3.11.2010

Buy Term and Invest The Difference

7 tahun yang lalu, gw masih ipik-ipik,masih kinyis-kinyis, temen gw ngajakin membeli asuransi jiwa. Seinget gw, temen gw ini baru aja menikah,tapi dia bersama temen gw yang lain membeli produk asuransi jiwa ini sedari dia masih lajang dulu. Temen gw yang satu lagi juga membeli produk asuransi jiwa sementara dia masih lajang, belum ada tanggungan karena dia anak bungsu dari keluarga yang sangat mapan. Waktu itu temen gw meyakinkan gw " Mending kamu ikutan dari sekarang deh. Mumpung In masih muda,preminya jauh lebih murah ketimbang kami yang lebih tua. Ntar pas uangnya cair, juga lebih gede "


Tapi somehow gw waktu itu emang belum kebayang perlu adanya asuransi jiwa, jadi gw gak ikutin sarannya utk membeli asuransi jiwa di saat gw masih 'muda'. Even diiming-imingi mumpung premi masih murah, mumpung belum ada tanggungan jadi bisa mengalokasikan uang gw buat asuransi, plus ada the jackpot nya lho: bakalan dapet uang tunai segini segini lho di akhir masa kepesertaan.


"Jangan shopping terus,In. Sudah saatnya mikirin nambah income " bujuk temen gw beberapa bulan yang lalu nawarin gw produk asuransi plus embel-embel sekalian investasi dan iming-iming bisa dapet uang tunai. Belakangan gw baru sadar kalo asuransi yang dimaksud adalah produk unitlink.


Eniho, gw masih belum tertarik untuk berinvestasi di asuransi yang ditawarkan. Jikalau dulu gw melihat temen gw yang sedari single, rutin membayarkan premi per quarter untuk asuransi jiwanya, dan kemudian saat ini dia ikut asuransi unitlink demi embel-embel investasi, " You should see the number " she told me, Waw, gw sempat berpikir bahwa dia sangat peduli dengan kondisi finansialnya dan dia merencanakannya dengan sangat baik.


Tapi sejak gw demen blogwalking ke beberapa blog financial planner, blog ibu-ibu muda yang menjadi planner untuk rumah tangganya, sorry to say, pemikiran gw jadi berubah. Gw jadi mikir kadang orang membeli suatu produk finansial tanpa melihat kebutuhannya seperti apa. Istilah yang sering banget dipake Ligwina Hananto (CEO Quantum Magna Finansial) : Tujuan Lo Apa. Ini yang sering kali orang gak paham.

Asuransi yang pertama kali gw miliki adalah asuransi kesehatan. Punya dua pulak. Weiiisss...bukan karena gw kelebihan duit, bukan karena gw pengen sok double proteksi, tapi karena asurasi pertama gw dapetin dari perusahaan gw bekerja dan yang satu lagi gw dapetin dari kantor Hani setelah dia menyerahkan Surat Nikah kami ke kantornya. Keduanya dicover full 100% baik rawat jalan, gigi dan rawat inap.


Kesehatan Ganesha juga udah dicover dari kantor Hani. Asuransi kantor Hani pun mengcover imunisasi, KB, melahirkan. Jadi gw rasa untuk sementara kami belum perlu membeli tambahan asuransi kesehatan, karena asuransi kesehatan yang kami punya saat ini sudah cukup untuk kebutuhan kami. Gak perlu double cover.


Jika 7 tahun yang lalu gw merasa gak perlu beli asuransi jiwa, well sekarang gw ngerasa mungkin sudah saatnya gw punya asuransi jiwa. Bukan karena ikut-ikutan temen, bukan karena agen asuransinya temen gw, bukan karena gw kelebihan duit, bukan karena uang tunai yang gw dapetin. Tapi karena saat ini gw sudah merasa BUTUH asuransi jiwa.


Kenapa?
- Karena saat ini penghasilan gw cukup memberikan kontribusi untuk financial keluarga gw,
- gw belum memiliki cukup banyak simpanan dan aset yang bisa diwariskan,
- dan gw sudah memiliki tanggungan yaitu Ganesha.

Tujuan utama membeli asuransi jiwa bukanlah demi mendapatkan nilai tunai jika tidak terjadi apa-apa dengan nasabah. Melainkan jika sesuatu terjadi pada nasabah maka keadaan finansial ahli waris gak akan jomplang drastis karena kehilangan penopang ekonomi keluarga.


