12.10.2010

Elegi di Hari Senin

Belakangan ini gw mulai  merasa gak nyaman dengan dia yang pernah gw rekomendasikan di sini. Seringkali melihat beberapa statement yang dia keluarkan yang menurut gw agak extreme dan malah ada yang cenderung bersebrangan dengan apa yang udah diyakini ibu-ibu saat ini.


Bukan masalah bersebrangannya yang bikin gw merasa gak nyaman, melainkan ke-enggan-annya memberikan penjelasan lebih lanjut saat diminta klarifikasi statement yang dia keluarkan.

Menurut gw, adalah hal yang wajar gak sih kalo kita sebagai orang awam terus diberikan informasi yang baru dan cenderung kontra dengan yang selama ini kita yakini, dan kita menanyakan sumber informasi nya darimana? Apakah ada data penelitian yang sudah pernah dilakukan untuk membuktikan kebenarannya? Terlalu berlebihan kah respons kita jika mempertanyakan kedua hal tersebut?



Salah satu statement yang memancing kontroversial adalah mengenai imunisasi. Never mind. Gw percaya tiap ibu punya pilihan yang terbaik untuk anaknya. 

Nyinggung soal imunisasi, sebenarnya saat ini gw cuma ini bercerita tentang anak inspector gw yang baru saja melewati ulang tahunnya yang pertama tanggal 29 November yang lalu.



Sebelum dilahirkan ke dunia ini, ini adalah kehamilan yang ketiga buat sang ibu karena dua kehamilan sebelumnya sang ibu mengalami keguguran. Kelahiran anak ini sudah dinanti oleh segenap keluarga setelah penantian sekitar 3 tahun.

Saat ayah dan ibunya bekerja, anak laki-laki ini diurus oleh sang nenek dari ayahnya (inspector gw). Gw memang sering kali menanyakan perkembangan semua anak inspector gw. Tapi dibandingkan anak-anak inspector yang lain, anak ini mendapatkan perhatian lebih dari kami karena ternyata perkembangannya tidak berjalan mulus sebagaimana biasanya.

Mulai dari perkembangan berat badannya yang membuat gw turut prihatin, perkembangan motoriknya yang tertinggal dibanding anak-anak seusianya.


Iya iya iya, gw paham ada yang namanya Growth Chart, paham bahwa kadang perkembangan anak tidak sesuai dengan buku, tapi believe me, kami sudah melalui itu semua. Jika Anda di posisi kami, anda juga akan merasakan hal yang sama dengan yang kami rasakan di sini.

Belum lagi ditambah kondisi kesehatan sang dede yang memaksanya bolak-balik ke RS. Pernah suatu sore, gw mengingatkan inspector gw untuk imunisasi campak karena usia sang dede sudah 11 bulan. Tapi menurut pengakuannya, dokter tidak mau melakukan imunisasi campak ke anaknya karena sejak memasuki usia 9 bulan, sang dede tidak pernah berada dalam kondisi yang fit.

Segala upaya kami coba bantu dia dan istrinya untuk kesehatan dan perkembangan dede. Walopun cuma gw doang yang berpredikat seorang Ibu di team kami, tapi bapak-bapak juga adalah bagian dari orang tua yang punya rasa simpati yang sama toh?

Pertengahan minggu sekitar dua minggu yang lalu, gw mendapat kabar bahwa anaknya dirawat di rumah sakit. Namun keadaan ini diperburuk hingga suatu Senin pagi gw dapet sms dari Inspector gw bahwa dia ijin cuti karena anaknya dirawat di ICU. Sang Dede mengalami gangguan pernapasan.


Nyeeesss sedih rasanya waktu baca SMS ini. Selasa malam sepulang dari kantor, setelah main dengan Ganesh sebentar di rumah, gw dan Hani menyempatkan untuk membesuk di RSIA di perumahan Grand Wisata, gak begitu jauh dari Bekasi Timur.

Di sana inspector gw dan istrinya sedang menunggu di ruang perawatan. Berhubung kami datang sudah melewati jam besuk, kami hanya diperbolehkan melihat dari kaca luar saja. Sementara pakaian steril ICU nya cuma dua, jadi hanya cukup untuk gw dan Hani. Ayah ibunya menunggu di luar.

Demi Allah, walopun gw bukan ibu dari sang dede tapi gak kuat rasanya batin ini melihat anak dengan berat 5 kg bertelanjang dada, cuma ditutupi popok kain biru, sementara tubuhnya terhubung dengan segala selang alat bantu pernapasan. Kulit sang bayi sudah keriput bak plastik. Sungguh gak kuat berlama-lama menatap Dede.

