3.19.2010

PAUD: Pilih Homeschooling atau KB/Preschool?

Sejak punya Ganesh, rasanya gw sepakat bahwa setiap anak adalah unik.Jadi gak fair kalo gw membanding-bandingkan perkembangan Ganesh dengan anak yang lain.Apalagi pake yang namanya berkompetisi dengan emak-emak lain, ih capek deh. *tepok jidat*



Dalam pertemanan di genk racun,kami adalah 10 orang dengan pribadi yang berbeda. Begitu juga dengan cara yang kami pilih dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kami. Karenanya gak jarang kami menjumpai adanya perbedaan saat kami saling sharing. Tapi tetep kompak dan seru dalam ocip-ocip dan ngomongin belanjaan. Heu heu heu..


Tapi perbedaan itu justru membuat diskusi kami lebih hidup. Satu hal yang membuat gw salut, bahwa kami akan mendukung pilihan yang diambil oleh temen-temen kami ini. walopun mungkin itu berbeda dengan pilihan kami. Gak pernah merasa paling bener,maksa harus sama. Walopun di antara kami adalah pribadi yang sebenarnya beraneka ragam: dominan, galak, silet mode on, lempeng, tapi so far Alhamdulillah kami masih tetep solid.


Setidaknya kami mulai paham bahwa cara gw mendidik Ganesh mungkin akan berbeda dengan cara Dhita mendidik Azka atau cara Depoy mendidik Dipta. Karena kami percaya bahwa apapun pilihan yang kami ambil merupakan yang paling baik untuk anak-anak kami. Pengalaman Dhita atau Meryl yang lebih dahulu menjadi ibu gak serta merta membuat mereka merasa yang paling mengerti soal membesarkan anak kami. Yang seharusnya paling memahami anak kita yah adalah kita sebagai ibunya. Emang kita gak langsung otomatis jadi ibu yang pinter,tapi menjadi ibu kan melewati beberapa proces.


Keinginan gw untuk mencoba preschool nanti dipertanyakan oleh beberapa teman. Ada juga temen yang memilih langsung masukin ke TK tanpa melewati preschool atau Paud tapi dia memberikan penjelasan yang menurut gw cukup logis, it's fine. Itu pilihan dia,dia tahu yang baik untuk anaknya. Dan gw mendukung pilihan dia, seperti halnya dia tetep membantu gw mencarikan informasi sekolah buat Ganesh. Gw anggap itu adalah salah satu dukungan dia ke gw. *wink wink*


Yang gw sayangkan (red:sebel) adalah mereka yang gak mendukung gw masukin Ganesh ke Paud atau preschool tapi gak bisa memberikan gw alasan yang jelas kenapa memilih untuk tidak memasukkan anak ke preschool.


Do'oh, bok kalo loe cuma bilang " Ngapain masukin anak ke preschool. Anak gw aja gw biarin maen hujan-hujanan, makan chik* (red: jajanan sarat MSG) ,makan kerupuk...gak perlu segitunya lah". Well, It's your choice gitu lho. Apa yang menurut loe baik buat anak loe,jangan paksain untuk ditiru sama orang lain. Kecuali ada penjelasan yag menyakinkan kenapa gw harus mencontoh loe. Fair enough toh?


Atau alasan lucuk " Habibie aja dulu gak ikut kelas preschool bisa jadi Menristek ". Bener sih, but seriously Bok, berapa banyak sih orang dengan level kecerdasan kayak belio? Lagian pengen banget gw nyahutin " Eh Ciin, Orang Arab dulu juga gak pake mobil. Mau kemane-mane aja naik onta. Buktinya pada nyampe. Lah kenapa sekarang loe pengen naik mobil. Kenapa gak naik onta ajah sekalian ??? Palingan juga nyampe" **gemez**

Ada juga temen yang sharing bahwa anaknya disekolahkan dari usia 2 tahun lebih. Usia 5.6 tahun udah masuk SD. Selain les sekolah dia juga diikutsertakan mulai dari les berenang, mengaji di usia segitu udah masuk baca Al-Qur'an, karate. Dan kini di usia 5.8 tahun anaknya udah jenuh.


Dan menurut temen gw, ini mungkin efek dari dia disekolahkan dini. Sampe-sampe anaknya minta disekolain di PG lagi ajah. Nah lho sempet goyah juga sih gw. Takutnya hal ini juga dialami oleh Ganesh. Aduh jangan sampe ya,Nak.


Seperti biasa,ibarat ikut kuis Who want to be a milionaire, gw pun memilih bantuan call a friend. Dan orangnya adalah Yudith. Gw sering berguru dengan Bu Yudith. Ibu yang satu ini akan memberikan penjelasan yang ilmiah. Apalagi pengetahuan Yudith soal parenting lebih luas soal gw.


Tambahan lagi Yudith baru aja mengikuti Talk Show "Bijak Memilih Sekolah Yang Sesuai dengan Potensi Anak dan Cerdas membangun Kesiapan Anak Masuk Sekolah" tanggal 13 Maret 2010 kemarin bersama Ibu Emmy Soekresno (Kepsek Jerapah Kecil) dan Ibu Yanti Dewi Purwanti (Kepsek Bintang Bangsaku).