Dengan uang pertanggungan yang cukup besar, diharapkan ahli waris dapat tetap meneruskan hidup dengan life style yang sama atau planning yang sama.

Jadi walaupun:
- sudah bekerja,memiliki penghasilan yang cukup besar tapi gak memiliki tanggungan;
-sudah memiliki tanggungan tapi udah memiliki banyak aset dan simpanan;
-anak loe yang baru aja lahir
Sebenarnya belum membutuhkan produk asuransi jiwa.


Anak belum memiliki tanggungan. Jika terjadi apa-apa dengan sang anak, otomatis keluarganya berduka. Tapi kepergian sang tidak berdampak apa-apa dengan finansial orang tuanya toh. Kecuali kalo punya anak kayak Baim ato artis/bintang iklan nah baru deh orang tuanya kudu asuransiin anaknya. Apalagi kalo anak emang sengaja diorbitin jadi bintang iklan, main sinetron demi menghidupi orang tuanya.

 Kalo gitu gak ada salahnya juga dong temen gw beli asuransi sejak dini? Toh pas dia kawin punya anak, tuh asuransi akhirnya bisa kepake juga buat anaknya kalo terjadi apa-apa dengan temen gw.


Yang sering terjadi adalah kadang orang sudah menyiapkan asurasi jiwa, membayar premi asuransi yang lumayan gede, tapi mendapatkan uang pertanggungan yang kurang sepadan dengan premi yang dibayarkan. Banyak kok temen gw yang mendapatkan uang pertanggungan di bawah 100 juta.


Padahal tips menyiapkan uang pertanggungan yang gw baca dari blognya Wina, seharusnya menghitungnya seperti ini:
Pengeluaran per bulan X 12 bulan X 10
Jadi jika pengeluaran per bulan = 5 juta, maka dengan uang pertanggungan sebesar 600 juta, diharapkan ahli waris bisa meneruskan hidup dengan life style yang sama (pengeluaran 5 juta per bulan) selama 10 tahun.

Nah kalo uang pertanggungan yang didapat cuma 100 juta, berarti UP nya dalam 20 bulan (gak nyampe 2 tahun) sudah habis dong.


Jadi dari sekian banyak jenis asuransi yang ditawarin, gw mencoba mempelajari dulu asuransi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan gw. **maklum, nasib duit Cuma segini-gininya*. Gw bermaksud membeli asuransi jiwa sebagai proteksi, tentunya gw pengen UP nya maximal. Untuk itu, asurasi yang gw butuhin adalah asuransi jiwa Term Life.


Gw yang tadinya buta sama sekali soal asuransi, mulai ngerti dikit soal asuransi term life *thanks to internet dan blogger yang udah berbagi ilmu*. Biasanya asuransi term life tuh:
- Gak ada nilai investasi. Jadi kalo terjadi apa-apa sama pemegang polis, ahli waris dapet uang pertanggungan. Kalo sampe abis jangka waktu kepesertaannya gak terjadi apa-apa ya premi yang disetorkan akan hangus. Kecuali jenis asuransi syariah, biasanya ada uang kembali dari bagi hasil.
- Preminya lebih kecil
- Jangka waktunya terhitung cukup pendek 5,10,20 tahun dan tidak seumur hidup


Sebelum mutusin beli asuransi term life ini, gw juga berdiskusi dengan Yudith, secara ibu ini kan suka menganalisa dan kebetulan emang backgroundnya dari ilmu ekonomi.


Gw pun mencari asuransi term life dengan premi yang semurah mungkin tapi UP nya sesuai dengan perhitungan gw.