Gw dan Hani tak kuasa menitikkan air mata sedih...gw pernah merasakan situasi dan kondisi seperti ini saat Almarhum Atok Ganesh masuk ICU. Semoga pemandangan seperti ini benar-benar jadi pengalaman terakhir buat gw di ruang ICU. Apalagi sebagai orang tua, gw dan Hani paham benar bagaimana kondisi emosi orang tuanya saat itu.

Istrinya pun bertutur kisah panjang lebar soal histori kesehatan sang dede. Menurut analisa dokter anak yang merawatnya, Dede terkena infeksi campak. Mungkin seperti sebagaimana kita tau bahwa virus campak bisa dilawan dengan antibodi kita dan dapat sembuh dengan sendirinya.

Tapi masalahnya seperti yang disampaikan oleh DSA yang merawatnya, Dede belum pernah diimunisasi campak. Dan saat virus campak ini menyerangnya, infeksinya diikuti dengan komplikasi ke saluran pernafasan bahkan menyerang ke aliran darahnya. *maap ini informasi dari DSA yang merawat sang Dede yaa*

Sang ibu (istri inspector gw) bertanya ke gw dengan mata nanar " Padahal ada anak usia 5 bulan terkena campak kondisinya gak separah dede. Kan sama-sama belum pernah imunisasi campak kan, Bu..."

Bukannya sotoy sok-sok kepengen jadi dokter, tapi gw mencoba menjawab sebatas yang pernah gw baca " Imunisasi campak umumnya dilakukan pada usia 9 bulan, karena sampai usia 6 bulan, bayi masih membawa kekebalan, dalam hal ini berupa antibodi IgG, yang ditransfer transplasental oleh sang ibu dari dalam kandungan. Antibodi bawaan ini lama kelamaan pun akan menurun, hingga pada usia 9 bulan telah siap untuk diperkenalkan dengan virus campak yang telah dilemahkan. Ganesh sendiri diberikan imunisasi campak pada usia 8 bulan kalo gak salah "



Sang ibu pun mengangguk-angguk seraya berujar dengan tatapan kosong " Kasian dede....setiap hari terus saja disuntik diambil darahnya...saya gak tega...Belum lagi dipasang alat-alat begitu..." dia gak melanjutkan lagi perkataannya karena menahan isak tangis.

Gw yang mendengarnya pun ikut menahan air mata. Gw cuma bisa bilang " Sabar yaa. Jangan pernah merasa capek berjuang untuk kesembuhan dede. Berdo'a supaya Allah memberikan yang terbaik untuk dede..." sambil mengelus-elus pundak ibunya.  

Kami pun pamit pulang karena kasian ninggalin Ganesh di rumah terlalu lama. Sesampai di rumah, Ganesh belon bobo karena menunggu kami pulang. Setelah membersihkan diri, kami pun mengajak Ganesh bobo. Saat melihat Ganesh bobo dengan damai di antara gw dan Hani, gw kembali menitikkan air mata sambil mencium pipinya. Ya Allah....

Senin subuh 6 Desember jam 4 pagi, tepat seminggu setelah gw menerima SMS yang mengabarkan dede dirawat di ICU, lagi-lagi gw menerima SMS dari sang ibu yang bunyinya " Bu Dede dah gak tertolong lagi, dia dah meninggal".

Innalillahi wa innaillahi rojiun. Gw langsung terhenyak. Sediiih banget rasanya. Tapi seberat apapun cobaan ini untuk kedua orang tuanya, mungkin ini lah yang terbaik di mata Allah SWT.

Pagi itu gw ke pabrik untuk absen dan pergi lagi bersama dengan beberapa rekan melayat ke rumahnya dan turut mengantarkan sang dede ke pembaringan terakhir. Ayah ibunya gak henti-henti meneteskan air mata. Sang ibu sudah gak sanggup berkata-kata. Gw ikut merasakan apa yang dia rasakan.

Gw tahu pasti saat itu perasaan ibu, dunia sepertinya mau terbalik. Sang Dede yang selama ini ditunggu setelah sekian tahun hanya diberikan kesempatan bersama selama 1 tahun 7 hari....Separuh jiwa ini rasanya pergi. Gw yakin bahwa yang membaca tulisan ini dan juga seorang ibu pasti juga bisa merasakan hal yang sama. Yes, we are moms. We know how it feel. 

Dengan menceritakan kisah sedih ini, gw gak bermaksud berkampanye pentingnya imunisasi bla bla bla. Adalah pilihan orang tua untuk memberikan imunisasi bagi anaknya ato tidak. Apapun pilihan orang tua, pastikan itu memang yang terbaik untuk anak kita.