Selasa sore Yudith ngajak gw chatting di YM dan gw merasa mata gw jadi terbuka. Apalagi gw sempet update di twitter soal chatting ini OTW ke tempat kopdar.Dan di tempat kopdar mpasirumahan jilid II di MOI kemarin,ternyata temen-temen juga tertarik dengan topik ini dan minta dishare. Sayangnya chatting Selasa sore itu sempat terputus karena jeleknya sinyal dan baru dilanjutkan Rabu pagi.


Setelah gw brosing-brosing di web Bintang Bangsaku, mungkin anak temen gw sedang mengalami Brain Down Shifting akibat materi kognitif yang dijejalkan ke otaknya dengan cara yang tidak sesuai dengan kinerja otaknya.

Ehm ehm, kognitif apaan sih? Brain down shifting apaan pulak itu? *dulu di Elektro gw gak diajarin ginian*. Kognitif/Brain Down Shifting adalah kondisi menurunnya kinerja otak akbat perlakuan lingkungan sekitar yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi otak. Ternyata proses pembelajaran pada anak sendiri meliputi 4 tahap. Ini bisa diterapkan dengan homeschooling atau memasukkan anak ke sekolah yang memberikan kurikulum/metode pengajaran yang tepat dan sesuai dengankebutuhan kondisi otaknya.


Waw...jadi klo kita emang mau homeschooling, setidaknya kita harus paham dulu panduan kebutuhan Otak anak, harus siapin mental dan tekad untuk konsistent dan commit, gak bisa ngandelin mood doang. Karena inilah masa keemasan anak yang harus diisi dengan sebaik-baiknya dan dengan cara yang tepat tentunya. Gw setuju kalo pendidikan pertama adalah di rumah dengan orang tuanya. Dan itu udah mulai gw terapkan dengan berusaha memberikan contoh yang baik.Karena apa yang dilakukan orang tua akan ditiru anaknya.

Tapi gw mungkin dengan status sebagai Working Mom (lagi-lagi kondisi ini sangat mempengaruhi pilihan gw) dengan kondisi kerja yang cukup menyedot pikiran dan energi, gw gak yakin klo gw bisa konsisten dan commit memberikan homeschooling dan memaksimalkan potensi Ganesh sesuai dengan kinerja otaknya. Gw memerlukan yang lain untuk membantu gw mengembangkan potensi Ganesh. Selama gw di dekat Ganesh, sebisa mungkin gw mau jadi mommy sekaligus perpustakaan pertama buat Ganesh. Tapi sekitar 10 jam sehari X 5 hari per minggu, gw gak bisa membimbing Ganesh dalam mengexplore otak kanannya. But again,ini pilihan gw meurut kondisi gw lho ya.


Jangan sampe karena gw cuma pengen ikut-ikutan homeschooling, Ganesh jadi gak jelas dibimbing kemana. Karena keterbatasan kondisi gw mungkin gak sama dengan kondisi ibu-ibu lain. Di kompleks yang gak terlalu suka bersosialiasi kayak perumahan gw,bisa jadi dengan homeschooling seadanya, Ganesh di usia 3 tahun masih disuapin, masih minum susu pake dot botol, mantengin iklan di TV sambil nunggu mommy pulang. Sementara klo dia mendapat pengarahan yang tepat di sekolah, dia mungkin bisa bermain sambil belajar sesuai perkembangan otaknya, bisa lebih mandiri, bisa teamwork. Seperti kata Bu Yanti, kuncinya adalah menginstall segala sesuatu sesuai kinerja otak. Jadi semua pilihan kembali disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing ibu.


Contoh ketidaktahuan gw adalah mencoba nerapin Metode Glenn Doman. Lihat di posting ini. Dan sekarang Yudith menerangkan bahwa inti dari Glenn Doman adalah menghapal. Kelebihan dari metode ini anak mungkin lebih cepat bisa membaca. Kekurangannya adalah anak hanya menghapal, tapi nalarnya tidak bekerja maksimal. Akibatnya mereka bisa membaca cepat tapi kemungkinan belon memahaminya dengan baik. Bisa aja anak jadi menyusun kalimat " mobil belajar matematika".


Berbekal dari sharing dengan Yudith, jika gw bener-bener mau mutusin sekolahin Ganesh, gw harus memilih sekolah yang tepat. Yang gak cuma mengejar profit,tapi tahu apa yang harus diterapin sesuai dengan usia, kinerja otak anak.

Dan satu hal yang juga sangat penting, gw akan menyekolahkan Ganesh saat dia memang suka sekolah,berkumpul dan bermain dengan sesama anak-anak sepantarannya. *dan ini jarang ditemui di kompleks gw*. Ganesh akan bersekolah di tempat dimana dia merasa nyaman dan bebas bermain, bukan sekolah dimana gw pengen anak gw sekolah di situ.Mungkin itu sebabnya beberapa sekolah nawarin trial untuk melihat seberapa besar anak nyaman di situ.

