3.01.2010

Long Wiken Penuh Ketegangan

Seminggu sebelum long wiken,gw kok suka merasa deg-degan. Pas gw cerita sama Hani, tuh anak malah bilang "kemarin gw juga sering deg-degan, eh berakhir diare". Hah?!? Tepok jidat!!!

Baru minggu ini terjawab sudah kenapa gw sering deg-degan gak karuan. Menjelang akhir Desember, gw punya masalah dengan salah satu perusahaan negara yang menuduh rumah kami telah melakukan pelanggaran dan dikenakan denda sekitar 3.8 juta.


Gw dan Hani yang merasa gak trima dengan tuduhan sepihak ini gak nrima gitu aja. Hani pun menggunakan jalur YLKI. Sementara itu karena kata Mbak Tuty (waktu itu masih era Mbak Tuty) gak cuma kami yang protes, Hani pun menyambangi rumah tetangga kami yang berjarak 2-3 rumah dari rumah kami untuk berdiskusi mengenai masalah ini.



Menurut Tetangga kami itu, ada sekitar 10 rumah di blok kami yang sedang menghadapi masalah serupa. Dan dia menawarkan Hani untuk bergabung dengan mereka untuk secara kolektif memberikan kuasa kepada suatu lembaga (yang harusnya) NIRLABA. Karena merasa percaya Bapak ini punya niat membantu, punya kesulitan yang sama, Hani pun ikut menandatangani surat yang so called Surat Kuasa. Dan Bapak ini pun meminta 300rb Rupiah untuk biaya operasional lembaga tersebut.


Sejujurnya saat itu gw yang lagi bikin cake di dapur ngerasa aneh. Lembaga nirlaba kok belon kerja aja udah minta uang operasional sih, padahal di Surat Kuasa nya tidak dicantumkan besarnya Success Fee menyalurkan aspirasi kami.Apalagi gak disertai dengan tanda terima. Tapi dengan dasar kepercayaan terhadap tetangga dekat, akhirnya Hani gak curiga apa-apa.


Belakangan,kami dapat salinan copy surat dari YLKI yang ternyata sudah memproses keluhan kami kepada Perusahaan Negara tersebut. Dan perusahaan negara itu pun menindaklajuti surat dari YLKI dan itu juga yang disampaikan kepada kami. Kami beberapa kali bertemu dengan bapak-bapak pejabat perusahaan negara di kantor cabang rumah kami, namun gak pernah sedikitpun petugas perusahaan negara tersebut meyebutkan adanya keluhan kami yang disampaikan melalui lembaga hamburger, melainkan YLKI.


Sementara itu kami gak pernah mendapatkan copy surat dari lembaga tersebut, follow up udah sejauh mana upaya yang mereka lakukan dengan uang operasional kami.


Apalagi belakangan Hani mendapatkan cerita yang sangat mengejutkan. Salah satu security berocip-ocip bahwa dirinya sedang di-skors slama 3 bln. Sementara Komandan Security yg memang agak sengak itu sudah dipecat. Emang ada satu rumah yang sering gw lewati setiap pulang-pergi sering kali gak berpenghuni. Tapi emang dasar gw orangnya cuek dan lempeng, gak pernah gw mengintai bahwa ternyata sang empunya rumah suka datang sesekali ke rumah itu dengan orang yang bukan muhrimnya.


Jadilah komandan security tersebut menggerebek rumah tersebut dengan oknum yang katanya penegak Hamburger. Ternyata niat aslinya adalah memeras si empunya rumah. Ditawari 150rb,tp si penegak hamburger ngamuk dgn alasan melecehkan diriya. Baru pergi dari rumah tersebut setelah mengantongi uang sebesar 500rb. Nah security yg di-skors selama 3 bulan ini kebetulan sedang berjaga di pos,kecipratan 50rb dari uang panas tersebut.

