12.07.2012

Session 3 : Tersentuh Akan Lagu I am Nobody's Child

Sebenarnya Session 3 Tetralogy "Ketika Anak Kecanduan Games " ini udah kelar pelaksanaannya dari tanggal 24 November yang lalu. Tapi baru bisa gw tulis sekarang karena gw kepentok loading kerjaan di akhir tahun dan ngumpulin mood untuk nulis juga. 

Tetep aja berat sih ngumpulin mood dan semangat nulisnya, namun semacam ada tanggung jawab moral yang mendorong gw untuk meneruskan informasi ini kepada sebanyak mungkin orang yang bersedia meluangkan waktu demi memperhatikan masalah ini.

Dari jumlah peserta yang mendaftar, sebenarnya keliatan kok kalo gak banyak orang yang menganggap topik ini juga penting. 
Faktanya sebuah survey menunjukkan bahwa saat ini sudah terdapat jutaan anak-anak di Indonesia yang sedang memainkan games pemula dari facebook ataupun ipad.

2 hingga 5 tahun mendatang,mereka akan bosan dan tetarik mencoba games yang lebih menantang salah satunya game online. 

OK, gak usah jauh-jauh ngomongin soal survey deh. Coba liat aja di sekeliling kita. Yang di dekat mata kita aja.
Terutama di middle high mall, saat ini hampir semua anak memegang gadget. Oh yeah, dari mulai rentang usia 2 sampe remaja, semua menenteng gadget.

Dan gak segelitir orang juga lho yang udah memberikan gadget kepada anaknya yang baru ngek keluar dari perut emaknya. 
Book, sang anak belum juga memulai makanan solid pertamanya alias MPASI tapi kita udah nyodorin gadget ke dia. 
Katanya untuk memperkenalkan technology sedini mungkin ke anak.
Katanya lagi untuk menstimulasi perkembangan otak anak mumpung masih dalam golden age. 

Logikanya : jadi kita lebih dulu memperkenalkan anak kepada what-you-claimed-as-technology ketimbang makanan solid yang kelak akan menjadi kebutuhan paling primernya. Kebutuhan primer dari semua manusia di muka bumi ini. 

Ohh..ato mungkin ngenalin gadget buat digigit-gigit. Laaah anak umur segitu kan lagi demen-demennya sama teether. :p

Sebelum memulai seminar, Bu Elly terlebih dahulu menyebarkan semacam survey kilat kepada peserta seminar hari itu.
Gak mo kalah dengan pilkada DKI yang menerapkan Quick Count, hasil survey tersebut langsung menjadi salah satu materi paling gress dalam seminar itu. 

OK, jadi inilah pertanyaan survey berikut jawaban para peserta. Marilah kita tilik satu per satu...

1)  Usia Pemberian Fasilitas  Games Kepada Anak

2) Jenis Peralatan



Ternyata 48% perangkat yang diberikan orang tua kepada anak untuk bermain games adalah ipad.
Ntar kita liat sendiri pengakuan orang tua kenapa sih mereka memberikan perangkat itu ke anak
Dan kita akan tersenyum simpul manggut-manggut sendiri...

3) Alasan mengapa memberikan games ke anak 


Tuh kan 36% dari orang tua yang memberikan fasilitas games ke anak malah gak punya alasan yang pasti. *bagi teman-teman yang udah memberikan fasilitas games ke anak, mungkin bisa bertanya pada diri sendiri*

Umumnya alasan yang tidak pasti ini dikarenakan orang tua mengalami peer-pressure.

Apalagi kalo pas playdate, kumpul-kumpul dengan sepupu-sepupunya, ngeliat anak orang lain sibuk ber-ipad-ria, malah timbullah keinginan untuk menyamakan anak kita dengan anak orang lain.
Alasan simple : Kesian, anak orang punya ipad, masa anak kita gak.

Kalo bahasanya Bu Elly pas di seminar : Ber-ipad anak orang, ber-ipad  anak kita...

Ato alasan lain yang lebih mengena : kasih ipad supaya anaknya gak rewel ! *psst... ini gw banget!*
Seperti biasa, langsung deh di #JLEB sampe ulu hati sama Bu Elly " Yah namanya juga punya anak umur segitu, ya pasti rewel lah... kalo loe gak mau anak loe rewel, mending loe gak usah punya anak sekalian !" 
*Bahasa emak sama mertua gw banget! jadi intinya emang bahasanya nenek-nenek gitu dimana-mana sama ya.  LOL *

Jadi, kenapa sih anak-anak jaman sekarang senengnya main games
1) Difasilitasi / dibiasain sama orang tuanya 
Kayak gw bilang di atas tadi, dia belum kenal sama kebutuhan primernya, udah kita kenalin duluan dia sama gadget.
Udah terampil dikit, awalnya kita kan yang ngajarin cara mainnya

Ke sini-sininya kita biarkan dia bermain dengan games. Apalagi kalo kita lagi seru ngerjain sesuatu, lagi seru ngobrol sama temen-temen pas playdate...emang sengaja kita kasih anak main games, dengan alasan : biar anteng tadi. 