Behubung beberapa hari ini work load gw masih sangat tinggi (submit Test Repot untuk tender, witness Test dengan customer sama nyiapin dokumen assessment ISO) maapkeun kalo gw blm bisa share di blog soal 4 tahapan tadi ya.


Insya Allah Senin kita lanjutkan lagi. Biar terbuka buat yang mau memilih homeschooling maupun memilih bantuan PAUD/Preschool, yang jelas bukan sekedar ikut-ikutan. Tapi emang punya alasan kenapa memilih itu. Bagi yang masih ingin baca sharing nya, bagi yang masih penasaran, stay tune.

**Barusan ngeliat Test report yang harus dibikin pagi ini....pingsan!!**

10 comments:

  1. ndah,
    bedanya PAUD/preschool dijelasinn dong di post berikut nya..rikues ceritanya *winks*

    soalnya gue pikir PAUD ama preschool sama aja, taunya beda yah ;)

    ReplyDelete
  2. Dhita,
    Emang sama aja. Cuma yang satu pake bahasa Indonesia, yang satu lagi pake bahasa londo.

    ReplyDelete
  3. ohh gituu toh..
    tapi di cikal dan kepompong pake nya bahasa indonesia juga siy.
    mungkin beda di fasilitas kali ya *sotoy padahal ga pernah ke PAUD* :p

    ReplyDelete
  4. Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Kalau nggak salah PAUD itu Pendidikan Anak Usia Dini.
    Saya juga sejak anak saya 2 thn tertarik untuk meng-homeschool-kan dia. Sempat ikut milis-milis Asahpena, Sekolah Rumah, Dll untuk mencari tahu. Juga membeli buku-buku ttg homescholing, unschooling, dsb.

    Saat ini saya tertarik dengan konsep Multiple Intelligence karena ingin mengetahui tentang kekuatan utama anak saya sehingga lebih fokus nantinya.

    Karena keterbatasan saya, akhirnya saya berencana memasukkan anak saya ke Sekolah Alam yang menurut saya posisinya sedikit di "tengah". Sekedar sharing ya bu.

    ReplyDelete
  5. iya nih mb indah...agak sm jg sy, .. saya kepikiran InsyaAllah tar kl Affan dah umur 2 tahunan lebih gitu pingin masukin ky playgroup gitu..tapi yang deket - deket aja.. ya mngkin 3x seminggu masuknya... yang fun gitu ..

    ReplyDelete
  6. Pak Aris Sunaryo,
    dari hasil google dan masuk smart parenting di FB, ada tentang info bahwa multiple inteligence dibahas di buku Pak Munif, judulnya Sekolahnya Manusia.

    Indah dan Bunda Azka (alias Dhita),
    PAUD itu setahu saya adalah program preschool buatan pemerintah, dengan tujuan agar pendidikan usia dini (preschool, jadi sebelum TK, setara playgroup) terjangkau semua kalangan. Kalau preschool/playgroup khan swasta punya. (CMIIW ya)

    ReplyDelete
  7. Asm.Wr.WB
    Bu Yudith, trims infonya. Saya sudah punya buku Pak Munif, bagus sekali. Saya sedang menunggu seri lanjutannya.
    Kemarin juga baru dapat buku-nya Thomas Armstrong, pakar MI,"Setiap Anak Cerdas".
    Saya termasuk telat mengetahui ttg MI ini, padahal sejak 2001 sudah ramai buku ttg tema ini.

    ReplyDelete
  8. Maira nya Meryl kan udah masuk PAUD ndah. coba ditanya2 jd bisa sekalian dishare disini say...

    Oya, tampaknyaaa bentar lg Ganesh bakalan blg "Mommy,ganesh naksir cewe..temen sekelas" huekekekekek...asikkkkk :)

    ReplyDelete
  9. Dhita,Yudith,
    Maapkeun gw yang membuat salah persepsi.
    Setelah gw brosing-brosing,menurut Ibu Yanthi
    DP
    "PAUD mencakup pendidikan formal (TK,RA)
    maupun informal (KB, PG, homeschooling,
    Community Base Education, kegiatan belajar
    di posyandu)
    PAUD yang digalakkan pemerintah adalah
    PAUD dalam arti luas, bukan pemahaman
    yang salah selama ini sebagai alternatif
    dari TK,RA."

    ReplyDelete
  10. Omietha,Depoy,
    Gw sekarang sudah dapet pencerahan dari Yudith soal PAUD.
    Dan ternyata sekolah yang visi dan misinya sesuai usia anak itu masih banyak yang terjangkau lho.
    Ntar gw share beberapa sekolah yang menurut gw worth it harganya dan bener-bener ajarin seusia usia anak.
    Bermain, kreatif. Tapi gw liat dulu kira2 minat Ganesh kemana.
    Apapun yang penting anaknya suka dan senang bermain sambil belajar di situ.

    ReplyDelete