Gw juga sempat mendapat tawaran asuransi unitlink dari temen gw:
Temen gw (X): "Kamu tuh belanja mulu. Pikirin saving dong "
Gw : " Ini aku udah mikir beli asuransi jiwa dan investasi, Mbak "
X: "Bagus. Kebetulan nih, aku punya produk asuransi plus investasi yang bagus buat kamu..."
G : (dalem hati) : " O-O gw salah ngomong deh"
G : " aku cari asuransi jiwa term life,Mbak.Klo mbak punya, boleh deh tawarin aku"
X : " Ntar dulu,bagusan ini,tau...ini ada nilai investasinya. Bla bla bla...nanti kamu usia sekian dapet uang sekian bla bla bla"
G : " Emang berapa sih preminya? Uang pertanggungannya berapa,Mbak?"
X : " Sini aku hitungin...Dengan preminya Cuma segini per bulan (Cuma?? Padahal bisa 2-3X lebih mahal dari premi term life), nah kamu ntar dapet UPnya segini (gak nyampe setengah dari UP yang gw mau).Kamu kan umurnya segini, ntar bayar preminya cuma sampe tahun ke 10, sisanya gak perlu bayar premi lagi"
G : " Ah gak mau ah...preminya mahal, UPnya kecil. Aku mau yang term life aja"
X : " Ih..kamu ini gimana sih? Klo asuransi yang kamu mau itu klo gak ada claim hangus tau. Kamu rugi dong "
Sebelum ditawari ini, gw sempat mikir gak rela kalo uang preminya hangus gitu aja. *biasa,emak-emak Indonesia gak mo rugi*.

Penjelasan dari Wina memperumpamakan bahwa membeli asuransi term life ibaratkan pepatah "sedia payung sebelum hujan". Istilahnya yah kalo hujan, payungnya kan bisa dipake untuk melindungi dari basah. Tapi kalo gak turun hujan pun, toh gak rugi lah udah beli payung karena gak kebasahan juga kan?
Masalahnya pan duit yang dikeluarkan untuk beli "payung" nya kan gak sedikit even premi termlife tergolong kecil. *emak irit bin medit*


Tapi penjelasan Mas Priyadi di blog nya membuat gw lebih ngerti dan bisa menangkis pikiran duit hangus ini :

G : " Lah asuransi yang mbak tawarin itu sebenarnya juga hangus kan? Uang yang dibayarkan ke nasabah itu kan dari porsi investasinya toh? "
X : " Tuh kan lebih menguntungkan kalo asuransinya diinvestasiin juga. Trus produk ini kamu bisa putus bayar premi setelah 10 tahun. "
G : " Gini lho,Mbak Kan premi asuransi yang mbak tawarin sama premi yang harus akubayar untuk asuransi term life tuh jauh banget bedanya. Makanya aku mau Buy Term and Invest the Difference *dapet pencerahan dari blog Mas Priyadi*. Maksudnya,aku beli asuransi term life yang preminya lebih murah untuk proteksi dengan UP lebih gede. Nah selisih premi yang harus aku bayarin untuk produk mbak tadi, aku investasiin sendiri. Kalo aku investasiin melalui asuransi, pastinya kena biaya ini biaya itu kan? Iya dong,masa asuransi mau kerja bakti gitu aja,pasti ngambil fee kan? Nah jadi mending aku investasiin sendiri aja,Mbak. Hasil investasinya lebih gede, potongannya gak banyak. "


X : " Kamu emang bisa investasiin sendiri? Investasi kemana? Main saham? Kan beresiko kalo kamu invest sendiri"
G : " Lah tuh uang di product Mbak emang invest dimana? Aku baca sih katanya uang itu diinvestasikan di reksadana juga. Iya gak? Lah daripada aku bayar fee ini, biaya potongan itu ke asuransi, mending aku invest sendiri"

X : " Kalo kamu mau invest sendiri, kamu kan repot harus ke sekuritas, manager investasinya sendiri"
G : " Iih...emang Mbak belon tau ya kalo mau main reksadana gak harus langsung ke Manager Investasi. Bisa melalui bank kayak Bank Mandiri, Bank Commonwealth. Mereka tuh ibarat supermarket yang menjual produk reksadana. Fee nya gak sebesar kalo beli reksadana pake jaluri asuransi. Malahan kata temenku kalo beli online dari internet banking, ada yang ngasih disc fee 50% pulak. "


X : " Tapi kalo kamu maen reksadana,modal awalnya harus gede,dodol. Bisa ngeluarin modal awal 50 jutaan. Paling murah 10 juta."
G : " Mbak denger kata sapa? Wong temen-temenku udah pada beli reksadana via dua bank tadi kok. Ada yang minimal beli sejuta, malahan ada yang mulai dari 500ribu. Perbulannya bisa autodebet dari rekening mulai dari 100ribu per bulan kok. Tergantung jenis Manager Investasinya juga "