2) FUN
Buat anak main games itu menyenangkan. Yah anak-anak seneng dong melakukan sesuatu yang fun.

3) Melepaskan ketegangan
Coba deh, liat jam belajar sekolah idaman kita. 
Sekitar 48% pengisi survey menjawab bahwa jam sekolah anaknya dari jam 6.30 - 14.00
Sementara, 70% anak sudah kita masukkan ke SD di saat dia baru menginjak usia 5 tahun.
Udah gitu, setelah jam 12.00, masih ada beberapa sekolah yang mengijinkan anak kita belajar pelajaran yang 'berat' kayak matematika, IPA.

Pada usia 5 tahun, syaraf di otak anak belum juga bersambungan, udah kita paksa untuk menerima pelajaran kognitif dari jam 6.30 sampai jam 2 siang.
Sampe rumah, Sambutan yang kita berikan bukanlah sambutan yang diharapkan anak.

Bukan " Gimana hari ini dengan teman-temanmu, Sayang ? Menyenangkan ?" yang kita tanyakan kepadanya begitu dia nyampe rumah.
Umumnya kita seakan udah diset untuk menanyakan " Kamu ada PR gak hari ini ? "
Belum juga hilang penat otak yang dipaksa bekerja di luar batas kemampuannya, dia sudah harus mengerjakan PR. Bahkan satu hari bisa jadi ada dua PR.

Hmmm...gw jadi inget pernah mergokin salah satu staff admin yang menelpon anaknya di toilet wanita. 
" Assalamu'alaikum, Kakak "
" Gimana ? Hari ini kamu ada PR apa ?" 
*tuh kan, pertanyaan wajib punya anak usia sekolah adalah PR. Sampe kita lupa nanyain perasaan anaknya. Mana kita tau hari itu dia lagi pengen cerita melakukan hal yang membanggakan, ato lagi kesel sama gurunya, marahan sama temennya. Kalo bukan sama kita terus dia mo curhat sama sapa ? Sama Fedolifia yang mengincar anak kita di luar sono ? *

" Kamu udah kerjain PR belon ?"
" Hm...kamu kerjain PR dulu ya. Kerjain PR dulu, mama bilang! Kamu gak boleh main kalo belon ngerjain PR "
" Mana Mbak ? mama mau ngomong sama Mbak *mungkin ART-nya* "
" Halo, Mbak, kunci pintu pagar ya ! Kakak harus ngerjain PR dulu. Gak boleh kemana-mana. Abis ngerjain PR, bobo siang. Ntar sore kan mau les Kumon "

Dan sekarang barulah jelas di mata gw, kenapa Bu Elly bisa bilang " Udah pada gile loe ye ! " ke kita semua.
Tidakkah semua penampakan ini yang dulunya-kita-pikir-hal-yang-biasa.
Ternyata efeknya sungguh luar biasa.

4) Menghilangkan kebosanan
ya iyalah bosen. Abis kita paksa dia belajar kognitif yang belum pada usianya, kita paksa dia belajar hampir 6 jam, masih harus bikin PR pulak. Belum cukup sampe situ penderitaan anak kita, kita suruh dia ikut les kumon, les baca, les segala macem!

Ada juga lho anak yang tiada hari dilalui tanpa les! *jangankan anak, gw aja setres kalo tiap hari harus ikut les! Coba emak bapaknya aja suruh tiap hari ikut les! *

5) Meningkatkan keterampilan main games
Kalo udah jago main games yang ini, pastinya penasaran pengen nyobain games dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dari sebelumnya.

6) Hiburan yang menyenangkan
7) Merasa berkuasa / Jago
Mungkin karena dia merasa "kok kayaknya aku gak pernah bener ya di mata mama ato papa ". 
Gak pernah mendapatkan penghargaan seperti " hebatnya anak mama... " ato " Cantiknya anak papa... "
Di dalam games, mungkin dia merasa cantik. Dia merasa jagoan !
Merasakan hal-hal yang tidak bisa dia dapatkan di dunia nyata.