Sang korban akhirnya melaporkan hal ini ke RT, jadilah terbongkar kejadian malam itu. Dan ternyata tetangga gw yang nawarin bantuan lembaga hamburger tadi somehow terlibat dalam kasus ini.


Dari situ,Hani baru ngerasa bahwa tetangga gw ini sepertinya kok mencurigakan ya. Akhirnya urusan dengan perusahaan negara ini kami selesaikan dengan cara kami sendiri (YLKI sebagai mediator) pada akhir Januari kemarin.


Barulah awal Februari sang tetangga datang ke rumah kami dengan basa-basi ingin melaporkan hasil lembaga Hamburger tadi. Dengan tegas Hani katakan bahwa kami sudah menyelesaikan masalah kami dengan perusahaan negara. Bapak itu pun pulang dengan tangan kosong. Hani dan gw yakin kedatangan Bapak itu ke rumah kami mungkin ingin menagih uang operasional kembali. Sebenarnya setelah mendengar cerita security kemarin, gw udah ilfil sama tetangga gw ini.


Dimana kami berpikir bahwa semua sudah selesai, ternyata long wiken kami dirusak oleh oknum yang bertindak seperti preman ini. Jum'at pagi, Mbak Pany izin mau ke rumah sodaranya. Gw dan Hani sedang menidurkan Ganesh saat tetangga gw datang dengan seorang pria yang berkemeja lusuh dengan embel-embel nama lembaga hamburgernya.


Hani menemui mereka, sementara gw meneruskan menidurkan Ganesh.


Gak berapa lama terdengar suara cukup keras dari ruang tamu. Sepertinya terjadi perdebatan antara Hani dan tamu kami. Tapi gw gak keluar dari kamar. Setelah kedua tamu itu pulang, barulah Hani menceritakan kepada gw.


Orang yang ngakunya dari klan penegak Hamburger tadi ternyata mewakili Pak Sekjen mereka untuk menyampaikan mereka ingin melayangkan somasi karena kami dianggap melecehkan instansi mereka dengan menyelesaikan sendiri masalah kami. Hani tadinya berdebat dengan mereka, tapi karena dasarnya Hani bukan orang legal, dan juga mungkin keliatan panik dan bingung sehingga ini makin dimanfaatkan oleh kedua tamu kami tadi. Dengan menelpon Pak Sekjen via hape utusan lembaga hamburger tadi, akhirnya sang utusan bilang "Udah..kata Sekjen kami, diselesaikan di lapangan aja. Bayar aja 30% dari total denda yang dituntut oleh perusahaan negara ke kalian"


What??? Dari sini gw udah ngerasa kok aneh ya. Akhirnya Hani pun menghubungi temen-temen legal nya dan semua memberikan advise yang sama. Ada indikasi 'janggal' dalam kasus ini karena sama sekali gak ada dasar yang kuat untuk mereka mensomasi kami. Yang perlu Hani lakukan adalah segera membuat Surat Pencabutan Hak Kuasa dan kami pun gak punya hubungan apa-apa lagi dengan lembaga hamburger ini.


Sepanjang sore dan malam, tetangga gw terus aja coba menghubungi Hani via ponsel. Tapi gw melarang untuk menjawab teleponnya. Menurut gw, ini adalah long wiken dan gw gak pengen suasana kami dengan Ganesh yg jarang kami dapati di hari kerja dirusak oleh orang gak jelas maunya.


Tapi gak cukup dengan mencoba menelpon, tetangga gw pun sempat sms yang intinya " Pak Hani, tolong segera telpon Pak ****** (nama Sekjen lembaga hamburger tersebut) untuk membicarakan masalah tadi pagi. Ditunggu sekarang ".


Hani akhirnya menggunakan fasilitas di ponselnya untuk menge-block nomer tetangga gw.