X : " Tapi kan beresiko"
G : " Emang kalo ikut investasi dari asuransi Mbak gak beresiko jugakah? Lagian jangan semua duit diinvest di reksadana saham dong,Mbak. Kan investasinya bisa diversifikasi. **taelah bahasa gw sok bener**. Ada yang diinvestasikan di reksadana pasar uang,pendapatan tetap untuk jangka waktu pendek. Ini resikonya lebih kecil ketimbang reksadana saham dan campuran.Tapi bunganya lebih gede daripada deposito. Kalo reksadana saham kan emang high profit tapi High risk juga,jadi sebaiknya uang yang diinvest di reksadana saham adalah duit yang gak diutak-atik untuk jangka panjang. Atau kalo mau lebih aman kan bisa didepositoin atau dibeliin Logam Mulia. Pokoknya don't put egg in one basket"


X : " Tapi klo itu kan 10 tahun kemudian,kamu harus perbaharui asuransi kamu lho. Kalo di produk ini, kamu langsung dicover whole-life. Kalo baru meninggal usia 99 tahun pun masih dicover "
G : " Yaaah,Mbak...aku ikut asuransi jiwa ini bukan buat ngasilin duit kalo kenapa-kenapa sama aku. Tapi karena aku belon punya aset atau duit banyak yang bisa aku tinggalin untuk Ganesh jika terjadi apa-apa dengan aku selama 10 tahun ini. Kalo aku udah punya aset atau simpanan di bank yang cukup untuk menghidupi Ganesh, aku udah gak perlu bayar premi asuransi. Lagian pas aku umur 99 tahun, Ganesh juga udah dewasa kali. Dia kan udah bisa membiayai hidupnya sendiri. UP segini di tahun segitu nilainya udah gak sebesar saat ini"


X : " Jadi abis 10 tahun nanti kamu perpanjang lagi? Preminya makin gede lho,Say"
G : " Yah makanya do'ain penghasilanku juga nambah terus,Mbak. Dalam 10 tahun ke depan,semoga semua hutang-hutang udah lunas. Jadi bisa menambah porsi untuk menyisihkan dana keperluan masa depan. Kalopun gak tercapai, belon tentu 10 tahun kemudian UP segini udah masih cukup. Aku perlu review buat menaikkan UP nya lagi "

X: "Sayang lho,Ndah...padahal ini kan bisa jadi dana pensiun kamu "
G : " Lho sama aja toh,Mbak Uang selisih yang aku investasikan sendiri tadi, dalam kurun waktu yang sama panjang dengan aku invest melalui asuransi, gak diutak-atik juga bisa dialokasiin jadi dana pensiunku toh? "


Entah capek nawarin gw yang gak niat beli,ato karena males nawarin gw yang sotoy makanya dia berhenti nawarin gw lagi. Tolong jangan dianggap pemikiran gw sebagai pemikiran pakar asuransi atau ahli finansial ya. Karen itu cuma pemikiran gw sebagai orang awam yang dapet ilmu seadanya karena sering blogwalking aja ke blog Professional financial planner, dan financial planner rumah tangga lainnya. *wink wink*
Jadi gak ada keharusan loe musti tutup asuransi unitlink loe. Ini hanya pilihan gw, dan setiap orang boleh dong punya pilihan yang berbeda. Mau ambil term-life kek, unitlink kek, asuransi pendidikan kek, asuransi dana pensiun kek, asuransi syariah kek, asuransi konvensional kek, sok mangga atuh. Pilihannya ada di tangan setiap orang kok. Hey, It's a democracy!


So here I am, mendapat ilustrasi dari beberapa produk asuransi jiwa dengan premi flat selama 10 tahun:
1. Asuransi Takaful Falah : agen asuransinya gw dapet dari blog Iti
Preminya out of budget, sedangkan uang pertanggungannya 60% dari yang gw harapkan. Tapi selayaknya asuransi syariah jika di tahun ke-10, gak terjadi apa-apa sama gw,80% uang premi yang gw bayarkan dikembalikan


2. Asuransi AXA Mandiri Jiwa Sejahtera
Dengan UP sebesar yang gw mau,preminya lebih kecil (masih masuk budget) dari asuransi sebelumnya. Cuma yah sebagaimana asuransi konvensional, uang hangus kalo gak ada claim.


