10.12.2010

SUKA...Bukan Hanya BISA

OK lanjuuut dari postingan sebelumnya. Who's with me? *k-e-p-e-d-e-a-n*
Sebelum kita mulai nerusin catetan Mendisiplinkan Buah Hati dengan Kasih Sayang, Yuuuk kita tersenyum dulu. Kan kalo hati senang, otak akan menyerap lebih banyak.

Katanya kita gak boleh marah-marah kalo mo komunikasi dengan anak, terus gimana caranya supaya bisa kontrol emosi dan lebih sabar ngadepin anak?

Tips dari ibu Elly Risman,
- Tarik napas panjang
- Senyum
- Ingat bahwa anak kita bukanlah milik kita, tapi semata-mata hanyalah titipan Allah. Perlakukan dia sebaik mungkin.
Hayooo kalo misalnya kita dititipin anak sama Ratu Elisabeth, Om Balack Obama, apa kita masih berani sewenang-wenang? Berani ngomel bahkan mukul? heu heu heu...I don't think so!
Nah, seharusnya apalagi kalo titipan Allah...masa sih kita gak takut?


Gimana supaya anak tidak mengulangi kesalahannya ?


Aturan ato seperangkat harapan terhadap anak yang berisi panduan dan batasan dibuat berdasarkan kepedulian dan cinta. 


Jangan bikin aturan banyak dalam sekaligus. Ntar kalo kebanyakan, anak malah bingung. Utamakan prioritas yang penting dulu yang mau dijalanin.


Inget, batasannya harus dijelasin dulu ke anak biar paham kenapa aturan tersebut dibuat. Dan alasannya harus masuk akal dong ah.


Setelah aturan dibuat dengan melibatkan anak, dan disepakati bersama,lanjutkan dengan implementasi dan evaluasi hasilnya. Kadang kita memberlakukan hukuman pada anak agar anak tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Salah satu panitia X4C *event organizer seminar ini* memberikan salah satu contoh hukuman yang pernah dia terapkan ke anaknya. Anaknya dihukum di pojokan hukuman (Punishment Corner) karena mengobok-obok juice dengan tangan.


Ato pernah liat anak SD yang dijemur di halaman sekolahnya karena gak bikin PR? Sebagai orang dewasa, kita bisa liat gak adanya hubungan antara ngobok-ngobok juice dengan disuruh merenung di pojokan ? Ato apa korelasinya antara gak bikin PR sama dijemur di halaman sekolah? Adakah ? Ada ?


Yang ingin digarisbawahi dari contoh di atas adalah : seringkali kita menjatuhkan hukuman ke anak kita yang gak ada hubungannya dengan kesalahannya, sehingga hukuman tersebut tidak membuat anak kita belajar dari kesalahannya.

Instead of menjatuhi hukuman kayak gini, Bu Elly Risman lebih prefer
membiarkan anak belajar dari konsekwensi. Ada dua macam konsekwensi yang didapat anak dari tindakannya, yaitu :
1. Konsekwensi Logis
2. Konsekwensi Alamiah


Contohnya begini : saatnya jam makan siang, anak belum pengen makan walopun sudah kita iming-imingi dengan tempe penyet kesukaannya. Maka beritahu anak konsekwensi dia menunda makan siang saat itu adalah dia akan kehabisan tempe penyet karena keburu diabisin orang lain yang makan siang saat itu.

Jadi konsekwensi logisnya : dia keabisan tempe penyet kesukaannya
Konsekwensi alamiah nya : dia akan kelaperan

Jika anak tetap memilih menunda makan saat itu, biarkan dia mengambil keputusannya dan belajar dari konsekwensi yang dia ambil. Biarlah dia keabisan tempe penyet dan merasa lapar. Jangan sesekali melunak jika ingin mengajarkan anak untuk disiplin. *walopun berat dan gak tega, kuatkan hatimu Mamas*


Oh ya, jangan lupa bahwa kita harus konsisten dalam menjalankan aturan ini. Jangan hari ini bilang A, besok bilang B, nah lho...bingung kan anak dalam melaksanakannya.

Kalo anaknya nangis cenderung tantum, gimana dong?

Jangan sesekali menuruti keinginan anak pada saat dia tantrum. Yang perlu dilakukan adalah peluk anak, dekap erat-erat tubuhnya yang berontak dan katakan dengan lemah-lembut " Mommy loves you, Sayang"Sekali aja kita turuti keinginan anak saat tantrum, anak akan belajar sesuatu dari situ " Oooh...kalo aku mau sesuatu, tinggal nangis guling-guling aja...pasti dikabulkan mommy". Yang diperlukan anak sebenarnya adalah perhatian orang tuanya.


Terus kalo ngasih hadiah ?



Hadiah harusnya membuat anak belajar apa yang harus dilakukan, bukan 'sogokan'. Diharapkan dengan memberikan hadiah mengakibatkan anak jadi lebih baik dan menyenangkan.

Jangan sampai karena diganjar hadiah mengajarkan anak merasa mereka punya hak mengharapkan bayaran untuk kerja sama. Anak berpikir bahwa nilai hadiahnya harus berubah dengan anak bertambah besar.

Jika memberikan hadiah, sebaiknya bukan berupa benda. Bisa berupa pelukan, ciuman sebagai tanda kasih sayang.

Siapa sih yang harus ngajarin disiplin ke anak?