Apakah komplikasi campak yang diderita dede akibat tidak diberikan imunisasi, waullahualam, gw bukan orang yang berkompeten dalam menjawabnya. Gw bukan dokter, bukan ahli medis.
Gw cuma ingin sharing bahwa gw semakin menyadari bahwa anak adalah titipan Allah SWT yang harus disyukuri. Kita gakkan pernah tahu kapan Sang Pemilik Ruh memanggil titipan-Nya.
 
Gw bersyukur kepada Allah SWT, gw masih diberikan kesempatan untuk memeluk, mencium, melihat senyum anak gw yang kadang jutek. Masih diberikan kesempatan menggendongnya saat dia nangis ngamuk, diberikan kesempatan untuk bersamanya hingga saat ini.
 
Ganesh, Mommy love you, Nak....So much!! *pengen cepat pulang dan memeluk anakku tercinta*

14 comments:

  1. i'm crying....i'm crying now....

    ceeeessss........

    ReplyDelete
  2. Whuaahhh,,,ga tega bacanya. Mungkin ini memang yg terbaik untuk si Dede, Allah pasti punya rencana baik dibalik cobaannya.

    Iya mak, anak adalah milik Allah yg sewaktu2 tanpa tau kapan akan DIA bawa kembali.


    Btw mak, kalimat awalnya gw jdi bertanya2 *kepo*,,siapakah yg dimaksud *nyegir setan*

    ReplyDelete
  3. Duh tu DSA apa ga mempertimbangkan hal tersebut ya? Bersyukur atas rekomendasi dirimu tentang dr Rinawati yg TOP Banget, membuat gw lebih tenang jika Ary mengalami masalah kesehatan.

    ReplyDelete
  4. Hicks... Sedih banget bacanya ndah, thanks for sharingnya...

    ReplyDelete
  5. @ Firah,
    Me too...setiap keiinget saat anak itu di ICU, gw selalu pengen nangis.

    @ Mak Sally,
    Amin, Mak. Semoga bapak ibu nya segera mendapatkan dede yang baru untuk menghibur duka lara ditinggal sang dede.

    @ Yudith,
    Gw juga bersyukur punya DSA yang informatif dan so far cocok ya. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan untuk anak-anak kita. Amin

    ReplyDelete
  6. @ Ade,
    Semoga cerita gw ini membuat kita semakin bersyukur dengan kondisi anak kita.

    ReplyDelete
  7. Asli mewek saya bacanya...

    semoga Dede jadi anak syurga..dan semoga Pak Inspektor dan Istri diberi ketabahan Amien...

    Dan semoga..saya..Seorang ibu dari bocah 9 bln..semakin bersyukur denagn apa yg telah di titipkan..Ahhh jadi kangen bocahkuuu..padahal dia lg bobok pules di kamar..huhuhu

    ReplyDelete
  8. Innalillahiwainailaihi rojiun. semoga dede damai di sisinNya. Ikut berkaca2 huhuhu. Ya mom, semoga kita sebagai ibu selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Yang tak pernah henti2 saya panjatkan dalam sholat selalu kesehatan anak. Itu yang paling penting. Thanks story nya ya mom, mengingatkan kita semua.

    ReplyDelete
  9. Inallilahi.....sedih bgt bacanya mba.oya sy silent reader blognya mba indah lho,sy suka bca blog ini. Bahasanya natural *sok pengamat*. Mba indah tnggal d bekasi y?sy jg nih *ptg g seeeeh* btw dr.rinawati praktek dmn y?

    ReplyDelete
  10. @ Mbak Yetti,
    Amin do'anya.

    @ BunDit, Mbak Allisa,
    *berpelukan*

    @ Bunda Nadia,
    Iya aku tinggal di Bekasi timur, Mbak. dr. Rinawati praktek di RSB YPK, RS Hermina Jatinegara sama Hermina Daan Mogot CMIIW...

    ReplyDelete
  11. Inalillahi..Ya Allah, paling ga tahan kalo dengar atau baca cerita tentang anak sakit..apalagi sampai meninggal..

    Semoga keluarga rekan Mba Indah diberi ketabahan..

    langsung kangen anak di rumah, dan luar biasa bersyukur sudah diberi kesempatan jadi orang tua..Alhamdulillah

    makasih sharing-nya ya mba, kadang sebagai orang tua kita perlu terus diingatkan kalau kebersamaan dengan anak itu anugrah luar biasa.

    ReplyDelete
  12. huuu...sad story...jd inget anak kedua gw :(

    ReplyDelete
  13. baru baca detilnya ndah... :((
    Garin di ICU 34 hari..bertelanjang dada, penuh selang dgn berat hanya 3.8kilo 3 bulan...
    udah 3 tahun berlalu....bayangan di icu, suara mesin icu dan hancurnya hatiku masih sangat terasa sampe sekarang.... aku menangis lagiii.... huuu huuuu huuu

    ReplyDelete