknya kurikulum dan metode pengajaran yang ditawarkan oleh sekolah.

Dimana ?
Lokasi strategis banget, dapat dijangkau oleh kendaraan umum dari segala penjuru.
Di gedung BPPT Ruang Komisi 1 & 2, Jl. M.H.Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

Biaya Pendaftaran ?
Hanya Rp 100.000

Bagaimana cara mendaftar ?
Kirim email ke pendaftaran@supermomsindonesia.com
Lengkapi informasi nama  peserta yang akan ikut, no telpon dan alamat email
Atau kirim SMS ke 08117334556

Kapan ?
Catat di kalendar Anda dan pastikan Anda hadir di seminar ini pada hari Sabtu 20 April 2013.

Jangan sampai teman-teman membuang kesempatan menggali lebih banyak informasi mengenai kurikulum dan memilih sekolah buah hati, untuk kedua kalinya. 

Selain seminar, kita juga bisa diskusi dengan pak Faisal lho.

Kalo loe tipe orang yang suka melakukan survey sebelum milih sekolah anak, tipe orang yang detail dalam assess sekolah anak loe, 
tipe orang gak mau percaya gitu aja rekomendasi suatu sekolah berdasarkan testimonial di google belaka, 
tipe orang yang milih sekolah anak bukan karena ikut-ikutan genk *eh kok buka aib gw sendiri ya*, then seriously you must attend this Seminar ! I mean it.

Buruan daftar, yuk.
Terbatas hanya untuk 100 peserta saja.

**bagi yang tertarik ingin menjadi sponsor untuk seminar ini, silahkan kirimkan email ke risna@supermomsindonesia.com dan yang berminat menjadi media partner silahkan kirim email ke : indahk@supermomsindonesia.com**

4 comments:

  1. mantap.. tentang kurikulum aja sampe ada seminarnya juga ya... :) tapi ya biar gak salah milih sekolah ya...

    btw postingan yang sebelum ini gak jadi diposting ya ndah? masuk ke google reader lho. padahal udah gatel pengen komen tapi kok not found. hahaha.

    ReplyDelete
  2. sama kayak Ko Arman. Postingan sebelumnya kok dihapus sih? Hihihi.
    Padahal penasaran terkepo kasusnya gimana ituh.

    Btw terimakasih dah dibuatin review dan daftar ya Ndah. :D

    ReplyDelete
  3. Emang bener banyak ortu yg milih sekolah krn terjebak "gak mau kalah" atau "malas survey" jadi ikut2an aja.

    Berhubung tinggal di kota kecil jadi pilihan sekolah utk anak hanya negeri atau swasta, dan hrs wajib deket rumah. hehehe...

    ReplyDelete
  4. hmmm mantep...jadi gigit jari nggak pernah ikut seminar parenting..:)
    hmm tapi dapat ilmu dari blognya mbak indah..:)
    hmm komentnya juga sedikit idem dengan koment saya soal AL - al di posting recently..:)...
    * finally kayaknya udah tamat nieh ngerapelnya...
    thanks inpoh2nya mbak....semoga bisa lebih rajin BW nya dan nggak perlu ngerapel...hehehe

    ReplyDelete