3. Asuransi Allianz SmartLife : agennya gw dapet dari inet
Premi nya jauh lebih besar ketimbang asuransi pertama dan kedua (out of budget banget), dengan UP yang sama besar.


4. Asurasi Manulife Proactive Plus : agennya gw dapet dari inet
Dapet referensi ini dari Resti, emak Nico. Katanya ini premi yang paling murah. Gw dapet agennya dari searching di Internet. Udah janjian untuk ketemuan dan ternyata bener euy, dengan benefit yang kurang lebih sama, Premi nya paling murah di antara sebelum-sebelumnya. Thanks to Emak Nico...*smooches*


Oya, premi untuk laki-laki walopun tidak merokok tetep lebih besar daripada premi wanita. Katanya resiko claim pria lebih besar ketimbang wanita.


Iti juga ngingetin untuk nanya secara detail kondisi apa saja yang dijamin.
Tips dari Bu Yudith : " Agen biasanya akan menerangkan apa saja yang dijamin. Tanyakan apa saja pengecualiannya. Dan tanyakan apa yang tidak dijelaskan"

Dan rata-rata mereka mengcover kondisi bencana alam,di bom, terus dibunuh (tapi bukan sengaja dibunuh suami/istri demi mendapatkan UP kayak di pelem-pelem lho ya), meninggal karena penyakit kritis, bunuh diri (dengan catatan : setelah 1-2 tahun kepesertaan). Yang gak discover adalah situasi perang. Semua bisa ditransfer via bank atau didebet dari kartu kredit.


Sekali lagi kudu mastiin, bahwa mengambil asuransi ini bukan karena ikut-ikutan sebagai life style socialite (ini bahasa QC officer gw waktu tahu gw mencari asuransi jiwa), bukan karena gak bisa menolak waktu agennya nawarin (entah tetangga, pak RT, atasan ato apalah), tapi karena memang KEBUTUHAN dan itu ada dalam financial planning kita.


*Hani pasti geleng-geleng, gak kebayang kan kalo istrinya yang shopaholic itu bisa ngomong kayak gini ck ck ck*

23 comments:

  1. wah wah..kagum eh sm ibuk2 ini.. top deh infonya..

    btw...bbrp waktu kmrn berkali kali.. dari asuransi prudential syariah presentasi..akunya gak dong dong ttg asuransi...blm ada keputusan jadinya hiks....

    kmrn awalnya nyari asuransi pendidikan...nha di buatin ilustrasinya sm agen prudential syariah ktnya dana bisa diklaim per usia masuk sekolah... meski itu dan ada pilihan2 gitu.. yg jelas masuk asuransi jiwa dan kesehatan..tuk investasinya kit apilih mau ambil berapa persen dan jenisnya apa...

    akujg masih bingung

    ReplyDelete
  2. Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Penjelasannya bagus sekali mbak, seakan mendengar kembali Mbak Wina ataupun Pak Freddy Pieloor dalam memberikan gambaran tentang asuransi dan investasi.
    Selamat atas pilihannya, semoga Allah memberikan yang terbaik buat keluarga. Amin.

    ReplyDelete
  3. @ Mitha,
    Aku juga awalnya buta sama sekali soal asuransi. Tapi karena kita bakalan bayar premi ini untuk jangka waktu yang gak cuma 1-2 tahun doang, makanya aku berusaha mempelajari bener-bener.
    Maklum aku ikut asuransi ini bukan karena kelebihan duit cash. heu heu...

    Jadi sebelum bertemu dengan agen asuransi, ada baiknya Mitha punya sedikit bekal dulu tentang asuransi. Aku aja karena sering blogwalking makanya dapet ilmu sedikit. Hihihi...
    Biar saat ketemu agen asuransi, Mitha udah tau apa yang musti Mitha tanya, gak cuma ngandelin penjelasan agen. Agen kan sales toh?

    Apapun asuransi yang Mitha ambil, pastikan Mitha membaca dan paham betul benefit dari uang yang Mitha 'tanamkan' di situ. Ciyee...

    Contoh kalo asuransi pendidikan, apakah dengan sejumlah uang yang Mitha taruh di situ, uang yang keluar tiap masuk sekolah bisa mengcover uang pangkal sekolah yang Mitha minati. Sudah cukup atau Mitha perlu nombok lagi? Kalo dana pensiun, apakah uang yang keluar cukup untuk membiayai pengeluaran Mitha kalo pensiun nanti.