Seperti janjinya gw di postingan sebelumnya, gw akan memaparkan sisi positif dari games. Jadi bukan berarti kita menentang keberadaan games sama sekali. Tapi akan coba kita kupas satu per satu mengenai sisi positif dan sisi negatif bermain games biar lebih objective.

Sisi Positive Bermain Games
1) Meningkatkan penggunaan bahasa Inggris --> Kan rata-rata dalam bahasa Inggris
2) Melatih pemecahan masalah dan penggunaan logika
3) Praktek penggunaan motorik halus dan kemampuan spasial
4) Pemain diperkenalkan pada teknologi informasi
5) kemampuan membaca dan mengja bisa meningkat secara signifikan dengan game edukasi
6) Meningkatkan kemampuan membuat strategi dan membantu mengembangkan teknik analisa kritis
7) Banyak games memerlukan pemain untuk bekerjasama agar menang yang dapat meningkatkan kemampuan sosial pemainnya.
8) Pemain bisa membuat permainan sendiri jadi bisa menstimulasi otak dan proses berpikir untuk bisa menciptakan skenario yang panjang dan rumit
9) Pemain bisa menggunakan imajinasi untuk menyeimbangkan skenario dalam games seperti realita
10) Banyak anak yang mengajarkan anak nilai ekonomi lewat mendapatkan uang dan menukarnya dengan objek yang bisa menfasilitasi permainan tersebut
11) Memberikan kesempatan kepada orang tua dan anak bermain bersama

Wuih banyak juga kan sebenarnya sisi positive bermain games. Nah sekarang coba kita bandingkan dengan sisi negatif bermain games
1) Games kekerasan menyebabkan tingkat agresivitas lebih tinggi (Irwin dan Gross)
2) Games mengganggu sistem belajar, pembuatan PR dan kemampuan sosial menjadi menurun 
kebanyakan mantengin games di depan perangkat otomatis bikin males bersosialiasi dengan anggota keluarga yang lain.
3) Desentisasi terhadap kekerasan menjadi lebih konfrontatif
Kalo tiap hari dibiarkan memainkan games yang sarat kekerasan, akibatnya buat anak, menusuk, menikam orang lain itu bukanlah sesuatu yang mengerikan. Itulah kenapa buat anak-anak yang melakukan tawuran, hal-hal seperti itu adalah hal yang kesannya-lumrah-dilakukan.
4) Remaja yang main games lebih dari 1 jam menunjukkan kecendrungan ADHD yang semakin kuat ( Chan, 2006)
5) Alasan orang bermain games secara berlebihan adalah karena mereka tidak bisa memanage waktu atau sebagai cara lari dari masalah (Wood, 2008)
6) Banyak games yang didasari dengan plot kekeasan, agresi, bias gender, yang menawarkan senjata, pembunuhan, tendangan, tusukan dan tembakan.
7) Games bisa mengaburkan antara realitas dan fantasi (sekarang ada voucher games maya yang bisa dibeli dengan uang nyata)

Kalo kita perhatiin lagi nih ya, sisi positive main games lebih banyak daripada sisi negativenya. Tapi teteup aja gak berarti kita bisa mengabaikan sisi negative main games ini. 

Karena sisi negative main games ini berdampak sebagai berikut :
1) Menyebabkan RSI. (Repetitive Strain Injury) alias kejang lengan.
Kalo main games lebih dari 15 jam seminggu, tangannya digerakkin mulu mengikuti kecepatan main games. Apalagi kalo main games yang membutuhkan kecepatan, beuuuh... apa gak cedera tuh tangan kita diforsir melulu.

2) Mengikis lutein pada retina mata
Sinar biru pada layar perangkat anak bisa mengikis lutein pada retina anak.
Mungkin kalo 1-2 jam belum terasa efeknya. Tapi kalo berpuluh-puluh jam seminggu ?

Pernah denger soal Degenerasi Makula gak ? 
Gw sih jujur baru tau pas seminar itu kemarin.
Jadi pas gw browse ke Tanyadokter.com, Degenerasi Makula adalah suatu keadaan dimana makula mengalami kemunduran sehingga terjadi penurunan ketajaman penglihatan dan kemungkinan akan menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan sentral. Makula adalah pusat dari retina dan merupakan bagian yang paling vital dari retina. Makula merupakan bagian dari retina yang memungkinkan mata melihat detil-detil halus pada pusat lapang pandang. 

Degenerasi makula ini juga bisa jadi dipengaruhi oleh frekwensi / intensitas kita di depan layar gadget.