Sabtu pagi, saat kami sedang bersiap-siap mau ke rumah nyokap gw, tetangga gw datang dan memanggil Hani dari depan pintu pagar. Kali ini gw bilang sama Hani, " Udah loe gak usah keluar. Biar gw aja yang keluar nemuin dia. Klo loe yang keluar,makin panjang urusannya "


Gw menemui tetangga gw di depan pagar tanpa berniat membukakan pintu, tapi tetap dengan nada sopan menanyakan keperluan dia datang ke rumah.


Dia menanyakan apakah Hani ada di rumah. *Yes, I knew from the start klo dia pasti nyari Hani,gak mungkin nyari gw*, Gw gak mau Hani nemuin orang ini tapi gw juga gak mau bohong bilang Hani gak ada. Kalo gw bohong, ntar disangka gw takut sama dia kali.

Gw gak menjawab pertanyaan dia, hanya menanyakan kembali ada perlu apa dia menanyakan suami gw. Dia menanyakan apakah Hani sudah menelpon Pak Sekjen untuk urusan kemarin. Gw dengan setengah mati berusaha tenang dan menahan emosi menjawab bahwa kami akan menelpon Senin aja. Gw minta maaf bahwa kami sedang dalam long wiken dan gak mau diganggu oleh urusan beginian.

Bukannya tau diri, eh tetangga gw malah bilang masalah ini udah gak bisa ditunda lagi seraya ngeluarin hape nelponin tuh sekjen. Dia bilang sama pak sekjen kalo kami kemungkinan mau pergi keluar, dia udah di depan rumah kami dan sekjen disuruh berbicara langsung dengan si ibu (maksudnya gw) sambil menyodorkan hape ke gw:


Gw mengambil hape dan baca Bismillah dalam hati " Halo..." dengan nada tegas. Sama sekali gak menye-menye, gak pecicilan seperti sosok gw yang selama ini dilihat dan dikira tetangga kompleks gw sini.

Lama tak terdengar suara, hingga gw pun harus mengulangi dengan "Halo...maaf, Bapak ingin bicara dengan siapa?"

Barulah terdengar suara seorang pria yang dari suaranya sepertinya orang seberang, satu suku dengan tetangga gw " Ini siapa? Saya mau bicara dengan Pak Hani "


" Saya Indah, istrinya Hani. Bapak siapa dan ada keperluan apa mencari suami saya? "


Dengan nada kasar dia menyahut " Saya ***** sekjen lembaga hamburger. Mana suami kamu?! Saya mau bicara sama suami kamu. Saya gak ada urusan dengan kamu! "

Bah, naluri gw bilang ini mulai gak bener. Mana ada orang yang educated gak tau sopan santun begini sama ibuk-ibuk.


" Maaf ya,Pak...tapi urusan suami saya adalah urusan saya. Jadi apa keperluan Bapak mencari suami saya?" Nada gw mulai tinggi. Untung Sabtu pagi kompleks gw tampak tenang walopun gw ngomong di pergola rumah gw.


Sekjen (nyolot) : " HEH, Monyong kamu!! Saya mau bicara sama suami kamu. Bilang saya mau ke situ sebentar lagi! Awas kamu ya!"
Gw : " Ada perlu apa Bapak mau ke rumah kami? Kalau bapak gak jelaskan keperluannya, saya akan bilang security kalo supaya nge-blok Bapak di gerbang depan security"
Sekjen:" Heh,silahkan saja kamu lapor security kamu. Saya tidak takut!!"
Gw : "kalo begitu Silahkan saja Bapak ke sini dan menghadapi security kami"
Sekjen : "Kamu jangan main-main sama saya ya!! Kamu gak tahu siapa saya ya?!!"


Pgn rasanya gw bilang " Hellow Pak SekJen, sapa loe sampe gw harus kenal loe?!! Emang loe SBY, paling gak Sunan Kalijaga lah pengacaranya Jennifer Dunn yang kisahnya lagi happening di ingpoteimen ?!?"

