6.23.2010

Imunisasi Jiwa

Bismillah, semoga gak mengundang kontroversi.
Sebelumnya gw pengen bilang bahwa postingan gw ini tidak diperuntukkan untuk menyerang maupun menyudutkan pihak manapun. Ini murni melintas di pikiran gw dari semalam.

Beberapa minggu ini Dunia Ibu (gw gak tau apakah dunia bapak-bapak juga) diguncang oleh beredarnya video yang tidak pantas untuk dilihat. Para Ibu resah bahwa beredarnya video tersebut akan menimbulkan efek kepada anak-anak mereka yang di bawah umur. Apalagi video ini juga bisa diakses melalui media internet, tentunya semakin susah untuk menyaring agar anak-anak kita tidak ikut-ikutan mengunduh video yang gak pantas ini.

Akhirnya muncul reaksi cukup keras dari ormas dengan mengusung nama agama melakukan demo ke rumah sang pelaku bahkan sempet merebak issu pake acara bakar-bakaran *Masya Allah*. Reaksi kritis juga datang dari ibu-ibu entah secara pribadi maupun dalam bentuk paguyuban yang sangat amat resah sehingga muncullah kecaman, kutukan, hujatan terhadap tokoh-tokoh utama dalam video tersebut. Mereka seakan mempertanyakan gimana tanggung jawab moral tokoh-tokoh utama dalam video itu terhadap masa depan anak-anak kita.Tapi maaf ya kalo kemudian bikin gw jadi mikir, then what? What next? udahan ? Cuma prihatin aja? Cuma resah doang? Cuma protes doang?

Jujur, gw juga seorang mommy dari toddie boy 14mos. Kalo ditanya apakah gw gak khawatir pengaruh pornografi dan pornoaksi ini kelak terhadap Ganesh, pastilah bakalan gw getok orang yang nanya dan bilang " Yah pastilah...emang gw gak resah?!" 

Okay, gw mungkin gak ikut-ikutan ngomelin pelaku tapi bukan berarti gw mendukung tindakan asusila kayak gitu. Bukan berarti gw memberikan 'lampu hijau'. Bukan berarti gw mulai menganggap bahwa kelakuan kayak gitu adalah lumrah. Bukan gw menghalalkan sesuatu yang dilarang oleh agama dan norma masyarakat. Plis deh gw mungkin bukan orang suci, tapi gw gak sampe segila itu!

Terpatri dalam pikiran gw sedari dulu bahwa 'yang jelek-jelek itu biasanya cepat sekali menular'. Contohnya, sewaktu ada anak tetangga gw hamil sebelum nikah, tetangga gw yang lain hueboh. Dia mengecam, meneriakkan (instead of mengingatkan) bahwa tindakan berzinah itu dosa bla bla bla..dengan kata lain ngingetin ke tetangga lain sana sini dengan tema 'awas jangan sampe hamil duluan kayak si A' (bahasa halusnya sih bergunjing juga). 

Dan know what? Dia punya anak perempuan. Dan ternyata anak perempuannya juga kemudian hamil sebelum menikah. See? Itulah sebabnya sejak masih gadis, gw tutup mulut gak berani kasih komen kalo ada yang hamil di luar nikah. Gw cuma bilang dalam hati 'Na'udzubilah min dzlik, amit-amit jangan sampe kejadian'. Gw gak itu kejadian sama gw dan keturunan gw nantinya. Yang gw lakukan adalah sebaik-baiknya menjaga diri dari perbuatan kayak gitu.

Now Kembali lagi ke video. Gw setuju video asusila itu jelas suatu Big Problem! Tapi yang bikin video begituan bukan hanya pelaku yang lagi heboh ini aja toh. Kalo kita mau cari siapa yang salah, berapa banyak yang harus kita kecam, berapa banyak yang harus kita maki-maki. *ngelap keringet*

Mungkin karena gw kelamaan berada dalam lingkungan pabrik. Daripada cuma nyari nyalahin siapa yang salah, nyalahin sistem yang salah, nyalahin ini itu, terus nanya kok bisa sih pelakunya bikin film gituan?, gw mikirnya simple ' Ini PR buat gw gimana membentengi Ganesh supaya gak terkena dampak dari masalah ini'. Tindakan pencegahan macam apa yang gw kudu pikirin. Well, sudut pandang tiap orang bisa jadi berbeda. Tetapi itulah kebiasaan gw sebagai orang pabrik begitu dihadapkan dengan suatu issue, problem, hal yang nyeleneh. Dan itu yang jadi concern gw sekarang.