3) Mencetus Ayan / Epilepsi (ayan games / nitendo epilepsi)
Nintendo Epilepsi merupakan serangan mendadak yang ditimbulkan oleh kilatan cahaya dengan pola tertentu. Sinar merah yang kuat akan membuat sinyal abnormal yang dikirim ke otak melalui retina membuat anak menjadi kejang.

Mengutip Profesor Graham Harding, ada empat permainan yang memicu epilepsi pada anak yaitu games mega manX, Super Mario Sunshine, Metroid Prime dan Mario Kart:Double Dash.


Jadi, kalo sekarang kita merasa " aah, anak gw belum kecanduan games kok. Dia cuma maen games setelah pulang sekolah setelah ngerjain PR ".
Ato " Anak gw kan maen gamesnya cuma pas wiken aja..."

OK , baiklah.
Sekarang coba hitung sendiri berapa waktu yang dipake anak untuk maen games per minggu.
Jika abis pulang sekolah main games sejam.
Terus belajar, bikin PR, bobo siang. Bangun tidur, mandi sore main games lagi sekitar satu jam menunggu mama papa pulang. Abis tuh makan malam, ngobrol-ngobrol, maen games lagi barang sejam.
Total dalam seminggu : 3 jam X 7 hari = 21 jam / pekan.

Ato di kala wiken, pas Jum'at malam maen gamesnya dari jam 8 malam sampe jam 12 malam. Sabtu, bangun tidur jam 10 maen games lagi sampe jam 15.00, nyambung malem maen games lagi dari jam 8 sampe jam 12. Itung aja berapa waktu yang dialokasikan anak buat maen games selama wiken.

Intinya: jika waktu yang diambil anak untuk bermain games lebih dari 15 jam / minggu, maka anak itu bisa dikategorikan sebagai kecanduan games.

Kecanduan Games itu emang apaan sih ?
Penyakit kronis yang ditandai dengan rusaknya kontrol terhadap penggunaan materi psychoactive atau perilaku (baik secara biologis, psychologis, sosiologis, dan juga terhadap dimensi spiritual).

Ciri-cirinya gimana ?
Perilaku ini termasuk
- Tidak bisa berenti main berjam-jam
- Lebih peduli pada gamesnya daripada kehidupan lain : keluarga dan teman-temannya
- Berkurangnya perhatian pada kebersihan diri 
- Berbohong pada keluarga dekat
- Gangguan dalam siklus tidur
- Gangguan makan - berat badan
- Prestasi akademik dan kesulitan di sekolah maupun di tempat kerja
- Menarik diri dari pergaulan

Terus, Siklus kecanduannya gimana ?
- Emotional high, lebih dikenal sebagai " adrenaline rush" sebagai akibat dari taktik bermainnya
- Bermain lebih banyak lagi, akan mendorong batas fisik dan psikis untuk merasakan 'high' tersebut itu lagi
- Kadang kala dia mencoba untuk mencapai tingkatan yang menstimulasi adrenalinenya
- Siklus ini akan terus berlangsung hingga pada tingkatan yang tidak sehat dalam bermain games, yang oleh professional menyebutnya " Video games Addiction "

Sekarang, sebagai orang tua, yuk kita renungkan bersama-sama :
  • Mengapa dan untuk apa kita memberikan anak kita games ? Untuk stimulasi perkembangan otak ? Ataukah hanya untuk menyenangkan kita supaya anak gak rewel ?
  • Usia berapa pantesnya kita ngenalin games ke anak ?
  • Sudah taukah kita apa alasannya ?
  • Suami / istri kita udah sepakat dengan apa yang akan kita terapkan ini
  • Sudah tau akibat jangka panjangnya ?
  • Udah bikin peraturan ? Kedua belah pihak udah sepakat kan dengan peraturannya ?
  •  Kalo nanti ternyata peraturannya gak dipatuhi, udah disepakati konsekwensinya ?
  • Sudahkan Allah hadir dalam jiwa sang anak ? Jangan sampe kita udah memasukkan Technology ke dalam kehidupan anak supaya gak gaptek, tapi kita justru menyepelekan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya. *#note-to-myself-banget*
  • Apa dia udah berkomunikasi dengan baik ?
  • Sudah kritiskah cara sang anak berpikir ?
  • Bagaimana dia melihat dirinya ?
  • apakah dia sudah bisa mengontrol dirinya
  • Sudahkah kita sampaikan landasan syar'i nya ? Untuk muslim, tekankan ke anak untuk menjaga pandangannya terhadap aurat.
OK, Udah yakin ya semua tadi udah bisa dijawab dengan faseh ? :p

Apa yang kita rasakan setelah menjawab semua pertanyaan renungan diri tadi ? Gak usah jawab di komen, cukup kita masing-masing aja yang tau jawabannya dalam hati.