Tapi kalo gw bilang begitu ntar sangkain gw becanda, makanya gw gertak dia balik " Oooo...Bapak juga belum mengenal saya "


Untung tuh Sekjen gak bilang " Hei Ciin, yuks kita kenalan..". **garuk aspal!!**


Tapi kenyataannya Pak Sekjen makin panas " Heh, kurang ajar kamu ya! Aku mau mensomasi suami kamu, tau!"
Gw: " Atas dasar apa Bapak mensomasi suami saya?"
Sekjen: " Heh, asal kamu tahu ya suami kamu tuh sudah melecehkan instansi kami. Dia menunjuk kami mewakli dia tapi dia malah mengambil keputusan sendiri dengan perusahaan Negara. Saya bisa somasi dia atas tuduhan melecehkan instansi kami "
Gw : " Denger ya, Pak. YLKI mewakili kami, dia mengirimkan copy salinan surat yang mereka layangkan ke perusahaan Negara. Dan perusahaan negara sendiri datang menindaklanjuti dengan membawa surat dari YLKI. Sama sekali gak pernah ada yang menyebut soal lembaga Bapak. Jadi tolong Bapak kasih tahu saya, kapan Bapak pernah merasa mewakili kami??" gw mulai setengah berteriak.
Sekjen : "Heh, kami kirimkan suratnya "
Gw (memotong) : " Tapi kami gak pernah menerima suratnya. Apa buktinya?? Bapak sudah mengirimkan salinan copy? Gak pernah!"

Tuh sekjen sempet diem, tapi masih ngotot, pengen dibacok sepertinya " Hei, kamu menantang saya ya?!?"
Gw : " Coba Bapak jelaskan ke saya, suami saya melanggar UU no. berapa, KUHAP berapa, pasal berapa. Coba sebutin "


Tuh Sekjen sempet diem lagi tapi kemudian nyahutin " oh..kamu ini benar-benar menantang saya rupanya! Awas kamu ya!! Kamu tunggu saya di situ ya. Saya mau ke rumah kamu sekarang juga "
Gw : " Asal Bapak tahu aja ya, saya juga bisa menuntut balik Bapak. Bapak sudah mengancam hak asasi saya yang paling dasar : RASA AMAN. Bapak sudah mengancam saya. Bapak juga bisa saya laporkan ke polisi "
Sekjen : (makin panas) " Kamu laporkan saja. Saya tidak takut"
Gw : " Oh Sama, Pak ! kalo Bapak mau coba Somasi, somasi saja, saya juga tidak takut. Selama saya tidak bersalah, dan saya gak melanggar UU saya juga tidak takut" **entah keberanian dari mana gw bisa ngomong begitu**

Tiba-tiba telponnya mati, pembicaraan pun berhenti sampai di situ. Gw baru sadar kalo gw abis ngobrol dengan nada setengah teriak di depan pergola rumah gw. Dan dengan masih memegang hape tetangga gw, gw baru menyadari juga kalo tetangga gw sudah gak ada di depan rumah gw. Mungkin dia sudah pulang ke rumahnya entah sejak kapan.


Saat gw masih menenangkan diri karena gw gemetaran saking emosinya, ada panggilan masuk ke Ponsel tetangga gw. Sekilas gw lihat caller ID yang tertera di display adalah nama Pak Sekjen. Gw gak napsu untuk meladeni pembicaraan dengan Pak Sekjen lagi. Gw buru-buru buka pintu pagar dan menuju rumah tetangga gw. Berhubung pintu pagar dan pintu rumahnya terbuka, gw langsung masuk di depan pintu rumah sambil memanggil tetangga gw. Beberapa kali gw panggil di depan pintu, tapi gak ada sahutan sampai terdengar suara istrinya dari dalam rumah " Pak, ada yang nyariiin kayaknya..".

Tapi sang suami gak kunjung menunjukkan batang hidungnya sampe gw berinisiatif untuk bilang " Bu, saya hanya ingin mengembalikan hape Bapak yang dipinjamkan ke saya". Gak lama keluarlah istrinya menemui gw, dan jujur itu adalah kali pertama gw melihat istri tetangga gw tadi. Gw Cuma tersenyum, mengembalikan hape tetangga gw, mengucapkan terima kasih dan udah gak napsu untuk ngomong panjang lebar lagi.