    Gitu aja sih yang aku tahu...semoga bisa sedikit memberikan pencerahan ke Mitha ya...

    ReplyDelete
  4. @ Bapak Aris
    Wa'alaikum salam Wr.Wb, Pak.
    Wahduh...saya jadi gak enak hati...

    ReplyDelete
  5. just info, biasanya bencana alam atau kerusuhan gak keluar UP-nya. Cuma, menurut agen gue sih waktu bencana situ gintung, gempa yogya pada akhirnya keluar juga UP-nya dng pertimbangan sosial. Jadi utk dua hal tadi tergantung kebijakan dari asuransinya. gue pake axa mandiri jiwa sejahtera

    ReplyDelete
  6. @Mbak Indah..
    Kenapa nggak enak mbak..? Penjelasan yang seperti ini sangat bagus sebagai pencerahan buat yang masih bingung.
    Setiap produk yang kita ambil kan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan kita, jangan kebutuhan agen :-D
    Nanti saya tanya-tanya japri soal produk yg diambil boleh? buat nambah ilmu saya juga.

    ReplyDelete
  7. @ Mbak Dewi,
    Aku sudah tanyakan sama agen asuransi kondisi apa aja yang dicover, makanya aku cantumkan seperti di atas. But makasih inputnya,Mbak aku akan pastikan lagi sebelum tandatangan. *wink wink*

    @ Pak Aris,
    Aduuh, abis tulisan ini hanya berdasar mencerna hasil blogwalking saja,Pak. Saya sendiri bukan dari background ilmu ekonomi atau keuangan.
    Ya gak apa-apa, kita saling sharing ya, Pak. Makasih

    ReplyDelete
  8. Ndah pusing ndah..
    *nasib anak sekola ga pny income tp pny tanggungan *_*

    ReplyDelete
  9. ulasannya bagus banget mbak indah..
    jadinya milih asuransi jiwa yang mana?boleh dijapri donk mbak, aku belum nemu yang cocok euy
    pengennya yang pure asuransi jiwa aja, gak usah yang ada nilai tunainya..
    btw aku link yah blognya..(dulu udah pernah kenalan di shoutboxnya hehe)

    ReplyDelete
  10. Hi Mba Indah, salam kenal yah. Gw Susan. Seneng deh baca tulisan2nya. Gw baca mulai dari vaseline tutup biru ampe yang mengenai asuransi jiwa ini.

    Mengenai penjelasan asuransinya oks bangs loh. Gw jadi dapet ilmu tentang ituh padahal sebelumnya dodol bangets.

    Btw boleh di link kaga blognya? Oya, kalo sempat mampir yah Mba k blog gw & hubby di keluargazulfadhli.blogspot.com. Thanks. Salam kenal buat Ganesh dari Zahia :-)

    ReplyDelete
  11. @ Menik
    Jiaah..emang sih ente anak skulah, punya tanggungan, tapi tuh aset sama simpanan udah bejibuuun...jadi gak perlu khawatir toh. Lagian loe sekolah lagi juga dalam rangka investasi toh, begitu loe kelar sekolah, tuh pasien loe antri...Amin.
    BTW, jadi gimana, bisa gak gw dipermak dikit biar beda-beda tipis sama Mariana Renata?
    Huahaha...

    ReplyDelete
  12. @ Mama Raihan,
    Halo mama Raihan. Boleh kalo mau japri, Mbak. Aku sendiri memilih asuransi dengan premi paling kecil, tapi UP max. Yah namanya juga asuransi kan untuk proteksi.

    @Susan,
    Salam kenal juga.

    ReplyDelete
  13. haha para mamas pada ngebahas investasi dimana2 :D *applause* ....tfs indah...nambah lagi ilmu

    ReplyDelete
  14. ndah,
    japri dong premi2 yg udah lo survey
    ya yaa geu emang emak pemalass utk surveyyy huhu

    ReplyDelete
  15. aq malah ada temen sudah menikah tapi bilangnya: kami ngga minat asuransi.
    Hmm..sedih ya. Mungkin krn belum terbuka saja..