So, jika kita tetep ingin memberikan games ke anak, apa aja yang harus kita siapkan :
  • Timbalah ilmu, tingkatkan keterampilan. Technology berkembang lebih cepat dari desah nafas kita. Kalo kita tertinggal terlalu jauh gap nya, gagal move-on terlalu lama, bisa-bisa disorakin emak-emak lain " OMAIGOD, Where have you been?!!" susah untuk catch up dengan lingkungan anak kita.
  • Beri penjelasan kenapa kita memperbolehkan dia main games
  • Jelaskan juga tentang kemungkinan kerusakan otak jika dia kehilangan kendali dalam maen games
  • Selalu berikan peraturan dan konsekwensi dalam penggunaan games
  • Patuhi peraturan tersebut , berlaku bagi kedua belah pihak ya. ANAK dan ORANG TUA. Jangan sampe orang tua nyuruh anak berenti maen games di ipad , sementara sambil melarang, orang tua masih maen games di facebook.
  • Lakukan kontrol terhadap mainan (dan semua media) anak sebelum membeli, sedang bermain, dan pantau efek sampingnya. Jika perlu, sebelum gamesnya diberikan ke anak, orang tua mainkan dulu sampe selesai supaya tau konten apa aja yang ada di dalamnya.
  • Setiap selesai main games, cek perasaan anak. " Yang kamu rasakan apa, setelah main games tadi ?" 
Point yang harus diperhatikan dalam memilih games 
  • hati-hati terhadap iklan games yang dilihat anak. Iklan bisa jadi menyebabkan pembelian impulsif. Ya jangankan anak bukan, kita aja sering kemakan iklan. hayo ngakuuuu!
  • Cari rating di depan box  game yang menyatakan kepantasan usia untuk games tertentu dan penjelasan isi 9di belakang) yang mengindikasikan elemen dalam games yang menyebabkan rating tersebut diberlakukan dan/atau ketertarikan dan kekhawatiran.
  • bila ada tema kekerasan dan seksual dalam judul dan gambar depan, orang tua bisa segera bahwa teman-tema ini juga akan ada di dalam permainan
Bagaimana memilih games yang pantas buat anak ?
  • carilah games yang sesuai usia anak 
  • carilah games yang melibatkan lebih dari satu pemain untuk mendorong permainan group
  • Pilih games yang mendorong pemain memikirkan strategi dan membuat keputusan, dimainkan dalam jumlah pantas dan tidak ada unsur kekerasan di dalamnya.
  • Cari informasi online terlebih dahulu terhadap isi dan deskripsi sebuah permainan sebelum kita membeli
  • Jauhi " First Person Shooter" permainan seperti ini yang melatih anak kita menjadi pembunuh. Terlebih lagi jika dimainkan oleh anak usia dibawah 16 tahun
Picture's taken from ESRB.org
Dari kiri ke kanan
1) C        = Early Childhood
2) E        = Everyone
3) E 10+ = Everyone 10 and older
4) T        = Teen
5) M      = mature 17 and older
6) AO    = Adults only, 18 years and older

Selain ini ada lagi yang kodenya RP alias Rating Pending. Saking parah konten isi di dialamnya.

Waktu kita membelikan games untuk anak kita, pernah check rating ini gak ?
Baru-baru ini dalam pembicaraan di kantin saat makan siang, salah satu temen maksi gw cerita kalo anak kakaknya minta dibelikan mainan *T*. 
Untung kakaknya tau seperti apa permainan *T* tadi. Dan memang *T* itu salah satu games yang sarat adegan kekerasan dan seksual.

Yaaah...kalo setelah dicheck-check, anaknya sudah terlanjur maen games lebih dari 15 jam seminggu, gimana dong ?
1) Berundinglah dengan pasangan
Selanjutnya kita musti ngapain nih ? Siapa yang mau ngomongin hal ini ke anak ? Renungkan bersama dimana letak kekurangan kita sebagai orang tua sehingga anak cenderung melarikan diri ke games

2) Minta maaf dan jelaskan kepada anak dengan hati
Untuk bisa masuk mempengaruhi pikiran anak, terlebih dahulu anak harus bisa 'menerima' kita kembali. Dan untuk itulah kita meminta maaf kepada anak jika kita melakukan hal - hal yang menyusahkan, menyakiti hatinya. Jika ana sudah memaafkan kita, akan lebih mudah bagi anak mendengarkan apa yang kita bilang. Sampe minta maaf ini, jangan langsung ngomongin. Ntar anak sadar kalo kita minta maaf karena ada maunya.

