9.13.2012

Two Different Things

Gw sebenarnya bakalan hectic seharian.
Tapi gw gatel pengen ngeblog dulu.

Jadi semalam ketika Athia sudah bobo pulas, gw menyempatkan diri membaca satu email dari salah satu milis parenting yang gw ikuti.

Seorang anak laki-laki dari member milis yang berusia sekitar 8 tahun bertanya kepada ibunya. Pertanyaannya adalah mengapa kemaluannya berdiri kalo dia melihat yang seksi-seksi.

Respon sang Ibu saat ditanya : menjawab pertanyaannya dengan tenang dan menjalankan perannya menjadi kamus bagi anaknya dengan baik.
Wow! Semoga gw juga bisa begitu ke Athia nanti.

Ketika anak kita mengalami pubertas untuk pertama kalinya, adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mengenalkan pendidikan sex pertama ke anak. Setidaknya saat anak pertama kali mengalami pubertas. Diharapkan malah sebelum dia mulai pubertas, jadi pada saat dia mengalami itu, dia sudah tau apa yang harus dia lakukan.

Dalam agama yang gw anut, saat itulah orang tua harus mengajarkan apa itu mimpi basah, apa yang dilakukan setelah dia mimpi basah, apa itu haid, mengapa anak perempuan mengalami haid, apa yang harus dia lakukan. 

Saat pertama kali gw haid, Indah remaja terlalu takut untuk membicarakannya dengan nyokap gw. Maklum gw masih dididik dengan sistem pengasuhan konvensional dimana membicarakan hal seperti ini adalah tabu. 

Jadi gw meraba-raba sendiri dengan keterbatasan otak gw kenapa kakak gw kalo lagi haid, ke toilet bawa plastik/ koran (yang kemudian gw baru tau untuk membungkus pembalut bekas).
Indah remaja yang masih dodol juga pernah sempat salah cara memakai pembalut. 

Untung kedodolan ini gak berlama-lama, karena gw mengaku apa yang gw alamin ke kakak gw yang kebetulan 12 tahun lebih tua dari gw. 
Akhirnya kakak gw yang ngajarin gw. 
Jadi pendidikan sex pertama gw sekilas gw dapetin dari kakak gw.

Padahal peran orang tua untuk membicarakan pendidikan sex ke anak itu adalah penting.

Dalam agama yang gw anut, mungkin ini saat yang tepat untuk menjelaskan auratnya, bagaimana dia harus menjaga auratnya dari tatapan non muhrim. 
Bagaimana dia harus menutupi pandangannya dari segala macam yang tidak pantas karena itu bertentangan dengan norma agama.

Anak-anak juga harus diberi tau organ pentingnya, fungsinya, dan menjelaskan bahwa mengapa sangat penting untuk menjaga organ tersebut. 
Kalo dikasih tau dengan baik-baik, anak bisa menjaga diri dari pelecehan seksual. Baik laki-laki maupun perempuan.
Karena pelecehan seksual saat ini tidak mengenal gender.

Itu murni hanya pemikiran dan pendapat gw ya. 
Untuk lebih jelasnya bagaimana kita mengajarkan anak untuk menjaga dirinya dari pelecehan seksual akan gw coba tulis setelah pulang dari seminar Tetralogy session 2 pekan depan.

Apa yang dibahas dalam seminar sebelumnya bukan berarti membuat kita takut ato terlarang untuk membicarakan soal pendidikan sex ke anak lho.

Mohon diperhatikan, yang dibahas di seminar itu adalah bagaimana kita memproteksi anak kita dari ancaman pornografi
Bukan untuk membungkam mulut kita membicarakan pendidikan sex ke anak.
Bukan untuk bikin kita parno. 

Oh well, memang kenyataan itu bikin gw parno.
Tapi IMO, setiap keparnoan harus berani dihadapi dan harus bisa diatasi.