Selepas dari rumah tetangga gw, gw sengaja berteriak **maksudnya biar kedengaran tetangga gw itu** minta ditemenin Hani ke pos security untuk minta bantuan nge-blok kalo-kalo tuh orang-orang yang ngaku dari lembaga hamburger itu datang ke kompleks gw.


Security kompleks menyambut baik dan menganjurkan kami untuk melaporkan masalah kami ke Komandan Security Kompleks yang baru. Sepertinya mereka pun sebal, risih dengan intimidasi orang-orang yang memperjual-belikan nama hamburger, yang harusnya mengayomi kok malah memanfaatkan kesempatan orang yang dalam kesulitan.


Ternyata Komandan Security yang baru ini adalah salah satu warga kompleks juga, bukan dari security seperti yang dipecat dulu. Dari postur tubuhnya sih meyakinkan untuk didaulat jadi komandan security kompleks kami yang baru. Udah punya anak dua, postur badannya Six-pack, bok! **fakta penting gak sih?hihihi**.


Orangnya baik, sangat responsive,dia mendengarkan cerita gw dari awal hingga kenapa gw berada di rumah dia saat itu dengan seksama dan menanggapi dengan baik. Komandan security kompleks gw yang baru ini akhirnya menenangkan kami bahwa tindakan orang yang mengatasnamakan lembaga hamburger itu seperti tindakan preman saja. Kami disuruh beraktifitas seperti biasa, gak perlu menguras energy untuk memikirkan terror sekjen lembaga hamburger tadi. Kami gak perlu khawatir kalo orang itu akan mendatangi rumah kami, security kompleks akan sepenuhnya mensupport ketenangan kami sebagaimana hak kami sebagai warga kompleks. Dan jika perlu diapun akan turun tangan membantu menghandle masalah premanisme ini. Gw yakin dia pasti bukan karyawan biasa, atau Instruktur di tempat Gym, melainkan orang dari 'angkatan' gitu deh. Dan emang bener kayaknya beliau anggota marinir.


Kami diperkenalkan dengan istrinya yang menurut pengamatan gw mungkin dari latar belakang legal. Istrinya ikut menjelaskan ke kami bahwa kami gak perlu takut dengan ancaman somasi yang gak ada dasarnya sama sekali. Somasi itu boleh saja coba mereka layangkan, tapi kalo gak berdasar akan gugur dengan sendirinya...hiuuuffff...


Saat itu gw melihat ada sedikit beban yang terangkat dari Hani setelah dua hari ini dia tampak stress. Kami pun melanjutkan planning ke rumah nyokap gw. Dan sepulang dari rumah nyokap gw, menurut laporan security tidak ada bau-bau adanya penampakan dari orang lembaga hamburger datang ke kompleks kami.

Gw menulis pengalaman gw ini, bukan untuk menjelek-jelekkan pihak tertentu, memojokkan pihak tertentu, mendiskriditkan pihak tertentu, pure hanya ingin membagi pengalaman aja. Bukan gak mungkin toh modus seperti ini dialami oleh orang lain.


Gw hanya pengen siapa pun yang membaca postingan gw ini untuk lebih berhati-hati saat percaya dengan orang yang belum kita kenal baik, lebih berhati-hati sebelum memutuskan ikut menandatangani sesuatu yang mungkin gak kepikiran sama kita efek dari itu. That's it kok!

Yang gw alamin kayaknya mereka akan berusaha memanfaatkan psikologis kita dalam keadaan panic, dan akan sengaja terus membuat kita semakin tertekan dan kita merasa diteror dan gak bisa lagi berpikir dengan tenang dan akhirnya mereka bisa dengan mudah men-drive kita untuk menuruti keinginan mereka.