3) Hargai pikiran dan perasaannya
Biarkan anak mengeluarkan isi hati dan pikirannya.
Setelah jeda beberapa waktu, barulah kita tanyakan kenapa dia sampe lupa waktu ketika main games. Dengerkan alasannya. 

4 )  Susun langkah bersama
Selanjutnya, kita mau gimana untuk menanggulangi masalah ini. Saat anak merasa ingin main game, alihkan kepada sesuatu kesenangan dia yang gak kalah menarik. Perbanyak kegiatan outdoor yang melibatkan kita di dalamnya.

5) Tentukan konsekwensi
6) Jangan lupa libatkan anggota keluarga yang lain dan sekolah. Minta mereka ikut mengawasi anak untuk lepas dari kecanduannya main games
7) Rancanglah suatu film harapan kita bersama.

Hal yang harus selalu diingat :
1) WE ARE THE BEST THERAPIST FOR OUR CHILDREN
Bukan psikolog A, B, C tapi kita orang tuanya!

2) keluarga adalah kontrol pertama yang paling penting dalam semua aktivitas anak. Apapun kegiatannya.

3) SHS alias Semua Harus Seimbang.
Games memang menyenangkan, menstimulasi perkembangan otak, gak bikin kotor.
Games edukasi mah cuma salah satu komponen kecil doang dalam pengasuhan anak.
Boleh saja anak bermain main games edukasi, tapi batasi dong waktunya.
2 X 15 menit dalam sehari rasanya cukup untuk anak 3 - 4 tahun. Sisanya ?

Maen bola di tengah lumpur, main coret-coretan, lari-lari di lapangan hijau berenang juga menyenangkan. 
Membaca juga kalah menyenangkan. Imajinasi dalam buku yang bagus akan mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya.

Jangan takut anak kita gaptek, ato takut anak kita kotor. 
Kan ada Rinso Anti Noda ! Kucek sedikit... *nyengir*
Ada sabun Lifebuoy, Mamaaa...

Saat kita memutuskan untuk menjadi orang tua, rumuskan tujuan pengasuhan kita. Apa yang kita harapkan dari anak yang kita lahirkan dan kita didik kelak ?
Jangan mendidik dan membesarkan anak tanpa ada tujuannya. Ibarat bermain bola pun, kita memerlukan strategi dan sasaran. Apalagi dalam tugas seberat ini.

Menjadi orang tua yang menerapkan pola asuh berbeda dengan orang tua lain pada umumnya memang bukan hal yang mudah. karena itu perlu prinsip yang kuat dan keteguhan hati.

Dalam seminar ini Bu Elly mengajak kami semua bernyanyi...
I'm nobody's child I'm nobody's child I'm like a flower just growing wild
There's no mommy's kisses and no daddy's smiles
Nobody wants me I'm nobody's child

" Jaga cucu saya yang berada di tangan Anda baik-baik ya..." pesan Bu Elly dengan terbata-bata karena menahan air mata, sehabis kami menyanyikan lagu itu bersama-sama. 

Ya ya ya...mungkin gw terlalu naive kalo gw mengaku gw menangis saat menyanyikan lagu itu...

Terlebih lagi setelah gw nyanyikan bait-bait selanjutnya...
Coba baca sendiri deh... 

I'm nobody's child I'm nobody's child I'm like a flower just growing wild
There's no mommy's kisses and no daddy's smiles
Nobody wants me I'm nobody's child

As I was slowly passin' an orphan's home one day
I stopped there for a moment just to watch the children play
Alone a boy was standin' and when I asked him why
He turned with eyes that couldn't see and he began to cry 
I'm nobody's child.... Some people come for children and take them for their own
But they all seem to pass me by and leave me all alone
I know they'd like to take me but when they see I'm blind
They always take some other child and I'm left behind
I'm nobody's child...

No mother's arms to hold me or soothe me when I cry
Sometimes it gets so lonely here I wish I could die
I'll walk the streets of heaven where all the blinds can see
And just like for the other kids there'd be a home for me
No mommy's kisses and no daddy's smiles nobody wants me I'm nobody's child

Semoga anak kita gak merasakan hal yang sama seperti lagu di atas..
Didiklah dan jagalah anak kita sebaik-baiknya
Karena mereka adalah titipan Tuhan yang suatu saat kita sebagai orang tuanya akan diminta pertanggung jawabannya...