    Di negara tertentu, WN yg punya asuransi dapet pengurangan pajak penghasilan. Di Indonesia, belum denger saya...

    Oya, saya baca di koran, klaim gempa jogja 2006 dan Padang 2009 mencapai 6 triliun. Ini berarti musibah mninggal krn bencana alam bisa diklaim.

    BTW mbak, penjelasannya bagus :)

    ReplyDelete
  16. @ Nisha,
    Pan genk racun gak cuma meracuni shopping, tapi yang lain juga dong. Hihihi

    @ Dhita,
    Okey deh. Via BBM ape email?

    @ Mbak Laily,
    Yah mungkin karena temen Mbak belon paham bener asuransi tuh buat apa. Aku juga kalo ditawari sebelum melek soal beginian juga akan mengatakan aku belum perlu asuransi. Berhubung aku udah ngerti, makanya merasa butuh.

    Yah aku udah tanya sama beberapa agen mereka mengcover bencana alam kok, Mbak. Yang ndak dicover adalah situasi perang.

    ReplyDelete
  17. Yeay..youre rock mommy ganesh..., kalau gw mah ndah dudul surudul (maaf ya no offense) yang nggak nutup unitlink nya kalau udah baca blog nya loe ini dan blog nya priyadi...
    ntar kalau investasinya udah mulai share lagi ya say..
    tau loe nyari agent nya si man*life ini gw kasih cp nya gw ndah..orangnya udah tua..baik banget pas general check up kita juga ditemenin.

    ReplyDelete
  18. Yeay, mama Nico!
    Ini berkat bimbingan genk emak irit juga di twitter. *wink wink*
    Ntar ya kalo gw udah paham dan terjun bebas ke dunia investasinya pasti gw share.

    Gw setuju kata Wina, Mak. kalo belon paham betul soal RD, gw gak berani terjun. Makanya gw pelajari dulu**emak duit segitu-gitunya hihihi**

    Tengs ya, Mak rekomendasinya. Gw lupa waktu itu gak nanya CP nya loe. Tapi gw dapet Mbak apa Ncik Tenny baik juga kok...

    ReplyDelete
  19. mba...boleh donk infonya mengenai asuransi yg udh disurvey itu..
    saya jg mw ikut term life, tp baru dapet dari axa mandiri jiwa sejahtera

    ke email saya bisa mba.. utahime_smg@yahoo.com

    makasih banyak loh mba, maaf ngrepotin

    ReplyDelete
  20. hii mb indah,,
    mohon japrinya dounk atau add YM saia
    pengen ask lebih lanjut, ulasannya sangat menarik mengenai asuransi jiwa. pengen nanya2 lebih detail mengenai asuransi pendidikan ,,

    email saia : dianpit@yahoo.com

    ReplyDelete
  21. dear mba indah
    thanks bangetdahdi kasih info aq lg bingung juga neh sm unit link yg dah 2thn..
    kira" mending ambil asji yg mana ya, takaful apa mandiri?
    trus tau nga askes yang murni apa?
    klo mau investdmn ya?

    thankyou..

    ReplyDelete
  22. Mak lagi lagi thanks..
    mbaca postingan mu berulang kali soal yang ini hari ini dapat pencerahan, waktu itu aku dah baca tapi nggak begitu tertarik..tapi pas hari ini karena pikiran tersita ada teman yang sakit *diangosanya sih ginjal, dan sekarang sedang berjuang untuk sembuh, aku jadi kepikiran..ada 3 anak kecil kecil dan soerang istri (house wife) jadi aku mikir, saatnya mungkin proteksi diri dengan asuransi jiwa...selama ini pikirannya dah diasuransikan sama perusahaan asuransi jiwa dari manulife...tapi u know lah berapa kali gaji saja....btw aku pengin drop email ke mbak indah neh mau tanya secara pribadi soal asuransi jiwa ini...boleh dong jeng...
    diskusi dikit dan tanya tanya .....

    ReplyDelete
  23. eh adding mbak..asli tadi dari browsing banyak blog tambah mumet nggak detail..sekalinya baca postinganmu ini langsung mudeng...*thanks berat deh jeng..tulisanmu mantep..mudah dicerna buat otak lemot seperti emak kinan ini..ngena banget..ibarat bu dosen...sampean dosen favorit neh..lengkap pembahasannya ...mantep..:)

    ReplyDelete