3.17.2011

Parenting Is Not A Competition

Semalam gw mendengar suatu cerita yang somehow menyentuh perasaan gw. Membuat perasaan gw sebagai ibu pun berkecamuk antara tertegun, bengong, sedih, kesel.


Baru-baru ini Sang Narasumber yang bercerita ke gw semalam, ngadain semacam kontes anak-anak untuk menunjukkan bakatnya. Setelah menjaring para anak-anak yang dinilai memiliki bakat dan potensi ini di beberapa kota besar di Indonesia, akhirnya didapatlah beberapa semifinalis, salah satunya sebutlah dengan nama si Fulan.


Dari hasil psikotest penjurian terhadap Fulan dapat disimpulkan bahwa si Fulan ini sebenarnya berada dalam 'tekanan'. Saat penjurian, salah satu juri menanyakan mengapa Fulan memilih menyanyikan lagu yang dia bawakan. Fulan dengan polosnya menjawab karena Mamanya ingin dia menyanyikan lagu tersebut. Terus pas ditanya apakah Fulan suka menyanyikan lagu tersebut ? Fulan lagi-lagi dengan jujurnya menjawab " Biasa aja". Jadi dia menyanyikan lagu itu bukan atas keinginannya sendiri, melainkan keinginan mamanya.


Pada saat audisi di kotanya, Fulan menunjukkan bakat yang menyanyinya yang bagus, namun entah kenapa pada malam penjurian untuk memilih finalis, Fulan kurang maximal dalam unjuk gigi. Dan penampilan dia yang kurang prima malam itu membuatnya tersisih dan gagal masuk ke dalam barisan 10 Finalis.


Mamanya sudah mempersiapkan sepatu untuk penampilan Fulan jauh-jauh dari kotanya. Namun entah kenapa, ternyata sepatu yang menurut Mamanya fit di kaki Fulan, bisa-bisanya kegedean saat hendak dikenakan malam itu. Dan Mamanya memaksa Fulan untuk menyumpal kakinya dengan plastik biar gak kedodoran dan muat di kaki Fulan daripada menggantinya dengan sepatu lain yang lebih nyaman untuk Fulan. Ya Allah...kebayang gimana mental anak itu sudah down sebelum bertanding.


Gak cuma itu, saat mengetahui Fulan tidak termasuk 10 finalis yang maju ke Grand Final, Fulan dipukuli orang tuanya bahkan hingga berdarah. Ya Allah, seketika gw terdiam, dan hati gw langsung ngenes.


Saat itu gw berpikir bisa ya segitu teganya seorang ibu menyakiti anaknya sendiri hanya karena tidak bisa memuaskan keinginannya. Itu anak kandungnya lhoooo, bukan anak tiri.


Hanya karena anaknya tidak bisa memenangkan suatu kompetisi dengan anak-anak yang lain, sang ibu tega menyakiti tidak hanya fisik anaknya, namun juga tega menorehkan luka di dalam hati anaknya. Bahkan seekor induk macan pun bisa melindungi anak-anaknya, tetapi kenapa yang ini justru menyakiti anaknya sendiri ?


Ternyata kondisi ini diperburuk dengan kenyataan kedua orang tua Fulan tidak produktif menghasilkan uang, jadi sedikit banyak mereka sangat menggantungkan finansial ke Fulan.

Gw tidak menentang kalo anak bekerja membantu meringankan beban orang tua. Orang tuanya harusnya seneng anak sudah memiliki tanggung jawab dan kemandirian kayak gitu.

Tapi gw rasa kita semua sepakat bahwa anak usia 8-9 tahun belum berkewajiban untuk menjadi tumpuan utama orang tuanya memenuhi kebutuhan keluarga mereka, sementara orang tuanya sebenarnya tidak mengalami kekurangan fisik untuk menjadi pencari nafkah.

Bukankah adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mencukupi kebutuhan anak kita baik kebutuhan lahir maupun batin. Sadar atau tidak, tapi Orang tua Fulan gak hanya melalaikan tanggung jawab secara lahiriah, tapi mereka melupakan pemenuhan kebutuhan batin Fulan. Saat Fulan merasa down malam itu, yang dia butuhkan adalah pelukan dari kedua orangtuanya, bukan pukulan...

Mengutip tweet @BraveKidsvoices yang di Retweet oleh @supermomsid kemarin : " Parenting is not a competition. Parenting is not an ego trip. Parenting is about making sure your children are happy "



Kondisi seperti ini gak cuma bisa kita liat dalam kasus si Fulan. Udah sering liat orang tua yang memarahi anaknya karena tidak menyandang peringkat nomer 1 di kelas ? Sudah pernah melihat pemandangan orang tua yang setres melihat perkembangan anaknya tertinggal dari teman-teman sejawatnya ? Dan masih banyak lagi contoh yang lain kasus mirip-mirip gini.