Gw setuju bahwa sex itu adalah kodrat natural manusia. 
Dan itulah adalah wajar dialami oleh setiap manusia normal terhadap lawan jenisnya.
Tapi jelas ada rambu-rambu yang juga harus dipatuhi.
Karena itu yang membedakan antara kita dengan hewan.

Sedangkan menurut wikipedia, Pornografi adalah penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia secara terbuka (eksplisit) dengan tujuan membangkitkan birahi (gairah seksual). Dapat dikatakan, pornografi adalah bentuk ekstrem/vulgar dari erotika. 

Gw yakin pornografi melanggar norma susila dan norma agama manapun. 
Itu kenapa sebabnya seminar session 1 menggambarkan kondisi sosial yang saat ini sedang kita hadapi, bagaimana kita menyikapinya dan kemudian apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menghadapinya.

Jadi kalo menurut gw sih, sex dan pornografi itu adalah dua hal yang berbeda.
Two different things. 
Tolong kita cerna ini dulu baik-baik.

Menurut Pak Toge Aprilianto, kematangan fisik anak semakin cepat sementara kematangan mental gak sama cepatnya.
Dan kematangan fisik maupun mental setiap anak berbeda-beda.
Mungkin pertanyaan di atas tadi saat ini ditanyakan oleh seorang anak saat dia usia 8 tahun.
Mungkin juga pertanyaan begitu baru ditanyakan anak kita saat dia berusia 11 tahun.
Ato bisa juga pertanyaan tersebut ditanyakan adiknya saat baru menginjak usia 7 tahun.

Tapi seharusnya kapanpun saat anak kita mengalami kematangan fisik, kita sudah selesai membekali anak kita dengan pendidikan yang cukup sehingga dia gak lagi terjebak dalam kondisi seperti yang pernah gw alami dulu.
Baru mulai mencari-cari tau, baru mulai mencari jati diri.
Saat itu dia diharapkan udah bisa menjadi Inspector QC bagi dirinya sendiri, menentukan mana yang tidak baik dan mana yang baik untuk dirinya.

Jadi Bagaimana kita memulai bicara soal pendidikan sex ini ke anak kita dan kapan waktu yang paling tepat ?
Errrr.. zuzur, pengetahuan gw belon sampe level situ untuk dishare di blog ini.
Gw juga belon tau nih.
Tapi gw merasa ini penting banget buat gw tahu. 
Baru akan di bahas di seminar Tetralogy Session 4, 1 Desember nanti.
#eaaaa ujung-ujungnya pesan sponsor ya, teuteup.

So, mau percaya apa gak dengan fakta yang dibeberkan di seminar session 1 ? 
Sok-mangga.
Itu terserah ke pribadi orang tua masing-masing dalam menyikapinya.

Mau menutup mata dan telinga ataukah menyusun 'strategi baru' dalam tujuan pengasuhan anak ?
Itu juga adalah pilihan masing-masing orang tua.

Karena yang akan mempertanggung jawabkan hasil dari pengasuhan anak kita terhadap Yang Maha Kuasa adalah kita sendiri kok. 
Bukan si Anu, 
Bukan si Pulan.
Bukan psikolog A, B,C

Lagipula belajar Parenting itu bukan cuma semata-mata sama si A kok, 
Bukan cuma si B, 
Bukan cuma sama si C kok.
Gw sendiri juga belajar dari berbagai sumber.

Buat gw filternya adalah : ambil dan terapkan yang positif, yang sesuai dengan norma agama dan susila, yang sesuai dengan hati nurani dan logika, buang dan cuekin yang gak sesuai.

Karena kita tidak terlahir nempel satu paket dengan parenting skill.
Itulah sebabnya menjadi orang tua adalah never ending learning process.....

10 comments:

  1. lah..sebage emak2 awam, gue juga ga ngerti deh, musti jawab apa kalo ditanya begitu sama anak.

    Makanya pas ada seminar tetralogy yang temanya pede bicara sex ke anak / remaja, kaga pake pikir2.. langsung daftar ;)

    Karna pasti gue akan ngalamin fase ditanya anak begitu, dan mudah2an nanti gue juga bisa jawab tenang dan dengan sebener2nya.