Permisi...saya mau ke toilet dulu untuk menyeka air mata saya. 
Mata saya mulai berair setiap baca lirik lagu tadi...
*terlebih lagi jika inget senyum polos dan mata bening Athia di rumah*

    24 comments:

    1. TFS ya ndah, berguna banget buat yg ga bisa dateng kya gw :)

      ReplyDelete
    2. @ Nike,
      Sama-sama, Ke.
      Setidaknya dengan nulis sesuatu yang bisa bermanfaat buat orang lain, bikin gw naik grade menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

      ReplyDelete
    3. ahh jadi iuktan syediih..Ndah.. :,(

      dan gue suka banget kalimat ini :
      WE ARE THE BEST THERAPIST FOR OUR CHILDREN
      Bukan psikolog A, B, C tapi kita orang tuanya! ---> bener bangeeeetttt ngeeet...

      ReplyDelete
    4. Gimana yah? Saya dibesarkan di lingkungan yang nggak main games, jadi agak susah berempati pada anak-anak yang sudah kecanduan games.

      Saya anak cewek, nggak pernah punya nintendo (dulu nggak ada playstation!). Suatu hari nginep di rumah sepupu cowok, hobinya main nintendo seharian. Saya yang penasaran, belajar main. Guess what, saya jadi kecanduan. Alhasil tiap main ke sana, saya jadi main nintendo melulu.

      Kami baru berhenti main setelah alat itu rusak.

      Kesimpulannya, kalo kepingin anak itu berhenti main game, rusakin aja alatnya!

      Memang traumatis sih, tapi itu akan menyembuhkan. Dan tidak akan kangen kok. Karena sejak anak dipaksa berhenti main game, dia akan mengalihkan minatnya kepada hal lain. Dan itu adalah kesempatan kita untuk memperkenalkannya kepada permainan-permainan yang lebih manusiawi dan tidak merusak mata.

      ReplyDelete
    5. @ Desi,
      Terhura gw pas nyanyi lagu itu. Merinding..

      @ Vicky,
      Ih sama. Aku juga gak dibesarkan di lingkungan suka games. Keponakan ku dibeliin PS, tapi aku karena emang dari kecil gak terbiasa main games jadi gak tertarik juga.

      Susahnya kalo udah kecanduan games online, Vick. Kalopun kita rusakin di rumah, namanya kecanduan bisa aja maen di warnet.

      ReplyDelete
    6. Men, ngeri banget baca ini. Gw juga ngasih games ke Nadya, tapi di laptop jadi nggak bisa dia akses setiap hari. Tapi tetep juga bisa 2 jam per hari. OMG..
      Walaupun dia juga masih maen sih sama anak-anak tetangga.
      Ndah, tengkyu ya postingan lo yang ini ;)

      ReplyDelete
    7. diberi supaya gak rewel aku pernah tuh ngelakuin. tapi sekarang pascal main game cuma weekend aja

      ReplyDelete
    8. segala hal itu pada dasarnya pasti ada positif dan negatifnya. yang penting, intinya, jangan berlebihan. jangan too much. segala sesuatu yang berlebihan pasti gak bagus. :)

      ReplyDelete
    9. TFS Ndah...postingan ini berhasil meluncurkan air mata gw :( *kekepin Samara*

      Lu emang jagonya nge-review bookkk :)

      ReplyDelete
    10. TFS yah Ndah, berguna bqt krn gw ga ikutan sesi ini.

      Iya sedih kalo liat anak2 dah kecanduan games. Jaman skrg anak ngegames d ipad dan emak bpknya merasa bangga gt -_-

      ReplyDelete
    11. sependapat dgn mbak Vicky Laurentina

      ReplyDelete
    12. TFS, Indah, meski tidak ikut tetap bisa dapat ilmu. Eh, tahun depan, gimana klo Supermom mengadakan webinar gitu untuk pelatihan-pelatihan kayak gini. Aku mau ikut :)

      ReplyDelete
    13. Asyiiik udah terbit...
      Makasih mbak Indah....ijin Link...

      Kalo game online aku punya contoh konkrit di depan mata kepala sendiri. Dahsyat banget bahayanya dan dampaknya merembet kemana2.

      #keukeup Hanif...

      ReplyDelete
    14. utk bisa seperti ini.. maka adalah suatu keniscayaan tuk mengenal anak dan tipe anak tersebut terlebih dulu baru menentukan game yang tepat tuk mereka :)

      ReplyDelete
    15. Mba Indah, nangis lagi baca liriknya I'm nobody's child ini.