Yah kedua orangtuanya doong. Bagaimanapun Bapak adalah partner ibu dalam mendidik anak. Gak sepenuhnya menyerahkan pendidikan dan pengasuhan anak ke ibu doang, karena anak juga membutuhkan figure Bapak dalam kehidupannya. Peran Bapak sangat penting untuk anak perempuan, apalagi untuk anak laki-laki. usia 7 tahun ke atas, peran Bapak mendidik anak laki-lakinya justru lebih besar. *hohoho...catet tuh, Han*

Gini lho, laki-laki cenderung menerima dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang singkat, jelas, langsung ke intinya dan padat. Kalo boibo cenderung cerewet dan ngomong panjang-panjang beda dengan laki-laki. 

Gak percaya ? Terbukti kalo gw nulis email panjang-panjang ke Hani,jelasin panjang lebar, enden dese cuma balas email gw dengan 2 huruf sajah " OK". See??

Jadi obrolan sesama laki-laki kadang lebih effektif lho. Bukan berarti anak perempuan gak butuh ngobrol sama Bapaknya. Sering ngeliat kan kalo anak perempuan kadang cenderung lebih manja sama Bapaknya?

Kenapa sih dalam satu keluarga kita gak boleh membandingkan kakak dengan adiknya?

Intinya setiap anak yang kita lahirkan unik, karena sesungguhnya Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Gak hanya tercantum di Al Qur'an aja kok, menurut Resti di dalam agama yang dianutnya pun mengajarkan hal yang sama. Tuuuh...makanya janganlah kita menjadi orang tua yang mengidap penyakit parentogenik alias suka membanding-bandingkan anak kita dengan orang lain walopun dengan sodara kandungnya sendiri.

Miris gw kalo inget wajah sedih keponakan gw karena dibandingin dengan kakaknya " Kamu ngerjain soal begini aja kok gak bisa sih? Dulu Mbak Adith merem aja bisa ngerjain soal begini...". 

Sepertinya gw harus ngasih tahu kakak gw bahwa dalam membesarkan kakak dengan adik pun kadang gak bisa dengan pola asuh yang sama karena keunikan pribadinya.

Jika akhir-akhir ini para ibu gencar kampanye " breastfeeding without labeling", coba perlakukan hal yang sama ke anak kita sendiri. Stop melabel anak kita dengan " anak bandel ", "lambat nangkepnya" dan citra buruk lainnya yang menyebabkan dia kehilangan harga dirinya.

Justru harusnya kita memberikan dorongan dan semangat. Hargailah anak karena dirinya, bukan apa yang dilakukannya. Bikin anak bahagia dan bisa bermakna bagi orang lain.

Untuk belajar lebih jauh soal komunikasi dengan anak akan diadakan pelatihan/workshop tersendiri. Dari pelatihan ini diharapkan melahirkan therapist yang bisa membantu anak-anak Indonesia berdisiplin dengan kasih sayang tentunya. Gw, Resti, Icus,Bheboth dan Citra Monika tertarik untuk ikut session lebih lanjut.

Gw sih gak muluk-muluk pengen jadi therapist buat anak-anak lain, tujuan utama gw adalah bisa nerapin ke Ganesh itu aja udah cukup.

Gw pengen mengarahkan Ganesh agar melakukan sesuatu karena dia SUKA...bukan hanya supaya dia BISA. Kenapa? Karena jika dilakukan dengan suka, maka akan dilakukan dengan sepenuh hatinya.

Yang ingin gw bangun adalah rasa tanggung jawab dan kesadaran Ganesh. Jika Ganesh sudah merasa memiliki tanggung jawab dan kesadaran, maka gak perlu lagi dihukum maka dia akan menjalaninya sendiri.

Contoh : mengajarkan shalat ke Ganesh. Jika hanya didasari rasa takut, maka Ganesh hanya shalat kalo ada gw ato Hani. Kalo kami gak ada, belon tentu dia mau shalat. Tapi kalo dilandasi tanggung jawab dan kesadaran diri, maka dengan ato tanpa pengawasan kami, dengan ato tanpa hadiah/hukuman, dia akan tetap menjalankan shalat. Itu yang gw mau!

Boibo, untuk melengkapi postingan gw yang masih banyak kekurangan di sana-sini, silahkan perdalam ilmu di tulisan Bheboth dan Citra Monika.

Oh ya sebelum gw tutup ilmu hari ini...gw suka banget dengan contoh statement puteri bu Elly Risman waktu interview beasiswa overseas. Dia bilang " Aku pasti bisa...karena di keluarga kami, belajar itu adalah hobby.."

Ya Allah, semoga belajar dan beribadah itu juga salah satu dari hobby Ganesh nantinya...Amin.

5 comments:

  1. woohooo..mama ganesh TOP deh tulisannya..gue share di twitter ya ndah..temen2 gue lagi pada butuh niy..dan kayanya gue ga perlu nulis di blog lagi deh..lo dah nulis semua..hahaha..makasiy Indaaahhh..*smooch*

    ReplyDelete
  2. Wah..asyik dapat ilmu banyak banget disini. Jadi kurang bagus ya menerapkan "Time Out" buat anak kayak di The Nanny 911 itu mam?

    ReplyDelete
  3. Ndah, makasih sharingnya... berguna banget niy bu guru, hehe...tata bahasa lo mantabh, mudah dipahami dan tidak tidak membosankan hihi :) gw menyimak dengan baik niy postingan seminar ini *thumbs up buat mommy Ganesh

    ReplyDelete
  4. Thank you mak Ganesh, keren pisan *peluk*

    ReplyDelete
  5. bagus sharingnya.. ijin share di fb ya mba buat reminder aq sama suami.. makadiii

    ReplyDelete