Temen gw, Arie Marzuli kirim tweet yang memuat kutipan beberapa pernyataan Astrid Ivo dalam menanggapi kasus yang sedang trend di ingpotaiment ini *cek aja ndiri pasti semua ingpotaiment nyiarin berita ginian*, liputan berita minggu-minggu ini. And I looooove the way she handle this issue.
Beberapa kutipannya yang menjadi catatan bagi Arie Marzuli dan bagi gw juga..:

" Orang Indonesia suka banget ngurusin aib orang lain, dan bukannya liat aibnya sendiri" .
JEDEEEER...Menohok gw banget gak seeh secara gw juga suka ocip-ocip! huahaha...

" Yang penting kita harus menjadi ibu yang profesional. Ibu itu kan suatu profesi. Harus menjadi contoh orang tua yang baik"
Setuju banget. Di rumahlah anak pertama kali mendapatkan pendidikan. Jika ingin mendidik anak untuk menjadi yang baik, tentunya berikan contoh gimana sih jadi orang yang baik.

" Menjadikan rumah yang islami bukan hanya ada kaligrafi Allah dan Muhammad, tapi gimana orangtua bisa menjadi panutan"
Hmmm....I love this!

" Kita harus mengimunisasi anak dengan imunisasi jiwa"
And that's what I plan to do with Ganesha. Ternyata melindungi anak kita gak cukup hanya dengan imunisasi berdasarkan CDC, IDAI, AAP perlu imunisasi jiwa agar anak bisa kebal terhadap efek-efek yang bertentangan dengan norma agama dan kesusilaan.

Kalo ditanya respon Mommy Ganesh soal video ini, masalah sangsi legal biarkan diurus oleh pihak yang memang berkompeten mengatasi masalah ini. Masalah sangsi-sangsi lainnya, serahkan aja sama Yang Di Atas bagaimana akan mengingatkan mereka atas dosa karena melanggar larangan-Nya. 

Mommy Ganesh dan beberapa teman-teman sepemikiran di Happy Mommies lebih suka fokus dengan bagaimana mencegah efek pornoaksi ini ke depannya buat anak-anak kita. Mendingan kita sharing ide bagaimana membentengi anak kita, mendidik anak kita dengan akhlak yang baik...Yuk yuk yuk...

*Andaikan boss gw baca postingan ini, dia pasti tersenyum bangga bahwa engineer didikannya sudah semakin dewasa dan bijaksana * **devilish grin...PLAAAKKK**

3 comments:

  1. bener banget ndah.. setuju sama omongan loe.. kadang kita suka ngga sadar kalo ngomongin orang, padahal belum tentu kita lebih baik dari dia.InsyaAllah kita bisa mendidik anak kita lebih baik yach...

    ReplyDelete
  2. Wah...wise sekali deh ibu satu ini hehehe. Bener mom, kita mulai dari keluarga kecil kita menghadapi issue spt ini. Setuju banget dengan imunisasi jiwa itu. Ternyata imunisasi tdk cuma utk raga, tapi penting juga buat jiwa ya mom :-)

    ReplyDelete
  3. @ Adevimala,
    Astaga ini Ade ya? Gw sampe binun sapa gitu..kok loe gak bilang-bilang kalo punya blog sih, De?

    @ BunDit,
    Hihihi..gak tau ya. Aku pikir daripada kita sibuk ngurusin nyalahin si ini, si itu, gara-gara si ini, si itu, mending fokus sama corrective actionnya aja. Toh udah kejadian, gak bisa direwind lagi kan? *maap kalo terlalu saklek. mungkin BunDit bisa maklum soalnya sesama orang pabs*

    ReplyDelete