    ReplyDelete
  2. Nyokap gw juga dulu orangnya pemalu gitu kalo gw tanya2 Ndah, jadi kalo gw nanya apa, doi bukannya jawab malah ngasih buku, nyuruh gw cari sendiri jawabannya :D
    Gw mah insya Alloh kelak nggak mo gitu :)
    A never ending process, bener banget :)

    ReplyDelete
  3. @ Desi,
    Sama.
    Makanya penasaran pengen ikut.

    @ Della,
    makanya kita harus jadi orang tua yang lebih baik ya.

    ReplyDelete
  4. Aku memang perlu bersyukur ya Ndah. Saat aku haid pertama kali, aku lgs kasih tau mamaku, dan saat itu pula aku langsung mendapatkan pendidikan tentang seks yang berguna banget buat ke depannya...

    Dan aku setuju banget dengan semua yang kamu tulis di sini, Ndah. Thanks udah ingetin aku yaaa...jadi sejak sekarang sudah mulai banyak persiapan mengenai cara memperkenalkan pendidikan seks ke anak..supaya nanti ketika anak bertanya, walo mugnkin bakal shock, tapi udah punya ancang-ancang gimana cara menjawabnya...

    ReplyDelete
  5. Gak sabar nunggu seminarnya Mba Indah. Sekarang aja sama istri masih suka lempar-lemparan siapa yang harus ngejelasin nanti kalo Aaqil nanya-nanya.

    ReplyDelete
  6. Menjadi orangtua pembelajar, untuk menjadi lebih baik ;)

    Tfs...

    ReplyDelete
  7. Teringat dulu pas haid pertama kali, taunya ingat iklan, oh itu toh guna pembalut *cari tau sendiri*

    Alhamdulillah pendidikan sex malah dapat waktu SMP. Jadi di sekolah dulu ada seminar sex yang diadakan beberapa kali, dijelaskan ama dokter dan pakai slide2. Di slide itu ada gambar2 penyakit menular jika melakukan seks bebas. Nah, dari situ, udah gak bingung lagi deh!

    ReplyDelete
  8. Duh, ngomongin masalah sex ama anak ituh emang kadang suka bikin mati gaya...hihihi...

    Sampai sejauh ini gue berusaha membuka diri ama Kayla, sehingga Kayla gak merasa sungkan untuk menanyakan masalah apa pun ama gue, termasuk sex...

    Pendidikan sex yang gue ajarkan ama Kayla sampai saat inih, hanya sampai kamu harus jaga baik baik organ kewanitaan kamu, dan gak boleh ada yang nyentuh,...kalo ada apa apa harus bilang ama mama...

    ReplyDelete
  9. aduuhh 8th yaa...umurnya azka ituu,hikks...makanya gue ikut ngikut seminar tetra...moga2 yg sesi 4 bisa ikut juga...semoga gue bisa menjawab dan menyikapi 'masa-masa' itu dengan tenang dan tepat...aamiin...

    gue setuju banget ama elo ndah..kita, yg jadi filter...belum tentu juga 'ilmu' parenting dari si A cocok ataw si B yg gak cocok...semuanya berpulang kepada kita,orang tuanya...makanya gue gak ngotot "nelen" satu ajaran doang...hehehehe...

    ReplyDelete
  10. duh bener banget setuju dengan yang dituliskan jeng indah...waduh jadi ingat mens pertama ane..jaman bahalok...terus kemarin juga mati gaya saat ditanya kinan aku ambil apa itu *saat melihat mamanya mengambil pembalut...gimana ngomong jawabannya...apa bilang ini pampers buat mama yang lagi keluar darah..waduh kok kesannya serem dan horor banget gitu.....yang ada malah kinan tanya mama sakit apa kok ada darahnya..walah...di alihkan aja dulu pertanyaannya...hehehe

    ReplyDelete