Dan saat pagi ini Hani berkonsultasi dengan temen-temennya di department legal, ternyata Surat yang ditandatangani Hani pun bukan Surat Kuasa, melainkan Surat permohonan. Pantesan mereka nguber-nguber kami untuk segera dibayarkan karena takut kami keburu berdiskusi dengan orang yang lebih ngerti kali ya. Benar-benar memanfaatkan trik psikologis orang banget!! Untuk itu Hani segera membuat Surat yang menyatakan mencabut permohonan kemarin, tembusan ke perusahaan Negara.


Minggu sore, Pak Komandan Security Kompleks yang baru sempat datang ke rumah kami dan menanyakan apakah kami kembali mendapat terror. Ternyata ibu tetangga sebelah langsung keluar dan tersenyum ke gw " Ada masalah apa sih, Mbak Indah?" **kepo banget yak?!? Maklum deh gw **


Gw Cuma tersenyum semanis mungkin dan bilang " Ah, gak, Bu, saya Cuma pengen kenalan sama Pak komandan security kita yang baru..." dengan gaya sok malu-malu kucing gitu. Jiaaaah....abis males banget kalo harus certain nanti malah banyak gossip, banyak tanya. Padahal gw bener-bener udah capek...


Akhirnya mau gak mau demi melanjutkan ide scenario yang gw bikin tadi terpaksa deh Pak komandan berhenti di depan rumah tetangga gw " halo, Bu, kenalkan saya komandan security yang baru.." hihihi...


Trus nasib tetangga gw itu gimana? Ya gak gimana-gimana, so far gw berharap semua masalah ini selesai sampai di situ. Gak ada buntut di kemudian hari. Gw pengen ketegangan ini bener-bener selese, dan gw bisa hidup tenang sama anak gw. Tolong ikut dido'ain yaaa....


Tetangga gw udah ngerasain gak enak sendiri kan, dese gak berani keluar rumah sejak kejadian kemarin entah sampe kapan. Gw gak tau apakah dia juga korban ketidaktahuan, ataukah punya interest dalam konflik ini mengingat dia lah penghubung orang lembaga hamburger dengan kami. Tapi yang jelas, satu kompleks sudah tahu sepak terjang Bapak satu itu. Track recordnya memang udah gak bagus...


Do'oh, Hidup ini udah susah, Jendral...jadi plis deh jangan dibuat makin susah dengan adanya orang-orang kayak Pak Sekjen dkk....yah namanya hidup ada aja cobaan yang datang.
**maap ya kalo curhatnya kepanjangan**

5 comments:

  1. duh ruwet banget mbak masalahnya.semoga lekas selesai ya

    ReplyDelete
  2. Waduuuh..bener, ruwet ya urusan dengan orang yang sok nulung tapi malah mentung (nolong tp mukul). Ikut seneng deh kalau masalah mbak indah sekeluarga udh kelar. Jd pikiran juga kan kalau diteror terus :-)

    ReplyDelete
  3. Mbak Lidya, BunDit,
    Sepertinya ini semacam penipuan terselubung. Tapi syukur Alhamdulillah, masalah ini aku anggap selesai.
    makasih ya dukungannya...

    ReplyDelete
  4. terus , yang kasus sama si perusalhaan listrik itu fimana ndah...tetangga gw juga kena & juta , akhirnya diana bayar juga..mudah'an dengan dibantu YLKI bisa selesai cepat dan loe nggak dirugiin ya mak.
    betewe orang seberang itu dari tempat gw ya ndah..nyahahaha

    ReplyDelete
  5. Resti,
    Masalah PLN sih udah beres. Akhirnya masalah dengan lembaga hamburger juga udah kelar.

    Eiiitts, gw gak nyebut merek lho ya. Orang seberang kan belon tentu dari tempat loe, Res. Wong seberangnya Pulau jawa.
    Bisa orang Kalimantan, Orang Sumatra, orang Sulawesi, Bali. Bisa juga orang Aussie lho...hihihi

    ReplyDelete