      Makasih ya Mba udah lengkap banget bikin reviewnya. Pengen bikin reviewnya jugak tapi saya dateng telat dan memori otak terbatas, nanti pas bikin saya refer ke sini ya Mba.. :)

      ReplyDelete
    16. Pertama kali denger lagu ini pas SMA, saat itu lagunya jadi bahan materi pelajaran bahasa Inggris, tapi setelah diterangin arti dan makna lagu ini, ternyata menyentuh banget...

      ReplyDelete
    17. hmmm keren banget infonya..ijin copas ya..dan simpan di buku besar parenting buat ane dan suami...
      lengkap banget liputannya...

      ReplyDelete
    18. blogwalking dan alamat jadi penggemar blog ini banyak ilmu parentingnya. top bgt.

      dari pengalaman, memang umumnya yang kecanduan game parah adalah anak2 yang melarikan diri dari masalah entah di keluarga atau sekolah.

      ReplyDelete
    19. Salam kenal mba indah, silent reader akhirnya tergelitik untuk comment.

      Ponakan suami saya kecanduan game online, iya dia ga punya ipad atau gadget dirumah, ada pcntp tdk konek internet. Jadi setiap hari, dia pulang sekolah pasti main game online di warnet, umurnya baru 10thn loh, kelas 3 sd. Dan semua teman2nya dia main game online di warnet karena lingkungan rumah padat penduduk sehingga tidak ada lahan bermain. Mainnya pun counter strike, point blank, grand theft auto yg sarat dengan kekerasan. Dan hal itu dianggap biasa dilingkungan dia karena semua anak seumuran sd bermain game online di warnet.

      Saya pun mau menasehati ga enak juga karena yg mengasuh adalah bapak dan ibu mertua saya, kebetulan orang tuanya kerja diluar kota.

      Saya sudah punya anak umur 1thn, dan terus terang saya menjaga banget interaksi anak sy dgn dia karena selaluu diajak main game (walaupun di pc) kalau saya bermain ke rumah mertua.

      Gmn ya mba, what should i do? Pusing saya kalau memikirkan itu, takut anak saya kena pengaruh tidak baik dari anak itu :(

      Maaf ya mba jd curhat gini, thanks for sharing ya

      ReplyDelete
    20. @ Della,
      2 jam per hari X 7 hari seminggu bisa 14 jam seminggu lho, Dell.
      Asal loe dampingin aja. Dan kata Bu Elly, anak seumur Nad gak perlu lama2. 15-30 menit cukup.

      @ Mbak Lidya,
      Semua emak-emak pernah melakukan hal itu, Mbak. *puk-puk*

      @ Arman.
      Betul. makanya semua harus seimbang.

      ReplyDelete
    21. @ Yani,
      Karena bawel kali ya. hahaha

      @ Yeye,
      kata Bu Elly : ber-ipad anak orang, ber-ipad anak kita.

      @ Mbak Ely,
      Aku juga, Mbak.

      ReplyDelete
    22. @ Fety,
      Emang tiap tahun rencananya mau diadain kok.

      @ Pungky,
      Monggo.

      @ Genial
      Betul.

      ReplyDelete
    23. @ Dani,
      Gw pun mengais-ngais memori, Dan.

      @ Pak Agus,
      Saya pun baru bener-bener tersentuh pas seminar kemarin, pak.

      @ Mama Kinan,
      Monggo, Mbak

      ReplyDelete
    24. @ mbak Ani,
      Banyak kelabilan juga sih, Mbak. Hihihi

      @ Mbak Ima,
      Mbak, salah satu pesan dari bu Elly kemarin adalah beritahukan kepada orang terdekat.
      Salah satunya adalah Saudara kandung, tetangga dan temen sekolah.
      kenapa ?
      karena anak mereka ini akan memberikan pengaruh besar kepada anak-anak kita. Anak-anak kita kan mainnya sama mereka. bukan gak mungkin suatu saat, mereka akan mengenalkan itu kepada anak kita. Siapa tau mereka belum paham bahayanya, Mbak. Kasih aja contoh2 di TV kan banyak tuh, anak2 kecil yang melakukan tindakan asusila karena kebanyakan di warnet. Gak ada pengawasan dari kita kan, mainan apa dan website apa yang mereka mainkan di luar sana.
      Dan kita gak tahu apa yang sudah mereka rekam dari online game tadi. Jika memang mereka tidak mengindahkan masukan dari kita, maka kita perlu tegaskan bahwa kita akan membatasi pergawulan dengan anak tersebut.
      Hope that helps ya, mbak.
      itu yang aku rekap dari Bu Elly.

      ReplyDelete