Jadi coba kita tanyain lagi ke diri kita : sebenarnya siapa sih yang sedang berkompetisi ? Beneran anak kita ataukah kita sebagai orang tuanya ?


Dan jujur gw pernah menjadi orang tua yang berkompetisi ini mempermasalahkan kemampuan Ganesh saat toddler Genk Racun sudah bisa merangkak, Ganesh baru bisa onggong-onggong. Alhamdulillah gw udah dibukakan mata hati dan insap sebelum gw menorehkan luka lebih dalam di hati Ganesh.


Seperti kata Ibu Elly Risman pernah bilang " Gak ada sekolah untuk menjadi orang tua...".

Bukan berarti menjadi orang tua itu gak perlu belajar. Justru buat gw, belajar menjadi orang tua yang bijak adalah suatu proses pembelajaran yang gak pernah ada habis-habisnya....dan ujiannya jauh lebih sukar ketimbang belajar menjadi seorang anak.

So, apakah kita masih tergolong orang tua yang memaksakan kompetisi tiada habisnya terhadap anak kita ? I hope not...

9 comments:

  1. Semoga kita tidak seperti orangtua Fulan ya mam. Saat masih kecil, anak harus happy dan tidak tertekan dalam melakukan segala hal, krn itulah yang menjadi dasar psikhologis langkahnya di masa dewasanya *kalimatnya sok teu ya saya :D*.

    Jadi inget, duluuuu waktu kuliah, saya pernah kasih les sama anak SD kelas 6 gitu. Saat les dia selalu kelihatan capeeek banget. Ternyata sehari2 dia harus kursus acting untuk memenuhi ambisi ibunya yang anaknya pengin jadi artis cilik. Saat saya tanya anaknya, apk emang mau jd artis. Dia jawab, "gak mbak, mama yang nyuruh" . Duuuh...kasihan anak umur segitu harus menanggung ambisi ortunya. :-(.

    ReplyDelete
  2. @ BunDit,
    Terkadang aku merasa kita beruntung diberi kesempatan bisa browsing, bisa belajar mengenai parenting. Walopun kita belon jadi the perfect parents, tapi at least kita sudah tahu ada beberapa hal yang seharusnya jangan kita terapkan ke anak. Ya kan?

    ReplyDelete
  3. Buset, serius ada yang kayak gitu??? Bayanginnya aja mau mewek gue T_T Ini sih lebih parah dari Amy Chua si Tiger Mom ya bookk. Kalo Amy Chua kan 'keras' pada anak-anaknya karena dia ingin mereka jadi yg terbaik. Kalo emaknya si Fulan kan 'keras' karena dia mau mengeksploitasi anaknya demi keuangan keluarga.

    Hikkss...

    ReplyDelete
  4. Ih, gilo banget itu orang tua.. minta dilaporin ke KP2A kali yaa..

    Btw, anakku maryam dulu baru bisa tengkurep sendiri pas 8 bulan, skip kelas merangkak juga.. Soalnya dia langsung jalan, hehe.

    ReplyDelete
  5. @ Iir,
    gak tau juga sih dia mau mengekploitasi anaknya apa gak. tapi bapak ibunya mengaku tidak bekerja. So ?
    Gw gak tega banget pas diceritain,Ra. Jangankan emak-emak, wong bapak-bapak yang cerita aja geram, gak sampe hati.

    @ Nuri,
    Kita kan sekarang udah jadi orang tua yang lebih bijak. Kita udah ngerti bahwa milestone setiap anak itu belon tentu sama. ya kan?

    ReplyDelete
  6. Yah ini mah harusnya judulnya "ibu sakit jiwa" ndah.. -____-

    ReplyDelete
  7. Duh...sadisnya...

    Percaya gak percaya, tapi ternyata ada juga yah orang tua yang bisa sadis gitu ke anaknya T_T

    ReplyDelete
  8. Mba, I Like this posting.. :)

    Banyak ternyata ibu yang begitu ya. Mudah2an kita gak termasuk golongan mereka.. heheh Amin :)

    ReplyDelete
  9. sori cuma mau ngasih tau. ada yg copas tuklisan mbak kayaknya. coba cari di google searchnya "parenting is not a competition..". ada blog vita sugiarta yg persis plek tulisannya sama tulisan ini.

    ReplyDelete